3-12 bulan

3-12 BULAN
30 November 2020

Bayi Jarang Pipis, Normal atau Berbahaya?

Bayi yang minum ASI akan lebih jarang pipis, lho!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya
Disunting oleh Intan Aprilia

Menjadi ibu baru bukanlah hal yang mudah. Antusiasme untuk belajar banyak tentang Si Kecil menumbuhkan semangat baru.

Banyak ibu baru yang bertanya-tanya tentang pola atau frekuensi buang air kecil buah hati mereka. Beberapa tampak terlalu sering buang air kecil, sementara bayi yang lainnya tidak.

Lalu, normalkah jika bayi jarang pipis? Berapa kali normalnya bayi pipis dalam sehari?

Jarang pipis tidak bisa dianggap sepele. Pasalnya, seberapa banyak bayi pipis dalam seharinya dipengaruhi oleh saluran kemih.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Academy of Pediatrics, bayi pipis normalnya setiap satu sampai tiga jam sekali. Paling jarang empat hingga enam kali sehari. Intensitas pipis bayi juga dipengaruhi oleh cuaca atau kondisi kesehatan Si Kecil.

Jika sedang sakit atau cuaca panas, biasanya bayi akan lebih jarang pipis.

Buang air kecil seharusnya tidak menyakitkan. Jika Moms melihat tanda-tanda kesusahan saat bayi buang air kecil, segera pergi ke dokter anak. Mungkin ini bisa menjadi tanda infeksi atau masalah lain pada saluran kemih.

Bayi Jarang Pipis

Normalkah Jika Bayi Jarang Pipis 2.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Pada bayi yang sehat, warna pipis biasanya berwarna kuning muda hingga tua. Semakin gelap dan pekat warnanya, maka perlu banyak konsumsi cairan.

Mungkin Moms atau Dads sesekali mendapati bercak coklat pada popok yang terlihat seperti darah. Padahal noda ini biasanya merupakan cairan pipis yang cukup pekat.

Namun tak jarang ada juga bercak darah pada pipis anak. Ini merupakan tanda kondisi kesehatan yang serius.

Jika pendarahan ini disertai dengan gejala lain, seperti sakit perut atau pendarahan di area lain, segera cari pertolongan medis untuk buah hati.

Seiring dengan bertambahnya usia bayi, mereka akan buang air kecil lebih jarang, tetapi biasanya dalam jumlah yang lebih banyak. Di mana sejak berusia 1 bulan bayi setidaknya menghasilkan sekitar 4 hingga 5 popok basah setiap hari.

Baca Juga: Sering Menahan Buang Air Kecil? Hati-hati, 4 Penyakit Ini Risikonya!

Menurut Institute National of Public Health, bayi baru lahir akan lebih sering pipis saat 2 atau 3 hari pertama. Pada minggu pertama, frekuensi pipis akan meningkat satu kali setiap hari.

Setelah minggu pertama, bayi akan buang air kecil setidaknya 6 kali dalam 24 jam jika dia cukup minum ASI. Normalnya, pipis bayi mengandung 30 ml hingga 45 ml urin. Untuk warnanya bening dan tidak berbau.

Pada titik tertentu, terutama sejak bayi mulai mengonsumsi makanan padat, maka ia akan mulai bisa mengontrol kandung kemih.

Oleh karena itu, Moms tidak perlu langsung panik jika bayi jarang pipis, bahkan menjadi lebih jarang dari sebelumnya.

Baca Juga: Pipis Terus-Terusan, Apakah Ini Salah Satu Gejala Diabetes?

Jarang Pipis, Tapi Berkeringat?

Bayi jarang pipis tapi berkeringat?

Foto: Orami Photo Stock

Bayi jarang pipis tapi selalu berkeringat adalah hal yang normal. Keringat adalah bentuk ekskresi manusia selain buang air. Jika pipis keluar melalui alat kelamin, keringat melalui permukaan kulit tubuh.

Bayi sering berkeringat setelah bermain dan melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak energi. Proses pembakaran energi dalam tubuh bayi menghasilkan cairan yakni keringat.

Jadi wajar jika semakin lincah Si Kecil, maka ia akan terus berkeringat. Walaupun bayi jarang pipis tapi berkeringat, ini adalah hal yang normal. Tidak semua cairan tubuh harus dikeluarkan melalui buang air.

Tak hanya itu, karena melakukan kontak fisik dengan ibunya ketika menyusui, bayi juga akan sering berkeringat, lho.

Tubuh bayi akan beraksi untuk mengatur kenaikan suhu.

Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Tak Boleh Menahan Pipis Terlalu Lama

ASI Lancar Namun Jarang Pipis, Normalkah?

Pasti banyak ibu yang memikirkan Si Kecil tidak mau buang air padahal ASI yang dikonsumsinya cukup banyak per harinya.

Pasti ini membuat pusing kepala ya, Moms.

Tenang saja, tingkat intensitas bayi buang air berbeda-beda. Volume pipis bayi dapat dipengaruhi dari apa yang dikonsumsinya, termasuk ASI.

Misalnya asupan cairan dari pola menyusui. Menurut dr. Nadia Nurotul, bayi yang mengonsumsi ASI lancar cenderung lebih jarang pipis dan buang air besar dibandingkan dengan bayi yang mengonsumsi susu formula.

Sebuah penelitian oleh Journal of Perinatolog menjelaskan bagi bayi yang mengonsumsi ASI ataupun susu formula tidak ada perbedaan waktu kapan ia akan pipis per harinya. Pipis yang dikeluarkan per harinya berdasarkan cairan yang dikonsumsinya.

Si Kecil yang mengutamakan minum ASI akan lebih jarang pipis dan ini adalah kondisi normal terjadi. ASI umumnya diserap baik oleh tubuh karena mengandung banyak nutrisi dan protein yang tidak dimiliki oleh susu formula.

Oleh karena itu, sedikit sekali sisa makanan atau cairan yang dikeluarkan tubuh melalui pipis atau air besar.

ASI sangat memiliki banyak manfaat untuk menjaga imunitas tubuh. Jadi jika bayi masih dapat mengonsumsi ASI eksklusif, pertahankan ya Moms.

Baca Juga: Bolehkah Mengombinasi ASI dengan Susu Formula?

Bayi Jarang Pipis, Pertanda Dehidrasi

Bayi jarang pipis, petanda dehidrasi!

Foto: Orami Photo Stock

Setelah mengetahui penyebab ilmiah bayi jarang pipis, itu memanglah hal yang wajar terjadi. Konsumsi ASI dan berkeringat mungkin akan membuat Si Kecil jarang pipis, ya.

Namun, penyebab lain juga dapat memengaruhi bayi jarang pipis. Apabila bayi jarang pipis atau sama sekali tidak pipis, ini salah satu pertanda masalah serius.

Waspadai gejala lain yang mungkin menyertai. Kemungkinan bayi mengalami dehidrasi.

Dehidrasi adalah ketika seseorang memiliki cairan terlalu sedikit di tubuhnya. Anak kecil mudah mengalami dehidrasi ketika sedang diare atau muntah-muntah.

Bayi yang berusia kurang dari 6 bulan mengalami dehidrasi jauh lebih cepat daripada anak yang lebih tua. Bayi di bawah 1 tahun membutuhkan sekitar 1 liter cairan per hari, sedangkan anak-anak di atas satu tahun membutuhkan 1 hingga 2 liter cairan per hari, tergantung ukurannya, dilansir dari Parents.com.

Demam juga dapat meningkatkan kehilangan cairan melalui kulit, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi dan membuat bayi jarang pipis.

Adapun beberapa tanda dehidrasi pada bayi menurut Virtual Pediatric Hospital yaitu:

  • Tidak pipis selama 4 sampai 6 jam pada bayi yang berusia di bawah 6 bulan.
  • Menghasilkan kurang dari 6 popok basah dalam sehari.
  • Air mata yang keluar hanya sedikit atau tidak sama sekali saat menangis.
  • Rewel dan sering menangis.
  • Fontanel bayi tampak cekung atau lebih rata dari biasanya.
  • Kulit bayi tampak kering atau keriput (terutama di perut, lengan, dan kaki).
  • Tampak lemas.
  • Kantuk atau bingung.
  • Detak jantung terlalu cepat atau sebaliknya.

Baca Juga: Bayi Pipis Tidak Tentu Arah, Waspadai Hypospadias

“Urine yang sulit keluar, berwarna gelap dan lemah juga merupakan indikator yang baik bahwa bayi perlu minum lebih banyak. Bayi mungkin juga menunjukkan tanda-tanda mirip penyakit kuning sebagai gejala dehidrasi,” kata Dr Tim Ubhi, juru bicara Royal College of Paediatrics and Child Health.

“Ketika bayi sudah bertambah besar hingga memasuki usia balita, cadangan fisiologisnya meningkat dan mereka lebih mampu mengatasi dehidrasi. Ini berarti bahwa gejalanya sedikit berbeda dan ada lebih banyak cara untuk menemukan dehidrasi,” tambahnya.

Baca Juga: Perbandingan Buang Air Besar: Bayi Minum ASI Eksklusif VS Susu Formula

Demikianlah informasi tentang pola buang air kecil pada bayi dan gejala jika bayi jarang pipis. Bagaimana pun konsultasikan dengan dokter anak jika ada perubahan secara tiba-tiba dalam pola buang air kecil atau buang air besar bayi.

Artikel Terkait