ADVERTISEMENT

PERNIKAHAN & SEKS
26 September 2022

Tubektomi, Kontrasepsi Permanen untuk Wanita: Prosedur, Keuntungan, hingga Efek Sampingnya

Apakah ada kontrasepsi permanen untuk wanita? Jawabannya, ada! Ketahui pertimbangannya di sini

Foto: Orami Photo Stocks

Artikel ditulis oleh Nurul Aulia Ahmad
Disunting oleh Aprillia

Apakah Moms mengetahui istilah tubektomi? Untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, Moms dapat menggunakan alat kontrasepsi.

Namun, ada kalanya alat kontrasepsi tidak selalu efektif. Bagi Moms dan Dads yang tidak berniat hamil lagi, opsi tubektomi bisa dipertimbangkan.

Kira-kira, apa itu tubektomi dan bagaimana risikonya? Yuk simak ulasan lengkapnya pada artikel ini!

Pengertian Tubektomi

Foto: Ilustrasi Tubektomi (Freepik.com/user15327819)

Ligasi tuba atau tubektomi merupakan salah satu bentuk kontrasepsi dengan tujuan mencegah kehamilan yang bersifat permanen.

Tubektomi dapat diartikan sebagai tindakan untuk melakukan sterilisasi pada wanita.

ADVERTISEMENT

Dilansir dari John Hopkins Medicine tubektomi dilakukan dengan tindakan pembedahan yang melakukan pemotongan atau pemblokiran pada saluran tuba (tuba falopi).

Setiap bulan, sel telur akan dilepaskan dari ovarium melalui tuba falopi ke rahim.

Dengan memotong kedua tuba falopi maka langkah tersebut dapat mencegah bertemunya sel telur dan sperma.

ADVERTISEMENT

Oleh karena pemotongan saluran tuba, maka tubektomi dianggap sebagai kontrasepsi permanen.

Tubektomi sering disalahartikan dengan histerektomi, padahal keduanya sangat berbeda.

Melansir dari Healthline, prosedur histerektomi parsial dilakukan dengan mengangkat rahim.

Moms akan tetap berovulasi, tetapi tidak akan bisa hamil. Histerektomi lengkap melakukan pengangkatan rahim dan ovarium, yang dapat memicu masa menopause lebih cepat.

ADVERTISEMENT

Sedangkan tubektomi, ovulasi dan menstruasi tetap berlangsung hingga terjadi proses menopause secara alami.

Pesatnya pertumbuhan penduduk membuat negara dengan padat penduduk mencari cara untuk menekan angka kelahiran.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Applied and Basic Medical Research tubektomi menjadi metode kontrasepsi yang paling diterima di India dengan hampir 5 sampai 6 juta prosedur sterilisasi dilakukan setiap tahun.

Metode tindakan yang populer digunakan dalam tubektomi wanita di India adalah operasi laparoskopi.

Dan lebih dari 85,3% menggunakan metode operasi dengan memanfaatkan layanan ini dari fasilitas pemerintah.

Baca Juga: 7 Alat Kontrasepsi Wanita yang Efektif Menunda Kehamilan, Pilih yang Paling Nyaman, Moms!

Proses Tubektomi

ADVERTISEMENT

Foto: Ilustrasi Proses Tubektomi (Freepik.com/user15327819)

Tubektomi merupakan kontrasepsi pencegah kehamilan yang bersifat permanen.

Oleh karena itu, apabila berubah pikiran setelah saluran tuba diikat atau dipotong, perlu prosedur pembedahan untuk menyambungkan kembali saluran tuba falopi tersebut.

Namun, tingkat keberhasilannya hanya 50 hingga 80%, serta dapat meningkatkan risiko kehamilan ektopik.

Proses tubektomi tidak melibatkan pengangkatan ovarium atau rahim, sehingga proses fertilisasi in vitro atau bayi tabung masih dapat dilakukan.

Sebagian wanita merencanakan dan menjadwalkan tubektomi saat sedang hamil untuk mencegah kehamilan selanjutnya dan seterusnya.

Jika dokter tidak menemukan potensi komplikasi, tubektomi dapat dilakukan sesaat setelah melahirkan.

ADVERTISEMENT

Tubektomi dapat dilakukan dengan beberapa cara berbeda.

Dalam menentukan metode yang tepat, penyedia layanan kesehatan akan mempertimbangkan beberapa faktor-faktor.

Beberapa faktor tersebut, seperti berat badan, riwayat pada operasi perut sebelumnya, dan apakah memiliki rencana menjalani prosedur tubektomi segera setelah persalinan pervaginam, operasi caesar, atau operasi lainnya. .

Melansir dari Very Well Health, berikut beberapa pilihan prosedur tubektomi.

1. Operasi Laparoskopi

Tubektomi laparoskopi juga dikenal sebagai sterilisasi laparoskopi, adalah salah satu dari dua metode ligasi tuba yang paling umum.

Selama prosesnya, pasien yang melakukan prosedur ini akan diberikan anestesi (pembiusan).

Prosedur ini mungkin akan menggunakan selang yang dimasukkan ke dalam tenggorokan untuk membantu pernafasan.

ADVERTISEMENT

Lalu gas akan dipompa ke dalam perut untuk mengangkat dinding perut dari organ panggul, sehingga memudahkan proses pengerjaan.

Kemudian, tabung tipis yang disebut laparoskop akan dimasukkan melalui sayatan kecil di dekat pusar.

Selanjutnya, dokter bedah akan memasukkan alat yang lebih kecil yang digunakan untuk menutup kedua saluran tuba.

Saluran tuba akan dijepit, diikat, atau dipotong dan ditutup rapat.

Alat ini dapat dimasukkan baik melalui laparoskop atau melalui potongan kecil kedua yang dibuat tepat di atas garis rambut kemaluan.

Dokter bedah kemudian menutup tuba fallopi dengan menggunakan cincin, klem, klip, atau dengan menyegelnya dengan aliran listrik (tindakan elektrokauter).

Setelahnya, laparoskop dikeluarkan, kemudian sayatan ditutup dengan dijahit dan dibalut.

ADVERTISEMENT

Prosedur ini memakan waktu sekitar 30 menit. Sayatan yang lebih kecil juga membantu mengurangi waktu pemulihan setelah operasi dan menurunkan risiko komplikasi.

Metode operasi laparoskopi, memberikan hasil yang instan yang dapat dirasakan secara langsung.

Setelah operasi, terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan saat berada dalam masa pemulihan, yaitu:

  • Hindari minum alkohol atau mengemudi setidaknya 24 jam sesudah melakukan operasi.
  • Dapat mulai berhubungan intim kembali satu minggu setelah operasi.
  • Dibutuhkan empat hingga enam minggu setelah operasi agar menstruasi dapat kembali normal.
  • Jika memiliki steri-strip (pemasangan perban yang terlihat seperti selotip), itu dapat dilepas dua hingga tiga hari setelah operasi.
  • Dapat mandi kapan saja setelah operasi.

Baca Juga: Keluarga Berencana (KB): Ketahui Tujuan, Manfaat, Metode KB yang Umumnya Digunakan

2. Mini Laparotomi

Mini laparotomi merupakan prosedur yang memberi sayatan lebih kecil dan dilakukan pada saat atau setelah melahirkan.

Operasi ini adalah prosedur umum yang dikenal aman dan efektif dalam mencegah kehamilan dengan menghentikan sel telur wanita mencapai saluran tuba di mana pembuahan terjadi.

Ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan laparoskopi karena tidak memerlukan peralatan yang canggih, hanya mengunakan keterampilan yang lebih sedikit, dan dapat dilakukan di rumah sakit segera setelah melahirkan.

Umumnya, operasi ini dilakukan dalam waktu 48 jam setelah melahirkan.

Namun, komplikasi dari mini laparotomi memang sedikit lebih tinggi daripada laparoskopi, tetapi, komplikasinya cukup jarang terjadi.

Jika pun terjadi, komplikasi tersebut cenderung berhubungan dengan kehamilan itu sendiri daripada prosedurnya.

Kebanyakan ahli bedah lebih memilih untuk melakukan tubektomi segera setelah melahirkan.

Ini karena pasien sudah berada di rumah sakit, dan dinding perut pasien masih rileks.

Selain itu, kehamilan mendorong bagian atas rahim, ke dekat pusar tempat sayatan akan dibuat. Ini memungkinkan akses yang lebih mudah ke saluran tuba.

Prosedur mini laparotomi dilakukan oleh dokter bedah dengan membuat sayatan kecil tapi terlihat tepat di bawah umbilikus (pusar).

Saluran tuba kemudian akan ditarik ke atas keluar dari sayatan dan dilakukan proses pemotongan dan pengikatan .

Saluran tuba kemudian akan dimasukkan kembali ke tempatnya dan sayatan ditutup dengan jahitan.

Kebanyakan pasien dapat sembuh dalam beberapa hari atau bisa juga menjadi lebih lama jika sayatannya besar.

Baca Juga: 11 Cara Menjaga Alat Reproduksi untuk Pria dan Wanita agar Selalu Bersih dan Sehat, Jauh dari Penyakit!

Efek Samping dan Komplikasi Tubektomi

Foto: Nyeri Perut (Freepik.com/lifestylememory)

Mengutip dari John Hopkins Medicine, pada dasarnya proses tubektomi aman untuk dilakukan. Namun, semua operasi tentu memiliki beberapa efek samping hingga komplikasi.

Untuk beberapa kasus, efek samping dan komplikasi yang umumnya timbul meliputi:

  • Pendarahan akibat sayatan atau di dalam perut belum sembuh atau menutup sepenuhnya.
  • Infeksi.
  • Kerusakan organ lain di dalam perut.
  • Efek samping dari anestesi.
  • Kehamilan ektopik atau terjadinya pembuahan sel telur di luar rahim.
  • Penutupan tuba falopi yang tidak sempurna yang dapat menyebabkan kehamilan.

Selain itu, efek samping dan komplikasi yang timbul pasca operasi dapat dibagi berdasarkan metode operasinya yaitu:

1. Operasi Laparoskopi

Pemulihan pasca operasi laparoskopi tergolong singkat. Setelah operasi, pasien sudah dapat melakukan aktivitas normal dalam seminggu.

Namun, efek samping yang umumnya dialami akibat dari operasi laparoskopi adalah:

  • Nyeri bahu sementara dan kembung karena gas.
  • Kram perut.
  • Sakit tenggorokan akibat penggunaan selang pernapasan.
  • Pusing.
  • Mual.
  • Risiko komplikasi rendah, seperti cedera pada pembuluh darah, kandung kemih atau usus, pendarahan, infeksi, dan reaksi buruk akibat anestesi dapat terjadi setelah operasi.

2. Operasi Mini Laparotomi

Melansir dari Better Health, beberapa kemungkinan efek samping dan komplikasi yang dapat terjadi setelah operasi mini laparotomi, meliputi:

  • Perdarahan
  • Infeksi
  • Kerusakan organ dalam
  • Pembentukan jaringan parut internal (di dalam tubuh)
  • Penyumbatan usus atau sakit perut yang mungkin disebabkan oleh perlengketan jaringan parut (adhesi)

Baca Juga: Pil KB Darurat: Cara Kerja, Jenis, hingga Keefektifannya dalam Mencegah Kehamilan

Keuntungan Tubektomi

Foto: Konsultasi Tubektomi (Freepik.com/kuprevich)

Menurut Planned Parenthood, prosedur tubektomi sangat efektif dan nyaman untuk para wanita yang ingin mencegah kehamilan. Tubektomi juga dapat meningkatkan kualitas kehidupan seks.

Beberapa keuntungan proses tubektomi adalah sebagai berikut:

1. Sangat Efektif

Tubektomi dapat mencegah kehamilan hingga 99%. Karena sifatnya yang permanen, tubektomi mencegah kehamilan seterusnya.

Setelah pulih pasca melakukan operasi tubektomi, dokter akan menyatakan aman untuk berhubungan seks tanpa alat kontrasepsi.

Sehingga tidak perlu menyiapkan apa pun sebelum berhubungan seks. Sterilisasi merupakan kontrasepsi dengan konsep "get-it and forget-it".

2. Tidak Mengubah Hormon Tubuh

Beberapa metode pencegah kehamilan dapat merubah keseimbangan hormon tubuh seperti pil KB.

Namun, tubektomi tidak memanipulasi hormon untuk mencegah kehamilan.

Oleh sebab itu, tubektomi tidak akan menyebabkan menopause, atau mengacaukan hormon alami Moms.

Baca Juga: 17 Cara Berhubungan agar Tidak Hamil, Cocok untuk yang Enggak Mau Nambah Anak Lagi!

Kerugian Tubektomi

Foto: Kerugian Tubektomi (Freepik.com/kuprevich)

Walaupun menguntungkan, tubektomi juga memiliki beberapa kerugian yang harus dipertimbangkan.

Kekurangan prosedur tubektomi adalah sebagai berikut:

1. Sifatnya Permanen

Setelah proses tubektomi selesai dilakukan, maka saluran tuba akan seterusnya tertutup.

Proses untuk mengembalikannya seperti semula akan sangat mahal, rumit, dan tidak bisa mengembalikan kesuburan seperti sedia kala.

Memilih proses tubektomi sebagai kontrasepsi, harus dilakukan dengan keyakinan untuk tidak ingin hamil lagi selama sisa hidup.

2. Tidak Mencegah Penyakit Seks Menular

Tubektomi tidak dapat mencegah penyebaran infeksi menular seksual.

Oleh karena itu, tetaplah melakukan hubungan seks yang aman dengan menggunakan kondom atau hanya melakukan seks dengan satu pasangan.

Baca Juga: Hukum KB Menurut Islam Berdasarkan Alquran dan Hadis, Pahami Yuk Seperti Apa Aturannya!

Mengambil keputusan untuk melakukan tubektomi adalah keputusan besar yang perlu dipertimbangkan baik-baik bersama pasangan.

Bila ingin mencegah kehamilan, tapi tidak ingin dengan cara permanen, ada cara efektif lainnya, misalnya dengan intrauterine device (IUD) atau alat kontrasepsi lainnya.

Metode ini dapat bertahan untuk jangka waktu yang lama dan dapat dengan mudah mencabutnya kembali.

Itu dia Moms, ulasan mengenai metode pencegahan kehamilan, yaitu tubektomi.

Jika Moms ingin memilih jenis kontrasepsi lain, dapat langsung berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan pilihan yang tepat.

Jangan lupa sertakan pasangan saat berkonsultasi ya!

  • https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/sterilization/what-are-benefits-sterilization
  • https://www.healthline.com/health/womens-health/tubes-tied
  • https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/sterilization/what-are-disadvantages-tubal-ligation
  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/tubal-ligation
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4137647/
  • https://www.health.harvard.edu/birth-control/methods/type/sterilization-women
  • https://www.healthline.com/health/birth-control-female-sterilization#outlook
  • https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/contraception-female-sterilisation
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/tubal-ligation#alternatives
  • https://www.verywellhealth.com/getting-your-tubes-tied-906939
  • https://www.verywellhealth.com/what-is-laparoscopy-906943
  • https://www.verywellhealth.com/mini-laparotomy-906945
  • https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/laparotomy

Sebelumnya

Hari Kontrasepsi Sedunia: Rencanakan Jumlah Anak untuk Keluarga yang Lebih Sejahtera
Orami • 26 Sep 2022

Selanjutnya

5 Manfaat Kondom dan Efek Samping yang Dimilikinya, Bikin Durasi Hubungan Intim Lebih Lama!
Nurul Aulia Ahmad • 26 Sep 2022

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

Artikel Terkait
Artikel Pilihan Editor

ADVERTISEMENT