2-3 tahun

28 September 2021

Ketahui Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasi Cadel Pada Anak

Mengucapkan pelafalan yang salah dapat menyebabkan Si Kecil cadel dan jadi kebiasaan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Amelia Puteri

Cadel (rhotacism) adalah gangguan bicara yang ditandai dengan pengucapan kata-kata yang buruk, bergumam, atau perubahan kecepatan atau ritme saat berbicara.

Cara berbicara cadel dapat berkembang perlahan seiring waktu atau mengikuti satu insiden.

Rhotacism bisa bersifat sementara atau permanen, tergantung pada penyebab yang mendasari. Cara bicara yang normal juga membutuhkan fungsi normal dari otak, mulut, lidah, dan pita suara.

Terjadinya kerusakan atau penyakit yang mempengaruhi organ-organ ini dapat menyebabkan seseorang menjadi cadel.

Kebanyakan anak yang cadel kesulitan melafalkan huruf S, Z, dan R dengan jelas.

Dorothy Dougherty dalam buku Teach me How to Say It Right: Helping Your Children With Articulation Problems, mengatakan bahwa umumnya anak bisa melafalkan “S” di usia 4,5 tahun dan melafalkan “R” saat berusia 5 tahun.

Jadi, tak perlu khawatir bila dalam batas usia tersebut anak belum bisa melafalkan kedua huruf itu dengan fasih.

Namun, apabila anak Moms yang telah mencapai usia tersebut dan belum dapat melafalkan huruf “S” atau “R” dengan jelas, sebaiknya waspada.

Baca Juga: Cara Mengetahui Jika Anak Mengalami Masalah Perkembangan Bahasa

Gejala Cadel pada Anak

Untitled-design-5.png

Foto: Orami Photo Stock

Tingkat keparahan tanda dan gejala rhotacism pada anak masa kanak-kanak tergantung pada tempat kerusakan pada sistem saraf.

Ketika seorang anak tumbuh dan dan mulai berbicara, kondisi ini dapat menjadi lebih nyata melalui pola berbicara yang tidak normal.

Cara bicara mereka dapat dilihat dari cara berbicara yang terlalu cepat atau berbicara sangat lambat. Menurut sebuah penelitian, anak-anak dengan rhotacism sering sulit dimengerti ketika berbicara.

Karena kerusakan pada otot mulut dan wajah, anak-anak yang mengalami kondisi ini akan memiliki gerakan terbatas pada rahang, lidah, dan bibir.

Selain itu, mereka juga mungkin mengalami masalah menelan dan makan, serta penumpukan liur dan air liur yang berlebihan.

Baca Juga: Anak Terlambat Bicara, Ketahui Gejala dan Langkah Penanganan yang Diperlukan

Menurut Speech Disorders UK, ada beberapa tipe cadel pada anak, yakni:

  1. Cadel Frontal: ketika seseorang menempatkan lidah di antara gigi saat akan membuat suara “s” atau “z” tapi malah mendorong udara keluar, sehingga menjadi “th”. Contoh, “susu” menjadi “thuthu”.
  2. Cadel Literal: ketika seseorang menempatkan lidah di dinding mulut dan mendorong udara keluar. Contoh, “sop” menjadi “shlop”.
  3. Cadel Hidung: ketika seluruh aliran udara keluar melalui hidung membuat suara terdengar sengau tanpa ada udara yang keluar melalui mulut.
  4. Cadel yang Melengking: ketika ada suara siulan bernada tinggi yang keluar dari rongga mulut karena penutupan lidah dan langit-langit atau gigi yang tidak lengkap.
  5. Cadel Palatal (Langit-langit): ketika tempat bagian tengah lidah menyentuh langit-langit mulut (atap mulut) selama bunyi 's' dan 'z'.
  6. Cadel Interdental: ketika lidah menonjol di antara gigi selama produksi suara 's' dan 'z'. Ini mengarah ke suara 'th' sebagai gantinya.

Baca Juga: Cara yang Bisa Dilakukan Apabila Anak Mengalami Perkembangan Bahasa

Penyebab Rhotacism pada Anak

pullups_potty_talk_how_tto_talk_to_your_kid_about_potty_training.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan cadel, salah satunya karena adanya perbedaan pada organ yang bernama frenulum linguae yang dapat dilihat ketika lidah bergerak ke atas.

Panjang dan pendeknya frenulum linguae ini yang kemudian menyebabkan lidah sulit bergetar, dan akhirnya menyebabkan seseorang sulit mengucapkan satu jenis huruf.

Kemudian penyebab lainnya adalah kelainan fisiologis pada pendengaran, otak, dan gangguan di wilayah mulut.

Selain faktor fisiologis, tahukah Moms bahwa ternyata faktor lingkungan juga berpengaruh, lho. Sadarkah bahwa ada beberapa orang tua yang malah membiarkan anaknya cadel dan sering mengikuti ucapan tersebut.

Baca Juga: Ini Doa Kelancaran Berbicara Agar Lebih Percaya Diri dan Perkembangan Anak Optimal

Cara Menghilangkan Cadel dan Melatih Anak Berbicara

lifebabble_listicle_tellyourself_intro1.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Ketika Moms sudah mulai mendengar ada pertanda cadel pada anak, maka sebaiknya harus mulai menemukan solusi yang tepat untuk mengatasinya.

National Health Service mengutarakan bahwa terdapat beberapa cara untuk mengatasi cadel pada anak, di antaranya:

  • Mulailah dengan membantu mereka mengucapkan pelafalan yang benar di depan cermin.
  • Moms harus menghindari berbicara dengan pengucapan yang salah pada mereka, minta mereka mengulangi kata-kata tersebut beberapa kali.
  • Tatap wajah anak saat berbicara, agar anak melihat gerak mulut Moms. Anak akan meniru cara Moms membuka mulut dan mengucapkan kata yang Moms ucapkan.
  • Ajarkan anak untuk memosisikan lidah dan giginya lebih dulu. Untuk melafalkan “S”, ajarkan anak untuk mendekatkan lidah dengan gigi depannya. Adapun untuk melafalkan “R”, posisikan lidahnya menjauh dari gigi.
  • Perhatikan jarak saat berbicara dengan anak, sebaiknya tidak lebih dari 2 meter agar dia masih bisa melihat gerak bibir Moms. Sebisa mungkin, singkirkan suara-suara yang bisa mengganggu pendengaran anak seperti televisi dan radio saat mengajaknya bicara.
  • Bicaralah secara perlahan, karena perbendaharaan kata anak masih terbatas sehingga ia butuh waktu untuk memahami perkataan Moms.
  • Hindari bahasa bayi, misalkan mengucap kata susu menjadi “cucu”, anak adalah peniru ulung sehingga ia akan belajar berbahasa yang benar jika Moms pun berbahasa dengan baik dan benar.
  • Buat permainan kata yang mengandung huruf “R” atau “S” , seperti meniru suara mobil “brum..brum..brum.” Jangan meremehkan manfaat dari menawarkan hadiah juga karena ini dapat memotivasi anak.
  • Jangan bosan untuk membetulkan saat anak berbicara cadel. Ulangi kata atau kalimat yang anak katakan dengan pelafalan yang benar. Bila perlu, beri tekanan pada kata-kata tertentu, terutama kata-kata yang masih sulit atau salah diucapkan anak.
  • Narasikan dengan jelas apa yang Moms lakukan saat bermain atau melakukan kegiatan bersama anak. Untuk memperjelas maksud Moms, coba juga gunakan bahasa tubuh. Menurut penelitian di Universitas Chicago tahun 2009, penggunaan bahasa tubuh bisa meningkatkan kemampuan berbahasa anak.
  • Latihlah setiap hari dan semangati Si Kecil untuk berlatih meski tanpa Moms atau Dads.
  • Ketika ia sudah mulai bisa mengucapkan “s”, “z”, atau “r” dengan benar, tambahkan huruf vokal. Seperti “sasa”, “zizi”, “rara”, dan sebagainya.
  • Lanjutkan dengan dua frasa dan kalimat sederhana. Misalnya, “susu cokelat” atau “rumah kecil”.

Praktikkan cara-cara tersebut setiap hari dan jangan marahi Si Kecil bila ia gagal melakukannya. Tetap semangati dia untuk terus mencoba lagi, tapi ingat, jangan dipaksa ya, Moms!

Baca Juga: Benarkah Ada Hubungannya Kecakapan Anak Berbicara dan Sikat Gigi pada Anak?

Jika latihan sudah cukup intensif, dan balita belum menunjukkan kemajuan, berkonsultasilah ke dokter untuk memeriksakan kondisi fisik anak, terutama lidah, rongga mulut juga telinga, sebelum memutuskan untuk membawa balita ke terapis.

Biasanya, terapis akan menyarankan anak Moms untuk melakukan terapi wicara.

Terapi wicara dan bahasa dapat mengurangi stres dan kecemasan pasien sambil meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam berbicara dengan jelas.

  • https://www.google.co.id/books/edition/Teach_Me_how_to_Say_it_Right/pto8AAAACAAJ?hl=en
  • https://www.slt.co.uk/conditions/speech-disorders/lisp/
  • https://news.uchicago.edu/story/hand-gestures-improve-learning-both-signers-and-speakers
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait