Kesehatan

2 September 2021

Mengenal Craniosynostosis, Kelainan Tulang Tengkorak pada Bayi

Ini menyebabkan bentuk kepala bayi menjadi tidak normal atau tidak proporsional
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

Craniosynostosis merupakan cacat lahir di mana satu atau lebih dari jaringan sutura di tengkorak bayi menutup lebih cepat sebelum otak bayi sepenuhnya terbentuk.

Kondisi ini menyebabkan bentuk kepala bayi menjadi tidak normal atau tidak proporsional.

Biasanya, jaringan sutura ini tetap terbuka sampai bayi berusia sekitar 2 tahun dan kemudian menutup ke tulang padat.

Baca Juga : 4 Keajaiban Otak Bayi Yang Perlu Moms Tahu

Menjaga tulang tetap fleksibel untuk memberi ruang otak bayi untuk tumbuh.

Ketika sutura menutup terlalu dini, otak mendorong tengkorak yang saat itu sedang terus bertumbuh. Hal ini membuat kepala bayi terlihat tidak sempurna.

Melansir Centers for Disease Control and Prevention, bila tidak segera ditangani, Craniosynostosis dapat menyebabkan perubahan bentuk kepala dan wajah secara permanen.

Tekanan di dalam rongga kepala bisa meningkat dan memicu kondisi yang serius, seperti kebutaan hingga kematian.

Lantas apa yang menyebabkan kondisi Craniosynostosis pada bayi? Berikut ini pembahasan lengkapnya beserta cara mengatasinya.

Penyebab dan Jenis Craniosynostosis

unicoronal-synostosis-780x289.jpg

Foto: chop.edu

Penyebab craniosystosis masih belum diketahui secara pasti. Tetapi, penyebabnya dikaitkan dengan gangguan genetik.

Melansir Johns Hopkins Medicine, Craniosynostosis juga diduga dipicu oleh kondisi yang dapat memengaruhi perkembangan tengkorak anak, seperti sindrom Apert, sindrom Pfeiffer, dan sindrom Crouzon.

Kadang-kadang, Craniosynostosis terjadi karena mutasi (perubahan) gen sporadis (acak), atau dapat diturunkan dalam keluarga.

Sedangkan menurut Cleveland Clinic, prematuritas merupakan faktor risiko Craniosynostosis.

Dalam kasus lain, beberapa faktor selama kehamilan meningkatkan risiko bayi untuk mengembangkan Craniosynostosis. Ini termasuk:

  • Obat kesuburan seperti clomiphene citrate
  • Penyakit tiroid ibu (penyakit tiroid yang berkembang saat hamil).

Baca Juga: Waspadai Efek Samping Pembersih Kewanitaan Bagi Ibu Hamil

Sebagian besar kasus dari Craniosynostosis kompleks berhubungan dengan sindroma genetik. Kondisi ini dikenal dengan istilah syndromic craniosynostosis. 

Sementara jenis lain dari Craniosynostosis meliputi:

  • Sagittal (scaphocephaly)

Pada jenis scaphocephaly, terdapat penutupan dini dari sutura sagitalis. Sutura ini membentang dari tengkorak depan ke belakang, serta menyebabkan bentuk kepala menjadi panjang dan sempit. 

  • Coronal

Pada jenis coronal, terjadi penutupan dini dari salah satu sutura coronal, yang terdapat di masing-masing telinga ke bagian atas tengkorak.

Kondisi ini dapat menyebabkan dahi bayi menjadi rata di area yang terkena, dan memicu tonjolan.

  • Metopic

Sutura metopic terdapat di bagian atas pangkal hidung, sampai ke garis tengah dahi hingga ubun-ubun anterior, atau titik lemah dan sutura sagitalis. Dahi akan tampak seperti segitiga, dan melebar di bagian belakang kepala.

  • Lambdoid

Lambdoid synostosis adalah jenis craniosynostosis langka, yang melibatkan sutura lambdoid pada bagian belakang kepala.

Kondisi ini menyebabkan satu sisi kepala bayi tampak rata, satu sisi telinga terlihat lebih tinggi dari telinga satunya, dan bagian atas kepala yang miring ke satu sisi.

Baca Juga: Kepala Bayi Peyang? Ketahui Penyebab dan Cara Penanganannya

Tanda dan Gejala Craniosyntosis Pada Bayi

Tengkorak bayi memiliki tujuh tulang. Sendi yang disebut sutura kranial, terbuat dari jaringan yang kuat dan berserat, fungsinya untuk mengikat tulang-tulang tengkorak.

Di depan tengkorak bayi, jaringan sutura berpotongan di titik fontanel di atas kepala bayi.

Biasanya, jaringan sutura tetap lentur untuk memberikan waktu bagi otak bayi untuk tumbuh sampai tulang tengkoraknya menyatu sekitar usia 2 tahun.

Tanda-tanda Craniosyntosis biasanya terlihat saat lahir, tetapi akan menjadi lebih jelas selama beberapa bulan pertama kehidupan bayi.

Adapun tanda dan gejala yang muncul antara lain:

  • Cacat tengkorak dengan bentuk tergantung pada sutura mana yang terpengaruh.
  • Tampilan yang tampak tidak normal atau menghilangnya fontanel padat tengkorak bayi.
  • Pengembangan yang tampak menonjol dank eras di sepanjang sutura yang terkena.
  • Pertumbuhan kepala bayi yang lambat atau tidak ada pertumbuhan.

Bagaimanapun, bentuk kepala yang tidak normal tidak selalu menunjukkan Craniosyntosis.

Misalnya, jika bagian belakang kepala bayi tampak rata, bisa jadi akibat bayi menghabiskan terlalu banyak waktu hanya di satu posisi tidur.

Kondisi ini dapat diatasi dengan mengubah posisi atau terapi untuk membentuk kembali kepala bayi ke penampilan yang lebih normal.

Baca Juga : Ini Cara Memaksimalkan Motorik Kasar Bayi

Pengobatan untuk Craniosyntosis pada Bayi

Craniosynostosis

Foto: Orami Photo Stock

Untuk memastikan diagnosis Craniosyntosis, membutuhkan bantuan dari dokter spesialis seperti bedah saraf pediatrik atau bedah plastik.

Dokter akan melakukan sederet metode pemeriksaan di bawah ini:

1. Pemeriksaan fisik

Dokter akan memeriksa kepala bayi untuk mencari kondisi abnormal seperti tonjolan pada sutura. Dokter juga akan mencari kelainan pada bentuk wajah pasien.

2. Pencitraan

CT scan tengkorak bayi dapat memperlihatkan kemungkinan menyatunya sutura. Jika sutura telah menyatu, hasil CT scan tidak akan menunjukkan garis atau jarak.

Selain itu, CT scan dan rontgen dapat dilakukan untuk mengetahui ukuran tengkorak pasien.

3. Tes genetik

Pemeriksaan ini dibutuhkan untuk mengidentifikasi sindrom yang menyebabkan Craniosyntosis.

Craniosyntosis tidak selalu ditangani dengan pengobatan. Bayi dengan kondisi ini mungkin hanya memerlukan pemeriksaan rutin untuk memantau kondisinya.

Baca Juga: Keringat Bayi Beraroma Manis, 1 dari 8 Gejala Penyakit Genetik Urine Sirup Mapel

Tindakan pembedahan atau operasi mungkin disarankan jika:

  • Parah – ini dapat memengaruhi bagaimana otak bayi akan tumbuh atau mengarah pada masalah seperti kepercayaan diri yang rendah di kemudian hari.
  • Bayi menunjukkan gejala serius yang disebabkan oleh tekanan pada otak mereka, seperti sakit kepala.
  • Craniosyntosis memengaruhi wajah bayi dan menyebabkan masalah seperti kesulitan bernapas.

Ada 2 jenis operasi yang bisa dilakukan untuk menangani Craniosyntosis, yaitu:

  • Bedah endoskopi
    Bedah ini dilakukan pada bayi di bawah usia 6 bulan. Prosedur ini hanya memerlukan satu hari rawat inap dan tidak memerlukan transfusi darah. Setelah prosedur ini, terapi dengan helm khusus dapat dilakukan untuk memperbaiki bentuk tengkorak.
  • Bedah terbuka
    Prosedur ini dilakukan pada bayi berusia di atas 6 bulan. Bedah terbuka memerlukan 3-4 hari rawat inap dan transfusi darah.

Tindakan operasi biasanya melibatkan pemotongan bagian atas kepala bayi, melepaskan dan membentuk kembali bagian-bagian tengkorak yang terkena.

Kemudian, memperbaikinya kembali pada tempatnya semula. Hal ini dilakukan dengan anestesi umum (menidurkan bayi).

Bayi yang menerima tindakan operasi mungkin perlu dirawat di rumah sakit hingga seminggu setelahnya untuk pemulihan.

Segera konsultasikan dengan dokter jika Moms mencurigai bentuk kepala Si Kecil yang tidak normal mengarah pada tanda dan gejala Craniosyntosis.

Ini karena penderita Craniosyntosis parah berisiko mengalami peningkatan tekanan intrakranial (tekanan di dalam rongga kepala).

Jika tidak ditangani, peningkatan tekanan intrakranial bisa memicu kondisi serius berikut:

  • Gangguan perkembangan
  • Gangguan gerakan bola mata
  • Gangguan kognitif (belajar dan berpikir)
  • Kejang
  • Kebutaan

Baca Juga: Serba Serbi Lingkar Kepala Bayi, Moms Wajib Tahu!

Craniosyntosis memang sulit dideteksi karena memperlukan pemeriksaan medis lebih lanjut. Nah, Moms, jangan ragu untuk segera ke dokter ya!

  • https://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/craniosynostosis.html#:~:text=What%20is%20Craniosynostosis%3F-,Craniosynostosis%20is%20a%20birth%20defect%20in%20which%20the%20bones%20in,flexible%20material%20and%20called%20sutures.
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/craniosynostosis/symptoms-causes/syc-20354513
  • https://emedicine.medscape.com/article/1175957-overview
  • https://www.cincinnatichildrens.org/health/c/craniosynostosis
  • https://my.clevelandclinic.org/health/articles/6000-craniosynostosis
  • https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/craniosynostosis
  • https://www.aafp.org/afp/2004/0615/p2863.html
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait