ADVERTISEMENT

KESEHATAN UMUM
16 Mei 2022

Mengenal Hipersalivasi, Kondisi saat Air Liur Berlebihan dari Biasanya

Bisa memicu infeksi di mulut
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Adeline Wahyu

Air liur memiliki fungsi penting untuk menjaga kelembapan hingga melawan bakteri di dalam mulut. Namun, kondisi air liur yang berlebihan bisa menjadi tanda hipersalivasi.

Umumnya air liur diproduksi oleh kelenjar ludah yang terletak di dalam mulut.

dr. Benny Johan Marpaung, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, mengatakan kelenjar ini memproduksi kurang lebih 1–2 liter air liur setiap harinya.

Di dalam air liur, terkandung protein, mineral, air, serta enzim amilase yang berfungsi untuk mencerna karbohidrat.

Bila jumlah air liur berlebihan bisa menjadi tanda hipersalivasi, lho Moms.

Lantas, apa itu hipersalivasi? Mari simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Baca Juga: 9 Cara Menghilangkan Milia di Wajah agar Kulit Kembali Mulus dan Bebas Noda

ADVERTISEMENT

Apa Itu Hipersalivasi?

Foto: hipersalivasi (healthline.com)

Foto: healthline.com

ADVERTISEMENT

Hipersalivasi adalah kondisi saat air liur diproduksi secara berlebihan.

Istilah hipersalivasi berasal dari kata hyper yang artinya berlebihan, serta saliva yang artinya air liur.

Hal ini bisa terjadi pada siapa saja, namun ibu hamil adalah yang paling rentan mengalaminya sebab perubahan hormon yang drastis.

Pada ibu hamil, hipersalivasi juga disebut dengan pytalism gravidarum.

ADVERTISEMENT

"Kondisi mulut yang kurang bersih akan menyebabkan ibu hamil mudah mengalami mual dan memancing produksi air liur berlebih." jelas dr. Benny Johan Marpaung.

Pada keadaan morning sickness yang sangat parah, air liur bisa sangat banyak dan mengganggu.

Hipersalivasi memang tidak secara langsung menimbulkan gangguan pada kesehatan.

Tetapi bila air liur dibiarkan mengalir keluar dan tidak dibersihkan, bisa terjadi iritasi pada kulit di sekitar mulut.

Baca Juga: 12 Faktor Risiko Kanker Rektum, Ketahui Gejala dan Cara Mengobatinya di sini

Gejala Hipersalivasi

ADVERTISEMENT

Foto: hipersalivasi

Foto: Orami Photo Stock

Hipersalivasi bukan suatu penyakit, namun biasanya gejala dari kondisi lain, yang dapat berupa gangguan ringan dan penyebab umum hingga penyakit langka.

Berikut beberapa gejala dari hipersalivasi:

  • Keluarnya air ludah
  • Meludah
  • Penelanan berlebihan
  • Bibir pecah-pecah
  • Kulit di sekitar mulut menjadi lebih halus dan rusak
  • Infeksi kulit di sekitar mulut
  • Napas bau tidak enak
  • Dehidrasi
  • Gangguan bicara
  • Pneumonia
  • Indra pengecap buruk

Baca Juga: Filosofi Warna Kuning, Tidak Hanya Melambangkan Keceriaan dan Kebahagiaan Saja, Lho!

Penyebab Hipersalivasi

Foto: Hipersalivasi (https://www.verywellfamily.com/)

Foto: Orami Photo Stock

ADVERTISEMENT

Melansir National Institute for Health and Care Excellence secara umum penyebab air liur berlebih disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh seseorang mengendalikan produksi ludah atau mengalami kesulitan menelan.

Selain itu produksi air liur berlebihan atau hipersalivasi juga akan mengalami peningkatan begitu seseorang mengalami beberapa kondisi seperti di bawah ini:

1. Perubahan Hormon

Semua ibu hamil mengalami perubahan hormon yang sangat tinggi.

Hal ini terjadi karena pembentukan dan pertumbuhan janin dalam kandungan.

Perubahan hormon inilah yang akan menyebabkan ibu hamil merasa mual, sakit kepala dan tidak nyaman.

Dengan begitu, hal ini dapat membuat air liur yang dihasilkan oleh kelenjar di dalam mulut menjadi lebih banyak.

Masalah ini juga menjadi salah satu dari penyebab mual saat hamil.

ADVERTISEMENT

2. Paparan Toksin

Umumnya toksin yang berpengaruh pada kondisi pernapasan atau kesehatan mulut.

Misalnya, asap, polusi, atau zat-zat kimia pada produk perawatan gigi dan mulut, hingga makanan.

Hal ini bisa mengganggu stabilitas kinerja organ mulut dan memicu produksi saliva semakin banyak tanpa disadari.

3. Naiknya Asam Lambung

Produksi air liur berlebih atau hipersalivasi dapat disebabkan oleh naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Kondisi ini dikenal dengan sebutan water brash atau aliran air liur yang tiba-tiba.

Water brash terjadi saat asam lambung dan air liur dimuntahkan ke dalam mulut.

Jika air liur berlebihan disertai dengan berbagai gejala, seperti nyeri ulu hati, sering sendawa, rasa asam di mulut, hingga bau mulut.

ADVERTISEMENT

4. Obat-Obatan Tertentu

Kelenjar ludah dikontrol oleh sistem saraf parasimpatik.

Beberapa obat tertentu dapat mengaktifkan sistem saraf tersebut dan menyebabkan produksi air liur berlebihan atau hipersalivasi.

Beberapa obat yang dapat mengaktifkan sistem saraf parasimpati, di antaranya clonazepam, clozapine, hingga obat-obatan antipsikotik yang biasa digunakan untuk mengobati skizofrenia.

Meski begitu, jangan pernah berhenti mengonsumsi obat-obatan apa pun tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

5. Reaksi Alami tubuh

Produksi air liur yang berlebihan bisa menjadi kondisi yang normal.

Moms bisa merasakan hal ini meskipun sangat sehat dan tidak memiliki masalah kesehatan gigi dan mulut.

Air liur sangat penting untuk membantu menetralkan asam lambung sehingga bagian mulut akan terus menerus basah.

Kondisi ini juga penting untuk mencegah infeksi pada bagian mulut akibat virus atau bakteri.

6. Kerusakan Gigi

Masalah kesehatan gigi dan mulut memang sangat penting.

Moms yang memiliki masalah gigi, seperti gigi berlubang atau infeksi pada gusi bisa menyebabkan produksi air liur menjadi sangat tinggi.

Hal inilah yang akan menyebabkan Moms merasa harus menelan ludah terus menerus.

Dan ini juga bisa membuat produksi air liur menjadi lebih banyak.

7. Usia

Kebiasaan ngiler dapat terjadi setelah kelahiran dan memuncak antara umur 3-6 bulan saat bayi menjadi lebih aktif.

Hal ini sangatlah normal, terutama ketika mereka akan melalui proses tumbuh gigi.

8. Bahan Kimia

Dilansir dari Livestrong, bahan kimia yang ada di sekitar kita juga bisa menjadi penyebab produksi air liur berlebihan atau hipersalivasi.

Salah satu bahan kimia yang mungkin sering kita jumpai adalah obat nyamuk semprot.

Obat ini dianggap mampu mengaktifkan sistem saraf parasimpatik sehingga menyebabkan hipersalivasi.

9. Akibat Penyakit

Air liur yang berlebihan juga bisa menjadi tanda bahwa ibu hamil mengalami penyakit tertentu.

Misalnya seperti dampak merokok selama sebelum hamil, paparan racun dari makanan atau minuman, asap yang masuk lewat udara dan sampai ke paru-paru dan kondisi lain.

Inilah hal yang sangat berbahaya sehingga harus segera mendapatkan perawatan.

10. Kekurangan Vitamin B3

Saat tubuh kekurangan nutrisi seperti vitamin B3 (niacin), hipersalivasi dapat terjadi.

Vitamin ini memiliki peran penting dalam 400 reaksi enzimatik di dalam tubuh.

Perlu diketahui, kekurangan vitamin B3 dapat menyebabkan perubahan pada saluran pencernaan.

Perubahan inilah yang mengundang air liur berlebihan.

Selain menyebabkan produksi air liur berlebihan, defisiensi vitamin B3 dapat mengakibatkan warna lidah menjadi merah terang, muntah-muntah, hingga diare.

Diagnosis Hipersalivasi

Foto: Foto: Orami Photo Stock

Foto: Orami Photo Stock

Tujuan utama mendiagnosis produksi air liur berlebih adalah untuk mengetahui gangguan kesehatan atau kondisi yang menjadi penyebabnya.

Diagnosis ini penting karena beberapa penyebab hipersalivasi bisa sangat membahayakan. 

Untuk mendiagnosis ptyalism dokter akan melakukan pemeriksaan pada:

  • Rongga mulut, gigi, dan jaringan kulit di sekitarnya.
  • Kontrol lidah, kemampuan menelan, dan stabilitas rahang.
  • Tonsil dan jalur pernapasan.
  • Kondisi emosional.
  • Postur kepala, pemeriksaan untuk melihat tanda-tanda dehidrasi, dan kondisi lapar.
  • Jenis obat-obatan yang dikonsumsi.

Selain itu, dokter juga akan melakukan evaluasi yang lebih spesifik, yakni untuk mengetahui:

  • Kapan dan bagaimana ptyalism terjadi.
  • Seberapa banyak volume air liur yang dihasilkan.
  • Apakah produksi air liur berlebih terjadi secara konstan atau berselang.

Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut berfungsi untuk benar-benar memastikan apa yang menyebabkan ptyalism.

Apabila penyebabnya sudah diketahui, tindakan penanganan yang akan dianjurkan dokter didasari dari faktor-faktor berikut:

  • Tingkat keparahan dan komplikasi ptyalism
  • Usia dan kondisi mental penderita
  • Kronis atau tidaknya ptyalism yang dialami
  • Ada atau tidaknya gangguan neurologis pada penderita 

Cara Mengobati Hipersalivasi

Foto: Hipersalivasi (shutterstock.com)

Foto: Orami Photo Stock

Hipersalivasi tidak selalu harus diobati. Pengobatan biasanya tidak akan dilakukan pada anak di bawah usia 4 tahun atau yang ngiler selama tidur.

Pengobatan akan dianjurkan ketika keluarnya air liur tergolong parah.

Kondisi ini dapat dianggap parah jika air liur menetes dari bibir ke pakaian, air liur yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dan menciptakan masalah sosial.

Pengobatan yang biasa dilakukan adalah dengan pendekatan non-invasif dan invasif.

Pendekatan non-invasif termasuk mencoba hal-hal seperti pengobatan dan terapi motorik oral.

Dalam kasus yang lebih serius, pendekatan yang lebih invasif akan dipertimbangkan termasuk pilihan perawatan seperti pembedahan dan radioterapi.

1. Terapi

Terapi bicara akan mengajarkan cara untuk mengontrol posisi dan postur agar dapat membantu penutupan bibir dan menelan.

Proses terapi ini akan bekerja untuk meningkatkan tonus otot dan mengontrol air liur.

Dalam terapi ini, Moms dapat disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi untuk memodifikasi jumlah makanan asam dalam diet Anda.

2. Alat atau perangkat gigi

Perangkat khusus yang diletakkan di dalam mulut untuk membantu penutupan bibir saat menelan.

Alat prostetik oral atau peralatan gigi dapat membantu penutupan bibir, posisi lidah, dan proses menelan.

Pilihan pengobatan ini sangat efektif jika Moms memiliki gangguan kontrol menelan.

3. Obat-obatan

Obat-obatan tertentu dapat membantu mengurangi produksi air liur, termasuk:

  • Scopolamine

Berupa koyo (patch) yang  ditempelkan pada kulit untuk memberikan obat secara perlahan sepanjang hari guna mengurangi produksi air liur.

Sekali tempel, obat ini mampu bertahan sampai 72 jam;

  • Glikopirrolat

Diberikan sebagai suntikan atau dalam bentuk pil.

Obat ini dapat mengurangi produksi air liur, tetapi secara bersamaan dapat menyebabkan mulut kering;

  • Atropin sulfat

Diberikan dalam bentuk tetes di mulut.

4. Suntikan botox

Suntikan botulinum toksin (Botox) dilakukan di kelenjar ludah untuk membantu mencegah air liur menetes, terutama pada penderita gangguan saraf yang ngiler.

Saat botox diinjeksi, ia akan melumpuhkan otot-otot di area tersebut dan mencegah kelenjar ludah berfungsi.

Efek dari suntikan biasanya berlangsung selama sekitar 6 bulan dan dapat diulang.

Sebuah studi Toxins (Basel) menemukan bahwa pasien dengan gangguan neurologis yang menerima Botox menunjukkan penurunan yang signifikan dalam produksi air liur.

5. Tindakan operasi

Tindakan bedah yang paling umum dilakukan adalah dengan mengalihkan saluran ludah ke bagian belakang mulut untuk mencegah air liur keluar dari mulut.

Prosedur lain yang dapat dilakukan adalah dengan menghilangkan kelenjar ludah sepenuhnya.

Pada anak-anak, kebiasaan ngiler adalah bagian normal dari perkembangan.

Tetapi jika air liur berlebihan atau memiliki masalah lain, segera berkonsultasi dengan dokter anak untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Baca Juga: Hamil Anggur: Definisi, Penyebab, dan Tanda yang Harus Diwaspadai

Itu dia Moms penjelasan mengenai hipersalivasi.

Mengubah pola hidup dan mengikuti diet sehat dapat membantu meringankan gejala.

Jika dirasa air liur berlebihan tergolong serius, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter ya!

  • https://www.nice.org.uk/advice/esuom15
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5848156/
  • https://www.healthline.com/health/dental-and-oral-health/hypersalivation
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/318728#Causes
  • https://www.livestrong.com/article/13730507-excessive-saliva-causes/
  • https://www.whattoexpect.com/pregnancy/symptoms-and-solutions/saliva.aspx
  • https://www.news-medical.net/health/Niacin-Deficiency.aspx

Sebelumnya

Masker Anak Duckbill, Begini Cara Memilih yang Baik dan Produk Rekomendasinya
Gea Yustika • 16 Mei 2022

Selanjutnya

Sering Keliru, Ini 10 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan saat Anak Demam
Dresyamaya Fiona • 16 Mei 2022

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

Artikel Terkait
Artikel Pilihan Editor

ADVERTISEMENT