Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

ASI & MPASI | Apr 9, 2018

ASI Bisa Sebabkan Bayi Kuning, Mengapa?

Bagikan


ASI Bisa Sebabkan Bayi Kuning, Mengapa?

Tak sedikit ibu yang khawatir bahwa Air Susu Ibu (ASI) dapat menyebabkan bayi kuning atau jaundice. Alhasil, para ibu berhenti menyusui.

Padahal, pendapat itu tidaklah benar. Hubungan antara bayi kuning dengan ASI sebenarnya karena justru bayi sedikit minum ASI atau bahkan tidak minum ASI sama sekali. Inilah yang justru memperparah kondisi kuning yang dialami.

Apa penyebab bayi kuning saat baru lahir? 

Perlu kita tahu, penumpukan bilirubin merupakan penyebab terjadinya kuning pada bayi baru lahir. Hal ini disebut juga dengan istilah ikterus.  

Umumnya, ikterus mulai tampak pada sklera (bagian putih mata) dan wajah, selanjutnya meluas ke arah dada, perut dan lainnya.

Nah, bilirubin adalah hasil pemecahan sel darah merah. Hemoglobin (Hb) yang terdapat di dalam sel darah merah akan dipecah menjadi bilirubin. Adapun satu gram Hb akan menghasilkan sebanyak 34 mg bilirubin. Bilirubin ini disebut bilirubin indirek yang larut dalam lemak dan akan dibawa menuju hati.

Lalu, di dalam hati, bilirubin akan diubah oleh enzim glukoronid transferase menjadi bilirubin direk yang larut dalam air. Selanjutnya, akan disalurkan melalui saluran empedu di dalam dan di luar hati menuju usus. Lalu di dalam usus, bilirubin direk ini akan terikat oleh makanan dan dikeluarkan sebagai sterkobilin bersama dengan feses.

Bila ternyata tak ada makanan di dalam usus, bilirubin direk akan diubah oleh enzim di dalam usus yang juga terdapat di dalam ASI,  yaitu beta-glukoronidase menjadi bilirubin indirek yang akan diserap kembali dari usus ke aliran darah.

Kemudian, bilirubin indirek ini akan diikat oleh albumin dan kembali ke dalam hati. Rangkaian ini disebut sirkulus enterohepatik (rantai usus-hati). 

Lalu apa hubungannya bayi kuning dengan dengan ASI?

Ikterus disebabkan oleh asupan makanan yang kurang karena produksi ASI masih kurang di hari pertama. Akibatnya, bilirubin direk yang sudah mencapai usus tidak terikat oleh makanan dan tidak dikeluarkan melalui anus bersama makanan.

Lalu, mengapa bayi baru lahir sampai sedikit minum ASI atau bahkan tidak minum ASI sama sekali? Ini alasannya:

  1. Bayi sudah diberikan asupan prelaktal, yaitu cairan/makanan lainnya (susu formula, air gula) sebelum mulai menyusu
  2. Bayi tidak diberi kesempatan untuk dapat menyusu sesering mungkin, setidaknya 8-12 kali dalam 24 jam.
  3. Bayi sering menyusu namun tak minum ASI. Artinya, bayi hanya ngempeng pada puting payudara ibu. Kenapa demikian? Karena posisi bayi dan pelekatan mulut bayi pada puting payudara ibu belum tepat. Akibatnya, bayi kesulitan untuk mengeluarkan ASI/ kolostrum dari payudara ibu.

Baca Juga : Masih Percaya Mitos-mitos Seputar Bayi Baru Lahir Ini?

Jadi, Moms tak perlu berhenti menyusui karena justru kuningnya akan semakin parah bila bayi kurang minum ASI.

Baca Juga : Apa Saja 5 Imunisasi Wajib bagi Bayi?

Nah, untuk mengurangi terjadinya ikterus perlu tindakan sebagai berikut :

  • Dalam waktu 30 menit, letakkan bayi ke dada ibunya selama 30-60 menit
  • Pastikan posisi dan perlekatan bayi pada payudara harus benar
  • Berikan kolostrum karena dapat membantu embersihkan mekonium dengan segera. Mekonium yang mengandung bilirubin tinggi bila tidak segera dikeluarkan, bilirubinnya dapat diserap kembali sehingga meningkatkan kadar bilirubin dalam darah.
  • Susui bayi sesuai kemauannya, setidaknya 8 kali sehari.
  • Hindari memberikan air putih, air gula atau apapun lainnya sebelum ASI keluar karena akan mengurangi asupan susu.
  • Selalu monitor kecukupan produksi ASI dengan melihat buang air kecil bayi setidaknya 6-7 kali sehari dan buang air besar paling kurang 3-4 kali sehari.

 (HIL)

Sumber: aimi-asi.org, idai.or.id

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.