3-12 bulan

3-12 BULAN
6 Oktober 2020

Bintik Merah DBD pada Bayi, Harus Diwaspadai Moms!

Bintik merah yang terjadi usai demam tinggi bisa jadi pertanda bayi alami demam berdarah.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Rizky
Disunting oleh Intan Aprilia

Kemunculan bintik-bintik merah pada kulit bayi memang bisa menandakan banyak hal. Bisa saja kondisi ini terjadi akibat ruam, digigit serangga, atau reaksi alergi.

Namun, kondisi seperti demam selama beberapa hari juga bisa menyebabkan bayi memiliki bintik merah pada kulitnya.

Apabila kondisi ini juga hadir dengan beberapa gejala lain, Moms harus waspada nih, karena ini bisa mengindikasikan bayi terserang demam berdarah (DBD).

Bintik Merah DBD pada Bayi Harus Diwaspadai

Bintik Merah DBD pada Bayi Harus Diwaspadai

Foto: Orami Photo Stock

Bintik merah DBD pada bayi bisa yang terjadi dengan gejala lain, seperti:

  • Demam tinggi hingga 40° C
  • Sakit kepala
  • Rasa sakit di belakang mata dan di persendian yang membuat bayi sangat rewel
  • Ruam pada sebagian besar tubuh
  • Tidak ingin menyusu atau makan
  • Kulit yang mudah memar
  • Perdarahan ringan dari hidung atau gusi

Jika sudah begini, Moms harus segera membawa bayi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Pasalnya penanganan yang telat bisa menyebabkan kondisi yang fatal.

Baca Juga: Gejala DBD pada Bayi dan Perawatannya di Rumah, Catat Moms!

Beda Bintik Merah DBD pada Bayi dengan Campak

Campak dan demam berdarah kadang memiliki gejala yang cukup mirip, sehingga Moms perlu benar-benar teliti akan gejala lain yang muncul.

Kadang beberapa orang tua juga kerap salah menduga penyebab bintik merah yang terjadi pada bayi.

Dikutip dari Mount Elizabeth Singapore, untuk kasus bintik merah akibat DBD pada bayi, biasanya ia akan muncul pada hari kedua sejak demam terjadi.

Sementara jika bintik merah disebabkan oleh penyakit campak, ia muncul tiga hari usai demam terjadi.

Tak hanya itu saja, bintik merah DBD pada bayi juga akan menghilang dengan sendirinya saat memasuki hari keempat atau kelima.

Bintik merah DBD pada bayi juga bisa hilang saat menginjak hari keenam.

Sementara pada campak, bintik merah ini bisa membekas dan bertahan hingga satu pekan. Bintik pun bisa menyebar dengan rata dari kepala hingga kaki bayi.

Baca Juga: Berikan 5 Makanan Super Ini Saat Anak Demam Berdarah

Lakukan Hal Ini Jika Bayi Terserang Demam Berdarah

Lakukan Hal Ini Jika Bayi Didiagnosis Terserang Demam Berdarah

Foto: Orami Photo Stock

Bila terjadi bintik merah DBD pada bayi, Moms sebaiknya segera periksakan bayi di rumah sakit.

Ingat, penanganan yang dilakukan sejak dini adalah hal yang sangat penting untuk mencegah komplikasi yang tidak diinginkan.

Di rumah sakit, dokter akan meminta bayi menjalankan beberapa pemeriksaan laboratorium guna memastikan diagnosis.

Jika dokter sudah memastikan bahwa bayi mengalami DBD, mungkin bayi perlu diberi perawatan secara intensif di rumah sakit jika gejalanya cukup parah.

Perlu diingat bahwa tidak ada pengobatan khusus untuk mengatasi demam berdarah.

Kasus ringan akan diatasi dengan pemberian banyak cairan guna mencegah dehidrasi dan membuat bayi lebih banyak untuk beristirahat.

Jika bayi atau anak tak mau diberi cairan, Moms pun bisa mencoba memberikan air dalam bentuk lain, seperti kuah sup, buah semangka, jus segar, susu, atau minuman elektrolit yang anak sukai.

Terkadang obat penghilang rasa sakit seperti acetaminophen juga bisa diberikan guna meringankan sakit kepala dan rasa sakit yang terkait dengan demam berdarah.

Namun, penghilang rasa sakit dengan aspirin atau ibuprofen harus dihindari, karena obat ini bisa membuat perdarahan lebih mungkin terjadi.

Dokter juga mungkin akan memberikan cairan intravena (IV) dan elektrolit (garam) untuk menggantikan cairan yang hilang melalui muntah atau diare.

Jika didiagnosis lebih dini, biasanya hal ini berhasil untuk mengobati penyakit secara efektif. Sementara pada kasus yang sudah parah, dokter mungkin harus melakukan transfusi darah.

Moms juga tak perlu banyak khawatir, meski fase kritis bisa terjadi saat bayi mengalami kekurangan cairan, sebagian besar kasus demam berdarah bisa hilang dalam satu atau dua minggu dan tidak akan ada masalah lain.

Baca Juga: Anak Demam, Hati-Hati Terkena Penyakit Japanese Enchepalitis

Tanda Saat Demam Berdarah Semakin Parah

Melansir Centers for Diseases Control and Prevention, sekitar satu dari dua puluh orang yang mengidap demam berdarah akan mengalami gejala yang makin parah.

Demam berdarah dengue yang parah adalah bentuk penyakit yang lebih serius yang dapat menyebabkan syok, perdarahan internal, dan bahkan kematian.

Seseorang lebih mungkin terserang demam berdarah berat jika sebelumnya pernah menderita infeksi dengue.

Bayi dan wanita hamil pun tercatat berisiko lebih tinggi terkena demam berdarah parah.

Selain bintik merah DBD pada bayi, ada beberapa tanda peringatan demam berdarah parah yang perlu diwaspadai.

Kondisi ini pun bisa terjadi dimulai dalam 24 hingga 48 jam setelah demam hilang. Gejalanya antara lain:

  • Sakit perut atau terasa nyeri seperti ditekan
  • Muntah (setidaknya 3 kali dalam 24 jam)
  • Perdarahan dari hidung atau gusi
  • Muntah darah, atau adanya darah di tinja
  • Merasa lelah, gelisah, atau mudah tersinggung

Baca Juga: Ini 7 Penyakit Menular Pada Anak di Sekolah yang Patut Moms Waspadai

Tak Ada Vaksin untuk Cegah DBD, Sebaliknya Lakukan Hal Ini

Tak Ada Vaksin untuk Cegah DBD, Sebaliknya Lakukan Hal Ini

Foto: Orami Photo Stock

Sayangnya hingga kini tidak ada vaksin yang bisa diberikan kepada bayi guna mencegah demam berdarah.

Langkah pencegahan perlu dilakukan adalah melindungi bayi dan anggota keluarga yang lain dari gigitan nyamuk Aedes agar mereka tidak terinfeksi.

Melansir Kids Health, berikut ini adalah beberapa langkah pencegahan yang bisa Moms lakukan di rumah:

  • Pasangkan pelapis anti nyamuk pada pintu dan jendela, dan segera perbaiki lapisan yang rusak atau bolong. Usahakan agar pintu dan jendela yang memiliki pelapis selalu ditutup,
  • Pasangkan kelambu pada tempat tidur anak dan bayi saat malam hari,
  • Pakaikan bayi dan anak-anak atasan lengan panjang, celana panjang, sepatu dan kaus kaki ketika mereka hendak pergi ke luar.
  • Jika diperlukan, gunakan obat nyamuk, seperti misalnya yang mengandung minyak lemon eucalyptus atau lavender yang tidak disukai nyamuk,
  • Batasi jumlah waktu yang dihabiskan bayi dan anak-anak di luar siang hari, terutama di jam-jam menjelang fajar dan senja. Pasalnya ini adalah waktu nyamuk Aedes paling aktif mencari mangsanya,
  • Jangan beri nyamuk tempat berkembang biak. Mereka bertelur di dalam air, jadi singkirkan air yang tergenang dalam wadah seperti pot tanaman atau ban bekas, dan pastikan untuk mengganti air dalam sangkar burung, mangkuk anjing, dan vas bunga setidaknya sekali seminggu,
  • Demam berdarah cukup lazim terjadi di seluruh Asia Tenggara dan kepulauan Pasifik Barat, tetapi penyakit ini telah menyebar dengan cepat di Amerika Latin dan Karibia. Meskipun demikian, terlepas dari lokasi geografisnya, wabah demam berdarah dapat terjadi kapan saja dan di mana saja selama kondisi cuaca hangat mendukung kelangsungan hidup nyamuk Aedes. Jadi saat Moms berencana mengajak anak mengunjungi area seperti hutan atau kebun yang banyak terdapat nyamuk, pastikan mereka sudah dilindungi dengan baik.

Baca Juga: Awas! 4 Tempat Main di Area Publik Ini Berpotensi Tularkan Virus dan Penyakit Lainnya pada Anak

Itulah beberapa informasi mengenai gejala demam berdarah pada bayi dan cara membedakan bintik merah DBD pada bayi dan penyakit lain.

Yang paling penting, Moms selalu melakukan langkah pencegahan agar anak tak terserang DBD.

Jika gejala yang mirip DBD muncul, maka penanganan awal yang tepat dan cepat perlu dilakukan agar kondisi tidak semakin parah.

Istirahat dan pemberian cairan yang cukup akan membantu mencegah DBD menjadi semakin fatal.

Artikel Terkait