Program Hamil

4 Oktober 2021

Hati-hati Tindakan Aborsi Memiliki Resiko Tinggi, Simak Penjelasan Dokter Kandungan!

Jangan gegabah melakukan aborsi, pahami dulu bahaya dan komplikasinya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Amelia Puteri

Ada beberapa cara untuk melakukan aborsi, mulai dari meminum obat-obatan tertentu hingga melalui prosedur operasi. Bagaimana pun caranya, aborsi memiliki resiko yang cukup tinggi bagi kesehatan wanita.

Dikutip dari Abortion Access Fund, apapun cara yang ditempuh untuk melakukan aborsi, bahaya dan komplikasi selalu mengintai. Bahaya dan komplikasi yang mungkin terjadi saat melakukan aborsi semakin meningkat jika prosesnya dilakukan bukan oleh ahlinya.

Seperti yang Moms ketahui, aborsi merupakan tindakan ilegal.

“Sesuai Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 75, bahwa setiap orang dilarang melakukan aborsi,” jelas dr. Thomas Chayadi, Sp.OG Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah – Puri Indah.

Namun kentuan Pasal 75 ayat (2) menyatakan bahwa, “Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan: indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan.”

Cari tahu alasan mengapa aborsi memiliki resiko tinggi terhadap kesehatan wanita berikut ini.

Baca Juga: Cari Tahu Penyebab Kandungan Lemah yang Bisa Berdampak Keguguran!

Aborsi Memiliki Resiko Tinggi

aborsi

Foto: Orami Photo Stock

Aborsi saat usia kandungan masih terbilang muda dengan metode vakum disebut sebagai metode yang paling aman. Kurang dari 1 dari 100 wanita akan mengalami komplikasi serius jika melakukan aborsi dengan metode tersebut.

Namun tentu tetap saja, aborsi memiliki resiko tinggi karena terdapat bahaya dan komplikasi yang bisa terjadi usai aborsi.

“Apabila aborsi tidak dilakukan dengan aman maka akan berisiko terjadinya infeksi rahim, robekan pada rahim, dan perlengketan pada rahim. Jika terjadi perlengketan rahim maka akan dapat mengakibatkan gangguan haid sampai kesulitan hamil. Jika robekan tidak terdekteksi, maka dapat berisiko sampai mengancam nyawa/kematian,” kata dr. Thomas Chayadi.

Sementara itu, apabila aborsi dilakukan dengan aman dan oleh ahlinya maka risiko dan komplikasi tadi dapat diminimalisir sehingga tidak memengaruhi kesuburan untuk kehamilan berikutnya.

Baca Juga: Kuret, Prosedur yang Umumnya Diperlukan Setelah Keguguran

Dampak Jangka Pendek dari Aborsi

Dalam kasus kehamilan tertentu, aborsi mungkin jalan terbaik yang bisa Moms pilih.

Namun, sebelum melakukannya, ada baiknya Moms memahami bahwa aborsi memiliki resiko yang cenderung berbahaya. Jadi, perlu untuk berhati-hati dalam memilih prosedur aborsi.

Ada beberapa dampak langsung yang bisa dialami wanita setelah melakukan aborsi, antara lain:

1. Nyeri Panggul

nyeri panggul

Foto: Orami Photo Stock

Aborsi memiliki resiko yang cukup tinggi karena bisa menyebabkan salah satu gejala jangka pendek yang tidak nyaman, seperti nyeri panggul.

Nyeri panggul yang persisten atau parah dapat mengindikasikan adanya masalah. Penyebab paling umum dari rasa sakit yang parah di bagian panggul, yakni infeksi.

Sebagian besar infeksi ringan dan dapat diobati di rumah dengan antibiotik yang diresepkan oleh dokter.

Selain itu, nyeri pasca-prosedur juga dapat disebabkan oleh sisa jaringan janin atau plasenta, atau bekuan darah (hematometra). Jika jaringan atau gumpalan tidak keluar dengan sendirinya, Moms mungkin memerlukan obat atau melakukan prosedur vakum untuk mengosongkan rahim.

2. Pembekuan Darah di Rahim

Dampak lain setelah aborsi, yakni terjadi pembekuan darah di dalam rahim.

Pada kasus yang jarang terjadi, pembekuan darah di area rahim mungkin bisa menyebabkan kram di area tersebut.

Kondisi ini umumnya dapat disembuhkan dengan mengulang proses vakum sehingga rahim benar-benar kosong.

Baca Juga: Gejala dan Penyebab Solusio Plasenta, Putusnya Plasenta dari Dinding Rahim saat Hamil

3. Infeksi

infeksi vagina

Foto: Orami Photo Stock

Aborsi memiliki resiko lainnya, yakni infeksi yang disebabkan oleh kuman dari vagina dan serviks yang masuk ke uterus.

Kondisi infeksi ini biasanya dapat disembuhkan dengan mengonsumsi antibiotik dan mengulang proses vakum atau perawatan di rumah sakit tanpa perlu tindakan operasi.

4. Robekan Serviks

Saat proses aborsi, serviks mungkin saja mengalami robekan. Untuk menangani kasus ini, serviks memerlukan proses penjahitan untuk menutup robekan tersebut.

Baca Juga: Manfaat Pap Smear untuk Deteksi Kanker Serviks, Begini Prosesnya!

5. Perforasi Uterus

perforasi uterus

Foto: Orami Photo Stock

Perforasi uterus merupakan istilah medis untuk kondisi penyumbatan rahim yang tidak disengaja. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kondisi ini disebabkan ketika rahim tertusuk benda tajam.

Menurut American Journal of Obstetrics & Gynecology, prosedur untuk mengatasi masalah perforasi uterus yang paling baik adalah operasi pengangkatan saluran genital yang terinfeksi bersama dengan pemisahan serviks untuk drainase.

Jadi, tidak dapat diobati dengan antibiotik.

6. Kegagalan Aborsi

Kebanyakan aborsi di awal kehamilan berjalan dengan sukses. Namun, aborsi memiliki resiko kegagalan juga, sama dengan prosedur medis lainnya.

Kegagalan aborsi atau yang disebut dengan aborsi tidak lengkap ini biasanya ditandai dengan pendarahan vagina, kram (kontraksi), dilatasi serviks, dan kegagalan untuk mengeluarkan semua jaringan kehamilan dari rahim.

Untuk beberapa kasus, prosedur aborsi ulang harus dilakukan. Dalam Journal of Botanical Medicine for Women's Health disebutkan bahwa, selain berfokus pada mengeluarkan jaringan yang tertinggal, penyembuhan emosional dan fisik juga perlu dilakukan.

7. Anestesi

anestesi

Foto: Orami Photo Stock

Beberapa wanita mungkin alergi terhadap obat bius yang digunakan selama proses aborsi.

Dalam beberapa kasus, alergi obat bius ini mungkin bisa menimbulkan efek yang serius. Oleh karena itu, penting bagi Moms untuk selalu berkonsultasi dengan dokter terkait sebelum melakukan aborsi.

Jadi, dampak negatif yang tak diinginkan bisa dicegah.

8. Cedera Saluran Genital dan Organ Dalam

Aborsi memiliki resiko berbahaya lain, yaitu bisa menyebabkan cedera saluran genital dan organ dalam.

Hal ini bisa terjadi karena praktik aborsi yang tidak aman. Misalnya, karena memasukkan benda-benda berbahaya, seperti tongkat, jarum rajut, atau pecahan kaca ke dalam vagina atau anus.

Jika dicurigai adanya cedera saluran genital dan organ dalam, rujukan dini ke tingkat perawatan kesehatan yang tepat sangatlah penting sehingga kondisi tersebut bisa segera diatasi.

9. Reaksi Emosional

reaksi emosional akibat aborsi

Foto: Orami Photo Stock

Selain bisa menyebabkan masalah fisik, aborsi memiliki resiko lainnya pada psikologis seorang wanita.

Moms mungkin saja mengalami masalah emosi setelah melakukan aborsi, tapi itu agak jarang terjadi.

Meskipun terjadi, durasinya pun tidak akan lama. Jika hal tersebut berlangsung lama, Moms sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikiater untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Baca Juga: Abortus Habitualis atau Keguguran Berulang, Berikut Penyebabnya

Dampak Jangka Panjang dari Aborsi

sulit hamil

Foto: Orami Photo Stock

Aborsi ternyata tidak hanya memberikan dampak jangka pendek pada pelakunya. Aborsi memiliki resiko lain pada kehamilan yang akan datang lho, Moms.

Komplikasi dari sebuah aborsi atau aborsi yang berulang-ulang salah satunya adalah sulit hamil di masa mendatang.

Bagi wanita hamil yang sebelumnya pernah melakukan aborsi, kehamilannya pun jadi lebih berisiko. Pada trimester awal, wanita yang pernah melakukan aborsi bisa mengalami pendarahan vagina.

Mereka juga kemungkinan besar akan melahirkan bayi prematur, berbobot tubuh rendah, retensi plasenta, hingga keguguran.

Kondisi seperti ini sebetulnya bisa dicegah dengan mempersiapkan kehamilan. Konsultasi dengan dokter kandungan untuk mengetahui kondisi rahim setelah aborsi menjadi hal penting yang harus dilakukan.

Untuk kondisi tertentu, terutama yang sudah lebih dari sekali melakukan aborsi, rahim mungkin membutuhkan perawatan untuk siap hamil.

Baca Juga: 9 Keadaan yang Membuat Ibu Harus Konsultasi Kehamilan ke Dokter

Itulah beberapa hal yang harus Moms ketahui tentang bahaya dan komplikasi dari aborsi. Selalu konsultasikan dengan dokter tentang apapun keputusan yang akan Moms ambil tentang kehamilan, ya.

  • https://www.ajog.org/article/0002-9378(51)90052-X/fulltext
  • https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/B9780443072772000155
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait