Trimester 1

20 April 2021

Waspadai Abortus Insipiens, Keguguran yang Tak Dapat Dihindari

Keguguran yang tidak bisa dihindari atau abortus insipiens biasa terjadi pada trimester pertama kehamilan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Waritsa Asri
Disunting oleh Intan Aprilia

Ada banyak jenis keguguran. Bergantung pada gejala dan tahap kehamilan Moms, dokter kandungan akan mendiagnosis kondisi sebagai satu kesatuan salah satunya seperti keguguran yang tidak bisa dihindari atau disebut juga dengan abortus insipiens.

Abortus insipiens merupakan keadaan keguguran di mana biasanya janin masih ada di dalam rahim, tetapi Moms yang hamil sudah mengalami perdarahan dan pembukaan jalan lahir atau dilatasi serviks telah terjadi sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat teraba pada kehamilan sebelum 20 minggu.

Menurut Botanical Medicine for Womens Health, perdarahan pada abortus insipiens (inventiable abortion) bisa terjadi dari minimal hingga parah dan bahkan mengancam nyawa ibu hamil.

Sementara itu, Permenkes nomor 5 tahun 2014 menjelaskan pada abortus insipiens, detak jantung janin masih ditemukan, tapi ibu hamil terus menerus mengeluarkan darah sehingga dibutuhkan pengeluaran janin dengan kuratase di rumah sakit.

Penyebab Abortus Insipiens

Penyebab Abortus Insipiens

Foto: Orami Photo Stock

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), peristiwa keguguran terjadi pada 10 persen kehamilan yang diketahui. Lalu, apa saja penyebab dari abortus insipiens?

1. Kelainan Genetik

Penyebab abortus insipiens di mana lebih dari setengah dari semua keguguran trimester pertama adalah akibat dari masalah dengan kromosom janin.

Jika tubuh Moms mendeteksi janin mengalami kerusakan atau kehilangan kromosom, kehamilan akan berakhir.

2. Pembekuan Darah

Kondisi yang disebut sindrom antifosfolipid (APS) menyebabkan pembekuan darah yang dapat mengakhiri kehamilan. Kondisi ini bisa diatasi dengan obat-obatan untuk mencegah keguguran.

Baca Juga: Rainbow Baby, Bayi yang Lahir Pasca Keguguran

3. Kehamilan Ektopik

Jenis kehamilan yang berpotensi serius tetapi jarang ini terjadi ketika janin mulai berkembang di luar rahim.

Kehamilan ektopik tidak dapat diselamatkan dan merupakan keadaan darurat medis yang membutuhkan perawatan segera.

4. Masalah Plasenta

Masalah plasenta. Jika janin dan plasenta tidak cocok, kehamilan bisa hilang. Demikian pula, cacat rahim, termasuk bentuknya yang tidak normal, juga dapat menjadi penyebab abortus insipiens.

5. Infeksi

Infeksi di dalam rahim atau leher rahim dapat menyebabkan keguguran. Demikian pula, penyakit yang ditularkan melalui makanan dapat membuat wanita berisiko mengalami keguguran.

Beragam penyakit infeksi yang terjadi selama masa kehamilan, seperti gonore, sifilis, dan toksoplasmosi, dapat menyebabkan perubahan pada struktur dinding rahim, proses implantasi, dan sistem imun ibu hamil.

Hal-hal ini dapat mengganggu proses pembentukan plasenta atau transfer nutrisi dari ibu ke janin sehingga berpotensi menyebabkan abortus insipiens.

6. Kondisi Kronis

Kondisi kronis seperti diabetes atau tekanan darah tinggi meningkatkan risiko wanita mengalami keguguran. Kondisi kronis juga dapat meningkatkan penyebab abortus insipiens.

Risiko terjadinya keguguran akan semakin tinggi jika penyakit kronis tidak ditangani atau dikontrol dengan baik penyakit tiroid. Kondisi tiroid yang tidak diobati meningkatkan risiko keguguran.

7. Kondisi Autoimun

Kondisi autoimun, seperti upus, serta kondisi autoimun lainnya, dapat menyebabkan keguguran. Sebagian penyakit kronis bisa merupakan kondisi yang sudah dimiliki ibu sejak lahir, contohnya sindrom antifosfolipid.

Kondisi ini diketahui bisa mengganggu proses implantasi calon janin di dinding rahim dan juga mengganggu suplai darah ke plasenta. Kedua hal ini akan meningkatkan risiko terjadinya abortus insipiens.

8. Masalah dengan Rahim

Fibroid atau rahim yang berbentuk tidak normall bisa menyebabkan gangguan pada proses implantasi calon janin di dinding rahim sehingga terjadilah abortus insipiens.

Selain itu, kondisi leher rahim yang lemah (inkompetensi rahim) juga dapat menyebabkan abortus insipiens lebih mudah terjadi.

9. Faktor Gaya Hidup

Merokok, perokok pasif, mengonsumsi alkohol, dan penggunaan narkoba dapat mengganggu perkembangan janin. Konsumsi kafein yang tinggi juga bisa menjadi penyebab abortus insipiens.

10. Faktor Lingkungan

Paparan bahan kimia atau bahaya tertentu dapat menyebabkan keguguran. Ini termasuk merkuri, pelarut, pengencer cat, pestisida, dan logam berat.

Baca Juga: Mengenal Abortus Komplit, Kondisi Keguguran dengan Jaringan Konsepsi Keluar secara Lengkap

Gejala Abortus Insipiens

Gejala Abortus Insipiens

Foto: Orami Photo Stock

Setelah mengetahui penyebab, berikut ini beberapa gejala abortus insipiens:

1. Perdarahan Disertai Kontraksi Kuat

Menurut buku ajar mengenai perdarahan pada kehamilan trimester 1 milik Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, gejala abortus insipiens ditandai dengan perdarahan pervaginam dengan kontraksi makin lama makin kuat dan sering.

Kondisi ini biasanya sulit dihindari pada kehamilan awal yang ditandai dengan perdarahan vagina dan pelebaran saluran serviks.

Leher rahim yang terbuka merupakan tanda bahwa tubuh sedang dalam proses keguguran. Selain perdarahan yang lebih parah juga disusul dengan kontraksi kram hebat yang muncul.

Terkadang juga, pada kasus abortus insipiens, perdarahan yang terjadi dapat menyebabkan kematian pada ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga evakuasi harus segera dilakukan.

2. Pembukaan Serviks

Gejala abortus insipiens lainnya juga akan ditandai dengan pecahnya selaput janin dan adanya pembukaan serviks.

Kemudian, gejala lainnya pada abortus insipiens juga akan muncul nyeri perut bagian bawah atau nyeri kolik uterus yang hebat.

Pada pemeriksaan vagina memperlihatkan dilatasi ostium serviks dengan bagian konsepsi tampak menonjol.

Serta, pada hasil pemeriksaan USG mungkin didapatkan jantung janin masih berdenyut, kantong gestasi kosong (5-6 minggu), uterus kosong (3-5 minggu) atau perdarahan subkhorionik banyak di bagian bawah, seperti dikutip dari laman Digilibunimus.

Diagnosis pada abortus insipiens sendiri ditandai dengan pecah ketuban yang nyata disertai pembukaan serviks. Pada keadaan ini, keguguran hampir pasti terjadi.

Baca Juga: Bolehkah Keramas setelah Keguguran? Ini Jawabannya!

Cara Ketahui Abortus Insipiens

Abortus Insipiens

Foto: Orami Photo Stock

Jika Moms mengalami tanda dan gejala abortus insipiens, kemungkinan besar akan menjalani pemeriksaan fisik untuk meyakinkan diagnosis abortus insipiens, yaitu:

1. Plano Pregnancy Test

Plano pregnancy test yang diperiksa melalui urin akan menunjukkan hasil positif pada 2 minggu pasca terbentuknya konsepsi janin.

Pada abortus, plano pregnancy test umumnya masih positif sampai 7-10 hari pasca abortus namun berangsur-angsur akan menjadi negatif.

2. Cek Laboratorium

Moms akan diminta untuk melakukan cek laboratorium darah lengkap untuk ketahui kadar hemoglobin, LED dan jumlah leukosit meningkat tanpa adanya infeksi.

3. Pemeriksaan hCG

Moms mungkin menjalani tes untuk mengukur tingkat human chorionic gonadotropin (hCG) dalam darah . Zat ini dibuat oleh plasenta yang sedang berkembang.

Pada abortus, kadar beta HCG bisa lebih rendah atau menurun dibanding sebelumnya dan akan normal dalam 2 minggu setelah abortus.

Pemeriksaan ini jarang diperlukan, tetapi dapat dilakukan sebagai pemeriksaan serial untuk menunjang diagnosis jika kelangsungan kehamilan meragukan.

4. Ultrasonografi

Kemudian, diagnosis abortus insipiens juga bisa menggunakan USG transvaginal untuk deteksi kehamilan 4-5 minggu.

Detik jantung janin terlihat pada kehamilan dengan CRL > 5 mm (usia kehamilan 5 - 6 minggu.Dengan melakukan dan menginterpretasi secara cermat, pemeriksaan USG dapat digunakan untuk menentukan apakah kehamilan viabel atau non-viabel.

Beberapa pemeriksaan ultrasonografi dan tes hCG mungkin diperlukan untuk memastikan bahwa keguguran telah terjadi.

Di samping itu, dokter kandungan akan menanyakan pertanyaan tentang kapan pendarahan dimulai, seberapa banyak Anda mengeluarkan darah, dan apakah Anda mengalami nyeri atau kram.

Baca Juga: Benarkah Berhubungan Seks dengan Suami saat Hamil Memicu Keguguran?

Cara Mencegah Abortus Insipiens

Cara Mengatasi Abortus Insipiens

Foto: Orami Photo Stock

Sayangnya, hingga saat ini belum ada cara mencegah abortus insipiens. Tapi, Moms bisa melakukan beberapa cara agar mencegah terjadinya keguguran secara umum, yaitu:

1. Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang

Dengan mengomsumsi makanan bergizi seimbang, harapannya Moms dapat membantu kehamilan hingga akhir trimester dengan baik.

2. Konsumsi Asam Folat

Dengan konsumsi asam folat, Moms bisa mencegah komplikasi pada janin seperti cacat tabung syaraf serta mencegah keguguran karena komplikasi kehamilan yang tak diinginkan.

3. Jaga Berat Badan Ideal

Cara mencegah abortus insipiens seperti keguguran lainnya yaitu dengan pola hidup sehat dan juga lakukan olahraga rutin.

4. Jangan Merokok

Tahu mengenai bahaya merokok pada janin seperti yang tertera dalam bungkusnya. Bahkan, Moms pun baiknya menghindari paparan asap rokok. Hindari konsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang yang bisa berdampak pada janin.

5. Ikuti Anjuran Dokter

Sesegera mungkin melakukan tiap anjuran dokter bahkan bila diminta untuk lakukan vaksinasi untuk menghindari berbagai penyakit infeksi.

Cara-cara ini bisa Moms lakukan sejak dini bahkan saat merencanakan kehamilan. Selain itu, jika Moms dan Dads sedang merencanakan kehamilan, ada baiknya berkonsultasi dulu dengan dokter kandungan.

Baca Juga: Hamil setelah Keguguran: Tips dan Waktu yang Tepat

Konsultasi sebelum hamil penting dilakukan agar jika ditemukan hal-hal yang bisa meningkatkan risiko terjadinya abortus insipiens, dokter bisa segera melakukan penanganan yang diperlukan.

  • https://detiklife.com/tag/abortus-insipiens-inevitable-abortion-adalah/
  • https://www.alodokter.com/ketahui-penyebab-abortus-insipiens-dan-cara-mencegahnya#:~:text=Abortus%20insipiens%20disebut%20juga%20dengan,lahir%20sehingga%20keguguran%20pasti%20terjadi.
  • https://www.healthline.com/health/pregnancy/how-to-prevent-miscarriage#tips-for-healthy-pregnancy
  • https://reference.medscape.com/article/266317-clinical
  • https://www.gfmer.ch/Obstetrics_simplified/Bleeding_in_early_pregnancy.htm
  • https://www.webmd.com/baby/guide/pregnancy-miscarriage#1
  • https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/inevitable-abortion#:~:text=In%20inevitable%20abortion%2C%20there%20is,severe%20and%20even%20life%20threatening.
  • https://www.health.harvard.edu/a_to_z/miscarriage-a-to-z
  • https://www.alomedika.com/penyakit/obstetrik-dan-ginekologi/abortus/diagnosis
  • https://www.healthline.com/health/miscarriage#treatment
  • https://www.acog.org/womens-health/faqs/early-pregnancy-loss?utm_source=redirect&utm_medium=web&utm_campaign=otn
  • https://dppkbpmd.bantulkab.go.id/penyebab-dan-pemulihan-pasca-keguguran/
  • https://medical-dictionary.thefreedictionary.com/inevitable+abortion
  • https://www.plannedparenthood.org/learn/pregnancy/miscarriage
  • https://www.uptodate.com/contents/miscarriage-beyond-the-basics
  • https://www.scribd.com/doc/303871812/ABORTUS-INSIPIEN
  • https://www.ajog.org/article/0002-9378(64)90482-X/pdf
  • https://radiopaedia.org/articles/inevitable-miscarriage
  • http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/40045/Chapter%20II.pdf;jsessionid=B727383ABF1A2D7C48864214F80457F0?sequence=4
  • https://jamanetwork.com/journals/jama/article-abstract/456643
  • http://repository.ump.ac.id/961/3/Dias%20Asteria%20Rinawati%20BAB%20II.pdf
  • https://peraturan.bkpm.go.id/jdih/userfiles/batang/Permenkes_5_2014.pdf
  • http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/104/jtptunimus-gdl-annisaliya-5200-3-bab2.pdf
  • http://repository.lppm.unila.ac.id/10413/1/dr%20Ratna%20DPS%20%28Buku%20Ajar%20Kehamilan%20dg%20dr%20Arif%29.pdf
  • https://academic.oup.com/humupd/article/20/2/262/663622
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait