ADVERTISEMENT

RUPA-RUPA
16 Agustus 2022

15 Inspirasi Puisi Kemerdekaan Indonesia yang Membakar Semangat Perjuangan

Moms bisa juga ajarkan Si Kecil untuk membuat puisinya sendiri
Artikel ditulis oleh Nurul Aulia Ahmad
Disunting oleh Aprillia

Salah satu kegiatan edukasi yang dapat membakar semangat dalam membela tanah air saat merayakan Hari Kemedekaan Indonesia adalah lomba membaca puisi. Puisi Kemerdekaan Indonesia mengandung unsur-unsur nasionalisme yang menunjukkan perjuangan-perjuangan bangsa Indonesia.

Contoh Puisi Kemerdekaan Indonesia

Foto: Contoh Puisi Kemerdekaan Indonesia

Foto: ilustrasi puisi kemerdekaan Indonesia (freepik.com/fabrikasimf)

Berikut deretan pilihan puisi kemerdekaan Indonesia, dari buku berjudul Surat dari samudra: antologi puisi anak oleh penulis-penulis terbaik di Jawa Tengah, dari laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi meliputi:

1. Benderaku karya Gatot Supriyanto

"Ini benderaku, dua warna

telah digambar dengan tubuh memar pahlawan

ADVERTISEMENT

bahkan tubuh luluh

dengan tangan terpotong-potong

hati tercabik-cabik

ADVERTISEMENT

diaduk di tungku peperangan

merahnya membasahi bumi pertiwi

putihnya jadi cermin negeri

Kuingin jadi angin

ADVERTISEMENT

bergabung kau, kau, kau hingga menggunung

menjaga bendera tetap berkibar."

Baca Juga: Sejarah Kemerdekaan Indonesia dan Manfaat Memahaminya untuk Meningkatkan Nasionalisme

2. Indonesia karya Nuraini

"Indonesia

Ke mana hati kita tanam dalam-dalam

Di mana ruh kita simpan dalam dada

Di mana bangsa kau jinjingg tinggi Indonesia

ADVERTISEMENT

Scroll untuk melanjutkan

Ingatlah Budi Utomo dan para pemuda dalam ikramya

Ingatlah Soepomo, Syahrir, Soekarno dalam ide juangnya

Mereka belum mati

Ruhnya masih bersemayam di setiap nurani anak-anak bangsa

Semangatnya masih menggema dalam dada

Masihkah kita bertanya

Sudahkah kita merdeka?"

ADVERTISEMENT

3. Anak Garuda karya Panggi Gus Yogantoro

Foto: Anak Garuda (Panggi Gus Yogantoro)

Foto: ilustrasi puisi kemerdekaan Indonesia (freepik.com/billionphotos)

"Dari telur aku menetas

Dan kubelajar terbang mengitari angkasa luas negeri ini

Belajar mengenal keelokan negeri ini

Kepakkan sayap kusiap menghantarkan kemajuan untuk negeri ini

Cengkeraman kuatku akan mencengkeram kuat Pancasila

ADVERTISEMENT

Cengkeraman kuatku akan mencengkeram kuat Bhineka Tunggal Ika

Kuku-kuku tajamku akan mengoyak orang yang merusak negeri ini

Paruh tajamku akan mematuk semua pengacau yang ada di negeri ini

Karena aku adalah anak garuda

Yang akan selalu meneruskan perjuangan garuda-garuda terdahulu

Yang akan menjaga dan mencintai selalu Indonesia."

4. Mengeja Merdeka karya Prawoto Susilo

ADVERTISEMENT

"Kata kakekku:

Kita harus mencintai negeri ini

Dengan sepenuh hati

Itu menjadi harga mati

Perjuangan para pahlawan dahulu

Berkorban tak peduli apa yang terjadi

Walau sampai mati

Untuk negeri kita cintai

Darah suci banyak jatuh di tanah pertiwi

Darah suci yang penuh arti

Untuk negeri ini

Untuk memberikan kemerdekaan yang hakiki

Pesan kakekku:

Kita jangan melupakan perjuangan pahlawan yang gugur di negeri ini

Karena jasa-jasanya sangat berarti

Yang telah memberikan kemerdekaan ini."

5. Garuda Pancasila karya Prawoto Susilo

"Dari Sabang sampai Merauke

Ada Garuda Pancasila di jiwa mereka

Kesaktian Pancasila tidak diragukan lagi

Sebagai pedoman hidup bernegara

Walau berbeda-beda agama

Walau berbeda-beda suku

Walau berbeda-beda bahasa

Tetap Bhineka Tunggal Ika

Entah sampai kapan

Tak terbatas ruang dan waktu

Dari anak-anak sampai tua

Semua cinta Garuda Pancasila."

Baca Juga: Gedung Joang 45, Bangunan Bersejarah yang Menjadi Saksi Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

6. Bendera Merah Putih karya Prawoto Susilo

Foto: Bendera Merah Putih (Prawoto Susilo)

Foto: ilustrasi kemerdekaan Indonesia (freepik.com/rembolle)

"Berkibarlah Merah Putihku

Membentang luas ke langit biru

Merahmu cahaya semangatku

Putihmu pelita jiwaku

Tak akan ada yang berani menodaimu

Tak akan ada yang berani menghinamu

Tak akan ada yang berani menghancurkanmu

Karena seluruh nusantara ini menjagamu

Jiwa patriotku

Jiwa nasionalis kami semua

Bersatu padu

Tak terbatas ruang dan waktu

Untuk melindungimu."

7. Kulihat Patung Pejuang karya Ryan Rachman

"Ku lihat patung pejuang

Berdiri di tepi jalan

Yang satu terluka

Yang lain memapahnya

Keduanya seolah berkata:

"Lihat tetes darah kami nak

Membasah di haribaan ibu pertiwi

Tak sempat kami melihat kalian

Hidup nyaman tanpa ketakutan"

Lalu aku tersentak

Leluhurku gugur berkalang tanah

Melepas nyawa imtuk merdeka

Sedang aku kini hidup bahagia

Tanpa harus mengangkat senjata

Hanya tinggal mengisi kemerdekaan

Dengan berjuang belajar sekuat tenaga

Menjadi anak berprestasi

Mengharumkan nama bangsa."

8. Negeri Pancasila karya Sri Kanti

"Negeri Pancasila berpondasi Ketuhanan Yang Maha Esa

Selalu bersyukur atas berkah negeri nan makmur

Selalu tunduk saat diri mulai takabur

Selalu ingat bahwa tanpanya kita bukanlah apa-apa

Negeri Pancasila berpondasi atas kemanusiaan yang adil dan beradab

Agar bangsa kita selalu ingat kepada adat

Tidak semena-mena terhadap sesama

Juga tak sewenang-wenang kepada saudara

Negeri Pancasila berpondasi kepada persatuan seluruh bangsa

Berbeda-beda tetapi tetap satu jua

Tidak tercerai-berai meski berbeda warna

Saling menolong dan bergotong-royong itu sudah terbiasa

Negeri Pancasila berpondasi kepada sistem kerakyatan dalam permusyawaratan

Supaya bangsanya tidak saling sikut-sikutan

Menghargai perbedaan tanpa harus tendang-tendangan

Menjaga rahasia serta memberi kesempatan kepada suara yang berbeda

Negeri Pancasila berpondasi kepada keadilan sosial bagi seluruh bangsa

Bertujuan untuk kemakmuran yang merata

Kemajuan ada di mana-mana, dari Merauke hingga Sabang

Setiap ras dan suku terengkuh kesejahteraan

Negeri Pancasila adalah seluruh tumpah darah Indonesia."

Baca Juga: HUT RI ke-77: Tema, Filosofi Logo dan Inspirasi Ucapan untuk Memeriahkan Perayaannya

9. Negeriku Indonesia karya Sumanang Tirtasujana

Foto: Negeriku Indonesia (Sumanang Tirtasujana)

Foto: ilustrasi perjuangan kemerdekaan Indonesia (freepik.com/adipurnatama)

"Negeriku yang subur, indah, dan damai

Terdiri dari berbagai pulau dan lautan

Merah putih benderanya

Berlambang burung garuda

Berbagai suku dan agama bersatu

Lagu nasionalnya, Indonesia Raya

Proklamatornya Bung Karno dan Bung Hatta

Dasar negaranya Pancasila

Indonesia negeri kebanggaan kita

Nama ibu kotanya, Jakarta!"

10. Pahlawan karya Trimo

"Ajarkan aku wahai pahlawanku

untuk cinta negeri nusantara ini

nusantara yang engkau perjuangkan

dengan gigih dan berani

bersemboyan merdeka atau mati

Ajarkan aku wahai pahlawanku

untuk memiliki

semangat juangmu

semangat untuk merdeka

semangat untuk berdaulat

semangat untuk berkeadilan

semangat untuk berkemakmuran

sesuai dengan cita-citamu

Ajarkan aku wahai pahlawanku

untuk membangun negeri nusantara ini

dengan caraku sendiri

dengan kekuatanku sendiri

agar aku tahu

agar aku mampu

menjadi bangsa mandiri."

Puisi Kemerdekaan Indonesia dari para Penyair Terkenal Indonesia

Selain contoh puisi kemerdekaan Indonesia di atas yang bisa Moms berikan pada Si Kecil, kenalkan juga beragam puisi lainnya yang diciptakan para penyair ternama.

11. Diponegoro karya Chairil Anwar

"Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak genta. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu

Sekali berarti

Sudah itu mati

MAJU

Bagimu Negeri

Menyediakan api

Punah di atas menghamba

binasa di atas ditindas

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

Maju.

Serbu.

Serang.

Terjang."

12. Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini karya Taufik Ismail

Foto: Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini (Taufik Ismail)

Foto: bendera merah putih (freepik.com/wwwslonpics)

"Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

“Duli Tuanku?”

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus."

13. Hari Kemerdekaan karya Sapardi Djoko Damono

"Akhirnya tak terlawan olehku

tumpah di mataku, dimata sahabat-sahabatku

ke hati kita semua

bendera-bendera dan bendera-bendera

bendera kebangsaanku

aku menyerah kepada kebanggan lembut

tergenggam satu hal dan kukenal

tanah dimana ku berpijak berderak

awan bertebaran saling memburu

angin meniupkan kehangatan bertanah air

semat getir yang menikam berkali

makin samar

mencapai puncak ke pecahnya bunga api

pecahnya kehidupan kegirangan

menjelang subuh aku sendiri

jauh dari tumpahan keriangan di lembah

memandangi tepian laut

tetapi aku menggenggam yang lebih berharga

dalam kelam kulihat wajah kebangsaanku

makin bercahaya makin bercahaya

dan fajar mulai kemerahan"

14. Gugur karya W.S. Rendra

"Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Tiada kuasa lagi menegak

Telah ia lepaskan dengan gemilang

pelor terakhir dari bedilnya

Ke dada musuh yang merebut kotanya

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Ia sudah tua

luka-luka di badannya

Bagai harimau tua

susah payah maut menjeratnya

Matanya bagai saga

menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yang gemilang itu

lima pemuda mengangkatnya

di antaranya anaknya

Ia menolak

dan tetap merangkak

menuju kota kesayangannya

Ia merangkak

di atas bumi yang dicintainya

Belum lagi selusin tindak

maut pun menghadangnya

Ketika anaknya memegang tangannya

ia berkata:

”Yang berasal dari tanah

kembali rebah pada tanah.

Dan aku pun berasal dari tanah

tanah Ambarawa yang kucinta

Kita bukanlah anak jadah

Kerna kita punya bumi kecintaan.

Bumi yang menyusui kita

dengan mata airnya.

Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.

Bumi kita adalah kehormatan.

Bumi kita adalah juwa dari jiwa.

Ia adalah bumi nenek moyang.

Ia adalah bumi waris yang sekarang.

Ia adalah bumi waris yang akan datang.”

Hari pun berangkat malam

Bumi berpeluh dan terbakar

Kerna api menyala di kota Ambarawa

Orang tua itu kembali berkata:

“Lihatlah, hari telah fajar!

Wahai bumi yang indah

kita akan berpelukan buat selama-lamanya!

Nanti sekali waktu

seorang cucuku

akan menancapkan bajak

di bumi tempatku berkubur

kemudian akan ditanamnya benih

dan tumbuh dengan subur

Maka ia pun berkata:

“Alangkah gemburnya tanah di sini!”

Hari pun lengkap malam

ketika menutup matanya"

Baca Juga: Mengenal Teori Piaget, 4 Tahapan Perkembangan Kognitif dan Kecerdasan Anak

15. Putra-Putra Ibu Pertiwi karya Mustofa Bisri (Gus Mus)

Foto: Putra-Putra Ibu Pertiwi (Mustofa Bisri (Gus Mus)) (istockphoto.com)

Foto: anak dan bendera Indonesia (Orami Photo Stock)

"Bagai wanita yang tak ber-ka-be saja

Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya

Pahlawan-pahlawan bangsa

Dan patriot-patriot negara

(Bunga-bunga kalian mengenalnya

Atau hanya mencium semerbaknya)

Ada yang gugur gagah dalam gigih perlawanan

Merebut dan mempertahankan kemerdekaan

(Beberapa kuntum dipetik bidadari sambil senyum

Membawanya ke sorga tinggalkan harum)

Ada yang mujur menyaksikan hasil perjuangan

Tapi malang tak tahan godaan jadi bajingan

(Beberapa kelopak bunga di tenung angin kala

Berubah jadi duri-duri mala)

Bagai wanita yang tak ber-ka-be saja

Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya

Pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan bangsa

(di tamansari bunga-bunga dan duri-duri

Sama-sama diasuh mentari)

Anehnya yang mati tak takut mati justru abadi

Yang hidup senang hidup kehilangan jiwa

(mentari tertawa sedih memandang pedih

Duri-duri yang membuat bunga-bunga tersisih)"

Baca Juga: 12 Upaya untuk Mengisi Kemerdekaan, Belajar dan Bekerja yang Baik serta Budayakan Gotong Royong!

Itu dia beberapa pilihan puisi kemerdekaan Indonesia yang indah dan bermakna. Yuk, kenalkan pada Si Kecil dan biarkan dia berkreasi membuat puisinya sendiri!

Nah, menyambut hari kemerdekaan tahun 2022 ini, Orami memberikan promo kemerdekaan dengan diskon menarik. Yuk cek potongan harganya Moms.

  • http://repositori.kemdikbud.go.id/16349/
  • https://kanalpengetahuan.fk.ugm.ac.id/baca-puisi-kemerdekaan-oleh-pecinta-puisi-ugm-2019/

Sebelumnya

5+ Pilihan Cerita Dewasa 21+ Terpanas yang Bikin 'Sakit Kepala'
Dresyamaya Fiona • 15 Agt 2022

Selanjutnya

Biografi Soekarno, dari Masa Kecil, hingga Perjalanan Politiknya dalam Memerdekakan Indonesia
Nurul Aulia Ahmad • 16 Agt 2022

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

Artikel Terkait
Artikel Pilihan Editor

ADVERTISEMENT