ADVERTISEMENT

KEHAMILAN
22 Mei 2020

3 Komplikasi Berbahaya Dalam Kehamilan, Moms Wajib Waspada!

Beberapa komplikasi saat hamil bisa membahayakan Moms dan bayi

Foto: Shutterstock.com

Artikel ditulis oleh Phanie
Disunting oleh Dina Vionetta

Setiap momen kehamilan merupakan kebahagian besar bagi orang tua, apalagi bagi Moms yang telah lama menantikan kehadiran Si Kecil.

Tapi, tidak semua kehamilan berjalan tanpa hambatan, beberapa Moms dihadapkan dengan masalah komplikasi berbahaya dalam kehamilan.

Komplikasi Berbahaya Saat Hamil

Apa sajakah masalah komplikasi berbahaya saat hamil yang bisa terjadi? Simak di sini!

Baca Juga: Mengenal Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS), Salah Satu Risiko Komplikasi pada Kehamilan Kembar

1. Hiperemesis Gravidarum

Foto: 3 Komplikasi Berbahaya Dalam Kehamilan.jpg (https://cloudfront.net/)

Foto: cloudfront.net

ADVERTISEMENT

Banyak wanita hamil mengalami mual di pagi hari (mual, mungkin dengan muntah, umumnya di pagi hari) dan ketidaknyamanan lainnya selama kehamilan, ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum (HG) mengalami mual di pagi hari lebih parah. Mual parah yang menyebabkan penurunan berat badan yang signifikan dan mungkin memerlukan rawat inap.

Apa gejalanya? Ibu hamil dengan HG selain mengalami mual dan muntah yang parah, nafsu makannya pun berkurang, sehingga hal inilah menyebabkan penurunan berat badan dan dehidrasi. Menurut John Hopkins Medicine perbedaan utama antara HG dan morning sickness adalah bahwa HG menghasilkan penurunan berat badan 5 persen atau lebih.

HG tidak dapat dicegah, tetapi Moms dapat mengambil langkah-langkah untuk mengontrol dan menanganinya selama kehamilan. HG dapat menyebabkan tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, yang dapat berbahaya bagi Moms dan bayi, bahkan Moms bisa menderita dehidrasi yang berbahaya juga bagi kondisi janin.

ADVERTISEMENT

Seperti menurut Peter Bernstein, MD, Profesor Ob-gyn di New York's Albert Einstein College of Medicine and Montefiore Medical Center Jika Moms tidak bisa makan atau minum apa pun, Moms berisiko mengalami dehidrasi.

Kekurangan gizi dan dehidrasi dapat membahayakan bayi. Namun, dengan perawatan yang tepat, biasanya tidak ada efek jangka panjang bagi ibu atau anak setelah kehamilan.

Baca Juga: Penyebab dan Komplikasi Kelahiran Prematur yang Mendadak

2. Diabetes Kehamilan

ADVERTISEMENT

Foto: 3 Komplikasi Berbahaya Dalam Kehamilan 1.jpg (https://www.lifespan.org/)

Foto: lifespan.org

Diabetes adalah suatu kondisi yang mencegah tubuh kita dari proses memecah gula. Gestational diabetes mellitus (GDM) adalah jenis diabetes yang terjadi selama kehamilan.

Salah satu risiko terbesar diabetes gestasional adalah bayi tumbuh jauh lebih besar dari biasanya, suatu kondisi yang disebut makrosomia.

Saat melahirkan, pundak bayi bisa tersangkut. Jika bayi dianggap terlalu besar untuk persalinan pervaginam yang aman, dokter akan merekomendasikan operasi caesar.

Apa gejalanya? Diabetes gestasional tidak memiliki tanda atau gejala luar. Dokter mendeteksinya antara 24 dan 28 minggu kehamilan, atau lebih awal pada wanita berisiko tinggi seperti mereka yang kelebihan berat badan atau memiliki riwayat diabetes gestasional.

Siapa yang berisiko? Faktor risiko diabetes gestasional termasuk kelebihan berat badan atau memiliki riwayat GDM pada kehamilan sebelumnya.

Jika Moms berisiko tinggi, dokter biasanya akan melakukan skrining untuk GDM lebih awal dari 24 minggu, biasanya pada trimester pertama.

ADVERTISEMENT

Scroll untuk melanjutkan

Moms bisa mencegahnya dengan mengurangi berat badan sebelum kehamilan, menjalani diet sehat dan berolahraga teratur. Hal tersebut dapat menurunkan risiko terkena GDM.

Baca Juga: Adakah Risiko Komplikasi pada Program IVF?

3. Placenta Previa

Foto: 3 Komplikasi Berbahaya Dalam Kehamilan 2.jpg (https://babybellyband.com/)

Foto: babybellyband.com

Saat hamil, plasenta memberi bayi oksigen dan nutrisi untuk perkembangan yang tepat. Plasenta biasanya menempel pada bagian atas rahim, tetapi dalam plasenta previa baik total atau sebagian menutupi serviks (yang merupakan pembukaan antara rahim dan vagina).

Dikutip dari jurnal Obsteric and Gynecology Moms mungkin berisiko lebih tinggi jika memiliki jaringan parut pada rahim dari kehamilan sebelumnya atau dari operasi rahim, atau jika Moms memiliki fibroid.

Gejala utamanya adalah pendarahan vagina yang tidak disertai dengan kram atau rasa sakit lainnya. Namun beberapa wanita tidak mengalami gejala apa pun. Dokter akan mengkonfirmasi diagnosis menggunakan USG atau pemeriksaan fisik.

Baca Juga: Mengenali Komplikasi Kehamilan Placenta Accreta, Harus Waspada!

Sebelumnya

5 Sumber Lemak Sehat Untuk Dikonsumsi Saat Program Hamil
Reksita • 21 Mei 2020

Selanjutnya

Konsumsi Nanas Tingkatkan Peluang Hamil? Ini Kata Ahli
Reksita • 22 Mei 2020

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

Artikel Terkait
Artikel Pilihan Editor

ADVERTISEMENT