ADVERTISEMENT

KESEHATAN UMUM
07 Februari 2022

Perbedaan Hipertiroid dan Hipotiroid, Jangan sampai Tertukar!

Hipertiroid dan hipotiroid merupakan penyakit tiroid yang mengganggu proses metabolisme tubuh

Foto: shutterstock

Artikel ditulis oleh Nurul Aulia Ahmad
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Tiroid merupakan kelenjar kecil yang terletak di tengah leher bagian bawah. Ketika kelenjar ini mengalami ketidakseimbangan, maka akan menyebabkan dua kondisi, yaitu hipertiroid dan hipotiroid.

Tiroid berperan penting dalam berbagai proses di dalam tubuh, seperti mengontrol proses metabolisme.

Metabolisme adalah proses di mana makanan yang dikonsumsi diproses dan diubah menjadi energi.

Energi inilah yang digunakan di seluruh tubuh untuk bekerja dan berfungsi dengan baik.

Maka dari itu, jika kelenjar tiroid mengalami masalah, maka dapat menyebabkan tubuh yang tidak sinkron.

Baca Juga: Yuk Ketahui Pentingnya Skrining Hipotiroid Untuk Bayi Baru Lahir

Perbedaan Hipertiroid dan Hipotiroid

ADVERTISEMENT

Foto: hipertiroidisme vs hipotiroidisme 1.jpg (shutterstock)

Foto: shutterstock.com

Perbedaan paling umum antara kedua penyakit ini adalah kadar hormon yang dihasilkan.

ADVERTISEMENT

Kondisi hipotiroid menyebabkan penurunan hormon, sedangkan, hipertiroid menyebabkan peningkatan produksi hormon tiroid.

Selain itu, dr Hikmat Pramukti, Sp.PD, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Pondok Indah – Pondok Indah juga menjelaskan perbedaan lainnya.

"Perbedaan paling nyata adalah, pada penderita hipertiroid memiliki ciri-ciri, denyut jantung berdebar dan tidak teratur, tangan gemetar, diare, gangguan menstruasi pada wanita, dan berat badan yang turun drastis," katanya

"Sedangkan pada penderita hipotiroid mengalami kejadian sebaliknya," tambah dr Hikmat.

Untuk mengenal kedua penyakit ini lebih jauh, simak selengkapnya di bawah ini.

Baca Juga: Kenali Penyakit Graves yang Jadi Penyebab Hipertiroidisme

1. Hipertiroid

Kelenjar tiroid yang terlalu aktif, dikenal dengan sebutan hipertiroid atau tirotoksikosis.

Kondisi ini terjadi ketika kelenjar tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon tiroid.

Jika memiliki hormon ini dalam jumlah banyak, maka dapat menyebabkan masalah yang berpotensi serius, seperti jantung berdetak cepat, nafsu makan meningkat, masalah kecemasan, lebih peka terhadap panas, dan penurunan berat badan secara mendadak.

Jika semakin parah, maka akan memerlukan perawatan khusus.

Tiroid yang terlalu aktif dapat menyerang siapa saja, namun kondisi ini dapat 10 kali lebih sering terjadi pada wanita daripada pria, dan biasanya terjadi di antara usia 20 hingga 40 tahun.

ADVERTISEMENT

Scroll untuk melanjutkan

"Hipertiroid adalah kondisi kelenjar tiroid yang meningkat aktivitasnya sehingga melepaskan terlalu banyak hormon tiroid ke dalam darah yang mempercepat metabolisme darah," jelas dr Hikmat.

2. Hipotiroid

Hipotiroid dapat terjadi ketika kelenjar tiroid bekerja kurang aktif.

Ini dapat terjadi dengan sendirinya pada usia berapa pun, namun risikonya meningkat seiring bertambahnya usia, dan umumnya dipicu oleh faktor genetik.

Selain faktor genetik, jenis kelamin juga dapat menjadi faktor penentu dari penyakit ini.

Dikatakan bahwa wanita tiga kali lebih memiliki kemungkinan mengalami hipotiroid dibandingkan dengan pria.

dr. Hikmat pun juga menjelaskan tentang akibat dari kondisi ini.

"Hipotiroid adalah kondisi di mana hormon tiroid di tubuh tidak cukup, sehingga dapat menyebabkan metabolisme tubuh terganggu."

ADVERTISEMENT

Jika penyakit tersebut terus dibiarkan, maka dapat menyebabkan kondisi yang membahayakan nyawa, seperti suhu tubuh rendah, anemia, gagal jantung, hingga koma.

Baca Juga: 5 Fakta Penyakit Tiroid, dari Faktor Pemicu hingga Orang Paling Berisiko

Diagnosis Hipertiroid dan Hipotiroid

Foto: hipertiroidisme vs hipotiroidisme 3.jpg (shutterstock)

Foto: shutterstock.com

Untuk informasi yang lebih akurat, dalam mengetahui perbedaan hipertiroid atau hipotiroid, Moms dapat melakukan serangkaian tes untuk menentukan perbedaanya.

Dilansir dari Very Well Health berikut beberapa tes yang dilakukan untuk mengetahui jenis gangguan tiroid.

ADVERTISEMENT

Baca Juga: Mengenal Tiroid dan Bagaimana Cara Menanganinya

1. Tes Darah

Tes darah bertujuan untuk memeriksa fungsi tiroid. Pengambilan darah dapat menentukan kadar TSH yang dapat menunjukkan kelenjar tiroid yang terlalu aktif atau kurang aktif.

Jika kadar TSH meningkat, hal ini menunjukkan tiroid yang kurang aktif atau hipotiroid, begitupun sebaliknya.

Pada kondisi hipertiroid, kadar hormon tiroid T3 dan T4 yang tinggi sering terjadi bersamaan dengan kadar TSH yang rendah.

2. Tes Pencitraan

Tes pencitraan sering digunakan untuk mengidentifikasi adanya pembesaran tiroid, atrofi, atau nodul, di kelenjar tiroid.

Tes-tes tersebut, antara lain:

  • USG tiroid
  • Pemindaian nuklir
  • CT Scan
  • Tes MRI
ADVERTISEMENT

3. Biopsi

Biopsi jarum, atau dikenal dengan biopsi jarum halus, digunakan untuk memeriksa benjolan dan nodul tiroid yang mencurigakan, dengan menggunakan jarum kecil.

Saat proses biopsi jarum, jarum tipis dimasukkan langsung ke dalam nodul, untuk diambel selnya, lalu akan dievaluasi di laboratorium.

Baca Juga: 5 Gejala Hipertiroid saat Hamil, Wajib Diperhatikan!

4. Tes Diagnosis Lainnya

Dokter terkadang juga akan menggunakan tes, atau prosedur lainnya untuk mengidentifikasi gangguan tiroid.

Berikut beberapa tes lainnya untuk mendiagnosis hipertiroid dan hipotiroid, meliputi:

  • Tes yodium patch
  • Tes air liur
  • Tes urine
  • Tes suhu basal tubuh

5. Melakukan Pemeriksaan Leher Mandiri

Selain beberapa tes yang dilakukan oleh ahlinya di atas, Moms juga bisa melakukan pengecekan sendiri di rumah, lho.

Ini dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan sendiri pada leher untuk mencari adanya benjolan atau pembesaran pada area leher.

Tes ini dapat dilakukan dengan meraba-raba area leher untuk memeriksa benjolan sembari meminum segelas air.

Secara umum, pemeriksaan leher ini sebenarnya tidak dapat diandalkan keakuratannya dibandingkan dengan metode pengujian lainnya.

Namun, mencoba pengecekan sendiri tidak ada salahnya untuk dilakukan, sebab hal ini cukup sederhana dan mudah.

Baca Juga: Muncul Benjolan di Leher Kanan? Ini 7 Penyebabnya

Itulah penjelasan tentang perbedaan antara hipertiroid dan hipotiroid.

Untuk mencegah kondisi tersebut menyerang, Moms dapat melakukan beberapa pencegahan, seperti hindari kebiasaan merokok, menjaga pola makan, serta rutin memeriksakan diri ke dokter.

Sebab, lebih baik mencegah, daripada mengobati. Semoga informasinya bermanfaat ya, Moms!

  • https://healthblog.uofmhealth.org/health-management/thyroid-101-hypothyroidism-and-hyperthyroidism
  • https://www.verywellhealth.com/thyroid-disease-diagnosis-4013578
  • https://www.nhs.uk/conditions/overactive-thyroid-hyperthyroidism/
  • https://www.piedmont.org/living-better/the-difference-between-hypothyroidism-and-hyperthyroidism
  • https://www.niddk.nih.gov/health-information/diagnostic-tests/thyroid
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8541-thyroid-disease

Sebelumnya

Ini 6 Sayuran yang Dilarang untuk Darah Tinggi, Hindari!
Defara Millenia • 07 Feb 2022

Selanjutnya

Sederet Manfaat Minyak Varash untuk Kesehatan dan Cara Memakainya
Alya Nisania • 07 Feb 2022

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

Artikel Terkait
Artikel Pilihan Editor

ADVERTISEMENT