Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Bermain dan Belajar | Sep 21, 2018

Ada TK Tanpa Atap di Jepang, Alasannya Bikin Kagum!

Bagikan


Sebuah Taman Kanak-Kanak (TK) di Tokyo, Jepang, didesain khusus tanpa atap agar para siswanya bisa bermain dan berlari sesuka mereka. TK bernama TK Fuji itu memang punya arsitektur yang menawan.

Bagian atasnya didesain seperti dek dengan bentuk oval. Di sana, anak-anak bebas bermain dan berlari. Dengan desain yang indah itu, bangunan rancangan Takaharu Tezuka itu telah mendapat penghargaan, yakni Moriyama RAIC International Prize 2017.

Dibuat Agar Anak Bisa Bebas Mengeksplor

Bangunan dengan desain semi terbuka ini dapat menampung 600 anak berusia 2-6 tahun di sekolah tersebut. Desain unik itu memungkinkan sekolah untuk memaksimalkan metode Montessori yang merupakan pendekatan pendidikan dengan memberikan kebebasan kepada anak untuk menjelajah ruang kelas dan belajar melalui penemuannya sendiri.

Tezuka menjelaskan bawah konsep utama dari bangunan tersebut adalah “masa depan nostalgia”. Tema tersebut diambil karena dengan desain bangunan seperti itu, anak-anak bisa bermain secara alami tanpa gadget dan layar. Masa depan seperti inilah yang jadi harapan banyak orang.

Murid Dibiarkan Berimajinasi

Meskipun anak-anak dibebaskan bermain di sana, uniknya, sekolah tersebut tidak menyediakan peralatan bermain. Anak-anak lah yang dibiarkan berimajinasi dan bermain di bangunan sekolah mereka yang sudah terjamin aman itu.

“Karena bangunannya berbentuk melingkar, mereka bisa satu sama lain. Tidak ada yang merasa berada di tengah. Anak-anak akan belajar bagaimana berlaku adil pada setiap orang. Mereka juga akan belajar untuk menjadi bagian dari kelompok,” ungkap Tezuka seperti dikutip dari Dezeen.com.

Atapnya punya fungsi ganda, sebagai taman bermain dan track lari. Ini membuat anak-anak tidak akan terus saling mengejar karena bentuknya melingkar dan tidak berujung.

Tezuka menjelaskan, dek atap ini dibangun di sekitar pepohonan. Dengan jaring yang ditaruh di antaranya, anak-anak bisa memanjat pohon dengan mudah.

Baca Juga: Kapan Waktu yang Tepat Memasukkan Anak ke TK?

Dijamin Aman untuk Anak-anak

Menurutnya, saat anak-anak pertama kali berinteraksi dengan bangunan tersebut adalah momen emosional. “Sangat simpel. Mereka tiba-tiba saja mulai berlarian. Ini di luar bayangan kami. Saya duduk bersama kepala sekolah dan yang lainnya lalu menitikkan air mata. Luar biasa. Ini reaksi yang spontan,” cerita Tezuka.

Pegangan di ujung dek berfungsi sebagai pembatas sekaligus bisa membuat area dalam menjadi sebuah arena. Pagarnya cukup rapat sehingga tidak mungkin ada anak yang kepalanya tersangkut. Tapi pagarnya memungkinkan mereka untuk duduk dan memasukkan kaki mereka di sela-sela pagar.

Atapnya yang 2,1 meter setinggi membuatnya tidak terlalu tinggi dan saling terkoneksi dengan bagian bawah.

Untuk sumber pencahayaan, bangunan tersebut memilih panel-panel yang memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam kelas di bawahnya. Saat musim hujan, di dalam ada air terjun buatan yang mengalirkan air hujan. Mereka bisa bermain air hujan tanpa harus kehujanan.

Di lantai bawah, pintu geser bisa dibuka saat cuaca sedang bagus. Tidak ada tembok-tembok pembatas kelas di sana, yang ada hanyalah dinding pemisah yang terbuat dari kotak-kotak kayu yang bisa dimanfaatkan sebagai rak atau tempat pajangan.

Baca Juga: 6 Kriteria Pre School yang Bagus untuk Perkembangan Anak

Kelas Tertutup Membuat Murid Jadi Tidak Produktif

Tezuka percaya bahwa ruang kelas standar yang ada jauh dari kesan natural dan membuat siswa jadi tidak produktif. Sedangkan desain sekolahnya ini memberikan kebebasan kepada siswa sehingga mereka bisa mandiri tanpa harus memaksa mereka duduk diam mengikuti pelajaran untuk durasi yang lama.

Dengan ruang kelas terbuka, anak-anak bisa menghasilkan tingkat kebisingan yang sama dengan tingkat kebisingan di alam. Ide ini didapatkan Tezuka ketika mengunjungi seorang ahli biologi molekular bernama Tsutomu Ohashi ketika berlibur di Bali.

“Sama seperti ikan tidak dapat hidup di air yang dimurnikan, anak-anak tidak dapat hidup di lingkungan yang bersih, tenang dan terkendali,” katanya.

(AND)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.