Kesehatan

KESEHATAN
28 Januari 2021

Antibiotik untuk Keputihan, Bisa Mengatasi Infeksi Akibat Bakteri

Tuntaskan keputihan dengan obat yang tepat ya, Moms
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Adeline Wahyu
Disunting oleh Amelia Puteri

Daftar isi artikel

Sebetulnya keputihan belum tentu menandakan penyakit, Moms.

Selama keputihan yang dialami warnanya bening atau agak putih, tidak berbau, dan teksturnya tidak terlalu kental, Moms tidak usah khawatir dan tidak perlu menggunakan obat keputihan.

Cairan vagina memang normal keluar di masa-masa tertentu, misalnya pada saat ovulasi.

Lalu bagaimana jika keputihan berbau, warnanya kekuningan atau kehijauan, dan teksturnya sangat kental sampai menjadi gumpalan?

Nah, bisa jadi Moms sedang mengalami infeksi vagina.

Menurut situs kesehatan asal Amerika Serikat WebMD, keputihan yang tidak normal ditandai dengan gejala seperti sakit ketika buang air kecil atau berhubungan seks, vagina terasa gatal, serta keluarnya cairan vagina berbau tak sedap, kental, dan berwarna pink, cokelat, kuning, atau kehijauan.

Keputihan tidak normal bisa disebabkan oleh infeksi jamur, infeksi virus, atau infeksi bakteri.

Jamur, virus, dan bakteri penyebab infeksi sendiri bisa ditularkan lewat hubungan seks yang tidak aman atau terjadi akibat kurangnya menjaga kebersihan area intim Moms terutama saat menstruasi.

Di samping itu, penggunaan obat-obatan, alat kontrasepsi, atau produk kewanitaan tertentu juga dapat memicu pertumbuhan jamur atau bakteri penyebab keputihan.

Sebaiknya langsung periksakan ke dokter untuk memastikan apa penyebab keputihan yang Moms alami.

Baca Juga: Keluar Bercak Darah di Antara Dua Siklus Haid, Tidak Selalu Tanda Implantasi?

Antibiotik untuk Keputihan

antibiotik untuk keputihan

Foto: Orami Photo Stock

Untuk mendiagnosis infeksi vagina, dokter akan menanyakan tentang riwayat kesehatan kita.

Mereka biasanya juga akan menanyakan tentang kesehatan seksual kita seperti pasangan seksual saat ini dan riwayat infeksi vagina atau infeksi menular seksual (IMS) di masa lalu.

Dokter jugamungkin juga melakukan pemeriksaan panggul. Selama pemeriksaan ini, dokter akan mengumpulkan sampel keputihan.

Mereka akan mengirim sampel ini ke laboratorium untuk dianalisis. Ini dapat membantu dokter untuk mempelajari apa yang menyebabkan infeksi kita.

Moms Jangan salah memilih obat keputihan karena khasiatnya tentu jadi tidak maksimal. Perawatan untuk infeksi keputihan akan bergantung pada apa yang menyebabkan infeksi kita.

Baca Juga: Kenali Berbagai Penyebab Siklus Haid Tidak Teratur

Beberapa penyebab umumnya adalah sebagai berikut.

1. Infeksi bakteri

Bakteri tertentu biasanya ditemukan di vagina kita. Pertumbuhan berlebih dari bakteri ini dapat menyebabkan vaginosis bakterialis.

2. Infeksi Jamur

Infeksi jamur biasanya disebabkan oleh jamur yang disebut Candida albicans. Banyak hal, termasuk antibiotik, bisa mengurangi jumlah bakteri antijamur di vagina Moms.

Penurunan ini dapat menyebabkan pertumbuhan berlebih jamur dan menyebabkan infeksi.

3. Trikomoniasis

Infeksi vagina ini disebabkan oleh parasit protozoa yang dapat tertular melalui hubungan seksual.

4. Atrofi Vagina

Kondisi ini umumnya terjadi setelah menopause. Ini juga dapat berkembang selama waktu lain dalam hidup ketika kadar estrogen Moms menurun, seperti saat menyusui.

Kadar hormon yang berkurang dapat menyebabkan penipisan dan kekeringan pada vagina. Ini dapat menyebabkan peradangan vagina.

5. Iritan

Sabun, sabun mandi, parfum, dan kontrasepsi vagina semuanya dapat mengiritasi vagina kita. Ini bisa menyebabkan peradangan.

Pakaian ketat juga dapat menyebabkan ruam panas yang mengiritasi vagina.

Obat antibiotik adalah terapi andalan untuk infeksi vagina. Namun, penggunaan antibiotik untuk keputihan tidak bisa sembarangan dan harus sesuai resep dokter.

Jika antibiotik tidak digunakan dengan tepat, hal ini justru bisa menimbulkan berbagai efek samping.

Penggunaan antibiotik untuk keputihan hanya bisa digunakan untuk mengatasi keputihan yang disebabkan oleh infeksi bakteri, misalnya pada vaginosis bakterialis.

Menurut jurnal U.S. National Library of Medicine, bakterial vaginosis ditandai dengan bau apek atau bau amis pada vagina dan keputihan yang tipis dan berwarna putih.

Kondisi ini terjadi ketika vagina mengalami peradangan akibat jumlah bakteri yang hidup secara alami di vagina tidak seimbang.

Selain itu, antibiotik untuk keputihan juga dapat digunakan untuk mengobati kondisi akibat infeksi bakteri pada penyakit menular seksual seperti gonorea dan chlamydia.

Beberapa jenis antibiotik untuk mengatasi keputihan akibat infeksi bakteri adalah supositoria oral atau vaginal metronidazole (Flagyl), klindamisin (Cleocin), dan gel vagina metronidazol (MetroGel-Vaginal).

Metronidazol dan klindamisin adalah antibiotik untuk keputihan atau infeksi vagina pilihan yang digunakan untuk mengobati infeksi Gardnerella.

Antibiotik untuk keputihan lainnya adalah:

  • Tinidazole
  • Cefixime
  • Doxycycline
  • Azithromycin
  • Levofloxacin

Pada September 2017, FDA menyetujui secnidazole pengobatan oral dosis tunggal pertama (Solosec, Symbiomix Therapeutics) untuk wanita dengan infeksi vagina yang disebabkan oleh bakteri.

Persetujuan didasarkan pada dua studi acak terkontrol plasebo yang mengevaluasi kemanjuran secnidazole dalam pengobatan vaginosis bakterial.

Baca Juga: Infeksi Vagina Saat Hamil, Apakah Berdampak pada Janin?

Antibiotik untuk keputihan dapat berupa pil yang diminum, krim yang dioleskan ke vagina, serta obat jenis suppositoria atau kapsul yang dimasukkan ke dalam vagina.

Pada wanita hamil, dokter umumnya akan memberikan antibiotik dalam bentuk oral.

Pada kasus keputihan tertentu, dokter mungkin juga akan memberikan obat antibiotik untuk keputihan berupa suntikan, seperti ampicilin, ceftriaxone, dan kanamycin.

Mengonsumsi antibiotik untuk keputihan harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan oleh dokter. Termasuk apakah antibiotik untuk keputihan ini harus dihabiskan, berapa lama jeda waktu minum obatnya.

Jika digunakan tanpa resep atau cara dari dokter, antibiotik bisa tidak efektif dalam mengobati keputihan akibat infeksi bakteri.

Selain itu, penggunaan antibiotik untuk keputihan yang tidak tepat juga berisiko menimbulkan berbagai efek samping, misalnya membuat kuman menjadi kebal atau resisten terhadap antibiotik.

Sedangkan jika Moms mengalami infeksi jamur, Moms harus menggunakan obat untuk keputihan dengan kandungan antijamur.

Dilansir dari Web MD, kebanyakan obat keputihan antijamur tersedia dalam bentuk gel atau krim yang harus dioleskan langsung ke area bibir vagina yang terinfeksi.

Menurut British Medical Journal (The BMJ), jenis obat keputihan antijamur yang biasanya diresepkan oleh dokter meliputi butoconazole, miconazole, dan clindamycin.

Berapa lama Moms harus menggunakan obat keputihan ini tergantung dari kondisi setiap orang. Rata-rata, obat untuk keputihan harus digunakan secara rutin selama tiga hari.

Namun, selalu ikuti anjuran dokter dalam penggunaan obat apa pun.

Baca Juga: Pilihan Obat Vertigo yang Manjur

Terakhir, bila Moms mengalami keputihan akibat infeksi virus seperti herpes simplex (juga dikenal sebagai herpes genital), Mom akan dianjurkan untuk menggunakan obat antivirus.

Obat antivirus yang sering diresepkan dokter untuk mengobati herpes genital yaitu acyclovir, valacyclovir, dan famciclovir.

Jangan lupa, konsultasikan dulu dengan dokter sebelum Moms mengonsumsi antivirus ini untuk mengobati keputihan yang tidak normal.

Oleh karena itu, Moms sebaiknya mencegah infeksi vagina agar tidak terjadi. Namun memang tidak semua infeksi vagina bisa dicegah.

Menggunakan kondom selama hubungan seksual akan membantu mencegah penyebaran IMS. Ini juga akan menurunkan risiko Moms tertular mereka.

Kebersihan yang tepat juga dapat membantu mencegah beberapa infeksi vagina.

Jika memungkinkan, Moms harus mengenakan pakaian dalam yang terbuat dari bahan katun. Hal ini dapat menurunkan risiko timbulnya peradangan dan iritasi vagina.

Beberapa wanita mengalami peradangan dan iritasi karena mengenakan kain yang kurang bernapas.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait