Kesehatan

29 Maret 2021

Alter Ego, Apa Itu? Yuk Kenali dan Cari Tahu Manfaatnya

Apakah sama dengan kepribadian ganda?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Lolita
Disunting oleh Amelia Puteri

Apakah Moms pernah mendengar istilah alter ego? Istilah ini semakin populer di tahun 2008, ketika penyanyi legendaris Beyoncé meluncurkan album barunya bertajuk 'I Am... Sasha Fierce'.

Jika sebelumnya Beyoncé dikenal sebagai penyanyi RnB, pada album ini ia juga menyelipkan lagu-lagu dengan konsep tahun 1970-an yang berbeda dari biasanya.

Beyoncé juga menyebutkan bahwa sosok alter ego dalam dirinya ini keluar saat tahun 2003 dalam peluncuran lagu berjudul 'Crazy in Love'.

Mengutip dari majalah People, Beyoncé menyebut alter ego-nya hanya untuk di panggung, ia juga menggambarkan sosok Sasha Fierce sebagai alter ego yang sensual dan agresif. Mulai saat itulah istilah alter ego kian dikenal masyarakat luas.

Melansir dari buku berjudul Cameral Analysis: A Method of Treating the Psychoneuroses Using Hypnosis karangan David Lawrence Pederoson, istilah alter ego diperkenalkan pertama kali pada tahun 1739-an.

Seorang dokter bernama Franz Anton Mesmer menggunakan metode hipnotis untuk mengetahui pola perilaku yang berbeda dalam kepribadian individu ketika dalam keadaan sadar lalu dibandingkan dengan kepribadian ketika individu tersebut terhipnotis.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang istilah ini, berikut penjelasan mengenai alter ego. Yuk, simak penjelasannya berikut ini, Moms!

Baca Juga: Tanda Kepribadian Ganda yang Mudah Dikenali, Ketahui Penyebab dan Cara Merawatnya

Pengertian Alter Ego

alter ego

Foto: Unsplash

Alter ego adalah sosok lain dalam diri seseorang. Dalam pengertian secara umum, istilah ini merupakan kondisi ketika seseorang membangun karakter lain dalam dirinya dengan kesadaran penuh.

Karakter ini biasanya merupakan potret ideal yang tidak bisa direalisasikan di kehidupan nyata. Mereka yang memiliki alter ego dikatakan sebagai seseorang yang menjalani kehidupan ganda.

Dalam bahasa Latin, alter ego secara harfiah diartikan sebagai 'saya yang kedua'. Sehingga alter ego dianggap sebagai klon atau sosok kedua yang ada dalam diri seseorang.

Istilah ini juga bisa merujuk pada sisi kedua yang tersembunyi dari diri sendiri.

Makna berbeda mengenai alter ego juga dapat ditemukan dalam analisis sastra. Menurut buku berjudul Psychology and Performing Arts oleh G.D Wilson, dijelaskan bahwa alter ego merupakan penggambaran sebuah karakter dalam karya-karya sastra yang menggunakan pendekatan psikologis.

Dalam peran tersebut, sosok alter ego ini ditunjukkan dengan karakter fiktif yang ucapan, perilaku, dan jalan pikirnya menggambarkan sosok penulis atau karakter lain.

Dalam karya klasik Robert Louis Stevenson, The Strange Case of Doctor Jekyll and Mr. Hyde, Dr. Jekyll adalah pria yang baik hati dan dihormati, tapi setelah meminum ramuan ia lantas memunculkan alter egonya sebagai Tuan Hyde yang bertolak belakang dengan karakter baiknya.

Tuan Hyde dikenal jahat dan tidak berperilaku layaknya pria terhormat.

Baca Juga: Apakah Kepribadian Ganda Bisa Disembuhkan?

Apakah Alter Ego Sama dengan Kepribadian Ganda?

alter ego

Foto: Unsplash

Setelah mengetahui penjelasan di atas, Moms pasti bertanya-tanya, apakah alter ego sama dengan kepribadian ganda? Sebab, keduanya sama-sama memiliki dua kepribadian yang berbeda. Meski begitu, keduanya belum tentu sama.

Menurut Journal Sentinel, kepribadian ganda atau dissociative identity disorder (DID) merupakan istilah terbaru yang merujuk pada 'gangguan kepribadian ganda.

Kondisi mental ini termasuk langka bahkan kerap tidak disadari oleh pengidapnya.

Mereka yang memiliki DID umumnya tidak punya banyak kepribadian seperti halnya identitas yang terfragmentasi yang bermanifestasi sebagai dua atau lebih persona atau alter ego yang berbeda.

Dana Dorfman, seorang psikoterapis di New York menjelaskannya dengan sederhana:

"Orang dengan DID tidak memiliki kepribadian berbeda yang tinggal di dalam diri mereka. Mereka tidak dapat meleburkan keadaan emosi yang berbeda ke dalam satu rasa diri mereka," jelasnya.

Sementara itu, mereka yang memiliki alter ego merubah identitasnya dengan sadar dan masih dalam lingkup wewenang identitas aslinya.

Selain itu, istilah ini juga tidak menyebabkan penderitanya lupa ingatan ketika proses perubahan karakter itu dilakukan.

Terlebih, identitas atau karakter aslinya masih memegang kendali penuh saat menukar identitas dan terjadi dalam kesadaran utuh.

Sehingga, ketika seseorang dengan alter ego menginginkan atau membutuhkan identitasnya yang lain, maka hal itu diubah dengan sendirinya secara sadar.

Baca Juga: Ternyata, Nama Anak Mencerminkan Kepribadian Orangtuanya!

Manfaat Memiliki Alter Ego

alter ego

Foto: Orami Photo Stocks

Sebagian orang menilai bahwa memiliki alter ego merupakan sesuatu yang negatif, padahal jika dilakukan dengan tepat, hal ini bisa menghadirkan manfaat tersendiri.

Contohnya, Beyoncé dalam Oprah Winfrey Show tahun 2008 mengatakan:

"Biasanya, ketika aku mendengar chord (lagunya), ketika aku memakai stiletto (sepatu hak tinggi), kemudian sosok 'Sasha Fierce' muncul, dan postur tubuhku serta caraku berbicara, semuanya berbeda" ujarnya.

Dalam hal ini, sosok alter ego Sasha Fierce kehadirannya sangat dibutuhkan karena dengan alter egonya ini Beyoncé bisa melepaskan diri secara emosional dari tekanan untuk memenuhi ekspektasi dari ratusan ribu penggemar yang melihat aksinya di panggung.

Itu adalah salah satu contoh dari manfaat alter ego, ada sejumlah kelebihan lain yang dimiliki oleh mereka yang punya alter ego dalam dirinya, Moms. Berikut penjelasannya.

Baca Juga: Gemas, Inilah 4 Tipe Kepribadian Balita dan Cara Menghadapinya dengan Benar

1. Meningkatkan Pengaturan Emosional dan Fokus pada Tujuan

"Kita semua dapat meningkatkan pengaturan emosional, pengendalian diri, dan ketenangan dengan memilih untuk mewujudkan persona lain ala 'Sasha Fierce'," jelas Celina Furman, peneliti psikologi sosial dari University of Minnesota.

Baik itu 'mengadopsi' alter ego seperti Sasha Fierce, atau sekadar memainkan peran sebagai orang ketiga dalam diri sendiri dapat membantu Moms tetap fokus pada tujuan, entah itu rutinitas olahraga baru, menjalankan rencana bisnis, atau hal-hal lain yang ingin dicapai.

2. Merangkai Ulang Krisis Identitas Diri

Orang cenderung mengatur identitas dirinya sendiri dan menyesuaikannya dengan kelompok atau lingkungan sosial yang ia temui.

Misalnya, Moms akan menjadi orang yang berbeda ketika berada di kantor dan saat Moms berada di rumah.

Banyak orang tidak menyadari bahwa dengan melakukan hal tersebut, Moms telah merangkai ulang krisis identitas dan mengaktifkan alter ego dalam diri.

Hal ini dapat menghalangi hal-hal negatif yang sekiranya mengganggu pekerjaan Moms di rumah maupun di kantor, karena Moms secara sadar perlu menyesuaikan diri.

Baca Juga: Yuk Cari Tahu Kepribadian Berdasarkan Kopi Favorit!

3. Mengadopsi Perilaku Positif

Menciptakan alter ego adalah bentuk jarak psikologis atau self-distancing yang terbukti memungkinkan moms untuk mengadopsi ciri-ciri kepribadian yang diinginkan.

Tak hanya itu, mengadopsi hal ini juga dapat membantu meniru perilaku positif dari orang lain, misalnya kedisiplinan, pengendalian diri, dan keberanian.

Hal ini juga dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan pada tahun 2016 oleh, Stephanie Carlson, Profesor Perkembangan Kognitif di Institut Perkembangan Anak, dalam Journal of Cognition and Development.

Dalam penelitian tersebut, ia mengambil sekelompok anak usia lima tahun dan memberi mereka tes konsentrasi.

Tes tersebut dirancang dengan sangat membosankan tetapi anak-anak diberi tahu bahwa itu adalah 'kegiatan yang sangat penting' dan mereka akan diberi penghargaan jika mengerjakan tugas itu semaksimal mungkin.

Sebelumnya, beberapa anak diberitahu untuk berpikir "Apakah saya bekerja keras?"

Sementara anak-anak yang lain diberi pilihan untuk mengubah kepribadiannya sepenuhnya dengan mewujudkan pahlawan fiksi, yang dalam hal ini Batman.

Mereka didorong untuk bertanya pada diri sendiri, "Apa yang akan dilakukan Batman?" setiap kali mereka merasakan ingin menyerah saat mengerjakan tugas.

Hasilnya, para peneliti telah menduga bahwa alter ego akan menjadi bentuk self-distancing yang ekstrem. Secara keseluruhan, anak-anak usia 5 tahun tampil seolah-olah mereka berusia 6 tahun, sedangkan perilaku rekan-rekan mereka yang tidak diberikan saran tidak menunjukkan perubahan apa pun.

Dengan membantu anak-anak menjauhkan diri dari situasi, peneliti membantu mereka mengamati perilaku mereka sendiri.

Teknik self-distancing menciptakan ruang kesempatan bagi anak-anak untuk mengendalikan keinginan langsung mereka dan tetap berpegang pada tugas yang diberikan.

Baca Juga: Berkepribadian Kuat, Ini 8 Fakta Ilmiah Anak Pertama

Asisten profesor psikologi di Hamilton College di New York State pun mengungkapkan bahwa self-distancing memberikan seseorang ruang ekstra untuk berpikir secara rasional tentang situasi yang dihadapi.

Hal ini juga memungkinkan orang untuk mengendalikan perasaan seperti kecemasan dan ketidaksabaran sambil meningkatkan tingkat pengendalian diri dan tekad kita.

Itulah pengertiaan, perbedaan, hingga manfaat memiliki alter ego.

Meski begitu, untuk bisa mencapai manfaat yang diinginkan, Moms harus berlatih dan membiasakan diri untuk menciptakan ruang psikologis dalam perasaan atau situasi yang sedang dialami, sambil mengingatkan diri tentang sikap mana dan siapa yang ingin ditiru.

Lalu, bertanya pada diri sendiri bagaimana pahlawan atau sosok yang ingin Moms tiru dalam berperilaku itu akan bersikap ketika dihadapkan dalam situasi serupa?

Dengan begitu, secara otomatis mendorong Moms untuk membuat keputusan yang tepat, alih-alih memilih jalan keluar yang mudah.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait