Bayi

BAYI
16 Juni 2020

Ini Cara Menangani Skoliosis pada Bayi, Catat ya Moms!

Ada yang bisa sembuh seiring dengan pertumbuhan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh sera
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Skoliosis atau kelainan tulang yang dapat mempengaruhi tulang belakang. Tulang belakang penderita skoliosis ini melengkung berbentuk seperti huruf C atau S.

Meski jarang terjadi, bayi juga bisa mengalami kelainan tulang ini Moms. Nah, ada dua jenis skoliosis pada bayi. Yakni, skoliosis bawaan atau congenital dan skoliosis infantil. Karena penyebab dan gejalanya tidak sama, maka penanganannya juga berbeda.

Baca Juga: Cara Mengetahui Apakah Anak Menderita Skoliosis

Cara Menangani Skoliosis Kongenital atau Bawaan pada Bayi

Sebelum Semakin Parah, Ini Cara Mengobati Skoliosis pada Anak

Skoliosis jenis yang pertama ini adalah adanya kelengkungan tulang belakang yang abnormal dan memengaruhi bayi baru lahir atau bayi kecil.

Anak-anak dengan kondisi ini mulai mengembangkan kelengkungan sebelum kelahiran saat berada dalam rahim ibu. Lengkungan menyebabkan tulang belakang menekuk ke kiri atau ke kanan dalam bentuk S atau C.

Cara menangani skoliosis pada bayi untuk jenis kongenital ini tergantung pada jenis dan lokasi kelainan tulang belakang dan kemungkinan kelengkungan memburuk di masa depan.

Beberapa kurva ringan (10-25 derajat) dapat ditangani hanya dengan pengamatan. Ini hanya memerlukan kunjungan rutin ke salah satu ahli bedah ortopedi, yang akan memantau kemungkinan perkembangan kurva dengan pemeriksaan fisik dan sinar-X.

Kunjungan harus terus berlanjut hingga masa remaja karena percepatan pertumbuhan seringkali memicu perkembangan, bahkan dalam kurva yang sebelumnya tidak progresif. Jika perkembangan terjadi, penguat atau pembedahan adalah pilihan perawatan.

Sementara bayi dengan lekukan sedang dan berat memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Menurut ColumbiaDoctors, kondisi ini seringkali membutuhkan penanganan yang lebih serius dengan scoliosis bracing dan bedah skoliosis.

1. Scoliosis Bracing

Cara ini lebih jarang digunakan pada skoliosis kongenital daripada skoliosis jenis lain karena kurva cenderung lebih kaku pada bayi baru lahir dan tidak menanggapi kekuatan lembut dari brace. Namun, dalam beberapa kasus, penyangga tulang bekalang ini bisa menguatkan.

Penyangga ini juga membuat bayi nyaman. Penyangga ini dipakai sebagian besar waktu (kecuali untuk mandi), dan ahli bedah ortopedi akan memantau perkembangan kurva.

Kadang-kadang kurva dikontrol sepenuhnya oleh penyangga ini dan setelah bertahun-tahun menggunakan penyangga, biasanya tidak diperlukan perawatan lebih lanjut.

Baca Juga: Cara Mengetahui Apakah Anak Menderita Skoliosis

2. Bedah Skoliosis

Untuk kurva yang berkembang walaupun dengan penggunaan penyangga, pembedahan mungkin disarankan. Dalam kebanyakan kasus skoliosis kongenital, operasi bedah adalah perawatan yang paling tepat.

Operasi dapat terdiri dari menghilangkan vertebra "ekstra" atau beberapa jenis fusi tulang belakang, di mana dua atau lebih vertebra menyatu bersama dengan jembatan tulang yang terbuat dari cangkok.

Operasi fusi dapat diikuti dengan perlakuan casting atau bracing atau melibatkan instrumentasi, di mana batang logam terpasang ke tulang belakang untuk mempertahankan koreksi kurva.

Perangkat lain yang digunakan adalah "batang tumbuh," yang menempel pada tulang belakang dan secara berkala diperpanjang dengan prosedur sederhana juga meminimalkan stunting pertumbuhan.

Operasi tulang belakang selama tahap neonatal atau bayi anak dapat menjadi pengalaman emosional bagi banyak orang tua. Namun, penelitian telah menunjukkan bahwa berbagai perawatan untuk skoliosis kongenital berhasil.

Sebagian besar anak-anak tumbuh untuk hidup sehat tanpa batasan besar untuk kegiatan dan fungsi sehari-hari mereka.

Cara Menangani Skoliosis Infantil pada Bayi

3 Hal Ini Bisa Sebabkan Skoliosis pada Balita

Dikutip dari ColumbiaDoctors, skoliosis infantil adalah kondisi idiopatik yang menyerang anak-anak sebelum usia 3 tahun dan ditandai oleh adanya kurva tulang belakang yang tidak normal ke kanan atau kiri. Lengkungan ini menyebabkan tulang belakang menekuk ke satu sisi dalam bentuk S atau C.

Kondisi ini terlihat lebih sering pada pria daripada wanita. Mereka yang mengalami skoliosis infantile waktu masih bayi, umumnya terbagi dalam dua kelompok. Yakni mereka yang kelengkungannya menghilang seiring dengan pertumbuhan dan mereka yang kelengkungannya menjadi progresif.

Sebagian besar kasus sembuh secara spontan tetapi beberapa dapat berkembang menjadi kelainan bentuk yang lebih parah. Perawatan skoliosis infantil dapat mencakup observasi, terapi fisik, menguatkan, casting, dan, dalam keadaan langka, pembedahan.

Cara menangani skoliosis pada bayi untuk jenis skoliosis infantil sebagian besar bergantung pada keparahan kelengkungan tulang belakang dan kemungkinannya akan memburuk di masa depan.

Baca Juga: Mengapa Bisa Terjadi Skoliosis Pada Anak?

Anak-anak dengan kurva ringan (10-25 derajat) diperlakukan hanya dengan pengamatan karena kurva ini jarang menjadi lebih parah dan biasanya memperbaiki sendiri. Pengamatan memerlukan kunjungan rutin ke ahli bedah ortopedi, yang memantau kurva dengan pemeriksaan fisik dan sinar-X.

Kunjungan harus berlanjut hingga masa remaja karena percepatan pertumbuhan dapat memicu perkembangan, bahkan dalam kurva yang sebelumnya tidak progresif.

Bayi dengan lekukan sedang dan berat memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan seringkali membutuhkan laminasi dan penyangga tulang belakang. Pembedahan pada usia dini ini jika perlu, juga bisa dilakukan.

Meski tampak menakutkan bagi orang tua, namun, penelitian menunjukkan bahwa penanganan untuk skoliosis infantil cenderung berhasil. Sebagian besar anak-anak tumbuh tanpa batasan untuk fungsi sehari-hari mereka dan menikmati berbagai kegiatan mulai dari permainan luar ruang sederhana hingga olahraga kompetitif.

Dengan perawatan yang tepat, anak-anak diharapkan hidup normal, hidup sehat.

Nah, itulah cara-cara menangani skoliosis pada bayi Moms. Beda jenis skoliosis yang diderita, beda juga penanganannya. Selalu konsultasikan dengan dokter ahli ya Moms.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait