Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

Perilaku Anak | May 2, 2018

Bocah Dihukum Mandi Oli Bekas, Apa yang Harus Orang Tua Lakukan Jika Anak Mencuri?

Bagikan


Seorang pelajar kelas 2 SMP di Sleman, Yogyakarta, dihukum mandi oli bekas karena dituduh mencuri onderdil motor di sebuah bengkel.

Sebelum dituduh mencuri, anak berinisial ALD itu sempat meminta pemilik bengkel yang bernama Arif untuk memperbaiki rantai sepedanya yang putus. Karena ALD tidak memiliki uang, Arif pun membetulkan sepeda secara cuma-cuma.

Saat Arif mencuci tangan, ALD diketahui masuk ke bengkel. Di bengkel, Arif memergoki ALD sedang memasukkan sesuatu yang dipercayai sebagai onderdil motor, ke kausnya. Hal itu yang kemudian membuat Arif memberikan hukuman mandi oli bekas kepada ALD.

Ini bukanlah kasus pencurian pencurian pertama yang dilakukan oleh anak. Cukup banyak deretan kasus pencurian yang pelakunya masih di bawah umur.

Apa motivasi mereka dan sebaiknya apa yang harus orang tua lakukan jika anak mencuri?

Baca juga: Bagaimana Cara Mengajari Anak untuk Berbagi?

Mengapa Anak dan Remaja Mencuri?

Anak-anak dari mulai usia TK hingga remaja bisa mencuri. Beda usia, berbeda juga motivasi mereka untuk mencuri. Apa saja alasannya?

1. Anak usia TK

Di usia ini, anak masih belum bisa membedakan mana barang-barang yang menjadi miliknya dan mana yang milik orang lain.

Semua barang yang dilihatnya berpotensi untuk diakui sebagai miliknya. Mereka juga masih belum memahami konsep jual beli.

Mereka bisa saja mengambil barang-barang yang mereka suka tanpa memikirkan bahwa barang tersebut harus dibayar.

2. Anak usia SD

Anak usia sekolah sudah lebih memahami konsep hak milik dan jual beli. Ini juga yang kadang menjadi motivasi anak untuk mencuri.

Ia bisa saja menginginkan sesuatu, namun tidak punya cukup uang untuk membelinya. Ia lalu mengambil uang dari dompet Moms atau Dads tanpa meminta izin terlebih dahulu karena merasa apa yang menjadi milik Moms dan Dads juga merupakan miliknya.

Di usia ini juga anak sangat mungkin mencuri barang yang mereka inginkan karena karena kontrol terhadap diri mereka masih rendah, sehingga ia tidak bisa menahan diri akan sesuatu yang ia inginkan.

3. Anak remaja

Usia remaja, anak-anak sudah jauh lebih paham bahwa mencuri adalah perbuatan yang salah. Namun, mereka bisa saja tetap melakukan tindakan ini.

Bisa karena menyukai sensasi dari mencuri, diajak teman-temannya, atau karena kepepet ingin memiliki sebuah barang namun tidak mampu membelinya. Beberapa remaja juga mencuri sebagai bentuk pemberontakan.

Selain ini, masih ada alasan kompleks mengapa anak mencuri. Anak bisa saja meluapkan amarah dan meminta perhatian dengan mencuri.

Perilaku tersebut merefleksikan stres yang mereka rasakan di rumah, sekolah, juga saat bersama teman-teman mereka. Beberapa anak juga mencuri karena mereka tidak mampu membeli barang-barang yang mereka inginkan.

Pada kasus tertentu, anak-anak juga mencuri untuk membeli obat-obatan terlarang. Mereka yang sudah kecanduan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan uang agar bisa membeli barang haram tersebut.

Tapi, apapun alasan mereka mencuri, orang tua harus mencari akar permasalahan sebenarnya.

Bisa saja aksi mencuri yang dilakukan anak merupakan dampak dari masalah yang mebih kompleks. Seperti stres, kurang perhatian, hingga penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Baca juga: Dampak Buruk Memukul Bokong untuk Menghukum Anak

Apa yang Harus Orang Tua Lakukan Jika Anak Mencuri?

Saat mengetahui atau mendapat laporan bahwa anak mencuri, sebagai orang tua, Moms harus merespons dengan pikiran yang jernih. Jangan lantas menyalahkan anak lalu memberi hukuman tanpa mendengarkan penjelasan.

Sebelum marah dan melampiaskan emosi, Moms sebaiknya pahami dulu apa yang seharusnya dilakukan.

1. Anak usia TK

Untuk anak usia dini, orang tua harus membantu mereka memahami bahwa mencuri adalah tindakan yang salah.

Jelaskan bahwa mengambil barang tanpa meminta izin atau membayar akan menyakiti orang lain.

Saat Si Kecil mengambil permen atau mainan temannya, Moms bisa mengajarinya untuk mengembalikan barang-barang tersebut kepada pemiliknya.

Ingatkan juga untuk meminta maaf ya Moms. Moms juga harus terus menerapkan konsep kepemilikan dan jual beli kepada Si Kecil agar ia bisa memahaminya.

2. Anak usia SD

Anak usia sekolah sudah paham bahwa mencuri adalah perbuatan yang salah. Untuk anak usia ini, Moms mungkin harus memberi pemahaman lebih tentang konsekuensi mencuri.

Bila Si Kecil ketahuan mencuri di toko, Moms mungkin bisa memintanya untuk mengembalikan barang tersebut lalu memberinya nasehat. Jangan lupa, minta Si Kecil untuk meminta maaf atas perbuatannya.

Jika barang tersebut sudah terlanjur terpakai, Moms bisa membayarnya dan membuat Si Kecil mengganti uang yang sudah Moms keluarkan untuk membayar barang tersebut. Untuk membayarnya, mintalah Si Kecil melakukan pekerjaan-pekerjaan di rumah.

3. Anak remaja

Anak remaja yang mencuri harus mendapat konseskuensi yang lebih keras. Misalnya, anak mencuri di sebuah toko, Moms bisa membawa kembali si anak ke toko untuk menemui pihak security.

Minta anak mengakui perbuatan, meminta maaf, dan mengembalikan barang yang sudah diambil. Sanksi sosial seperti ini biasanya akan lebih mengena pada diri remaja.

Moms juga harus berbicara dari hati ke hati untuk mengetahui motivasi anak mencuri. Cari akar masalah yang sebenarnya untuk mengehentikan aksi mencuri tersebut.

Itulah cara-cara yang bisa Moms lakukan saat anak ketahuan mencuri. Jangan sampai amarah mengendalikan Moms dan langsung menghukum anak tanpa tahu penyebab sebenarnya dari tindakan mencuri yang ia lakukan.

(AND)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.