Kesehatan

5 Mei 2021

Pentingnya Pemeriksaan Albumin untuk Mendeteksi Penyakit Kronis

Seberapa penting melakukan pemeriksaan albumin? Ini ulasannya!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Debora
Disunting oleh Intan Aprilia

Apakah Moms pernah mendengar kata ‘albumin’? Albumin memang masih terasa asing didengar, namun ternyata manfaatnya sangat penting untuk fungsi organ tubuh, lho, Moms.

Albumin adalah protein yang dibuat oleh hati. Albumin merupakan salah satu unsur terpenting dalam struktur plasma darah. Banyak atau sedikitnya kadar albumin di dalam tubuh manusia dapat memengaruhi fungsi dan kerja plasma darah.

Albumin merupakan bagian dari protein plasma darah yang memiliki banyak peran lho, seperti mengatur tekanan osmotik darah, menjaga keseimbangan di dalam tubuh, mengangkut nutrisi di dalam tubuh, dan membantu kerusakan jaringan sel di dalam tubuh.

Jika ingin mengetahui kadar albumin dalam darah, maka penting untuk melakukan tes albumin serum dengan mengukur jumlah protein ini di bagian cairan darah yang bening. Albumin juga bisa diukur dalam urine.

Lantas, sebenarnya apa saja fungsi dan hal-hal yang harus diperhatikan seputar albumin? Simak ulasan berikut ini, ya!

Baca Juga: 5 Makanan Tinggi Protein Ini Bisa Bikin Kenyang Lebih Lama

Mengapa Perlu Dilakukan Pemeriksaan Albumin?

Mengapa Perlu Dilakukan Pemeriksaan Albumin?.jpg

Foto: freepik.com

Melihat fungsi albumin dalam darah yang penting bagi tubuh, ada baiknya Moms melakukan pengecekan atau pemeriksaan albumin secara berkala. Sebab, beberapa penyakit kronis, seperti gangguan pada ginjal atau hati bisa terjadi akibat kadar albumin yang tidak normal.

Moms tidak perlu khawatir, karena umumnya pemeriksaan albumin sangat aman untuk dilakukan. Risiko yang terjadi akan sangat kecil untuk menjalani tes darah.

Pada beberapaa kondisi, Moms mungkin mengalami sedikit rasa sakit atau memar di tempat jarum dimasukkan, tetapi kondisi tersebut akan segera cepat menghilang.

Nah, bagaimana cara pemeriksaan albumin yang dapat dilakukan? Pertama-tama, tenaga medis akan mengambil sampel darah dari pembuluh darah di lengan, dengan menggunakan jarum kecil. Setelah jarum dimasukkan, sejumlah kecil darah akan dikumpulkan ke dalam tabung reaksi atau vial.

Ketika melakukan pemeriksaan, Moms mungkin merasa sedikit perih saat jarum masuk atau keluar. Hal ini biasanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit. Lantas, adakah hal-hal yang harus dipersiapkan sebelum melakukan pemeriksaan albumin?

Nyatanya, Moms tidak memerlukan persiapan khusus untuk menguji albumin dalam darah. Jika Moms diharuskan untuk melakukan tes darah lainnya, Moms mungkin perlu berpuasa (tidak makan atau minum) selama beberapa jam sebelum pemeriksaan berlangsung. Terpenting adalah selalu ikuti instruksi yang diberitahukan.

Setelah melakukan pemeriksaan, seberapa besar kadar albumin dalam darah yang normal? Simak ulasan berikutnya, ya!

Baca Juga: Manfaat Protein untuk Bayi dan Tumbuh Kembangnya

Berapa Kadar Albumin yang Normal?

Berapa Kadar Albumin yang Normal?.jpg

Foto: medicalnewstoday.com

Setelah mengetahui penjelasan tentang albumin, lantas sebenarnya berapa kadar albumin dalam darah yang normal? Dilansir dari laman UCSF Health, kisaran albumin yang normal adalah 3,4 hingga 5,4 g/dL (34 hingga 54 g/L).

Namun, kisaran nilai normal mungkin sedikit berbeda di antara laboratorium yang berbeda. Beberapa laboratorium menggunakan pengukuran yang berbeda atau menguji sampel yang berbeda.

Sebaiknya bicarakan dengan petugas laboratorium tentang arti hasil tes spesifik albumin untuk penjelasan yang lebih pastinya.

Nah, nyatanya ketika kadar albumin terlalu rendah atau tinggi, bisa menjadi tanda-tanda dari beberapa kondisi tertentu.

Kadar albumin dalam darah yang lebih rendah dari normalnya, dapat menjadi tanda-tanda dari beberapa kondisi, seperti:

  • Penyakit ginjal.
  • Penyakit hati (misalnya, hepatitis, atau sirosis yang dapat menyebabkan asites).

Penurunan albumin darah dapat terjadi ketika tubuh Moms tidak mendapatkan atau menyerap nutrisi yang cukup, seperti:

  • Setelah menjalani operasi yang menyebabkan penurunan berat badan.
  • Mengalami penyakit Crohn (radang saluran pencernaan).
  • Menjalani diet rendah protein.
  • Mengalami penyakit radang usus.
  • Mengalami penyakit tiroid.
  • Mengalami malnutrisi atau gizi yang tercukupi sesuai kebutuhan tubuh.
  • Mengalami penyakit seliaka, yaitu kerusakan selaput usus kecil akibat mengonsumsi gluten.
  • Mengalami penyakit Whipple, yaitu kondisi yang mencegah usus kecil untuk membiarkan nutrisi masuk ke seluruh tubuh.

Sementara itu, apabila terjadi peningkatan albumin dalam darah, maka dapat menjadi tanda dari dari beberapa kondisi, seperti:

  • Alami dehidrasi.
  • Sedang menjalani diet protein tinggi.
  • Mengalami diare yang sudah kronis.
  • Memasang tourniquet dalam waktu lama saat memberikan sampel darah.
  • Minum terlalu banyak air (keracunan air) juga bisa menyebabkan kadar albumin yang tidak normal.
  • Mengalami penyakit Wilson, yaitu kondisi ketika terdapat terlalu banyak tembaga di dalam tubuh.

Setelah mengetahui kadar albumin dalam darah tidak berada dalam kisaran normal, Moms tidak perlu khawatir. Ada beberapa penanganan yang biasanya dilakukan, bergantung pada penyebabnya masing-masing.

Di antaranya adalah mengonsumsi jenis obat-obatan tertentu, termasuk steroid, insulin, dan hormon, dapat meningkatkan kadar albumin.

Obat lainnya, termasuk pil KB, dapat menurunkan kadar albumin dalam darah. Terpenting adalah segera mengetahui penyebab terjadinya kadar albumin tidak berada dalam batasan normal.

Baca Juga: 5 Tanda Penyakit Ginjal Yang Mungkin Ada di Diri Kita

Albumin Bagi Ibu Hamil

Albumin Bagi Ibu Hamil.jpg

Foto: bellybelly.com.au

Kadar albumin perlu diperhatikan bagi beberapa kelompok orang, salah satunya adalah ibu hamil. Selama masa kehamilan, ada baiknya Moms memerhatikan seluruh aspek kesehatan secara menyeluruh. Termasuk di dalamnya adalah kadar albumin dalam tubuh.

Tahukah Moms meskipun seseorang sudah memakan makanan sehat dan bergizi namun kadar albumin dalam tubuhnya rendah, maka semua nutrisi yang masuk tidak akan dapat terangkut?

Oleh karena itu, penting sekali bagi ibu hamil untuk dapat memenuhi kebutuhan albumin dalam tubuhnya. Selain mengantarkan nutrisi ke seluruh tubuh, albumin juga sangat penting untuk menjaga tumbuh kembang janin.

“Jadi jika ibu hamil kebutuhan albuminnya terpenuhi, maka bayi itu akan berkembang secara cepat selama Sembilan bukan di dalam perut. Hal ini terjadi karena kebutuhan protein untuk bayi di dalam perut terpenuhi,” ungkap DR. Dr. Taufik Jamaan SpOG, Ahli Obsteri dan Ginekologi dari RSIA Bunda.

Menurut dr. Taufik, ibu hamil kekurangan albumin akan menyebabkan kondisi yang berbahaya dan berakibat fatal. Hal ini bisa mengakibatkan janin kekurangan gizi, akibatnya tumbuh kembang janin pun akan mengalami hambatan.

“Ada juga kasus dimana setelah melahirkan kadang ada kondisi ibu menderita kaki dan tangan bengkak, hal ini juga dapat disebabkan karena kekurangan albumin,” lanjut dr. Taufik.

Namun, banyak ibu hamil yang mengalami kekurangan albumin, salah satu penyebabnya adalah kekurangan makanan yang baik dan bergizi serta terjadinya muntah-muntah saat masa kehamilan.

Baca Juga: Jarang Disadari, Ini Gejala Kanker Ginjal yang Harus Diwaspadai

Mendeteksi Ibu Hamil Kekurangan Albumin

Mendeteksi Ibu Hamil Kekurangan Albumin.jpeg

Foto: Orami Photo Stock

Ketika kadar albumin selama kehamilan tidak tercukupi, sebenarnya apa yang akan terjadi pada ibu hamil dan janin di dalam kandungannya?

Menurut dr. Taufik, setelah kehamilan memasuki usia 28 minggu, jika ibu kekurangan albumin maka akan terjadi hemodelusi atau darah encer.

“Kalau ibu kurang zat gizi pada minggu setelah bulan kehamilan ketujuh, maka ibu akan terlihat jalan pingsan, atau ibunya kondisinya lemah letih lesu, itu gejala terjadi hemodelusi darah. Banyak juga ibu hamil mengeluh kaki yang membengkak dan sesak napas di paru-paru. Kondisi-kondisi tersebut dapat menjadi tanda kekurangan albumin dalam darah,” ujar dr. Taufik.

Maka dari itu, ibu hamil juga penting melakukan pemeriksaan albumin dalam darah secara rutin untuk mencegah terjadinya kekurangan albumin.

Baca Juga: 5 Hal yang Harus Diketahui saat Pemeriksaan Kehamilan Pertama

Bagaimana Cara Mencukupi Albumin pada Ibu Hamil?

Bagaimana Cara Mencukupi Albumin pada Ibu Hamil?.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Seperti yang diungkapkan sebelumnya, kadar normal albumin dalam darah mencapai 3.4-5.4 g/dl. Albumin didapatkan dari hasil metabolisme protein di dalam hati menjadi plasma protein.

Kekurangan albumin atau yang juga disebut dengan hipoalbumin akan berdampak pada ibu hamil. Gejala yang muncul, biasanya berupa badan terasa lemas, tenaga berkurang, dan mudah jatuh sakit.

Nah, untuk memenuhi kebutuhan albumin dalam tubuh, ibu hamil dapat memakan makanan yang mengandung albumin seperti ikan, telur, kacang-kacangan, dan sebagainya.

“Protein itu banyak, di antaranya adalah protein nabati dan hewani. Nah, kadar albumin dalam ikan gabus itu menduduki peringkat pertama yang mengandung albumin paling tinggi. Untuk itu, akan sangat baik ibu hamil makan ikan gabus,” ujar dr. Taufik.

Menurut Dr. Taufik, pengolahan ikan gabus untuk ibu hamil juga perlu disesuaikan agar nutrisinya tidak berkurang. Hindari mengonsumsi ikan gabus dengan cara digoreng, karena saat digoreng, kadar albumin sudah menurun. Cara pengolahannya lebih baik untuk mengonsumsi ikan gabus dengan cara memasak direbus.

Itulah penjelasan tentang kadar albumin dalam darah, serta cara mencukupinya agar nutrisi dalam tubuh tetap terjaga dengan baik.

  • https://www.medicinenet.com/disease_prevention_in_women_pictures_slideshow/article.htm
  • https://medlineplus.gov/lab-tests/albumin-blood-test/
  • https://www.ucsfhealth.org/medical-tests/albumin-blood-(serum)-test
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait