Newborn

NEWBORN
3 Desember 2020

Bolehkah Bayi Imunisasi saat Batuk Pilek?

Selama masih ringan dan tidak disertai demam ringan, imunisasi tetap berjalan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya
Disunting oleh Intan Aprilia

Imunisasi adalah langkah yang sangat penting dalam kehidupan bayi. Salah satu alasannya adalah agar tidak mudah terkena penyakit.

Banyak orang tua kebingungan apakah imunisasi saat batuk pilek boleh dijalankan?

Imunisasi merupakan pencegahan primer terhadap penyakit infeksi yang paling efektif dan murah.

Menurut penelitian yang diterbitkan di Jurnal Sari Pediatri, imunisasi bukan saja dapat melindungi individu dari penyakit yang serius namun dapat juga menghindari tersebarnya penyakit menular.

Imunisasi tepat waktu selama masa kanak-kanak sangat penting karena membantu memberikan kekebalan sebelum anak-anak terpapar penyakit yang berpotensi mengancam jiwa.

Sebelum melakukan imunisasi, tentunya vaksin telah teruji klinis dan aman. Vaksin diuji untuk memastikan bahwa vaksin tersebut aman dan efektif untuk diterima anak-anak pada usia yang direkomendasikan.

Di mana orang tua harus memastikan bahwa buah hatinya siap secara fisik untuk menghadapinya dengan memberikan imunisasi.

Baca Juga: Hati-hati, Bayi Cegukan Terus Menerus Bisa Jadi Tanda Penyakit Ini

Menurut informasi yang dipublikasikan di KidsHealth, imunisasi merupakan cara untuk menciptakan kekebalan terhadap beberapa penyakit.

Ini dilakukan dengan menggunakan sejumlah kecil kuman yang mati atau dilemahkan yang menyebabkan penyakit.

Kuman bisa berupa virus (seperti virus campak) atau bakteri. Vaksin merangsang sistem kekebalan untuk melawan infeksi pada tubuh manusia.

Tetapi, pernahkah Moms bertanya-tanya, apakah bayi bisa mendapatkan imunisasi saat batuk pilek? Temukan jawabannya dalam penjelasan yang telah kami rangkum di bawah ini.

Imunisasi saat Bayi Batuk Pilek

imunisasi-bayi-saat-batuk-pilek

Foto: Orami Photo Stock

Daya tahan tubuh bayi masih rentan dan ini yang menyebabkan mereka lebih sering terkena infeksi atau sakit dibandingkan remaja atau orang dewasa.

Sistem imun tubuh terbentuk sejak dalam kandungan. Sistem imunitas tubuh ini akan terus berkembang seiring pertambahan usia.

Untuk merangsang sistem kekebalan tubuh, diperlukan imunisasi sejak usia dini.

Tujuan utama dari semua jenis vaksin adalah merangsang sistem kekebalan dalam tubuh orang tersebut untuk melawan antigen.

Sehingga apabila antigen tersebut menginfeksi kembali, tubuh akan kebal terhadap penyakit, menurut World Health Organization.

Baca Juga: Mengenal Lanugo Pada Tubuh Bayi, Haruskah Dihilangkan?

Namun yang selalu jadi pertanyaan orang tua adalah apakah bayi boleh imunisasi saat batuk pilek? Apakah ini akan membahayakan kondisi tubuh bayi?

Saat bayi sedang sakit ringan seperti batuk pilek, diperbolehkan tetap imunisasi.

Bayi imunisasi saat batuk pilek ringan tetap boleh berjalan, kecuali jika bayi sangat rewel dan demam, maka imunisasi dapat ditunda satu hingga dua minggu kemudian, ini menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia.

Hal ini juga dikatakan oleh Stanford Children Health, bayi masih dibolehkan imunisasi saat batuk pilek, infeksi telinga, demam ringan, diare ringan dan penyakit ringan lainnya.

Penting bagi bayi untuk mendapatkan imunisasi tepat waktu, meskipun dalam kondisi badan sedang sakit. Imunisasi dilakukan sehingga mereka terlindungi dari penyakit serius seperti campak, polio, hepatitis, dan DPT.

Baca Juga: 7 Fakta Polio yang Orang Tua Harus Pahami

Namun tak semua bayi atau anak dapat melakukan imunisasi. Jika bayi imunisasi saat batuk pilek diperbolehkan, melansir tulisan Ivaccinate, kondisi anak yang tidak boleh imunisasi seperti kondisi kesehatan kronis misalnya kanker, sistem kekebalan tubuh yang lemah (sedang kemoterapi atau menjalani pengobatan tertentu), dan ada reaksi alergi terhadap vaksin.

"Kalau ada imunisasi yang telat, imunisasi dapat dijadwalkan ulang untuk pertemuan selanjutnya. Namun perlu diingat imunisasi yang telat mempertinggi risiko kejadian penyakit tersebut. Sebaiknya kalau memang tidak bisa tepat waktu, imunisasi dilakukan sesegera mungkin," tutur dr. Meta Hanindita, Spesialis Anak dari RSUD Dr Soetomo Surabaya

Namun bayi imunisasi saat batuk pilek masih boleh dijalankan jika tidak disertai demam tinggi.

Orang tua juga tidak lupa untuk mengetahui riwayat alergi pada anak. Sebab, ada beberapa vaksin seperti vaksin influenza atau demam kuning yang tidak boleh diberikan pada anak riwayat alergi terhadap telur.

Inilah mengapa penting untuk memastikan bahwa imunisasi tidak terjadi pada saat bersamaan dengan waktu di mana sistem kekebalan tubuh bayi harus melawan penyakit lain.

Baca Juga: Ingin Imunisasi Si Kecil? Ketahui Aturan Wajib sebelum Melakukan Vaksinasi

Ada juga yang mengatakan imunisasi saat batuk pilek dapat menyebabkan autisme pada anak.

Ini menyebabkan banyak orang tua yang menolak imunisasi atau vaksinasi pada anak dan tidak percaya pada manfaat yang dihasilkannya.

Banyak informasi simpang siur yang mengatakan imunisasi saat batuk pilek dapat menyebabkan autisme pada anak.

Menurut Dr. Paul Offit dari Vaccine Education Center, autisme terjadi saat perkembangan di dalam rahim. Terdapat genetika autisme pada tubuh anak dan tidak terjadi karena efek samping imunisasi saat batuk pilek.

Selama lebih dari 15 tahun terakhir, telah banyak institusi penelitian yang menguji kaitan antara vaksin dengan autisme. Hasilnya, tidak ada kaitan antara paparan vaksin dengan autisme.

Maka Moms atau Dads dalam menyaring informasi, perlu diketahui kebenarannya terlebih dahulu ya!

Dampak Umum Setelah Imunisasi

Dampak umum imunisasi atau vaksinasi pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Pada keadaan tubuh bayi sedang sehat atau sakit ringan seperti batuk pilek, imunisasi juga memiliki dampak bagi tubuh.

Setelah imunisasi, dampak yang terjadi pada anak bisa bermacam-macam. Namun, imunisasi tidak membuat gejala penyakit lebih buruk.

Hanya muncul efek samping ringan seperti demam ringan dan nyeri atau bengkak di bagian suntikan, ini menurut informasi oleh Center for Disease Control and Prevention.

Untuk meringankan gejala ini, pada area yang bengkak dan nyeri dapat dikompres dengan handuk dingin. Apabila bayi masih demam ringan, tanyakan kepada dokter dan gunakan obat penurun nyeri atau demam.

Melakukan imunisasi saat bayi batuk pilek sebenarnya tidak akan memberikan efek atau dampak yang membahayakan bagi tubuh.

Hanya saja, vaksin yang bekerja dalam tubuh tidak optimal dalam meningkatkan kekebalan tubuh.

Anak saat sedang sakit akan menjadi lebih rewel, napsu makan berkurang, muntah-muntah dan menangis.

Saat imunisasi tetap dilakukan saat sedang sakit, alih-alih ingin meningkatkan imun pada anak, anak akan merasa kesakitan karena disuntik.

Hal ini yang kemungkinan akan membuat kondisi semakin tidak stabil dan memperlambat proses pemulihan.

Baca Juga: Manfaat Vaksin DPT dalam Mencegah Tetanus

Kondisi Darurat Setelah Imunisasi

Efek samping imunisasi pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Namun ditemukan efek samping imunisasi pada anak yang lebih serius atau berkelanjutan. Ini terjadi di sebagian anak dengan kondisi tertentu.

Imunisasi dapat memicu efek samping yang lebih serius atau berkepanjangan. Efek samping yang serius terjadi menurut Vancouver Coastal Health meliputi:

  1. Kesulitan bernapas atau menelan.
  2. Pembengkakan di wajah bibir, atau lidah membesar.
  3. Demam lebih dari 39 ° C atau ebih dari 48 jam.
  4. Menangis atau rewel seharian.
  5. Hives (timbulnya bintik merah atau merah muda dengan ukuran berbeda pada kulit).
  6. Kejang atau tubuh gemetar.
  7. Perut bengkak, muntah dan BAB berdarah.

Apabila bayi merasakan efek samping imunisasi seperti yang disebutkan di atas, segera temui dokter atau ke rumah sakit terdekat.

Ini adalah kondisi serius yang perlu orang tua pahami agar anak dapat mendapatkan perawatan cepat dan ditangani.

Baca Juga: Apakah Mungkin Bayi Baru Lahir Terlalu Banyak Tidur?

Jika bayi mengalami batuk atau pilek selama beberapa hari, maka itu berarti sistem kekebalan tubuhnya sedang menyingkirkan kuman yang menyebabkan infeksi.

Jadi, apakah Moms akan tetap memberikan imunisasi atau menundanya?

Artikel Terkait