Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Kesehatan Bayi | Sep 22, 2018

Bayi Bermata Satu Lahir di Sumatera Utara, Begini Kisahnya

Bagikan


Sejatinya, kelahiran bayi menjadi kabar bahagia bagi kedua orang tuanya. Namun, kelahiran anak pasangan Atana Ariyanto dan Suriyanti justru membuat mereka syok dan sedih.

Dikutip dari Mirror.co.uk, Suriyanti melahirkan bayi perempuan dengan berat 2,4 kilogram di RSUD Panyabungan, Mandailing Natal, Sumatera Utara pada 15.25 Kamis (13/9) lalu.

Putri pasangan itu lahir dengan kondisi fisik yang tidak sempurna. Bayi yang terlahir melalui operasi cesar itu terlahir dengan mata satu dan tanpa hidung, sedangkan organ lainnya lengkap.

Tidak Pernah Melakukan Pemeriksaan USG

Foto: Caters News Agency

Atana dan Suriyanti kaget bukan main melihat kondisi fisik putrinya itu. Mkereka tidak menyangka anaknya terlahir dengan kondisi seperti itu. Selama hamil, Atan dan Suriyanti memang tidak pernah melakukan pemeriksaan USG sehingga tidak pernah melihat langsung kondisi putrinya itu selama dalam kandungan.

Dengan kondisi tersebut, tim dokter langsung melakukan tindakan pengawasan intensif untuk memantau kondisi bayi tersebut. Setiap 15 menit, dokter melakukan pengecekan terhadap kondisi vital si bayi. Namun, anak kelima pasangan itu harus meninggal tujuh jam setelah dilahirkan tepatnya pada pukul 22.44.

Baca Juga: Kisah Micro Baby yang Lahir dengan Berat Badan 359 gram

Diduga karena Terpapar Merkuri atau Virus Rubella saat Hamil

Foto: Caters News Agency

Kepala Dinas Kesehatan Mandailing Natal dr. Syarifuddin Nasution mengatakan bahwa dengan kondisi terlahir seperti itu, bayi tersebut akan mengalami masalah pernapasan dan jantung karena detak jantungnya kurang dari 100 per menit.

“Jika kondisinya membaik, kami akan merujuknya ke Medan. Namun, kami memahami bahwa bayinya tidak akan lama bertahan,” kata dr. Syarifuddin.

dr. Syarifuddin menambahkan, kondisi bayi tersebut terjadi bisa karena paparan merkuri, obat-obatan, atau virus rubella. Orang tua bayi tersebut memang tinggal di desa Kayu Jati di Panyabungan yang berdekatan dengan tambang tempat bekerja Atana.

(AND)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.