2-3 tahun

11 Mei 2021

5 Hal Penting Adopsi Anak Secara Sah Menurut Hukum Indonesia

Penting untuk Moms dan Dads yang ingin melakukan adopsi
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Anggia Hapsari
Disunting oleh Adeline Wahyu

Sebagian besar pasangan yang sudah menikah, tentu mendambakan momongan. Namun apa jadinya jika setiap usaha memiliki anak tidak juga membuahkan hasil? Bisa jadi Moms dan Dads akan legowo dan ikhlas untuk mengarungi bahtera kehidupan berdua, namun ada juga yang mulai berpikir adopsi anak.

Toh, kita semua percaya. Setiap wanita yang ada di dunia ini sebenarnya dilahirkan dengan identitas sebagai bakal calon ibu yang baik.

Tanpa mengandung anak secara biologis, para calon Moms juga bisa menyayangi dan merawat anak-anak dengan jalan adopsi anak.

Hal Penting dalam Adopsi Anak

-anakadopsi_ratio-16x9.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Meski demikian, adopsi anak tidak bisa dilakukan sembarangan dan dilakukan menurut keinginan sepihak. Coba mantapkan diri dan pasangan beberapa hal berikut ini:

Baca juga: Kisah Monica Soraya, Pengusaha yang Adopsi 8 Bayi

1. Tentukan Motivasi

Sebelum adopsi anak, tanyakan dalam diri Moms dan Dads, apa sebenarnya yang memotivasi Moms dan Dads untuk adopsi anak. Karena, saat seorang anak sudah diadopsi, artinya seluruh kehidupan anak tersebut akan bergantung pada orangtua angkatnya.

Moms dan Dads tentu tidak bisa (dan tidak boleh) menyesal atas setiap komitmen adopsi anak yang sudah dilakukan.

Anak angkat bukanlah komoditas yang bisa Moms dan Dads kembalikan saat terjadi konflik atau ketidakcocokan.

“Adopsi anak merupakan komitmen seumur hidup atas kehidupan orang lain, yang artinya adalah komitmen seumur hidup antara orangtua dan anak angkat,” ujar Laura Lamminen, Ph.D, selaku Lead Psychologist, Rees Jones Center for Foster Care Excellence dari Children’s Health, Dallas, Amerika Serikat.

Dilansir dari womansday.com, Lamminen a pun menjelaskan bahwa setidaknya ada beberapa pertanyaan yang perlu diresapi dan ditanyakan pada diri sendiri sebelum adopsi anak:

  • Apa yang membuat saya ingin melakukan adopsi anak?
  • Apakah dengan adopsi anak akan memengaruhi hubungan saya dan memberi dampak kepada orang-orang terdekat saya?
  • Apakah suasana dan lingkungan rumah saya sudah stabil secara emosional dan financial untuk adopsi anak?

Lebih lanjut, Lammien pun menjelaskan bahwa sangat penting untuk jujur kepada diri sendiri terkait kemampuan dan keadaan spesifik yang Moms dan Dads miliki.

Dengan demikian, Moms dan Dads dapat memberikan yang terbaik untuk anak yang akan diadopsi.

Ingat, ubah mindset Moms dan Dads saat adopsi anak. Moms dan Dads bukanlah “menyelamatkan” kehidupan anak adopsi, sehingga si anak “berhutang” banyak kepada Moms dan Dads.

Namun gantilah dengan pemikiran bagaimana kehidupan Moms dan Dads menjadi lebih berarti dan berharga dengan kehadiran anak adopsi.

2. Siapkan Diri Memperkenalkan Anak Adopsi

Sebelum adopsi anak, Moms dan Dads juga perlu bersepakat bagaimana menjelaskan kepada anak adopsi mengenai asal usulnya saat ia dewasa kelak.

Hal ini penting, karena ia juga memiliki hak untuk mengetahuinya. Ingatlah kembali bahwa adopsi anak dilakukan untuk mengedepankan kepentingan anak.

Bagaimana jika ternyata anak angkat Moms dan Dads kelak ingin kembali ke pangkuan orang tua kandungnya atau kerabat sedarahnya sendiri?

Meski jarang terjadi, ketika anak angkat memiliki keinginan ini, Moms dan Dads perlu bersepakat untuk merelakannya pergi.

Baca juga: Eratkan Hubungan Saudara dengan Anak Berkebutuhan Khusus dengan Cara Ini

3. Memenuhi Syarat Hukum Adopsi Anak

Skenarionya Moms dan Dads sudah mantap untuk adopsi anak. Namun, agar Moms dan Dads tidak salah melangkah, pastikan adopsi anak yang akan dilakukan memenuhi syarat hukum yang berlaku di Indonesia.

Dilansir dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, adopsi anak diatur oleh PP RI 54 tahun 2007. Setiap calon orangtua angkat yang akan adopsi anak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  • Sehat jasmani dan rohani.
  • Berumur paling rendah 30 tahun dan paling tinggi 55 tahun.
  • Memiliki agama yang sama dengan agama calon anak angkat. Jika asal usul anak tidak diketahui, maka agama perlu disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk setempat.
  • Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum karena melakukan tindak kejahatan.
  • Berstatus menikah paling singkat 5 tahun.
  • Tidak merupakan pasangan sejenis.
  • Tidak atau belum mempunyai anak atau hanya memiliki satu orang anak.
  • Mampu secara ekonomi dan sosial.
  • Memperoleh persetujuan anak dan izin tertulis orangtua atau wali anak.
  • Membuat pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik bagi anak, kesejahteraan, dan perlindungan anak.
  • Adanya laporan sosial dari pekerja sosial setempat.
  • Telah mengasuh calon anak angkat paling singkat 6 bulan, sejak izin pengasuhan diberikan.

Jika Moms dan Dads melakukan adopsi anak dari negara lain, jurnal dari American Academy of Pediatrics, Comphrehensive Health Evaluation of The Newly Adopted Childpun merekomendasikan evaluasi kesehatan anak tersebut.

Evaluasi kesehatan tersebut bertujuan untuk mencari kondisi medis yang perlu diketahui oleh calon orangtua, terkait dengan pemeriksaan dan pengobatan tata laksana lanjutan setelah adopsi disetujui.

Prosedur evaluasi kesehatan biasanya merupakan pemeriksaan fisik lengkap, skrining perkembangan, foto rontgen dada, dan pemeriksaan darah.

Pemeriksaan darah yang direkomendasikan adalah pemeriksaan darah lengkap, profil sel darah merah, antibodi hepatitis A, B, dan C, sifilis, dan HIV.

Untuk bayi baru lahir, direkomendasikan pemeriksan skrining kadar hormon tiroid, elektroforesis Hb, dan G6PD.

Sedangkan pemeriksaan tinja dan tes tuberkulin atau interferon-γ release assay (IGRA) merupakan pemeriksaan tambahan yang bisa dilakukan. Selain itu, status imunisasi bayi atau anak perlu dipastikan sebelum proses adopsi.

4. Pilih Tempat Adopsi yang Sah Menurut Hukum

Sebelum adopsi anak, ada baiknya Moms dan Dads menentukan dan memilih tempat adopsi anak yang sah menurut hukum. Contohnya panti asuhan dan yayasan yang sah di Departemen Sosial.

Dilansir dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, beberapa yayasan resmi yang ditunjuk pemerintah untuk proses adopsi adalah Yayasan Sayap Ibu (Jakarta) dan Yayasan Matahari Terbit (Surabaya).

Hal ini untuk menghindari kemungkinan Moms dan Dads mengadopsi anak dengan jalur tidak sah.

Baca juga: Mengenal Tes Apgar Score untuk Bayi Baru Lahir

5. Prosedur Adopsi Anak yang Benar

Sebelum mengadopsi anak, Moms sebaiknya melakukannya dengan prosedur yang benar. Tujuannya agar tidak terjadi masalah pada kemudian hari.

Dilansir dari laman Indonesia.go.id, prosedur pengangkatan anak sebenarnya telah memiiliki dasar peraturan yakni Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak. PP 54/2007 .

Peraturan tersebut merupakan turunan dari UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dalam PP 54/2007, peraturan pengangkatan anak dibedakan antara WNI-WNI (Warga Negara Indonesia), WNI-WNA (Warga Negara Asing), dan orangtua tunggal (single parent).

Adopsi antara WNI-WNI dan WNI orangtua tunggal, permohonan adopsi anak bisa disampaikan hingga Dinas Sosial Provinsi. Sedangkan adopsi antara WNI-WNA, permohonan adopsi anak perlu disampaikan ke Kementerian Sosial (Kemensos).

Bagaimana mekanisme adopsi anak yang benar? Simak beberapa hal ini:

  • Orangtua yang hendak mengadopsi anak mengirimkan surat permohonan.

Bila adopsi terjadi antara orangtua WNI-WNI dan WNI single parent maka surat permohonan adopsi anak disampaikan ke Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi. Bila adopsi terjadi antara orangtua WNI-WNA, maka permohonan pengangkatan anak disampaikan ke Kementerian Sosial (Kemensos).

  • Setelah surat permohonan pengangkatan anak diterima Dinsos dan Kemensos, maka akan dibentuk Tim Pertimbangan Perizinan Pengangkatan Anak (Tippa).

Tim Tippa ini di Dinsos diketuai kepala dinas atau kepala bidang rehabilitasi sosial. Di Kemensos, tim Tippa diketuai Dirjen Rehabilitasi Sosial dengan anggota dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), dan Kemenkum HAM, Kemenkes dan Polri.

Baca juga: Kenalan dengan Betrand Peto, Anak Angkat Ruben Onsu dan Sarwendah

  • Tim Tippa mengirim Tim Pekerja Sosial (Peksos) ke rumah calon orangtua angkat.

Tim Peksos mengadakan dialog dengan calon orangtua angkat kelayakan secara psikologi, sosial, ekonomi dan melihat segala aspek kelayakan untuk bisa mendapatkan hak asuh. Tim Peksos mengunjungi calon orangtua angkat selama 2 kali dalam masa 6 bulan.

  • Tim Peksos menyampaikan hasil ke tim Tippa.
  • Berdasarkan rekomendasi tim Peksos, tim Tippa akan meminta kelengkapan orangtua angkat antara lain:
    • Pasangan harus berstatus menikah dengan usia minimal 25 tahun dan maksimal 45 tahun.
    • Bukti pernikahan yang sah, minimal 5 tahun. Berarti, orangtua angkat yang pernikahannya kurang dari 5 tahun, tidak akan diizinkan.
    • Surat keterangan sehat jasmani rohani dari rumah sakit
    • Surat keterangan tidak pernah melakukan pelanggaran hukum atau Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK).
    • Surat keterangan penghasilan sehingga layak mengangkat anak.
  • Jika semua syarat tersebut dipenuhi, maka Mensos akan memberikan rekomendasi berdasarkan rekomendasi tim Tippa diizinkan mengangkat anak.
  • Surat rekomendasi pengangkatan anak terbit. Orangtua angkat mendapatkan hak pengasuhan sementara selama 6 bulan.
  • Jika setelah masa pengasuhan sementara selama 6 bulan hasilnya baik, maka pengangkatan anak akan ditetapkan oleh pengadilan. Namun jika hasilnya tidak baik dan permohonan ditolak, maka anak akan dikembalikan ke panti sosial tempat anak berasal.

Terkait dengan dua poin terakhir di atas, pada saat ini, petugas dinas sosial akan mengunjungi rumah pasangan untuk mengevaluasi kondisi sosial, ekonomi, finansial, dan kejiwaan calon orangtua angkat.

Jika dianggap layak, maka pasangan calon orangtua angkat diizinkan untuk membawa anak calon adopsi tinggal bersama selama 6 bulan dengan membawa Surat Izin Pengasuhan Sementara.

Selama waktu tersebut, sebelum adopsi anak dilakukan secara resmi, anak dan pasangan calon orang tua diawasi dan dibimbing oleh petugas Dinas Sosial.

Setelah waktu berakhir, pasangan calon orang tua akan menjalani persidangan dengan minimal 2 saksi yang memahami kondisi pemohon.

Proses lanjutan setelah persyaratan di atas terpenuhi adalah pengajuan permohonan ke pengadilan wilayah tempat tinggal calon anak oleh. Jika permohonan disetujui oleh persidangan, maka akan dikeluarkan surat ketetapan yang berkekuatan hukum.

Anak kemudian didaftarkan ke catatan sipil. Jika permohonan ditolak, maka anak dikembalikan ke panti sosial tempat ia berasal.

Baca juga: Asuransi Pendidikan untuk Anak, Penting atau Tidak?

Biaya Adopsi Anak

Adopsi-Hero.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, sebenarnya, proses adopsi anak melalui jalur resmi tidaklah memerlukan biaya. Meski demikian, Moms dan Dads perlu menjalani seluruh proses adopsi anak secara benar.

Proses ini biasanya memerlukan waktu cukup panjang, yaitu kurang lebih 2 tahun. Meski terbilang panjang, namun proses ini penting karena berkaitan dengan aspek legal dan masa depan anak dan keluarga yang bersangkutan.

Jika saat adopsi anak, si anak memiliki status yang legal, hal ini tentu akan memudahkan anak dalam proses bersekolah, kuliah, bekerja, dan menikah.

Itulah beberapa hal yang perlu Moms dan Dads ketahui sebelum adposi anak. Jadi, sudah siapkah Moms dan Dads?

  • https://www.womansday.com/relationships/family-friends/g2540/things-to-know-before-adopting-children/
  • https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/cara-adopsi-anak
  • https://indonesia.go.id/layanan/kependudukan/sosial/begini-syarat-dan-prosedur-adopsi-anak
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait