Kesehatan

16 Juli 2021

Mengenal Batuk Rejan, Penyakit yang Bisa Membahayakan Bayi dan Anak

Batuk rejan juga dikenal dengan istilah pertusis
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Jika Moms pernah mengalami atau mendengar seseorang batuk hingga sulit bernapas, maka bisa jadi orang tersebut mengalami batuk rejan. Batuk rejan juga dikenal dengan istilah medis, pertusis.

Batuk rejan adalah penyakit saluran pernapasan akut yang sangat menular dan disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Dikutip dari National Organization for Rare Disorders, batuk rejan memiliki 3 stadium yaitu catarrhal, paroxysmal, dan convalescent. 

Gejala batuk rejan tahap catarrhal biasanya cukup ringan dan mungkin tidak disadari. Tahap kedua batuk rejan adalah paroksismal, ditandai adanya episode batuk dengan suara “rejan” yang khas saat menarik napas.

Ciri khas ini juga yang membuat penyakit ini memiliki nama umum, batuk rejan. Tahap akhir batuk rejan tahap pemulihan, dimana batuk lebih jarang terjadi dan gejalanya mulai membaik.

Meskipun batuk rejan dapat menyerang orang di segala usia, batuk rejan juga bisa mematikan bagi bayi dan anak kecil.

Insiden Pertusis atau batuk rejan telah sangat berkurang dengan meluasnya penggunaan vaksin DPT (Difteri Pertusis Tetanus), tetapi di daerah tertentu di Amerika Serikat wabah telah terjadi secara berkala dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sebelum vaksin tersedia, batuk rejan adalah penyebab utama kematian masa kanak-kanak di Amerika Serikat. Menurut penelitian mereka, kini jumlah total kasus batuk rejan pada tahun 2016 hanya di bawah 18.000, dengan 7 kematian yang dilaporkan.

Baca Juga: Mengenal Batuk Disertai Sesak Napas (Croup) pada Anak

Gejala Batuk Rejan

batuk rejan

Foto: cosmosmagazine.com

Masa inkubasi atau waktu antara infeksi awal dan timbulnya gejala batuk rejan adalah sekitar 5 hingga 10 hari. Akan tetapi, gejala batuk rejan ini mungkin tidak muncul selama tiga minggu pertama

Gejala awal batuk rejan mirip dengan flu biasa, termasuk pilek, batuk, dan demam. Dalam dua minggu, penderita batuk rejan akan mengalami batuk kering dan ini terus-menerus bisa terjadi sehingga membuat pasien sulit bernapas.

Anak-anak sering mengeluarkan suara "melengking" ketika mereka mencoba mengambil napas setelah batuk rejan. Batuk rejan pada anak-anak ini juga dapat menyebabkan:

  • Muntah
  • Kulit biru atau ungu di sekitar mulut
  • Dehidrasi
  • Demam ringan
  • Kesulitan bernapas

Orang dewasa dan remaja biasanya mengalami gejala yang lebih ringan ketika batuk rejan, seperti batuk berkepanjangan tanpa suara “melengking”.

Baca Juga: Kenali Berbagai Jenis Batuk Pada Anak

Mendiagnosis dan Mengobati Batuk Rejan

batuk rejan

Foto: euroimmunblog.com

Jika Moms atau Si Kecil mengalami gejala batuk rejan, segera carilah pertolongan medis. Ini terutama harus dilakukan jika anggota keluarga Moms belum diimunisasi.

Batuk rejan sangat menular, karena bakteri dapat menyebar ke udara saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau tertawa. Semua hal tersebut dapat dengan cepat membuat batu rejan menyebar ke orang lain.

Diagnosa

Untuk mendiagnosis batuk rejan, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengambil sampel lendir di hidung dan tenggorokan. Sampel tersebut kemudian untuk pengujian keberadaan bakteri B. pertussis. Tes darah mungkin juga diperlukan untuk membuat diagnosis yang akurat.

Pengobatan

batuk rejan

Foto: mydr.com.au

Banyak bayi dan beberapa anak kecil perlu dirawat di rumah sakit selama menjalani perawatan, untuk observasi dan bantuan pernapasan.  Beberapa mungkin memerlukan cairan intravena (IV) karena dehidrasi jika kondisinya menghalangi mereka untuk minum cukup cairan.

Karena batuk rejan adalah infeksi bakteri, antibiotik adalah pengobatan utama yang diperlukan untuk mengatasi batuk rejan. Antibiotik paling efektif pada tahap awal batuk rejan. Mereka juga dapat digunakan pada tahap akhir infeksi penularan batuk rejan untuk mencegahnya menyebar ke orang lain.

Meskipun antibiotik dapat membantu mengobati infeksi, mereka tidak mencegah atau mengobati batuk itu sendiri. Namun, obat batuk tidak dianjurkan karena obat tersebut tidak berpengaruh pada gejala batuk rejan dan dapat membawa efek samping yang berbahaya bagi bayi dan anak kecil.

Kebanyakan dokter menyarankan untuk menggunakan pelembab udara di kamar tidur anak,  untuk menjaga kelembapan udara dan membantu meringankan gejala batuk rejan.

Baca Juga: 13 Cara Mengatasi Hidung Gatal dengan Alami, Salah Satunya dengan Humidifier!

Bagaimana Batuk Rejan Menyebar

batuk rejan

Foto: thejournal.ie

Bakteri yang menyebabkan batuk rejan ditemukan dalam cairan dari mulut dan hidung seseorang dengan pertusis. Bakteri menyebar ketika cairan yang mengandung bakteri masuk ke hidung atau mulut.

Hal ini dapat terjadi ketika penderita pertusis batuk atau bersin di depan seseorang atau dengan menyentuh cairan lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut. Secara umum, seseorang berisiko lebih besar terkena batuk rejan jika mereka berada dalam jarak tiga kaki dari seseorang dengan pertusis setidaknya selama 10 jam seminggu.

Hal tersebut dianggap kontak dekat. Dikutip dari Minnesota Department of Health, periode antara paparan bakteri dan timbulnya penyakit biasanya 7 sampai 10 hari tetapi mungkin bisa juga selama 21 hari.

Baca Juga: Cegah Penularan Flu dan Batuk dengan 7 Cara Ini

Kemungkinan Komplikasi Batuk Rejan

batuk rejan

Foto: unsw.edu.au

Bayi dengan batuk rejan memerlukan pemantauan ketat untuk menghindari komplikasi yang berpotensi berbahaya karena kekurangan oksigen. Komplikasi serius batuk rejan pada bayi meliputi:

  • Kerusakan otak
  • Radang paru-paru
  • Kejang
  • Pendarahan di otak
  • Apnea (memperlambat atau berhenti bernapas)
  • Kejang-kejang (tak terkendali serta gemetar)
  • Kematian

Bayi berada pada risiko tertinggi kematian terkait batuk rejan, bahkan setelah memulai pengobatan. Orang tua harus memantau bayi dengan hati-hati. Jika bayi Moms mengalami gejala -gejala di atas, segera hubungi dokter anak untuk menghindari hal-hal yang kurang memungkinkankan. 

Anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa juga dapat mengalami komplikasi karena batuk rejan, termasuk:

  • Kesulitan tidur
  • Inkontinensia urin (kehilangan kendali kandung kemih)
  • Radang paru-paru
  • Patah tulang rusuk

Gejala batuk rejan bisa bertahan hingga empat minggu atau lebih, bahkan selama pengobatan.  Anak-anak dan orang dewasa umumnya pulih dengan cepat, tetapi tentu saja dengan intervensi medis lebih dini.

Baca Juga: Kenali 2 Jenis Batuk di Musim Hujan yang Bisa Menyerang Si Kecil

Pencegahan Batuk Rejan

batuk rejan

Foto: scmp.com

Vaksinasi adalah kunci pencegahan dari penularan batuk rejan. CDC merekomendasikan vaksinasi untuk bayi pada usia:

  • 2 bulan
  • 4 bulan
  • 6 bulan

Vaksinasi booster juga diperlukan untuk anak-anak pada usia:

  • 15 sampai 18 bulan
  • 4 sampai 6 tahun dan sekali lagi pada usia 11 tahun

Ibu Hamil dengan Batuk Rejan

batuk rejan

Foto: nortonhealthcare.com

Batuk rejan adalah penyakit serius yang bisa mematikan bagi bayi. Sayangnya, bayi tidak mulai membangun perlindungannya sendiri terhadap batuk rejan sampai mereka divaksinasi pada usia dua bulan.

Hal ini membuat bayi tidak terlindungi di bulan-bulan pertama kehidupan ketika mereka berada pada risiko tertinggi untuk menjadi sangat sakit jika terkena batuk rejan. Moms bisa melindungi bayi Moms sebelum ia dapat divaksinasi dengan mendapatkan vaksin Tdap selama trimester ketiga kehamilan Anda.

Dengan melakukan itu, Moms memberikan antibodi tingkat tinggi kepada bayi Moms sebelum mereka lahir. Antibodi ini membantu melindungi bayi Moms dari batuk rejan di bulan-bulan pertama kehidupannya.

CDC merekomendasikan semua wanita menerima vaksin Tdap selama minggu ke 27 hingga 36 setiap kehamilan, sebaiknya selama bagian awal periode waktu ini.

Vaksinasi selama kehamilan menawarkan perlindungan terbaik. Ketika wanita mendapatkan vaksin Tdap saat hamil, bayinya memiliki perlindungan yang lebih baik terhadap batuk rejan daripada bayi yang ibunya tidak divaksinasi selama kehamilan.

Penelitian mencatat ibu hamil yang mendapatkan vaksin Tdap antara 27 hingga 36 minggu kehamilan, dapat menurunkan risiko batuk rejan pada bayi di bawah usia 2 bulan sebesar 78 persen. Jika Moms tidak mendapatkan vaksin Tdap selama kehamilan dan belum pernah menerimanya sebelumnya, Moms bisa mendapatkannya setelah bayi Moms lahir.

Baca Juga: Vaksin Tetanus pada Ibu Hamil, Amankah?

Diperlukan waktu sekitar 2 minggu sebelum tubuh Moms mengembangkan perlindungan (antibodi) sebagai respons terhadap vaksin. Setelah Moms mendapat perlindungan dari vaksin, kecil kemungkinan Moms menularkan batuk rejan kepada bayi Moms saat merawatnya. Tapi ingat, bahwa faktanya bayi Moms tetap berisiko tertular batuk rejan dari orang lain.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait