ADVERTISEMENT

PARENTING
22 Juli 2022

Eksploitasi Anak: Jenis, Contoh, Dampak, dan Perlindungan Hukum dalam Undang-undang

Eksploitasi anak adalah salah satu bentuk kejahatan yang bisa merusak masa depan anak
Artikel ditulis oleh Nurul Aulia Ahmad
Disunting oleh Aprillia

Eksploitasi anak merupakan bentuk penyelewengan hak dari anak-anak yang setiap tahunnya selalu terjadi di seluruh dunia.

Mengutip Cambridgeshire Constabulary eksploitasi anak adalah kondisi saat pelaku (orang dewasa) berusaha mengambil keuntungan dari seorang anak demi keuntungan pribadi mereka sendiri.

Baca Juga: Moms, Begini Cara Mendidik Anak Intuiting Introvert

Contoh Eksploitasi Anak

Foto: contoh eksploitasi anak

Foto: ilustrasi eksploitasi anak (Orami Photo Stock)

Contoh eksploitasi anak pun cukup banyak dan beragam.

ADVERTISEMENT

Mulai dari memberi pekerjaan rumah tangga untuk anak, memaksa mereka menjadi tentara perekrutan dan keterlibatan anak dalam konflik bersenjata, eksploitasi seksual dan pornografi, penggunaan anak untuk kegiatan kriminal.

Hal ini termasuk pada penjualan dan distribusi narkotika dan keterlibatan anak dalam pekerjaan berbahaya.

Eksploitasi juga terjadi ketika anak-anak bekerja dalam kondisi berbahaya atau tidak sehat.

ADVERTISEMENT

Yaitu, ketika mereka dibayar rendah atau ketika mereka dituntut melakukan kerja paksa bahkan perbudakan.

Selain itu, mengutip Terre des Hommes International Federation diperkirakan terdapat 168 juta anak dipekerjakan dan lebih dari setengahnya, yaitu sekitar 85 juta, melakukan pekerjaan berbahaya.

Satu sampai dua juta anak juga dipaksa melakukan eksploitasi seksual dan pornografi per tahun, sehingga anak-anak tersebut mengalami trauma serius, penyakit, dan kecanduan alkohol serta obat-obatan.

Salah satu bentuk eksploitasi anak untuk melakukan tindak kriminal, yaitu ketika seorang anak dipaksa menjual narkoba untuk orang yang lebih tua.

ADVERTISEMENT

Pelaku sering mengiming-imingkan anak dengan uang tunai atau barang-barang yang ingin mereka miliki.

Namun, kenyataannya akan sangat berbeda, anak biasanya berakhir mendapatkan perlakukan yang buruk, kelaparan bahkan tak jarang terancam nyawanya.

Baca Juga: Moms, Kenali Hak dan Kewajiban Anak di Sekolah

Jenis Eksploitasi Anak di Indonesia

Foto: Jenis Eksploitasi Anak

Foto: bentuk eksploitasi anak (Orami Photo Stock)

Di Indonesia, ada beberapa bentuk eksploitasi anak tertuang dalam UU No. 23 Tahun 2022 Tentang Perlindungan Anak, antara lain:

ADVERTISEMENT

Scroll untuk melanjutkan

1. Eksploitasi Ekonomi

Ini adalah bentuk penyalahgunaan anak untuk dimanfaatkan fisik dan tenaganya agar bekerja demi keuntungan orang lain.

Bentuk eksploitasi ekonomi mengarahkan anak pada pekerjaan yang seharusnya belum mampu dikerjakan oleh manusia seumur mereka.

2. Eksploitasi Sosial

Eksploitasi pada anak ini merupakan segala bentuk tindakan yang membuat perkembangan emosional dan sosial anak terhambat.

Salah satu contohnya, seperti yang dilansir dari Caper Spring, bahwa sebagian orang tua di Singapura memberi tuntutan tinggi terhadap anak-anak mereka.

Kombinasi tuntutan tersebut dengan sistem sekolah yang ada, menjadikan anak-anak rentan mengalami stres dan kecemasan.

Bahayanya, stres yang terjadi secara terus menerus tersebut dapat memicu efek negatif bagi anak.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Journal of Children menjelaskan bahwa anak-anak yang mengalami stres toksik di masa awal kehidupannya, berisiko mengalami efek kesehatan jangka panjang yang merugikan.

ADVERTISEMENT

Baca Juga: Siapa yang Mendapatkan Hak Asuh Anak setelah Bercerai?

3. Eksploitasi Seksual

Eksploitasi seksual adalah salah satu bentuk pelecehan seksual terhadap anak-anak. Eksploitasi seksual anak dapat terjadi di sekolah, di masyarakat dan hingga secara online.

Ini melibatkan individu atau kelompok yang memaksa, memanipulasi dan menipu anak ke dalam aktivitas seksual.

Dilansir dari laman Safeguarding Network, anak-anak yang paling rentan mengalama eksploitasi seksual, meliputi:

  • Memiliki pengalaman kekerasan fisik atau seksual sebelumnya.
  • Lingkungan rumah yang tidak aman atau stabil.
  • Terisolasi secara sosial atau memiliki kesulitan sosial.
  • Tidak memiliki lingkungan yang aman untuk mengeksplorasi seksualitas.
  • Rentan secara ekonomi.
  • Memiliki hubungan dengan anak-anak lain yang dieksploitasi secara seksual.
  • Memiliki cacat fisik atau belajar.
  • Memiliki anggota keluarga atau koneksi lain yang terlibat dalam pekerjaan seks.

Baca Juga: 5 Jenis Pelecehan Seksual di Tempat Kerja, Waspada!

Hukum yang Mengatur Eksploitasi Anak

ADVERTISEMENT

Foto: Hukum yang Mengatur Eksploitasi Anak (Pexels/Julia M Cameron)

Foto: hukum tentang eksploitas anak (Orami Photo Stock)

Beberapa kasus eksploitasi anak bahkan dilakukan oleh orang-orang terdekat anak yang seharusnya mendidik dan mendampingi tumbuh kembang anak dengan baik serta mendapat penghidupan yang layak.

Orang tua dan keluarga sebagai institusi pertama anak dalam proses sosialisasi primer, dan pemerintah sebagai pemangku kebijakan, adalah garda terdepan dalam upaya perlindungan anak dari kejahatan ini.

Selain itu, dilansir dari laman Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI anak dalam situasi bencana merupakan salah satu kelompok yang paling rentan mengalami kekerasan dan eksploitasi.

Sehingga, pada tanggal 1 Januari–26 Juni 2020, terdapat 3.297 kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi selama pandemi Covid-19.

Adapun 50 anak di antaranya menjadi korban eksploitasi, dan sisanya mengalami kekerasan, serta menjadi korban trafficking

Untuk mencegah hal tersebut terjadi, di Indonesia dihadirkan hukum yang mengatur eksploitasi anak, yaitu:

ADVERTISEMENT

1. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002

Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

Aturan ini menjelaskan larangan bagi pihak manapun, termasuk orangtua untuk mengeksploitasi anak, baik secara ekonomi atau seksual.

Baca Juga: Wajib Tahu, Ini Hak dan Kewajiban Perempuan Selama Masa Iddah

2. Pasal 20 UU No.35/2014

Pasal 20 UU No. 35 tahun 2014 menyebutkan bahwa negara, pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, keluarga, dan orang tua/wali berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.

3. Pasal 15 UU No.35/2014 Huruf (f)

Pasal 15 UU No.35/2014 Huruf (f) menyebutkan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari kejahatan seksual.

Baca Juga: Victim Blaming, Sikap yang Menyudutkan Korban Kekerasan

4. Pasal 76l UU 35 Tahun 2014

Pasal 76l UU 35 Tahun 2014 yang berbunyi, setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi atau seksual terhadap anak.

5. Pasal 88 UU 35 Tahun 2014

Sanksi terhadap orangtua atau siapa pun yang melakukan eksploitasi pada anak, baik secara ekonomi atau seksual telah diatur dalam Pasal 88 UU 35 Tahun 2014.

Bunyi pasalnya, yaitu bahwa setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76l, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda paling banyak Rp200.000.000 (dua ratus juta rupiah).

Baca Juga: Waspada Modus Kejahatan Skimming, Ini Tips Menghindarinya!

Mengenali Tanda-Tanda Eksploitasi Anak

Foto: Mengenali Tanda-Tanda Eksploitasi Anak (Orami Photo Stocks)

Foto: tanda anak mengalami eksploitasi (Orami Photo Stock)

Ada beberapa tanda yang mungkin mengindikasikan terjadinya eksploitasi pada anak, sehingga Moms harus mewaspadainya.

Beberapa tanda tersebut antara lain:

  • Menerima hadiah atau uang yang tidak terduga atau tidak jelas asalnya.
  • Menggunakan ponsel mereka secara diam-diam.
  • Memiliki teman yang jauh lebih tua.
  • Dijemput dari sekolah oleh orang asing.
  • Menunjukkan tanda-tanda melukai diri sendiri.
  • Sering menghilang dari sekolah dan rumah.

Dampak Eksploitasi Anak

Foto: Dampak Eksploitasi Anak

Foto: dampak eksploitasi pada anak (freepik.com/daniel-007)

Terjadinya tindakan eksploitasi pada anak tentunya akan memberi dampak negatif pada masa depan anak itu sendiri.

Setiap bentuk eksploitasi memberi efek negatif yang berbeda-beda, dilansir dari Safe and Sound Group berikut beberapa dampaknya.

1. Dampak Eksploitasi Seksual pada Anak

Dampak yang bisa dirasakan dari anak yang mengalami bentuk eksploitasi ini, meliputi:

  • Cedera fisik.
  • Kehamilan.
  • Infeksi menular seksual.
  • Penurunan berat badan.
  • Anak dapat menyakiti dirinya sendiri.
  • Gangguan kesuburan.
  • Rambut rontok.
  • Pola makan yang buruk.

2. Dampak Eksploitasi Sosial pada Anak

Eksploitasi sosial dapat menimbulkan beberapa efek negatif, seperti:

  • Mengisolasi diri dari teman dan keluarga.
  • Kehilangan hobi dan minat.
  • Kesulitan mengembangkan dan mempertahankan hubungan.
  • Menghindari tempat dan orang tertentu.

3. Dampak Eksploitasi Ekonomi pada Anak

Penyalahgunaan fisik dan tenaga anak-anak, dapat menimbulkan dampak seperti:

  • Berhutang alkohol atau narkoba.
  • Kesulitan keuangan.
  • Mencuri.
  • Kesulitan mengakses pendidikan.

Pelaku eksploitasi anak bisa siapa saja dari latar belakang sosial atau etnis apa pun.

Namun, mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu melecehkan anak-anak dan remaja dengan menggunakan status atau posisi mereka untuk mengeksploitasi korban yang rentan ini.

Selain itu, ada ribuan pekerja rumah tangga anak yang bersembunyi di dalam rumah tangga, bekerja keras berjam-jam (sering kali lebih dari 16 jam sehari), dengan sedikit atau tanpa bayaran, hidup dalam situasi yang kejam, tanpa kontak reguler dengan keluarga mereka.

Mereka tidak lagi bersekolah kehilangan kesempatan untuk meningkatkan prospek masa depan mereka melalui pendidikan.

Semua pihak sepatutnya berjuang untuk pembebasan anak-anak dari bentuk perbudakan ini dan menyediakan tempat berlindung bagi para korban, dan mendesak pemerintah untuk memberlakukan undang-undang terhadap jenis pelecehan ini.

Baca Juga: Marak Kejahatan, Ini Tips Aman dan Nyaman Naik Taksi Online Untuk Moms dan Si Kecil

Ingat, anak merupakan kelompok usia rentan yang harus diberikan perhatian oleh semua pihak. Utamanya anak yang menjadi korban eksploitasi.

Orang tua dan keluarga terdekat hendaknya melindungi anak dan bukan mengeksploitasinya untuk kepentingan pribadi yang bisa berdampak buruk untuk masa depan anak dan bangsa.

Pemerintah juga sebagai pemangku kebijakan perlu memastikan ketersediaan regulasi lengkap serta teknis pelaksanaannya di lapangan.

Itulah beberapa hal yang wajib Moms pahami mengenai eksploitasi anak.

Jika Moms menemukan tanda-tanda eksploitasi anak, segera selamatkan anak yang menjadi korban dan lakukan pemulihan psikologi yang tepat untuknya.

  • https://www.suara.com/news/2021/06/09/071229/eksploitasi-anak-arti-bentuk-dan-hukum-yang-mengatur?page=all
  • https://www.cambs.police.uk/information-and-services/Child-protection/CSE
  • https://www.terredeshommes.org/causes/child-exploitation/
  • https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2774/saat-pandemi-anak-di-wilayah-bencana-rentan-mengalami-eksploitasi-dan-trafficking
  • https://safeguarding.network/content/safeguarding-resources/child-criminal-exploitation/child-sexual-exploitation/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4928741/
  • https://www.oecd.org/newsroom/most-teenagers-happy-with-their-lives-but-schoolwork-anxiety-and-bullying-an-issue.htm
  • https://www.caperspring.com/anxiety-in-singapore-students/
  • https://www.safeandsoundgroup.org.uk/the-impact-of-child-sexual-exploitation/

Sebelumnya

Rumus Luas Permukaan Tabung dan 7+ Contoh Soal Cerita, Catat!
Dresyamaya Fiona • 22 Jul 2022

Selanjutnya

Kenali Tahap Perkembangan Sosial Anak Usia 1–5 Tahun dan Cara untuk Mengajarinya Bersosialisasi
Nurul Aulia Ahmad • 23 Jul 2022

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

Artikel Terkait
Artikel Pilihan Editor

ADVERTISEMENT