Kesehatan Umum

29 September 2021

Alergi Sinar Matahari, Cari Tahu Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobatinya!

Cari tahu juga cara mencegahnya yuk Moms!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Apa Moms pernah mengalami ruam merah dan gatal pada kulit saat terkena sinar matahari? Bisa jadi hal itu karena Moms mengalami alergi sinar matahari.

Alergi sinar matahari atau disebut juga urtikaria matahari. Melansir Healthline, merupakan alergi langka yang menyebabkan gatal-gatal pada kulit saat terkena sinar matahari.

Bintik-bintik atau bekas kemerahan yang gatal biasanya muncul dalam beberapa menit setelah terpapar sinar matahari. Mereka dapat bertahan untuk waktu yang singkat atau hingga berjam-jam.

Bentuk paling umum dari alergi sinar matahari adalah erupsi cahaya polimorfik, juga dikenal sebagai keracunan matahari. Sampai saat ini belum diketahui penyebab alergi sinar matahari.

Kasus yang lebih parah dapat diobati dengan krim atau pil steroid. Orang yang memiliki alergi sinar matahari yang parah mungkin perlu mengambil tindakan pencegahan dan mengenakan pakaian pelindung matahari.

Baca Juga: Pilihan Salep Gatal untuk Mengatasi Gatal-gatal Akibat Alergi

Gejala Alergi Sinar Matahari

alergi sinar matahari

Foto: mysunallergy.com

Gejala alergi sinar matahari biasanya hanya terjadi pada kulit yang telah terpapar sinar matahari dan biasanya berkembang dalam beberapa menit hingga beberapa jam setelah paparan sinar matahari.

Umumnya gejala matahari adalah bercak kemerahan pada kulit diikuti rasa gatal, perih, dan terbakar. Namun Moms bisa memiliki gejala alergi lainnya jika gatal-gatal menutupi banyak kulit.

Beberapa gejala umum lainnya adalah:

  • Tekanan darah rendah
  • Sakit kepala
  • Mual
  • Sulit bernafas
  • Scaling, pengerasan kulit atau pendarahan
  • Lepuh atau gatal-gatal

Sementara gejala ruam dapat bervariasi tergantung pada sensitivitas individu. Terkadang gatal-gatal bisa melepuh atau menjadi berkerak.

Ruam tidak meninggalkan bekas luka saat hilang. Moms juga mungkin tidak mengalami ruam di tangan atau wajah, yang sering terkena sinar matahari.

Jika sangat sensitif terhadap sinar matahari, gatal-gatal juga dapat muncul di area kulit yang tertutup pakaian tipis. Akan tetapi yang perlu Moms ketahui adalah ruam panas dan alergi sinar matahari berbeda.

Biasanya, ruam panas terjadi ketika pori-pori Moms tersumbat dan keringat menumpuk di bawah pakaian atau di bawah selimut. Hal ini dapat terjadi tanpa paparan sinar matahari.

Misalnya, dalam cuaca panas dan lembap, ruam panas dapat terjadi pada bagian tubuh mana pun yang berkeringat, terutama di lipatan kulit. Beberapa daerah yang berisiko terkena ruam panas adalah bawah payudara, selangkangan, ketiak, antara paha bagian dalam.

Sementara ruam akibat alergi sinar matahari hanya terjadi akibat dari paparan sinar matahari. Selain itu, ruam panas juga dapat terjadi di musim apa pun.

Bayi bisa terkena ruam panas jika dibungkus dengan selimut. Ruam panas biasanya hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari, sedangkan ruam akibat alergi sinar matahari biasanya hanya berlangsung beberapa jam.

Baca Juga: Selain Ruam Popok, Ini Beberapa Masalah Kulit Bayi dan Cara Mengatasinya

Penyebab Alergi Sinar Matahari

alergi sinar matahari

Foto: keytsdermatology.com

Sampai saat ini penyebab alergi sinar matahari belum diketahui secara pasti. Namun melansir Mayo Clinic, beberapa obat-obatan, bahan kimia, dan kondisi medis tertentu dapat membuat kulit lebih sensitif terhadap sinar matahari.

Tidak jelas mengapa beberapa orang memiliki alergi sinar matahari dan yang lainnya tidak. Moms juga mungkin akan berisiko terkena alergi sinar matahari jika memiliki riwayat keluarga dengan kondisi seperti itu.

Moms juga bisa memiliki alergi sinar matahari jika menderita menderita dermatitis. Alergi sinar matahari terjadi ketika sinar matahari mengaktifkan pelepasan histamin atau bahan kimia serupa di sel-sel kulit.

Mekanismenya digambarkan sebagai reaksi antigen-antibodi. Jenis reaksi itu terjadi ketika sistem kekebalan menghasilkan antibodi untuk melawan antigen atau iritan tertentu yang bereaksi terhadap sinar matahari.

Hives adalah reaksi inflamasi yang dihasilkan. Dalam beberapa kasus, panjang gelombang sinar ultraviolet (UV) tertentu memicu reaksi alergi.

Kebanyakan orang dengan alergi sinar matahari bereaksi terhadap UVA atau cahaya tampak.

Baca Juga: Lingkungan Kotor Turunkan Risiko Alergi dan Asma pada Bayi

Meski langka, secara umum alergi sinar matahari dapat menyerang siapa pun tanpa memandang usia. Bahkan alergi sinar matahari juga dapat menyerang bayi.

Alergi sinar matahari juga dapat terjadi pada orang-orang dari semua ras, meskipun beberapa bentuk kondisi ini mungkin lebih umum terjadi pada orang bule. Urtikaria matahari mungkin hanya muncul dari waktu ke waktu, atau mungkin kronis. 

Beberapa penelitian skala besar dilakukan tentang hasil pengobatan. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan kombinasi pengobatan adalah yang paling efektif untuk mengobati alergi sinar matahari.

Pada sebuah studi tahun 2003, dari 87 kasus menemukan bahwa sekitar dua pertiga peserta mendapat manfaat dari menghindari sinar matahari, mengenakan pakaian gelap, dan mengonsumsi antihistamin.

Studi yang sama ini menyimpulkan bahwa 36 persen orang masih mendapat manfaat dari metode ini 15 tahun setelah diagnosis. Sementara mereka yang masih memiliki gejala, para peneliti mencatat, mayoritas berhasil mendapatkan kontrol gejala yang baik dengan kombinasi perawatan.

Baca Juga: Tangan Gatal Usai Gunakan Deterjen? Waspada Alergi Deterjen dan Cara Mengatasinya

Diagnosis Alergi Matahari

alergi sinar matahari

Foto: everydayhealth.com

Diagnosis alergi sinar matahari biasanya baru bisa diketahui setelah dokter melakukan pemeriksaan fisik. Mereka akan melihat ruam dan bertanya tentang sejarah kemunculan dan hilangnya ruam tersebut.

Alergi sinar matahari biasanya pecah dalam beberapa menit setelah terpapar sinar matahari, dan hilang dengan cepat jika Moms keluar dari matahari. Ruam juga tidak meninggalkan bekas luka.

Selain itu dokter juga biasanya akan mengajukan pertanyaan tentang riwayat Moms dan reaksi terhadap sinar matahari. Kemungkinan besar, dokter juga akan melakukan satu atau lebih tes untuk memastikan diagnosisnya.

Berikut adalah beberapa tes yang biasanya dilakukan dokter untuk mendiagnosis alergi sinar matahari.

1. Phototesting

Tes ini dilakukan untuk melihat bagaimana kulit Moms bereaksi terhadap sinar UV dari lampu matahari dalam panjang gelombang yang berbeda. Panjang gelombang reaksi kulit Moms dapat membantu mengidentifikasi alergi sinar matahari khusus.

2. Uji Tempel

Tes ini melibatkan menempatkan berbagai zat yang diketahui memicu alergi pada kulit Moms, menunggu satu hari, dan kemudian memaparkan kulit Moms ke radiasi UV dari lampu matahari. Jika kulit Moms bereaksi terhadap zat tertentu, itu mungkin yang memicu alergi sinar matahari.

3. Tes Darah atau Biopsi Kulit

Tes ini dapat digunakan jika dokter berpikir bahwa gatal-gatal yang Moms alami mungkin disebabkan oleh kondisi medis lain, seperti lupus atau penyakit metabolik.

Baca Juga: Kenapa Bekas Luka Terasa Gatal? Pertanda Luka Mau Sembuh?

Cara Mengobati Alergi Sinar Matahari

alergi sinar matahari

Foto: indianexpress.com

Terkadang urtikaria matahari akan hilang dengan sendirinya. Akan tetapi, jangan ragu untuk melakukan konsultasi dengan dokter ketika Moms mengalami reaksi kulit yang tak biasa dan mengganggu akibat alergi sinar matahari.

Untuk gejala yang parah atau persisten, Moms mungkin perlu menemui dokter yang berspesialisasi dalam mendiagnosis dan mengobati gangguan kulit (dokter kulit).

Perawatan untuk alergi sinar matahari tergantung pada tingkat keparahan gejala yang Moms alami. Menjauh dari sinar matahari dapat mengatasi gejala jika reaksinya ringan.

Dalam kasus ringan, dokter mungkin meresepkan antihistamin oral untuk menenangkan gatal-gatal atau krim yang dijual bebas, seperti lidah buaya atau losion kalamin. Jika reaksi lebih parah, kemungkinan dokter akan merekomendasikan  obat lain, seperti:

  • Kortikosteroid
  • Hydroxychloroquine (Plaquenil), obat antimalaria
  • Montelukast (Singulair), yang biasanya digunakan untuk mengobati asma.

Montelukast hanya boleh digunakan sebagai pengobatan alergi jika tidak ada alternatif yang cocok. Ini karena terkait dengan peningkatan risiko perubahan perilaku dan suasana hati, seperti pikiran dan tindakan bunuh diri.

Selain itu, dokter Moms juga mungkin akan merekomendasikan fototerapi. Perawatan ini akan mempersiapkan kulit Moms untuk sinar matahari musim panas dengan secara teratur mengeksposnya ke radiasi ultraviolet dari lampu matahari di musim semi. Ini mungkin membuat Moms tidak peka, tetapi efeknya mungkin tidak bertahan lama.

Baca Juga: 9+ Obat Gatal pada Kulit Anak yang Paling Efektif, Bisa Pakai Kompres Dingin!

Cara Mencegah Alergi Sinar Matahari

alergi sinar matahari

Foto: prevention.com

Meski tidak berbahaya, tetapi alergi sinar matahari bisa jadi menganggu. Kulit terasa tidak nyaman karena panas dan gatal.

Jika Moms memiliki alergi sinar matahari atau kepekaan yang meningkat terhadap matahari, Moms bisa melakukan beberapa cara untuk menghindari terjadi efek akibat alergi sinar matahari.

Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko alergi sinar matahari:

1. Hindari Sinar Matahari selama Jam Sibuk

Cobalah untuk menghindari sinar matahari paling kuat, antara pukul 10 pagi hingga 4 sore.

2. Hindari Paparan Sinar Matahari secara Tiba-tiba

Banyak orang memiliki gejala alergi sinar matahari ketika mereka terkena lebih banyak sinar matahari di musim semi atau musim panas. Secara bertahap tingkatkan jumlah waktu yang dihabiskan di luar ruangan sehingga sel-sel kulit Moms punya waktu untuk beradaptasi dengan sinar matahari.

Baca Juga: 7 Obat Biduran Alami untuk Mengatasi Kulit Gatal dan Kemerahan, Yuk Coba!

3. Kenakan Kacamata Hitam dan Pakaian Pelindung

Kemeja lengan panjang dan topi bertepi lebar dapat membantu melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Hindari kain yang tipis atau tenunannya longgar — sinar UV dapat menembusnya.

4. Gunakan Tabir Surya

Gunakan tabir surya spektrum luas dengan SPF minimal 30. Oleskan tabir surya secukupnya, dan aplikasikan kembali setiap dua jam, atau lebih sering jika Moms berenang atau berkeringat.

5. Hindari Pemicu yang Diketahui

Jika Moms tahu bahwa zat tertentu menyebabkan reaksi kulit, seperti obat atau kontak dengan ubi liar atau jeruk nipis, hindari pemicu itu.

6. Gunakan Payung

Jika memang Moms perlu keluar ruangan di jam sinar matahari paling kuat, pertimbangkan untuk menggunakan payung saat keluar rumah.

Baca Juga: 8 Penyebab Bintik Merah Gatal pada Kulit saat Hamil, Jangan Dianggap Sepele!

Itulah beberapa hal penting tentang alergi sibar matahari yang bisa dialami siapa saja. Beberapa akan mengalami gejala yang tidak terlalu parah atau justru sebaliknya.

Sama seperti masalah kesehatan lainnya, seseorang harus mengetahu penyebab alergi sinar matahari tersebut itu terlebih dahulu, agar dapat mengobati dan mencegahnya terjadi kembali. Bagaimanapun, alergi sinar matahari dapat menjadi kronis.

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sun-allergy/symptoms-causes/syc-20378077
  • https://www.healthline.com/health/skin-disorders/solar-urticaria#prevention
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait