Trimester 1

12 Agustus 2021

8 Fungsi Amnion, Air Ketuban yang Bisa Membantu Perkembangan Paru-paru Janin

Kekurangan cairan dapat menyebabkan penurunan terhadap air ketuban ibu hamil
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

Saat berada di dalam rahim, bayi terletak di dalam kantung ketuban, kantung yang terdiri dari 2 selaput, amnion, dan korion. Janin tumbuh dan berkembang di dalam kantung ini, dikelilingi oleh cairan ketuban atau cairan amnion.

Awalnya, cairan terdiri dari air yang diproduksi oleh sang ibu. Pada sekitar usia kehamilan 20 minggu, bagaimanapun, ini sepenuhnya digantikan oleh urin janin, saat janin menelan dan mengeluarkan cairan.

Jumlah cairan amnion paling banyak pada sekitar 34 minggu (kehamilan) dalam kehamilan, ketika rata-rata 800 mL. Dan sekitar 600 mL cairan ketuban mengelilingi bayi pada kehamilan 40 minggu.

Berikut ini adalah informasi lengkap tentang cairan amnion dan fungsinya selama masa kehamilan, serta untuk keselamatan bayi.

Baca Juga: 9 Cara Memperbanyak Air Ketuban hingga Akhir Kehamilan, Ampuh!

Apa Itu Cairan Amnion?

Cairan amnion atau biasa disebut dengan air ketuban, terdiri atas 98% air, sisanya terdiri atas garam anorganik serta bahan organik dan bila diteliti benar, terdapat rambut lanugo (rambut halus berasal dari bayi), sel-sel epitel, dan verniks kaseosa (lemak yang meliputi kulit bayi).

Cairan ini berasal dari transudasi plasma maternal, masuk menembus selaput yang melapisi plasenta dan tali pusat.

Pada kehamilan lanjut, urin janin akan ikut membentuk air ketuban. Volume cairan ketuban pada kehamilan cukup bulan kira-kira 1000-1500 cc.

Pada saat kehamilan, cairan amnion juga bisa digunakan untuk mendeteksi kelainan yang dialami janin, khususnya yang berhubungan dengan kelainan kromosom.

Cairan amnion juga mengandung komponen vital, seperti nutrisi, hormon, dan antibodi penangkal infeksi. Cairan amnion yang berwarna hijau atau coklat menandakan bayi telah mengeluarkan mekonium sebelum lahir. Mekonium adalah nama saat buang air besar pertama.

Mekonium dalam cairan bisa menimbulkan masalah. Ini dapat menyebabkan masalah pernapasan yang disebut sindrom aspirasi mekonium yang terjadi ketika mekonium memasuki paru-paru.

Baca Juga: 3 Cara Mengatasi Polihidramnion, Kondisi Cairan Ketuban Tinggi saat Hamil

Dalam beberapa kasus, bayi akan membutuhkan perawatan setelah mereka lahir.

Keberadaan dan fungsi cairan amnion memiliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan pertumbuhan janin.

Kelainan jumlah cairan ketuban dapat terjadi, dan seringkali merupakan pertanda yang paling awal terlihat pada janin yang mengalami gangguan.

Kelainan jumlah cairan ketuban dapat menimbulkan gangguan pada janin, seperti hipoplasia paru, deformitas janin, kompresi tali pusat, Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT), prematuritas, kelainan letak dan kematian janin.

Cairan amnion dapat digunakan untuk melakukan evaluasi tentang kelainan kongenital janin, gangguan tumbuh kembang janin intrauteri, kematangan paru, dan sebagainya.

Sebenarnya apa fungsi cairan amnion ini hingga begitu penting? Yuk kita tengok, Moms.

Fungsi Cairan Amnion

fungsi air ketuban

Foto: Orami Photo Stock

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa air ketuban memiliki banyak fungsi untuk janin Moms.

Selain menjaga bayi dari benturan, mengutip Medical News Today, fungsi lainnya meliputi:

1. Melindungi Posisi Janin

Fungsi pertama cairan amnion, adalah melindungi janin ketika dalam keadaan terjepit maupun keadaan yang berbahaya lainnya seperti saat Moms jatuh atau terpeleset. Air ketuban juga bisa melindungi janin di dalam kandungan dari benturan dan tekanan dari luar

2. Menjaga Asupan Oksigen

Selain melindungi posisi janin, air ketuban juga akan menjaga agar asupan oksigen dari tali pusar selalu nyaman untuk janin dan menjaga paru-paru janin agar tetap berfungsi dengan baik.

Tak hanya itu, air ketuban juga akan melindungi janin dari pengaruh infeksi yang didapatkan dari Moms atau makanan yang Moms konsumsi.

3. Menjaga Kondisi Janin

Fungsi lain air ketuban adalah menjaga agar kondisi suhu dalam rahim tetap nyaman untuk janin, membuatnya tetap nyaman bergerak dan mendukung pertumbuhan tulang dan otot janin. Terakhir, air ketuban juga akan melindungi sistem pencernaan dan pernafasan janin selama dalam kandungan.

Baca Juga: 5 Teknik Mengubah Posisi Janin Agar Tidak Sungsang

4. Memberi Ruang Gerak

Air ketuban juga memberikan ruang untuk janin bergerak, serta menjaga agar tali pusar tidak terjepit di antara janin dan dinding rahim. Oleh karena itu penting untuk menjaga produksi cairan ini tetap ada.

5. Mencegah Infeksi

Fungsi lainnya dari air ketuban ini adalah untuk mencegah infeksi pada janin. Kandungan sel-sel pembentuk daya tahan tubuh di dalam air ketuban bertugas melawan infeksi yang masuk.

6. Mendukung Perkembangan Paru-paru

Janin tidak bernapas dengan cara menghirup, melainkan menelan air ketuban. Aktivitas ini dimulai saat kandungan Moms berusia 10-11 minggu.

Pada usia kehamilan 32 minggu, janin mulai berlatih bernapas dengan mengembang-kempiskan paru-paru. Paru-paru bayi dianggap sudah matang pada usia kehamilan 36 minggu.

7. Mendukung Perkembangan Sistem Pencernaan

Janin belajar menelan dengan meminum air ketuban. Air tersebut kemudian dikeluarkan sebagai urin janin untuk menjaga kestabilan jumlah air ketuban.

Janin di dalam kandungan yang kesulitan menelan air ketuban akan mengakibatkan volume air ketuban terlalu banyak (polihidramnion). Hal ini dapat mengindikasikan adanya kelainan pencernaan pada janin.

Baca Juga: Coba 5 Hal Ini Agar Pencernaan Ibu Hamil Bebas dari Masalah

8. Mendukung Perkembangan Otot dan Tulang

Kantung ketuban menyediakan ruang untuk janin bergerak. Aktivitas bayi yang bergerak di dalam perut ini nantinya akan mendukung perkembangan otot dan tulang janin.

Penyebab Amnion Sedikit

penyebab cairan amnion kurang

Foto: Orami Photo Stock

Namun selama hamil, ada beberapa hal yang dapat menyebabkan rendahnya cairan ketuban. Jumlah air ketuban yang sedikit ini dapat membahayakan calon bayi di dalam kandungan. Berikut beberapa penyebab air ketuban sedikit yang harus diperhatikan Moms.

1. Obat yang Dikonsumsi

Semua jenis obat yang Moms konsumsi saat hamil benar-benar harus diperhatikan, karena saat hamil Moms rentan karena terkena efek samping obat untuk mengatasi berbagai gejala. Terdapat beberapa jenis obat yang sering menurunkan jumlah cairan ketuban termasuk seperti obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi, obat anti inflamasi non steroid, ibuprofen dan jenis obat lain.

2. Gangguan Plasenta

Penyebab lainnya adalah gangguan pada plasenta, yang membuat air ketuban selalu sedikit selama kehamilan. Hal ini kerap disebut dengan insufisiensi plasenta dimana plasenta yang seharusnya memasok darah dan nutrisi ke tubuh bayi tiba-tiba berhenti berfungsi.

Hal ini dapat terjadi dengan karena beberapa penyebab seperti masalah preeklampsia, penyakit lupus yang diderita ibu hamil, penyakit tekanan darah tinggi dan diabetes gestasional.

Baca Juga: Kenali Plasenta Bayi dan Bentuk Plasentanya, Jadi Organ Penting!

3. Dehidrasi

Saat hamil, Moms kerap tak dapat mengatur jumlah cairan yang masuk ke tubuh dengan baik sehingga pada akhirnya Moms akan mengalami dehidrasi yang dapat membuat tubuh ibu kurang cairan.

Kekurangan cairan ini tak hanya membuat tubuh Moms lemah namun air ketuban terus berkurang. Pada kondisi seperti ini maka Moms harus mendapatkan cairan yang cukup seperti dengan minum secara teratur.

4. Kelelahan

Moms yang mengalami kelelahan saat hamil akan mengalami penurunan cairan ketuban secara perlahan. Masalah ini dapat disebabkan karena ketuban yang merembes atau bocor. Bahkan pada kondisi kelelahan yang sangat parah maka janin dalam kandungan dapat terganggu.

Sistem dalam tubuh janin juga tidak akan bekerja dengan baik sehingga air ketuban terus menerus menurun.

5. Kondisi Kesehatan Ibu

Komplikasi maternal seperti berikut ini dapat menyebabkan rendahnya kadar cairan ketuban, diantaranya:

  • preeklamsia
  • diabetes
  • tekanan darah tinggi
  • kegemukan
  • dehidrasi

Itulah mengapa sangat penting untuk menjaga janji pranatal tersebut, meskipun sejauh ini tidak terjadi masalah.

6. Kehamilan Pasca Kehamilan

Cairan ketuban secara alami mulai berkurang setelah 36 minggu kehamilan, dan kemungkinan besar akan terlalu rendah setelah 42 minggu kehamilan. Namun, dokter kandungan Moms mungkin tidak akan membiarkan hal ini terjadi, sehingga akan dilakukan induksi agar bayi bisa cepat lahir.

Baca Juga: 3 Gangguan Kesehatan Mental Pascamelahirkan, Waspada!

Perhatikan Kadar Cairan Amnion

Jadi, bagaimana Moms bisa tahu dengan pasti jika kita memiliki kadar cairan amnion yang cukup atau rendah?

Biasanya dokter akan memberitahu kita. Dokter dapat menggunakan ultrasound untuk mengukur apakah ada cukup cairan.

Sebelum 24 minggu atau dalam kehamilan dengan kelipatan, cairan ketuban diukur melalui USG dengan metode yang disebut "kantong vertikal maksimum".

Melansir Perinatal Stem Cells Journal, volume air ketuban yang normal adalah sebagai berikut:

  • 60 milliliter (ml) saat kandungan berusia 12 minggu.
  • 175 ml pada usia kehamilan 16 minggu.
  • 400-1200 ml pada minggu 34-38.
  • 600 ml pada usia kehamilan

Penting untuk mengetahui apakan jumlah air ketuban sudah sesuai dengan usia kehamilan. Kekurangan atau kelebihan air ketuban sama-sama berisiko bagi kehamilan dan janin.

Mengutip Medline Plus, terlalu banyak cairan ketuban disebut polihidramnion. Kondisi ini dapat terjadi pada kehamilan ganda (kembar atau kembar tiga), anomali kongenital (masalah yang ada saat bayi lahir), atau diabetes gestasional.

Terlalu sedikit cairan ketuban dikenal sebagai oligohidramnion. Kondisi ini dapat terjadi pada akhir kehamilan, ketuban pecah, disfungsi plasenta, atau kelainan janin.

Baca Juga: Jangan Lupakan 4 Checklist Prakehamilan Untuk Membantu Kelancaran Program Hamil

Teknisi ultrasound akan memindai rahim Moms untuk menemukan dan mengukur kantong cairan ketuban paling dalam yang mereka bisa. Ukuran normal adalah 2-8 cm. Temuan kurang dari 2 cm menunjukkan rendahnya cairan ketuban pada tahap ini.

Setelah 24 minggu kehamilan, cara paling umum untuk mengukur cairan ketuban disebut AFI, atau indeks cairan ketuban.

AFI diukur persis seperti metode kantong paling dalam, tetapi teknisi ultrasound akan mengukur kantong cairan dari empat bagian rahim yang berbeda. Pengukuran ini akan ditambahkan bersama untuk mendapatkan AFI.

AFI normal adalah 5 hingga 25 cm. AFI di bawah 5 cm berarti cairan ketuban rendah.

Untuk mencegahnya, menurut penelitian dalam Maternal hydration increases amniotic fluid index in women with normal amniotic fluid, hidrasi sangat membantu meningkatkan kadar cairan ketuban pada wanita antara 37 dan 41 minggu kehamilan.

Jadi pastikan Moms minum air yang cukup ya!

Baca Juga: Mengenal 13 Jenis Kacang-Kacangan, Makanan Sehat untuk Kehamilan

Itu dia Mos informasi seputar cairan amnion yang penting untuk perkembangan janin selama masa kehamilan. Jangan lupa untuk rutin check up kadar cairan aminon, ya!

  • https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/amnion
  • https://medlineplus.gov/ency/article/002220.htm
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/307082#disorders
  • https://www.medicinenet.com/amnion/definition.htm
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8416460/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait