Kesehatan

KESEHATAN
12 November 2020

Adakah Efek Samping dan Risiko Kelebihan Protein?

Protein dianggap dapat menurunkan berat badan dengan cepat, tapi apakah konsumsi protein tinggi punya efek samping?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Agnes
Disunting oleh Amelia Puteri

Protein merupakan salah satu nutrisi penting untuk tubuh. Banyak manfaat yang kita dapat jika mengonsumsi protein dalam jumlah yang wajar. Namun, kalau berlebihan apalagi dijadikan gaya hidup jangka panjang, akan ada risiko yang menghampiri.

Ketika seseorang mengalami kelebihan protein karena mengonsumsi terlalu banyak protein, hal ini dapat memberikan beberapa dampak pada tubuh.

Yuk, cari tahu lebih lanjut tentang apa saja risiko tubuh mengalami kelebihan asupan protein berikut ini, Moms.

Baca Juga: Pentingnya Sumber Protein Nabati untuk Tumbuh Kembang Anak

Risiko Kelebihan Protein

Bagian tubuh manusia seperti tulang, otot, kulit dan sebagian besar organ tubuh lainnya terbuat dari asam amino yang merupakan zat hasil metabolisme protein.

Selain menyusun jaringan dan sel tubuh, protein juga memiliki peran dalam produksi enzim dan hormon dalam tubuh, seperti hormon pertumbuhan. Hal inilah yang membuat tubuh manusia membutuhkan asupan protein yang cukup besar.

Moms dan Dads mungkin familiar dengan diet tinggi protein yang baru-baru ini tren kembali, seperti diet ketogenik atau yang biasa dipersingkat sebagai diet keto.

Diet keto merupakan diet yang dilakukan dengan cara melakukan pola makan rendah karbohidrat serta rendah lemak. Meskipun diet keto menekankan pada lemak, tetapi diet ini juga tinggi protein.

Bahkan sebagian besar menu diet keto mengandung protein seperti daging-dagingan.

Untuk menghitung jumlah kebutuhan protein per hari, Moms dan Dads dapat mengalikan berat badan dengan 0,8 gram protein. Jadi misalnya berat badan Moms 50 kilogram, maka asupan protein yang dibutuhkan setiap hari sebanyak 40 gram.

Diet tinggi protein telah terbukti membantu mengurangi lemak, menurunkan berat badan, mempercepat dan mempertahankan rasa kenyang, serta menjaga otot.

Namun, kelebihan protein dalam jangka panjang dapat menyebabkan peningkatan risiko komplikasi kesehatan tertentu. Lalu, apa saja risiko kelebihan protein terutama jika dikonsumsi jangka panjang?

1. Kenaikan Berat Badan

Kelebihan protein dapat menyebabkan kenaikan berat badan

Foto: freepik.com

Risiko kelebihan protein yang pertama yaitu kelebihan protein menyebabkan kenaikan berat badan. Lho kok, berat badan naik bukannya turun?

Diet tinggi protein memang akan membuat berat badan turun dalam waktu yang relatif singkat, tetapi juga diikuti risiko kenaikan berat badan yang juga cepat.

Kelebihan protein yang dikonsumsi biasanya akan disimpan sebagai lemak, sedangkan kelebihan asam amino akan dikeluarkan melalui kotoran.

Seiring berjalannya waktu, hal ini justru akan menyebabkan penambahan berat badan, terutama jika mengonsumsi terlalu banyak kalori saat mencoba meningkatkan asupan protein.

Sebuah penelitian pada tahun 2016 yang dipublikasikan oleh Clinical Nutrition menemukan bahwa mengganti karbohidrat dengan protein berhubungan erat dengan kenaikan berat badan secara signifikan, tetapi tidak saat protein menggantikan lemak.

2. Bau Mulut

Risiko kelebihan protein juga dapat menyebabkan bau mulut, terutama saat tubuh membatasi asupan karbohidrat. Menyikat dan membersihkan gigi tidak akan menghilangkan bau mulut ini.

Tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi bau mulut akibat kelebihan protein, seperti minum banyak air putih, menyikat gigi lebih sering, atau mengunyah permen karet.

3. Sembelit

Kelebihan protein menyebabkan sembelit

Foto: freepik.com

Sebuah penelitian menemukan bahwa 44% orang mengalami sembelit akibat menu diet tinggi protein, membatasi asupan karbohidrat serta rendah serat.

Diet tinggi protein dapat menyulitkan sistem pencernaan tubuh akibat fokusnya menu makanan terhadap protein saja.

Dikutip dari Women’s Health, bukan hanya kelebihan protein menyebabkan konstipasi, melainkan kurangnya asupan serat. Orang yang sedang fokus pada diet tinggi protein sering fokus pada konsumsi protein hewani yang tidak mengandung serat.

Baca Juga: 4 Kesalahan Diet dalam Keto Pemula, Wajib Tahu!

4. Diare

Jika Moms dan Dads baru mencoba menekuni diet tinggi protein, direkomendasikan untuk minum lebih banyak air dan tidak lupa menambahkan serat dalam menu, karena kelebihan protein menyebabkan diare.

Dengan mengonsumsi terlalu banyak produk susu atau olahannya, ditambah dengan kurangnya asupan serat dalam tubuh sehingga menyebabkan diare.

Kondisi ini dapat semakin buruk jika Moms atau Dads intoleran terhadap laktosa atau mengonsumsi sumber protein seperti daging yang digoreng, ikan dan unggas.

Untuk menghindari diare, perbanyaklah minum air putih dan hindari minuman berkafein. Selain itu, batasi juga makanan yang digoreng, hindari konsumsi lemak berlebih, serta tingkatkan konsumsi makanan dengan asupan serat yang tinggi.

5. Dehidrasi

Kelebihan protein juga dapat menyebabkan dehidrasi

Foto: freepik.com

Dalam sebuah studi bertajuk High protein diets cause dehydration, even in trained athletes menemukan bahwa saat asupan protein meningkat, tingkat hidrasi tubuh akan menurun.

Studi lainnya di tahun 2006 menyimpulkan hal senada, yaitu mengonsumsi lebih banyak protein meminimalisir terjadinya hidrasi.

Karena risiko kelebihan protein menyebabkan dehidrasi, cobalah untuk mencegahnya dengan meningkatkan asupan air ke dalam tubuh, terutama jika Moms dan Dads memiliki banyak kegiatan sehari-hari.

6. Kerusakan Ginjal

Meskipun tidak ada penelitian besar yang menghubungkan risiko kelebihan protein menyebabkan kerusakan ginjal pada seseorang yang sehat, namun orang dengan riwayat penyakit ginjal dapat terdampak jenis diet ini.

Hal ini terjadi karena kadar nitrogen yang berlebihan ditemukan dalam asam amino.

Akibatnya, ginjal harus bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan nitrogen dan limbah hasil metabolisme protein lainnya, tentu saja hal ini membuat ginjal yang sudah rusak semakin kepayahan menjalankan tugasnya.

Studi tahun 2012 mengamati efek diet rendah karbohidrat dan tinggi protein dengan diet rendah lemak pada ginjal.

Dalam studi tersebut ditemukan bahwa orang dewasa yang obesitas dan sehat, tidak ditemukan risiko penyakit ginjal berbahaya selama dua tahun melakukan diet rendah karbohidrat dan tinggi protein.

Baca Juga: 10 Sumber Protein Alami yang Bikin Tubuh Lebih Kuat

7. Meningkatnya Risiko Kanker

Kelebihan protein untuk jangka panjang meningkatkan risiko kanker

Foto: freepik.com

Penelitian lain menunjukan diet tinggi protein yang menjadi kelebihan protein dengan mengonsumsi daging merah dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit kanker.

Mengonsumsi lebih banyak daging merah dan olahannya dikaitkan dengan berbagai macam kanker, misalnya kanker kolorektal, kanker payudara, atau kanker prostat.

Namun sebaliknya, mengonsumsi protein dari sumber nabati justru dapat menurunkan risiko kanker. Para ilmuwan menduga karena sebagian hormon tertentu, senyawa karsinogenik, dan lemak yang ditemukan dalam daging dapat memicu risiko kanker.

8. Penyakit Jantung

Risiko kelebihan protein, terutama yang berasal dari daging merah dan makanan olahan susu berlemak, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. Hal ini dikaitkan dengan asupan lemak jenuh dan kolesterol yang lebih tinggi.

Menurut penelitian tahun 2010, makan daging merah dan produk susu tinggi lemak dalam jumlah besar terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung koroner pada wanita.

Dalam sebuah studi lainnya tahun 2018 menunjukkan bahwa konsumsi daging merah dalam jangka panjang dapat meningkatkan trimethylamine N-oxide (TMAO), bahan kimia yang dihasilkan usus yang dikaitkan dengan penyakit jantung.

Baca Juga: Serba-serbi Diet Keto, yang Dianggap Ampuh Turunkan Berat Badan

Kelebihan Protein Pada Ibu Hamil

Ibu hamil yang kelebihan protein dapat membahayakan janin

Foto: freepik.com

Asupan protein sangat penting pada masa kehamilan. Tanpa jumlah yang cukup, calon bayi di dalam kandungan tidak akan tumbuh secara normal. Wanita hamil membutuhkan lebih banyak protein dibandingkan wanita yang sedang tidak hamil.

Makanan mengandung protein, seperti daging sapi, merupakan sumber protein dan kalori yang tinggi. Meskipun wanita hamil membutuhkan sekitar 300 kalori ekstra per hari selama kehamilan.

Namun menurut American Pregnancy Association, mengonsumsi kalori berlebihan dapat menyebabkan penambahan berat badan yang tidak sehat.

Kelebihan protein pada ibu hamil juga tidak memberikan manfaat yang signifikan pada perkembangan bayi.

Dalam Energy and protein intake in pregnancy, peneliti menemukan pemberian suplementasi tinggi protein saja tidak bermanfaat bagi kehamilan dan mungkin dapat berbahaya untuk janin.

Selain itu, kelebihan protein pada ibu hamil dapat menyebabkan ginjal tidak mampu berfungsi dengan baik, sehingga protein dalam darah akan keluar bersama dengan urine yang biasa disebut proteinuria.

Proteinuria sebenarnya bukanlah penyakit, melainkan indikasi ada yang tidak beres di dalam tubuh, misalnya kondisi preeklampsia dan eklampsia, obesitas, gangguan imunitas tubuh dan lain sebagainya.

Mengonsumsi banyak air putih serrta mengontrol asupan protein dan garam yang masuk ke tubuh dapat mengurangi risiko kelebihan protein pada ibu hamil ini.

Baca Juga: Diet Keto Ibu Menyusui, Apakah Boleh Dilakukan?

Kelebihan Protein Pada Anak

Kelebihan protein pada anak tidak memberikan manfaat

Foto: Freepik.com

Protein merupakan salah satu nutrisi penting untuk tubuh. Biasanya untuk mencukupi asupan protein dalam tubuh pada anak, orang tua cenderung memberikan asupan protein berlebih pada anak termasuk memberikannya suplemen protein.

Namun, Moms dan Dads harus tetap memperhatikan jumlah asupan proteinnya, karena kelebihan protein pada anak jangka panjang dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Health Essentials Cleveland Clinic mengatakan bahwa untuk anak-anak usia 4-9 tahun hanya membutuhkan sekitar 19 gram protein setiap hari. Sedangkan untuk mereka yang berusia 9-13 tahun hanya membutuhkan sekitar 34 gram per hari.

Secara keseluruhan, anak-anak harus mendapatkan protein yang cukup setiap hari pertumbuhan dan kesehatannya.

Kelebihan protein pada anak malah menimbulkan berbagai risiko kesehatan, seperti kelebihan berat badan, kerusakan organ dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Protein adalah nutrisi yang krusial dalam hidup manusia semenjak dari janin hingga dewasa. Namun sesuatu yang baik juga akan menjadi berbahaya ketika dikonsumsi berlebihan. Bagaimanapun, tubuh manusia perlu nutrisi seimbang agar tetap sehat.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait