Kesehatan

KESEHATAN
24 Desember 2020

Ketahui Cara Mengukur Berat Badan Ideal Anak

Rajin membaca buku Kesehatan Anak Indonesia (KIA) untuk mengetahui berat badan ideal pada anak.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Dresyamaya Fiona
Disunting oleh Ikhda Rizky Nurbayu

Ketika anak tidak ingin makan atau mulai Gerakan Tutup Mulut (GTM), Moms pasti putar otak untuk mencari ide asupan makanan yang disukai anak.

Apabila anak tidak ingin makan, berat badan akan menurun dan akan menganggu pertumbuhan kembangnya menuju dewasa. Apalagi di masa pandemi seperti ini, anak banyak melakukan aktivitas di dalam rumah, seiring itu sebagian anak ada yang semakin lahap untuk makan, ada juga yang malah tidak napsu makan.

Moms pasti bertanya-tanya apakah asupan makanan yang dikonsumsi anak memengaruhi berat badan ideal pada anak? Seperti apa berat badan ideal yang sebenarnya harus diikuti?
Ikuti penjelasan berikut tentang berat badan ideal pada anak di masa pandemi, simak ya Moms!

Cara Mengukur Berat Badan Ideal Anak

berat badan ideal anak

Foto: Orami Photo Stock

"Banyak faktor yang memengaruhi berat badan pada anak, tidak bisa hanya diukur melalui berat badan saja, namun harus sesuai standar chart WHO, IDAI atau CDC terkait berat badan anak yang ideal," ujar dr. Harun Albar, M.Kes, Sp. A, Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Brawijaya Antasari.

Mengukur berat badan ideal pada anak harus mengikuti standar penepatan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) atau WHO karena setiap umur memiliki berat badan ideal yang berbeda.

Menurut IDAI, orang tua seharusnya mengetahui berat badan ideal pada anak yang ada pada panduan Buku Kesehatan Anak Indonesia,

untuk menyesuaikan tinggi badan dan berat badan pada anak.

Setiap standar berat badan ideal pada anak berbeda di setiap negara, misalkan menurut WHO atau CDC. Sedangkan untuk di Indonesia, standar berat badan ideal anak menurut WHO tidak dapat dijadikan acuan karena berbeda dengan tubuh anak Asia. Indonesia menggunakan standar dari IDAI.

Baca Juga: 3 Tips Cegah Anak Kecanduan Gadget Selama PJJ dari IDAI

Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah salah satu cara untuk memperkirakan lemak tubuh seseorang dengan mempertimbangkan tinggi badan orang tersebut, IMT dihitung menggunakan berat dan tinggi badan seseorang.

Pada anak-anak dan remaja, IMT digunakan untuk mengetahui apakah seorang anak atau remaja kekurangan berat badan, dari berat badan yang sehat, kelebihan berat badan, atau obesitas, menurut Standford Children's Health.

Lemak tubuh seorang anak berubah seiring bertambahnya usia. Begitu juga pada anak perempuan dan laki-laki berbeda dalam jumlah lemak tubuh mereka saat mereka dewasa.

Inilah sebabnya mengapa IMT untuk anak-anak, disebut juga BMI-for-age, mencakup jenis kelamin dan usia.

Kalkulator IMT atau yang biasa disebutKalkulator Tinggi Potensi Genetikini dapat dilihat pada situs IDAI untuk mengukur berat badan ideal pada anak.

Cara mengukur Tinggi Potensi Genetik (TPG) adalah perkiraan tinggi akhir anak yang dihitung berdasarkan tinggi badan orang tua, seperti berikut.

  • TPG anak laki-laki = ((TB ibu (cm) + 13 cm) + TB ayah (cm))/2 ± 8,5 cm
  • TPG anak perempuan = ((TB ayah (cm) - 13 cm) + TB ibu (cm))/2 ± 8,5 cm

Kalkulator ini memberikan perkiraan berat badan ideal pada anak untuk anak-anak berusia 5 hingga 18 tahun. Kalkulator ini akan memberi tahu apakah seorang anak kekurangan berat badan, pada berat badan ideal, berisiko kelebihan berat badan, atau obesitas.

Perlu Moms ketahui juga, semakin bertambah usia, berat badan anak akan menyusut atau menurun seiring sesuai chart berat badan ideal, itu adalah hal yang normal.

Faktor Memengaruhi Berat Badan Anak

faktor-faktor yang  memengaruhi berat badan pada anak.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Setelah mengetahui cara mengukur berat badan pada anak, tentunya Moms ingin tahu faktor apa saja yang dapat memengaruhi anak untuk mendapatkan berat badan idealnya.

Karena, ketika anak tidak mau makan atau mulai GTM, orang tua memikirkan cara untuk anak tetap mendapatkan asupan yang bergizi untuk menunjang tumbuh kembangnya.

Berikut ini faktor yang memengaruhi berat badan pada anak.

1. Asupan Nutrisi

Anak memerlukan asupan nutrisi untuk kebutuhan tumbuh kembangnya dan fungsi otak. "Makronutrien dan mikronutrien sangat dibutuhkan anak untuk mencapai tumbuh kembangnya menuju dewasa," tambah dr. Harun Albar, M.Kes, Sp. A, Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Brawijaya Antasari.

Makronutrien itu mencakup makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, hewani serta nabati. Sedangkan mikronutrien itu seperti zat besi, kalsium, omega DHA serta tambahan asupan lainnya.

Anak seharusnya mengonsumsi sumber asupan nutrisi makanan seperti yang diutarakan menurut Health Harvard, antara lain:

  • Buah-buahan dan sayur-sayuran. Beragam buah dan sayuran segar, kalengan, beku, seperti tomat merah dan stroberi, jeruk dan wortel, labu kuning dan pisang, sayuran hijau, alpukat, dan jeruk nipis; bluberi dan anggur ungu dan terong. Biasanya, semakin kaya warnanya, semakin sehat makanannya.
  • Biji-bijian. Biji-bijian utuh, seperti oatmeal, beras merah, quinoa, atau roti gandum.
  • Protein. Ikan dan jenis makanan laut lainnya, unggas, unggas, kacang-kacangan dan legum lainnya, kacang-kacangan dan biji-bijian, serta daging tanpa lemak
  • Makanan olahan susu. Susu rendah lemak, keju, yogurt, dan makanan olahan susu lainnya.
  • Lemak. Daging sapi, ayam, ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak nabati. Lemak berfungsi untuk cadangan makanan dan sumber energi pada tubuh.

Pada saat yang sama, sebaiknya batasi asupan makanan anak dengan:

  • Gula tambahan, seperti sereal sarapan manis, soda, jus, kue kering, dan sejenisnya.
  • Lemak padat, seperti hot dog dan daging berlemak lainnya, makanan olahan susu berlemak penuh, dan makanan siap saji.
  • Menambahkan garam dalam keripik, roti, dan olahan makanan lainnya.

2. Aktivitas Fisik

Faktor pengaruh berat badan ideal anak.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Faktor kedua yang memengaruhi berat badan idal pada anak adalah aktivitas fisik anak ketika di rumah. Apalagi di era pandemi seperti ini, anak banyak menghabiskan waktu di rumah dengan bermain dan sekolah jarak jauh.

MenurutNational Institutes of Health, aktivitas fisik pada anak dapat memengaruhi berat badan pada anak, baik itu semakin turun atau justu bertambah. Menurut penelitian membutikan, metabolisme tubuh dapat berubah saat anak mengubah pola makan atau kebiasaan olahraga.

Mengetahui perubahan metabolisme ini bisa jadi sulit, terutama selama masa pertumbuhan masa kanak-kanak.

"Selain bermain, anak juga harus cukup memenuhi kualitas tidurnya. Ini adalah bentuk tumbuh kembang anak-anak di saat tidur untuk regenerasi sel, otot serta saraf pada otak," tambah dr. Harun Albar.

Untuk bayi baru lahir atau newborn, biasanya membutuhkan waktu tidur 8-10 jam, sedangkan untuk orang dewasa sekitar 6-8 jam. Semakin bertambahnya usia anak akan semakin berkurang jam tidurnya karena aktivitas yang semakin banyak.

Tidur pada anak selain memenuhi waktu cukup, ia harus berkualitas. Misalkan tidur dalam keadaan perut anak tidak kosong, lampu tidur diredupkan dan dalam suasana tenang.

3. Genetik Orang Tua

Berat badan pada anak juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling berinteraksi, termasuk asupan nutrisi, genetika, gaya hidup, dan pengaruh sosial ekonomi.

Peneliti dari Inggris dan Spanyol menyelidiki sejauh mana faktor terkait berat badan pada orang tua memengaruhi risiko anak mereka untuk mengalami kelebihan berat badan.

Center for Disease Control and Prevention, mengatakan, faktor genetik cukup memengaruhi berat badan ideal anak termasuk obesitas. Genetik dapat secara langsung menyebabkan obesitas pada gangguan tertentu seperti sindrom Bardet-Biedl dan sindrom Prader-Willi.

Namun gen tidak selalu memprediksi kesehatan anak di masa depan. Genetik dan gaya hidup anak cukup memengaruhi faktor anak terkena obesitas. Dalam beberapa kasus, beberapa gen dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap obesitas dan membutuhkan faktor luar, seperti persediaan makanan yang melimpah atau sedikit aktivitas fisik.

4. Lingkungan

berat badan ideal pada anak

Foto: Orami Photo Stock

Faktor lingkungan juga memengaruhi berat badan pada anak. Misalnya, semakin banyak aktivitas anak maka ini akan membuat kemungkinan berat badan anak akan menurun.

Misalnya, di era pandemi ini anak menghabiskan banyak di rumah dan semakin banyak nyemil, maka akan menambah berat badan anak.

Ketika frekuensi cemilan lebih banyak, Moms harus memerhatikan kalori yang dikonsumsi anak. Cemilan pada anak sebaiknya yang mengandung protein, lemak, serta mengurangi makanan manis. Misalnya memberikan buah atau sayur-sayuran.

"Ketika anak tidak ingin makan nasi, ibu bisa menggantikan karbohidrat lainnya. Tidak wajib untuk anak makan nasi, karena sumber karbo dapat diraih dari pasta, kentang, oat, gandum dan sereal," ujar dr. Harun Albar.

Baca Juga: 6 Jenis Makanan yang Ternyata Tidak Sehat untuk Anak

Berat badan anak dan frekuensi BAB tidak telalu memengaruhi untuk anak mencapai berat badan idealnya. Misalkan untuk anak 6 bulan ke bawah memerlukan ASI ekslusif, frekuensi BAB bisa seminggu sekali, sehari sekali atau bahkan sehari lebih banyak.

Dalam konteks ASI ekslusif, frekuensi BAB tidak ada masalah, karena apa yang dikonsumsi Si Kecil pada ASI terdapat sumber makanan seperti serat, sayur dan lain-lain.

Kecuali ketika anak diare, BAB berdarah atau masalah pencernaan, menyebabkan kadar air dalam tubuh turun dan menyebabkan berat badan anak ikut turun.

Untuk suplemen penambah napsu makan, anak tidak diwajibkan untuk mengonsumsinya karena suplemen penambah makan ini telah ada pada kandungan makanan sehari-hari.

Pada multivitamin, itu ada di sayuran hijau, vitamin A-Z ada pada protein hewani, vitamin C buah-buahan seperti jeruk, sedangkan zat besi ada di hati ayam, sapi dan sebagainya.

Berat badan bayi tidak berdampak pada berat badan ketika dewasa. Pertumbuhan anak dilihat dari berat badan dan tinggi badan anak. Sedangkan kembang dilihat dari motorik, sensorik, vokal dan sosial.

Baca Juga: Anak Gemuk Belum Tentu Sehat, Ketahui Tips Menjaga Berat Badan Anak

Tidak bisa menyimpulkan hanya dari satu sisi, namun perlu dari semua komponen. Tanda-tanda bayi mulai ingin mengenal makan dapat dilihat dari perilakunya seperti, sering menjulurkan lidahnya, usaha untuk menguyah, kepala tegak, seta mulai tertarik pada makanan.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait