Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Kesehatan Anak | Aug 31, 2018

Club Foot dan Flat Foot, Kelainan Telapak Kaki yang Paling Sering Dialami Anak

Bagikan


Club foot, kaki pengkor, atau istilah medisnya congenital talipes equinovarus (CTEV) dan flat foot atau kaki rata merupakan dua kelainan telapak kaki anak yang paling sering terjadi.

Dokter Spesialis Bedah Orthopedi RSPI Bintaro Jaya Dimas Radithya Boedijono mengatakan bahwa pasien dengan diagnosis dua kelainan itu paling sering ditemui. Mari kita cari tahu lebih lanjut tentang club foot dan flat foot, kelainan telapak kaki yang paling sering dialami anak!

Kelainan Telapak Kaki Club Foot

Dimas menjelaskan bahwa club foot merupakan suatu kelainan bawaan lahir di mana kaki memutar di pergelangan kaki ke arah dalam sehingga kedua telapak kaki saling berhadapan. Sebanyak 50 persen pasien dengan club foot mengalami bilateral club foot yang artinya kedua duanya mengalami kelainan.

Club foot bisa terjadi karena adanya kelainan pada otak atau tulang belakang. Kelainan tersebut terdeteksi semenjak bayi masih dalam kandungan. “Jadi, posturnya memang sudah seperti itu sejak masih di dalam perut,” kata Dimas.

Kelainan ini sebetulnya bisa diperbaiki dengan treatment tertentu sejak Si Kecil berusia 1 tahun. Pemasangan gips diperlukan sebagai langkah awal treatment. Menurut Dimas, pemasangan gips berfungsi untuk memperbaiki posisi kaki yang bengkok.

“Setelah posisi kaki normal, baru dipakaikan sepatu khusus. Jika tidak dipakaikan, posisi kakinya akan kembali ke posisi awal,” terangnya.

Baca Juga: Kenali Bentuk Kaki Balita Saat Pertama Kali Berjalan

Proses treatment tidak berhenti sampai di situ, Si Kecil harus menggunakan sepatu khusus sampai setidaknya memasuki masa puber saat pertumbuhannya berhenti. Dokter berasumsi saat proses pertumbuhan berhenti, tidak akan ada lagi perubahan posisi kaki.

“Tapi tetap dilakukan observasi hingga dia dewasa. Jika tidak ada kelainan lain, club foot bisa normal seperti biasa,” tambah Dimas.

Jika tidak mendapatkan treatment, anak dengan club foot akan tumbuh dengan kondisi kaki yang bengkok dan telapan kaki saling berhadapan. Karena posisi telapak kakinya itu juga, anak tersebut akan berpijak pada sisi luar kaki untuk berjalan.

“Ada pasien yang pernah datang usianya sudah 20 tahun. Dan dia sudah terlihat biasa berjalan seperti itu,” ujar dokter lulusan Universitas Indonesia itu.

Baca Juga: Apakah Popok Bisa Bikin Kaki Anak Berbentuk X?

Kelainan Telapak Kaki Flat Foot

Berbeda dengan club foot yang secara sekilas terlihat dengan jelas dari cara berjalan, flat foot sebaliknya. Flat foot tidak terlihat dari cara berjalan, karena orang dengan flat foot terlihat normal. Hanya saja, telapak kakinya memang tidak biasa. Tidak memiliki celah lengkungan di bawah telapak kaki.

Kaki datar sering ditemukan pada bayi dan balita karena lengkungan kaki anak kecil belum sepenuhnya berkembang. Seiring tumbuh kembang anak, jaringan yang menahan persendian di kaki (disebut tendon) akan mengencang sehingga membentuk lengkungan di telapak kaki.

Proses ini umumnya terjadi ketika anak berusia 2-3 tahun hingga 5 tahun. Namun, beberapa orang tidak pernah mengalaminya hingga dewasa. “Dan ketika dewasa itu baru didiagnosis sebagai flat foot,” ungkap Dimas.

Lantas apa dampak flat foot? Dimas mengatakan, orang dengan flat foot jadi mudah sekali lelah saat berjalan dan atau berlari. Lengkungan kaki berfungsi sebagai pegas untuk mendistribusikan berat badan di kaki saat berjalan. Struktur lengkungan ini menentukan bagaimana pola seseorang berjalan.

Kaki harusnya kokoh dan fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan berbagai permukaan dan tekanan. Orang dengan kaki rata mengalami distribusi berat badan yang tidak merata saat berjalan. Akibatnya, tumit sepatu mereka lebih mudah dan lebih cepat aus di satu sisi saja daripada yang satunya.

Gejala kaki rata mungkin juga termasuk keluhan kaki yang cepat lelah atau sakit setelah lama berdiri atau berolahraga. Lari, misalnya, membutuhkan gerakan kaki dan kerja otot kaki secara konstan. Maka tidak heran jika nyeri muncul selama berlari jika punya kaki rata. Kaki bahkan terasa sakit saat memakai sepatu lari khusus yang suportif dan pas di kaki.

Di luar itu, lanjut Dimas, flat foot tidak terlalu memengaruhi aktivitas sehari-hari. Selama menimbulkan efek lain, flat foot tidak membutuhkan penanganan.

Itulah jenis kelainan club foot dan flat foot yang umumnya terjadi pada Si Kecil. Jika memang menemukan ciri-ciri seperti di atas dan membutuhkan penanangan, Moms bisa langsung menemui dokter spesialis bedah orthopedi.

(AND)

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.