Kesehatan

KESEHATAN
10 Desember 2020

Ini Indikator Stunting Anak di Indonesia, Catat ya Moms!

Tidak memberikan ASI ekslusif salah satu penyebab anak mengalami stunting
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Moms, pertumbuhan seorang anak tidak bisa diukur dari pertambahan tinggi badannya saja. Apalagi seperti yang kita tahu kalau pertumbuhan anak merupakan indikator paling jelas dari kesehatan dan perkembangan tubuhnya.

Itulah mengapa Moms harus selalu teliti dan mengikuti peningkatan berat, tinggi, dan tingkat perkembangan tubuh anak. Supaya bisa lebih maksimal, minta dokter anak untuk selalu mengukurnya secara teratur dan mencatatnya pada grafik pertumbuhan.

Pada anak yang mengalami pertumbuhan melambat, dikenal dengan istilah stunting. Stunting adalah suatu kondisi di mana anak atau balita mengalami gangguan pertumbuhan, sehingga menyebabkan badan lebih pendek dibandingkan teman-temannya (kerdil).

Indikator stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa satu dari tiga anak balita di Indonesia mengalami masalah stunting.

Baca Juga: 5 Ciri Anak Kekurangan Gizi, Perhatikan Ya Moms!

Permasalahan gizi ini terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia dan tidak hanya terjadi pada kelompok penduduk miskin tetapi juga pada kelompok kelas menengah ke atas. Menurut data yang dikumpulkan oleh Kemenkes Indonesia, rata-rata prevalensi indikator stunting di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4 persen.

Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara.

Ini bisa jadi solusi terbaik buat melacak, apakah perkembangan tubuhnya normal dan sesuai indikator stunting atau tidak.

Baca Juga: Ternyata Begadang dan Tidur Tidak Nyenyak Bikin Tinggi Badan Anak Terhambat!

Indikator Stunting di Indonesia

Indikator stunting, catat ya Moms!

Foto: Orami Photo Stock

Indikator stunting menjadi acuan untuk mengukur tinggi badan balita apakah di bawah ketinggian rata-rata atau normal. Stunting pada anak-anak mencerminkan salah satu kekurangan gizi yang kronis yang disebabkan dari berbagai faktor.

Stunting pada anak-anak memiliki dampak serius pada perkembangan fisik, mental dan emosional anak-anak. Ini juga akan mempengaruhi masa kembang mereka hingga dewasa.

“Stunting pada anak terjadi ketika perawakannya pendek (tinggi badan di bawah -2 standar deviasi pada kurva pertumbuhan) yang disebabkan oleh kekurangan gizi jangka panjang atau malnutrisi kronik. Namun tidak semua anak pendek disebut stunting,” ucap dr. Rosary, Sp.A Rumah Sakit Pondok Indah.

Mencatat dan memantau perkembangan anak jadi makin penting buat Moms yang punya bayi dengan berat badan rendah saat lahir.

Dalam situasi ini, sebagian besar bayi bisa mengejar ketinggalannya saat usia dua tahun, namun sekitar 10 persennya tak sanggup. Nah, anak-anak dengan kondisi inilah yang akan tujuh kali memiliki risiko tinggi badannya tidak sesuai dengan standar tinggi badan anak atau indikator stunting.

Baca Juga: Cara Merawat Bayi Baru Lahir

Tak cuma itu masalahnya, mereka juga biasanya memiliki risiko mengalami masalah kesehatan.

Salah satunya adalah kekurangan gizi sejak dini. Hal ini berbahaya, bisa menghambat perkembangan anak selanjutnya. Bahkan dari usia masih sangat muda.

Faktor Penyebab Anak Stunting

Indikator stunting pada anak.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Ada beberapa indikator stunting seorang anak mengalami hal tersebut apabila:

1. Anak Tidak Mendapat Nutrisi yang Cukup

Anak yang mengalami masa pertumbuhan lambat dapat terjadi apabila nutrisi tidak tercukupi sejak ia kecil. Ketidaktahuan orang tua terhadap sumber makanan yang diberikan saat bayi, dapat berpengaruh pada pertumbuhan anak.

Indikator stunting dapat dilihat dari apa yang ia konsumsi sejak dalam kandungan. Apabila Si Kecil tidak cukup mengonsumsi gizi seperti asam folat, protein, kalsium, zat besi dan Omega-3, maka kemungkinan akan mengalami stunting.

Nah, itulah pentingnya selama periode mengejar ketinggalan pertumbuhan anak Moms dengan mengonsumsi beragam nutrisi terbaik untuk tubuhnya, seperti asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak. Dan yang tak juga kalah penting dan tak boleh dilupakan adalah asupan nutrisi mikro, seperti zat besi, seng, kalsium, dan vitamin D.

2. Faktor Kemiskinan

Faktor penyebab indikator stunting lainnya adalah dari sisi ekonomi, yakni faktor kemiskinan. Melansir The Power of Nutrition, sebanyak 43 persen anak balita di negara berpenghasilan rendah dan menengah berisiko tinggi mengalami stunting akibat kemiskinan.

Tidak tercukupi dalam mengonsumsi gizi dan perawatan optimal untuk Si Kecil dapat membuat anak mengalami stunting. Diperlukan edukasi menyeluruh terhadap orang tua untuk mengetahui pentingnya asupan gizi bergizi untuk bayi sejak ia janin.

Kurangnya akses kesehatan dan tidak tersedia air bersih juga salah satu indikator stunting yang cukup penting diperhatikan.

Baca Juga: 11 Kombinasi Makanan Sehat untuk Anak, Lezat dan Bergizi!

3. Gangguan Kesehatan

Apabila anak memiliki penyakit kronis atau gangguan kesehatan, ini salah satu faktor indikator stunting yang perlu Moms perhatikan. Misalnya diare berulang akibat kebersihan dan lingkungan kurang baik, infeksi saluran pernapasan, serta gangguan kesehatan lainnya.

Apabila anak sakit tidak segera dilakukan pengobatan, ini akan berdampak pada pertumbuhan badannya. Kondisi-kondisi di atas dapat menyebabkan anak gagal tumbuh dan memiliki status gizi kurang baik.

4. Tidak Mendapatkan ASI Eksklusif

Pemberian ASI eksklusif pada 6 bulan pertama memang salah satu gerakan yang perlu dilakukan seluruh ibu. Ini berkaitan dengan nutrisi yang anak peroleh dari ibunya.

Salah satu penyebab indikator stunting ini yakni tidak mendapatkan ASI eksklusif hal yang tidak boleh disepelekan.

Kandungan pada ASI dapat mencegah penyakit dan infeksi yang akan menghampiri tubuh Si Kecil. Dengan tidak mendapatkan ASI dan nutrisi yang cukup, ini akan menyebabkan anak stunting atau mengalami pertumbuhan lambat.

5. Berat Badan Tidak Tercukupi

Apabila berat badan bayi tidak mencapai batas standar saat lahir, ini akan menyebabkan ia mengalami stunting. Stunting terjadi saat tinggi badan anak tidak mengalami pertumbuhan dalam masa tertentu. Berat badan adalah salah satu indikator stunting yang perlu diperhatikan.

Bayi dikatakan memiliki berat lahir rendah atau BBLR apabila memiliki berat badan kurang dari 2500 gr (2,5 kg) atau di bawah 1,5 kg.

Untuk menghindari hal ini, gizi ibu perlu tercukupi saat masa kehamilan. Makan makanan bergizi, olahraga dan rajin konsultasi ke dokter sangat dianjurkan untuk menghindari anak stunting.

Selain itu, postur tubuh ibu hamil yang pendek di bawah rata-rata (maternal stunting) juga bisa membuat pertumbuhan janin di dalam kandungan jadi terhambat dan terus berlanjut sampai kelahiran.

“Anak tidak dikatakan stunting apabila memang memiliki perawakan pendek di keluarga, memiliki kelainan tulang, hormon, dan genetik,” tambah dr. Rosary.

Baca Juga: Kenali 7 Tanda Anak Kekurangan Nutrisi Penting

Menurut studi yang dilakukan oleh Maternal & Child Nutrition, indikator stunting dikaitkan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas dari infeksi, khususnya pneumonia dan diare.

Tak jarang bagi anak yang menderita sepsis, meningitis, tuberkulosis dan hepatitis, turut menunjukkan pertumbuhan terhambat yang menyebabkan stunting.

Kegagalan pertumbuhan sering kali dimulai dalam rahim atau kandungan dan berlanjut setidaknya selama 2 tahun pertama kehidupan pasca kelahiran. Kerusakan fisik dan kognitif anak yang tidak segera mendapatkan perawatan, akan menghalangi pertumbuhan anak.

Baca Juga: 5 Gizi Ini Wajib Ada Dalam Bekal Anak, Apa Saja Ya?

Namun setelah mengetahui indikator stunting seperti yang tertera di atas, Moms perlu tahu secara jelasnya dengan berkonsultasi dengan dokter. Tidak semua anak pendek tengah mengalami stunting, jadi pastikan betul gejala yang dialaminya ya, Moms.

Artikel Terkait