Kesehatan

6 Januari 2018

Apakah Anda Seorang Emotional Eaters?

Apakah Anda makan karena lapar atau emosi?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh (serenata.rosalia)
Disunting oleh (serenata.rosalia)

Menurut hhblife, emotional eaters adalah orang-orang yang menggunakan makanan sebagai pelarian. Banyak orang kelebihan berat badan karena kelebihan porsi makan. Banyak orang kelebihan porsi makan karena emosi.

Perubahan Arti Makanan dari Energi ke Emosi

Ketika kita lahir, hubungan kita dengan makanan sangat berbeda dengan saat ketika kita tumbuh dewasa. Ketika kita muda, tubuh kita tahu persis seberapa banyak makanan yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Ketika Anda menyuapi seorang anak, dia pasti akan menolak ketika sudah merasa kenyang karena dia makan untuk asupan energi, bukan emosi. Saat beranjak dewasa, kita mengondisikan makanan sebagai emosi. Contohnya, saat Anda merasa sedih, ibu Anda akan mengajak makan eskrim agar merasa lebih baik. Saat beranjak dewasa, kita mulai mengasosiasikan makanan sebagai sumber kenyamanan, apalagi saat kita melihat keluarga kita makan bersama. Makanan menjadi titik fokus untuk menyatukan keluarga dan merepresentasikan kenyamanan dan ketenangan. Entah bagaimana, makanan berubah arti dari yang hanya sekadar sumber energi menjadi pusat emosi kita.

Lalu bagaimana memperbaikinya?

Hhblife memberikan solusinya. Saat Anda sudah siap menyuap sesuatu ke dalam mulut, tanyakan diri Anda dua pertanyaan ini: Apakah saya memakan ini karena saya lapar? Atau apakah saya memakan ini karena emosi?

Jika Anda bisa secara jujur menjawab pertanyaan ini dengan, "Karena saya lapar," Anda harus memakannya. Tapi jika jawaban Anda sesuatu yang lain, seperti, "Karena saya lelah, kesepian, sedih, stres, atau membenci pekerjaan", silakan pikirkan lagi dan coba untuk melakukan hal lain untuk mengalihkan pikiran Anda dari makanan. Temukan cara baru untuk menenangkan pikiran Anda seperti mandi, mendengarkan musik, membaca buku, atau bertemu sahabat. Semakin Anda sadar dengan apapun yang Anda makan, Anda akan mulai memerhatikan seberapa besar makanan menggambarkan emosi Anda. Seiring berjalannya waktu, Anda akan bisa mengembalikan kondisi seperti saat masih kecil, di mana Anda melihat makanan sebagai sumber energi bukan sebagai pelampiasan emosi.

Inilah yang disebut menjalin hubungan dengan diri sendiri, yakni memerhatikan bagaimana perasaan Anda secara emosional dan fisikal, dan memberi diri sendiri apa yang dibutuhkan sesuai dengan alasan yang tepat. Andalah yang mengontrol makanan, bukan makanan yang mengontrol Anda.

Sumber: hhblife

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait