Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

Cara Membedakan Keputihan yang Normal dan Berbahaya Saat Hamil

Bagikan


Cara Membedakan Keputihan yang Normal dan Berbahaya Saat Hamil

Keputihan bisa terjadi pada setiap perempuan dalam berbagai kondisi. Termasuk, saat hamil. Menurut Dr. Sheryl Ross, seorang pakar OB-GYN dan kesehatan wanita di Providence Saint John’s Health Center di Santa Monica, California, keputihan pada ibu hamil adalah salah satu gejala awal kehamilan.

Baca Juga: Sering Tak Disadari, Ini 8 Gejala Awal Kehamilan yang Sering Bikin Malu

Penyebab Keputihan pada Ibu Hamil

Keputihan disebabkan oleh fluktuasi kadar hormon dan umum terjadi sepanjang siklus menstruasi seorang perempuan. Saat hamil, produksi hormon estrogen di tubuh bertambah. Akibatnya aliran darah ke area panggul ikut meningkat dan merangsang selaput lendir di area organ intim yang kemudian menimbulkan keputihan.

Perubahan pada serviks (rahim) juga ikut memengaruhi keputihan pada ibu hamil. Saat leher rahim dan dinding vagina melunak, tubuh menghasilkan kelebihan cairan untuk membantu mencegah infeksi. Seiring dengan pesatnya pertumbuhan janin terutama di akhir trimester ketiga, kepala bayi juga akan semakin menekan area serviks sehingga keputihan lebih sering Mama alami.

Meski terasa mengganggu, tapi keputihan yang dialami ibu hamil juga memiliki manfaat, lo. Sepanjang dalam kondisi normal, cairan keputihan dapat melindungi jalan lahir dari infeksi dan menjaga keseimbangan bakteri dalam vagina dengan sehat.

Baca Juga: 7 Penyebab Keguguran Paling Umum

Namun, penting bagi Mama untuk memahami keputihan yang dianggap normal dan berbahaya selama masa kehamilan. Nah, berikut ini perbedaannya:

Tanda Keputihan Normal

Dalam istilah medis, keputihan pada ibu hamil disebut leukore (leukorrhea). Bentuknya encer, berwarna putih susu, dan (terkadang) tidak berbau. Biasanya, keputihan pada ibu hamil timbul di usia kehamilan minggu ke-13 atau di awal trimester kedua. Setelahnya, keputihan bisa terus terjadi selama kehamilan berlangsung.

Tanda Keputihan Tidak Normal

Leukore mirip dengan keputihan yang dialami perempuan saat menjelang haid, hanya ketika hamil cairan keputihan yang dialami Mama terasa lebih pekat. Namun, lihat juga jika keputihan terasa tak wajar. Terutama dari warna dan baunya.

Jika berwarna coklat atau pink, selama Mama tidak mengalami perdarahan, bercak vagina tersebut masih dianggap normal. Terutama jika terjadi setelah berhubungan seksual. Namun, waspada bila keputihan berwarna kuning, hijau atau pekat dan berbau busuk.

Bila berlangsung lebih dari satu hari, terasa kram atau nyeri, dan juga terjadi perdarahan, segera periksakan ke dokter karena bisa jadi Mama mengalami infeksi vagina yang memerlukan perawatan lebih lanjut.

Salah satu infeksi vagina yang paling umum terjadi selama kehamilan adalah kandidiasis, yang dikenal sebagai infeksi jamur dan juga Penyakit Seksual Menular.

Cara Mencegah Keputihan Selama Hamil

  1. Tidak menggunakan tampon karena bisa memasukkan kuman baru ke dalam vagina. Sebaiknya pakai pembalut atau celana dalam berbahan katun lembut untuk menyerap cairan keputihan.
  2. Jaga kebersihan vagina agar selalu dalam keadaan kering sehingga mencegah timbulnya bau tak sedap dan keputihan.
  3. Hindari douching yang dapat mengganggu keseimbangan bakteri sehat dalam vagina dan menyebabkan infeksi vagina selama kehamilan. Selain itu, douching bisa membuat udara masuk ke dalam vagina dan membahayakan kehamilan.
  4. Vagina tak perlu dibersihkan dengan cairan khusus kewanitaan seperti yang dijual di pasaran. Hal ini justru dapat menimbulkan iritasi dan mengubah pH dalam saluran genital serta memicu infeksi vagina.
  5. Tidak sembarangan menduga bahwa keputihan yang dialami adalah infeksi vagina dan mengobatinya sendiri tanpa berkonsultasi dengan dokter.

(ROS)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.