Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

9 Fakta Penyebab dan Risiko yang Terjadi Pada Bayi Prematur

Bagikan


9 Fakta Penyebab dan Risiko yang Terjadi Pada Bayi Prematur

Seperti yang dialami ibu hamil pada umumnya, kehamilan normal biasanya berlangsung selama 40 minggu. Dalam rentang waktu tersebut perubahan terjadi pada fisik calon ibu dan begitu pula dengan perkembangan janin yang amat pesat. Termasuk perkembangan organ vital seperti jantung, paru-paru, otak.

Tentu saja setiap tahapan perkembangan janin mulai dari minggu 1-40 tersebut tentu harus dijaga dengan baik. Tujuannya untuk mendukung pertumbuhan janin hingga dinyatakan siap lahir, menghindari cacat pada janin, hingga meminimalisir kelahiran bayi prematur dibawah usia 37 minggu.

Semakin dini bayi lahir, semakin besar kemungkinan dia mengalami masalah. Untuk mencegah hal tersebut, bayi prematur setelah 7 bulan biasanya memerlukan perawatan khusus di unit perawatan intensif neonatal (NICU) rumah sakit.

Dan untuk mencegah hal itu terjadi, berikut adalah 9 fakta tentang kelahiran prematur yang seringkali tidak diketahui para calon ibu.

1. Gangguan kesehatan pada bayi

Dr. Irene Chan, Konsultan Pediatrik di iKids Paediatric Practice, Pacific Healthcare Singapura menyatakan bahwa bayi prematur mungkin belum siap lahir dan lebih mungkin mengalami berbagai masalah kesehatan setelah lahir.

Termasuk sindrom gangguan pernafasan bayi atau respiratory distress syndrome (RDS), kesulitan makan, tubuh sulit hangat, gula darah rendah, dan sebagainya. Akibatnya, bayi dengan masalah ini mungkin perlu dirawat khusus dan bisa dipisahkan dari ibu dan keluarga mereka.

Baca Juga: Metode Kanguru Untuk Perawatan Bayi Prematur

2. Hamil terlalu cepat setelah melahirkan

Moms sebaiknya menunggu setidaknya 18 bulan setelah melahirkan sebelum hamil lagi anak berikutnya, demikian menurut Dr. Edward McCabe dari March of Dimes.

Menurut penelitian, wanita yang melahirkan lagi dalam waktu 18 bulan setelah melahirkan, terutama dalam setahun, lebih mungkin memiliki bayi prematur dan juga berisiko tinggi memiliki anak dengan cacat lahir atau masalah perilaku di masa kanak-kanak.

3. Risiko kelainan neurologis

Banyak penelitian telah menunjukkan separuh dari kelainan neurologis pada anak berhubungan dengan kelahiran prematur. Sistem saraf pusat sering kali paling umum yang memiliki beberapa jenis kelainan.

Masalah yang biasanya dihadapi para orang tua adalah gangguan wicara, gangguan belajar, attention deficit-hyperactivity disorder (ADHD). Beberapa masalah yang lebih serius adalah cerebral palsy (CP), dan keterbelakangan mental.

4. Dampak perawatan kesuburan

Berbagai obat kesuburan, inseminasi, fertilisasi in-vitro (IVF), dan injeksi sperma intracytoplasmic (ICSI) adalah semua bentuk perawatan kesuburan.

Menurut penelitian, ada hubungan antara persalinan prematur dan IVF dan ICSI, yang menunjukkan bahwa Moms lebih mungkin mengalami persalinan prematur jika telah menjalani salah satu dari dua prosedur perawatan kesuburan tersebut.

5. Jenis kelamin bayi

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan jauh lebih baik daripada anak laki-laki. Meskipun anak laki-laki kemungkinan besar akan lahir prematur, anak perempuan memiliki perkembangan lebih baik.

Salah satu alasan adalah karena Moms memiliki risiko komplikasi kehamilan yang lebih tinggi seperti tekanan darah tinggi dan kelainan plasenta saat hamil anak laki-laki.

6. Ibu berusia remaja

Penelitian telah membuktikan bahwa wanita yang hamil pada usia 14-17 tahun memiliki risiko kelahiran prematur lebih tinggi dan memiliki anak dengan berat lahir rendah, terutama jika mereka hamil anak kedua.

Risiko ini dapat disebabkan tubuh remaja belum siap untuk memiliki bayi atau terjadi ketidakmatangan secara biologis.

7. Hamil di Atas Usia 30 tahun

Meskipun usia ibu memang penting, itu bukan satu-satunya faktor dalam menentukan apakah Moms berisiko melahirkan prematur. Seiring bertambahnya usia, kesehatan Moms menurun secara alami. Yang terutama adalah kondisi kesehatan fisik dan mental ibu adalah variabel yang lebih signifikan daripada usia.

Baca Juga: Waspada Melahirkan di Atas Usia 35 Tahun! Ini Sejumlah Risikonya

8. Refleks mengisap lemah

Bayi prematur mungkin memiliki kemampuan mengisap lemah atau belum matang. Meskipun ASI sangat vital bagi bayi prematur, namun kemampuan mereka untuk meminumnya tidak sama dengan bayi yang lahir dalam kondisi normal.

Bisa jadi meski Moms bisa memompa ASI untuk si kecil, mungkin ASI perlu diberikan melalui selang atau alat makan lainnya.

Baca Juga: Tips Agar ASI Tidak Seret, Coba Ini!

9. Bantuan inkubator

Karena bayi prematur sering kali memiliki bobot lahir rendah, biasanya ia tidak akan meninggalkan inkubator sampai mencapai bobot 4 pon atau 1,8 kg. Selain itu, sebagian besar bayi prematur ditempatkan secara aman dalam inkubator untuk membantu menjaga suhu tubuhnya.

Itu tadi 9 fakta terkait bayi prematur yang sudah seharusnya diketahui calon ibu. Bagaimana dengan Moms, apakah punya pengalaman serupa?

(ROS)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.