Kesehatan

11 Juni 2021

Cari Tahu Yuk Tentang Aneurisma Aorta, Penyakit yang Bagai Bom Waktu!

Mari berkenalan dengan penyakit aneurisma aorta yang seringkali mengancam Dads
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Anggia Hapsari
Disunting oleh Adeline Wahyu

Kita memang tidak bisa menghindar dari usia dan penuaan. Tapi tentu saja kita bisa menunda penuaan tersebut dengan menjaga pola hidup sehat. Apalagi jika kita memang memiliki riwayat kesehatan tertentu. Apakah Moms pernah mendengar aneurisma aorta?

Penyakit ini merupakan penyakit yang menyerang tokoh kuliner mendiang Bondan Winarno. Ketika mendengar kabar ini, tak sedikit orang yang terkejut.

Memang, mendiang penulis kuliner tersebut sudah tidak muda lagi. Meski demikian, ketua Jalansutra (salah satu komunitas kuliner terbesar di Indonesia) ini sangatlah tampak segar dan bugar.

Pada milis Jalansutra tersebut, pak Bondan pun akhirnya menceritakan bahwa ia tidak memiliki penyakit jantung, namun dokter mendiagnosis adanya aneurisma aorta. Menurut dokter yang menangani kesehatan dan mendiagnosis mendiang pak Bondan, aneurisma aorta adalah penyakit yang bagaikan bom waktu, setiap saat bisa pecah dan sangat mematikan.

Apakah Aneurisma Aorta?

Waspada Takikardia, Kondisi Detak Jantung Terlalu Cepat.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Journal of The Translational Internal Medicine menjelaskan bahwa aneurisma aorta adalah kondisi ketika terjadi pembengkakan atau penggelembungan di dinding arteri.

Pada arteri, terdapat pembuluh darah besar yang membawa darah dari jantung ke berbagai bagian tubuh lainnya. Sedangkan aorta adalah sebutan untuk pembuluh darah besar.

Jika aunerisma membesar dan pecah, kondisi ini bisa menyebabkan perdarahan hebat, serta kematian. Dikatakan lebih lanjut oleh situs primayahospital.com, dr.Yusak Alfrets Porotuo, SpJP, Primaya Hospital Karawang, dalam kasus aneurisma aorta, biasanya pembesaran atau pembengkakan pembuluh darah tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba.

Aorta akan membesar sedikit demi sedikit, terjadi secara perlahan, dan tidak menimbulkan gejala, sementara tekanan darah di dalamnya melemah.

Ketika dokter spesialis jantung mendiagnosis adanya pembesaran aorta, maka dokter akan memantau kondisi pasien dengan cermat. Operasi aneurisma aorta akan dilakukan jika aneurima aorta berisiko tinggi pecah atau aneurisma aorta pecah.

Baca juga: Mengenal Penyakit Kawasaki yang Bahayakan Jantung Bayi

Gejala Aneurisma Aorta Menurut Lokasinya

penyumbatan pembuluh darah Ustaz Yusuf Mansur.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Pembesaran aneurisma aorta dapat terjadi di pembuluh darah aorta perut (abdominal) dan pembuluh darah aorta dada (torakal) atau bahkan keduanya. Biasanya, yang lebih sering dialami oleh seseorang adalah aneurisma perut.

Aneurisma torakal dan aneurisma aorta di kedua lokasi (dada dan perut) lebih jarang terjadi.

Dilansir dari heart.org, beberapa kasus aneurisma dengan penggelembungan kecil sering kali tidak memunculkan gejala apapun. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan membesarnya aneurisma akan muncul beberapa gejala sesuai dengan lokasinya, seperti:

1. Gejala Aneurisma Aorta Perut

Gejala yang dirasakan adalah nyeri punggung, nyeri di tengah perut dan di samping perut, sensasi berdenyut di area pusar, kaki kebas, hingga mual.

2. Gejala Aneurisma Aorta Dada

Gejala yang bisa dirasakan adalah napas pendek, suara serak, nyeri punggung bagian atas, nyeri dada, sensasi tertekan di dada, batuk, sulit menelan, hingga area leher membengkak.

Jika Moms, keluarga, atau rekan kerja mengalami beberapa hal di atas, sebaiknya segera kunjungi dokter spesialis jantung dan IGD secepat mungkin untuk mendapatkan penanganan intensif.

Penyebab Aneurisma Aorta

Hindari rokok untuk menjaga organ pernapasan

Foto: Orami Photo Stock

Dikatakan lebih lanjut oleh situs webmd.com, seharusnya arteri memiliki dinding yang kuat dan tebal. Namun terkadang beberapa masalah, penyakit, atau trauma yang memengaruhi gen seseorang bisa membuat area ini menjadi lebih lemah.

Sementara itu, tekanan darah yang terjadi secara otomatis dalam tubuh akan memompa darah dan oksigen dalam aorta. Area aorta yang melemah, lama kelamaan akan membengkak. Hasilnya terjadi “balon” yang disebut dengan aneurisma.

Meski demikian, hingga saat ini masih belum ada penelitian yang bisa menentukan penyebab pasti pelemahan area arteri di atas. Namun, para ahli percaya ada beberapa faktor penyebab seseorang terkena aneurisma aorta, seperti:

  • Berjenis kelamin pria. Ya, aneurisma aorta lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita
  • Memiliki kebiasaan merokok
  • Faktor usia, terutama seseorang di atas usia 65 tahun
  • Peradangan pada aorta
  • Penumpukan plak pada pembuluh darah
  • Pengerasan pada arteri (aterosklerosis)
  • Penyakit infeksi yang tidak diobati, seperti sifilis
  • Cedera pada arteri
  • Memiliki riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Faktor keturunan di mana salah satu anggota keluarga yang menderita aneurisma aorta
  • Kelainan genetik, seperti sindrom marfan
  • Adanya aneurisma di pembuluh darah yang lain

Baca juga: Tips Melakukan Program Hamil Jika Calon Ibu Pernah Memiliki Kebiasaan Merokok

Cara Menghindari Aneurisma Aorta

Pola Hidup Sehat untuk Cegah Demensia-2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Apakah Moms dan Dads atau keluarga terdekat memiliki beberapa kecenderungan untuk menderita aneurisma aorta seperti yang disebutkan di atas?

Untuk menghindarinya dan mencegah kondisi tersebut menjadi lebih parah, mayoclinic.org menyarankan beberapa hal ini:

1. Jauhi Tembakau

Artinya segera hentikan kebiasaan merokok dan jangan menjadi perokok pasif. Jauhi orang yang sedang merokok sesegera mungkin agar terhindar dari aneurisma aorta.

2. Lakukan Pola Makan Sehat

Agar terhindar dari masalah aneurisma aorta, stop mengonsumsi lemak trans, kurangi penggunaan garam dalam makanan, dan lupakan untuk mengonsumsi lemak jenuh yang berasal dari daging merah, unggas, hingga produk susu kaya lemak.

Sebaliknya, perbanyaklah konsumsi serat seperti sayuran, buah, biji-bijian, ikan, hingga produk susu rendah lemak.

3. Olahraga Secara Teratur

Sebelum berolahraga, pastikan dulu kepada dokter spesialis jantung, olahraga apa yang paling sesuai untuk kondisi serta usia Dads dan Moms. Lakukan olahraga ringan dan low impact, hindari olahraga yang terlalu berat seperti angkat beban.

Agar lebih bugar dan senantiasa sehat, idealnya setiap orang lakukan olahraga setidaknya 150 menit per minggu.

4. Jaga Kadar Tekanan Darah dan Kolesterol

Pencegahan aneurisma aorta selanjutnya adalah memantau tekanan darah dan kolesterol. Yang tak kalah penting, atur pola makan, jaga pola hidup sehat, jangan stres, dan konsumsi pengobatan medis yang disarankan oleh dokter ahli untuk menjaga tekanan darah dan kolesterol.

Baca juga: Benarkah Merokok Menyebabkan Mandul dan Rahim Kering?

Diagnosis Aneurisma Aorta

Konsultasi dengan dokter untuk pengobatan

Foto: Orami Photo Stock

Pertanyaan selanjutnya pun berlanjut. Bagaimana seorang dokter mendiagnosis aneurisma aorta dan menegakkan diagnosis tersebut?

Diagnosis aneurisma aorta dapat dideteksi lebih dini dengan pemeriksaan kesehatan rutin. Itulah sebabnya, Moms dan Dads disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin secara menyeluruh. Apalagi jika Moms dan Dads berusia 50 tahun ke atas.

Hal ini sangatlah penting sebagai upaya dokter melakukan deteksi dini terhadap aneurisma aorta.

Pada tahap awal pemeriksaan, umumnya dokter akan menanyakan riwayat kesehatan pasien dulu untuk mengetahui faktor risiko, faktor keturunan, hingga riwayat keluarga.

Setelah proses wawancara, dokter akan menjalankan pemeriksaan secara fisik. Jika ditemukan beberapa kecurigaan oleh dokter terhadap kondisi pasien, maka pasien akan menjalankan beberapa tes untuk menegakkan diagnosis aneurisma aorta.

Primayahospital.com lebih lanjut menjelaskan beberapa tes yang akan dilalui pasien, seperti di bawah ini:

  • Angiografi: Ini adalah tes dengan sinar-X pada pembuluh darah menggunakan pewarna kontras
  • Elektrokardiogram: Tujuannya untuk mendeteksi impuls listrik jantung
  • CT Scan (Pemindaian Tomografi Terkomputerisasi)/ MRI (Pencitraan Resonansi Magnetik)/ USG (Ultrasonografi): Selanjutnya pasien perlu melakukan pemeriksaan bagian dalam tubuh secara digital dan memakai sinar-X, energi gelombang radio, atau gelombang suara untuk menghasilkan gambar organ dalam. Pemeriksaan ini diperlukan untuk memastikan lokasi, ukuran, hingga tingkat keparahan aneurisma aorta.
  • Jika perlu, dokter bisa saja menyarankan seorang pasien tersebut untuk menjalani tes genetik. Gunanya untuk memastikan ada atau tidaknya faktor genetik yang meningkatkan risiko aneurima aorta.

Lalu bagaimana pengobatan yang akan dijalani? Pengobatan yang dimaksud adalah upaya untuk mencegah membesar atau pecahnya aneurisma aorta.

Namun jika aneurima aorta masih kecil dan tidak dirasakan gejala apapun oleh pasien, maka dokter masih akan meminta pasien untuk melakukan kontrol rutin.

Selain itu, dokter biasanya akan memberikan obat-obatan seperti obat golongan statin (untuk menurunkan kolesterol dan mencegah penyumbatan aorta), beta blocker (untuk menurunkan tekanan darah), serta obat untuk ARB ( diberikan jika beta blocker tidak berpengaruh dan pasien memiliki sindrom marfan)

Itulah berbagai hal seputar aneurisma aorta yang Moms dan Dads perlu ketahui. Jaga pola hidup sehat, lakukan medical check up secara teratur, jauhi rokok dan stres ya!

  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/abdominal-aortic-aneurysm/symptoms-causes/syc-20350688
  • https://www.webmd.com/heart-disease/what-surgeries-treat-aortic-aneurysm
  • https://www.heart.org/en/health-topics/aortic-aneurysm
  • https://primayahospital.com/jantung/aneurisma-aorta/

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait