Trimester 2

20 Agustus 2021

Ternyata, Ini Penyebab dan Cara Mengatasi Darah Tinggi saat Hamil!

Tekanan darah melonjak tinggi saat hamil, kenapa ya?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Adeline Wahyu

Tak sedikit Moms yang mengalami tekanan darah tinggi saat hamil. Meski padahal tidak ada riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya.

Kondisi ini memang cukup umum terjadi. Bahkan Centers for Disease Control and Prevention mengatakan bahwa di Amerika Serikat, tekanan darah tinggi terjadi di 1 dari 12 kehamilan pada wanita usia 21-44 tahun.

Meski begitu, Moms tetap harus waspada dan jangan meremehkan hasil tekanan darah yang melonjak saat hamil, ya. Pasalnya, bisa jadi hal ini menimbulkan masalah yang lebih serius lainnya.

Mari kita simak ulasan lebih lanjut tentang tekanan darah tinggi saat hamil!

Penyebab Tekanan Darah Tinggi saat Hamil

artikel hero ibu hamil hipertensi

Foto: Orami Photo Stock

Bila Moms mengalami hal ini, biasanya hasil tekanan darah Moms akan menunjukkan angka mulai dari 140/90 mmHg atau lebih tinggi.

Saat hamil, jumlah darah di dalam tubuh Moms akan meningkat sebanyak 45 persen dari biasanya. Hal ini membuat jantung harus kerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Hal ini yang kemudian dapat memicu darah tinggi saat hamil.

Dalam medis, kondisi ini disebut dengan hipertensi gestasional. Dilansir dari American College of Obstetricians and Gynecologists, umumnya hipertensi gestasional baru terlihat ketika Moms memasuki usia kehamilan ke-20 minggu.

Namun, jika ini yang terjadi, Moms tak perlu khawatir. Pasalnya kondisi yang disebut dengan hipertensi gestasional ini akan normal kembali setelah persalinan.

Baca Juga: Apa Dampak Darah Tinggi Pada Ibu Hamil dan Janin?

Beberapa hal bisa menyebabkan tensi tinggi saat hamil, di antaranya:

  • Kehamilan pertama lebih cenderung berisiko mengalami tekanan darah tinggi
  • Kehamilan kembar
  • Usia saat hamil di atas 35 tahun
  • Obesitas
  • Riwayat hipertensi sebelum kehamilan
  • Kolesterol tinggi

Risiko Hipertensi Kronis pada Ibu Hamil

1200 95641369 woman wearing fake pregnant belly

Foto: Orami Photo Stock

Sementara, Moms butuh lebih waspada jika mengalami tekanan darah tinggi saat hamil belum genap 20 minggu. Kondisi ini biasanya dikenal dengan hipertensi kronis.

Moms yang mengalami hipertensi kronis biasanya telah memiliki riwayat hipertensi sebelum hamil.

Sayangnya, sebagian besar Moms tidak menyadari hal ini sebelumnya dan baru tahu ketika melakukan pemeriksaan kehamilan.

"Ibu hamil juga berisiko mengalami menurunnya aliran darah ke plasenta ketika darah tinggi saat hamil terjadi," dr. Yuslam Edi Fidianto, Sp.OG, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan. RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Baca Juga: Ibu Hamil dengan Darah Tinggi, Mungkinkah Melahirkan Normal?

Hipertensi kronis berisiko menimbulkan beragam dampak negatif pada bayi dan Moms. Berikut adalah dampak yang mungkin terjadi apabila darah tinggi saat hamil:

  • Persalinan caesar. Moms yang punya hipertensi umumnya akan dianjurkan untuk melakukan operasi caesar. Pasalnya, persalinan normal dapat memperparah hipertensi yang dialami.
  • Preeklampsia. Kondisi ini umumnya terjadi jika hipertensi kronis tidak ditangani dengan baik sehingga merusak organ-organ tubuh Moms. Gejala yang muncul saat dampak negatif ini terjadi seperti kejang-kejang.
  • Janin gagal tumbuh. Tekanan darah tinggi yang melonjak bisa menghambat pasokan makanan dan oksigen untuk si bayi. Hal ini membuat bayi mengalami gangguan tumbuh kembang di dalam rahim. Umumnya dokter akan menyarankan untuk segera melakukan persalinan prematur, karena jika dibiarkan akan mengancam nyawa Si Kecil.
  • Kerusakan organ tubuh ibu. Darah tinggi saat hamil membuat organ tubuh Moms mengalami masalah di sebagian orang.
  • Risiko penyakit jantung di kemudian hari. Jika mengalami darah tinggi saat hamil, ini berisiko Moms akan terkena serangan jantung atau gangguan jantung lainnya di kemudian hari.
  • Terjadi abruptio plasenta. Ini adalah kondisi darah tinggi saat hamil dan terjadi komplikasi kehamilan serius saat plasenta terputus dari rahim.
  • Sindrom HELLP. Singkatan dari hemolisis, peningkatan enzim hati, dan jumlah trombosit yang rendah. Kondisi ini parah dan bisa mengancam jiwa.

Melansir Pregnancy Birth Baby, tekanan tensi tinggi saat hamil menjelang persalinan, nantinya bayi akan dipantau oleh dokter. Selama persalinan, jantung bayi akan terus dipantau dan Moms mungkin mendapat infus untuk memberi cairan dan obat.

Jika kondisi tampak memburuk selama persalinan, Moms mungkin memerlukan operasi caesar darurat.

Begitu juga yang menderita pre-eklamsia, biasanya Moms disarankan untuk melahirkan di rumah sakit bersalin besar yang dapat memberikan perawatan ahli untuk bayi dan ibunya.

"Selain itu, risiko darah tinggi saat hamil kepada bayi di antaranya adalah bayi lahir prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, sindrom pernapasan, sampai kepada kematian," tambah dr. Yuslam.

Maka itu, bila Moms mengalami hal ini, Moms harus selalu periksa ke dokter supaya kondisinya terpantau.

Baca Juga: Moms sedang Program Hamil? Yuk Cek Masa Subur Pria Berapa Hari!

Pemicu Tekanan Darah Tinggi saat hamil

perencanaankehamilanhipertensihero

Foto: Orami Photo Stock

Salah satu masalah yang kerap terjadi saat hamil adalah tekanan darah naik. Kondisi darah tinggi saat hamil ini umumnya disebabkan oleh perubahan hormon ketika memasuki kehamilan.

Beberapa pemicu yang menyebabkan darah tinggi saat hamil antara lain:

  • Obesitas
  • Gaya hidup tidak sehat, seperti merokok dan jarang olahraga
  • Kehamilan yang pertama kalinya
  • Punya riwayat hipertensi di dalam keluarga
  • Hamil ketika berusia di atas 35 tahun
  • Kehamilan terjadi dengan bantuan medis, misalnya IVF

Namun kasus darah tinggi saat hamil di setiap orang berbeda-beda. Mungkin saja ia memang memiliki riwayat darah tinggi sebelumnya.

Baca Juga: Ketahui 5 Risiko Melahirkan Normal dengan Hb Rendah

Cara Menurunkan Tekanan Darah Tinggi saat Hamil

Bila Moms memiliki riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya, Moms harus ekstra waspada. Pasalnya mungkin saja tekanan darah Moms bisa meningkat tiba-tiba.

Meski begitu, Moms tak perlu cemas. Ada beberapa hal yang bisa membuat kehamilan Moms aman dan sehat walau mengalami darah tinggi saat hamil, yaitu:

1. Kurangi Asupan Garam

diet-garam.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Moms, meskipun tubuh membutuhkan asupan garam, tetapi mengonsumsi terlalu banyak dapat menyebabkan hipertensi.

Jadi, cobalah untuk menggantikan garam dengan bumbu lain, seperti jinten atau merica lemon. Jika membeli makanan olahan, pilihlah kandungan yang rendah sodium.

2. Kurangi Stres

Cara menurunkan darah tinggi saat hamil selanjutnya adalah kurangi stres.

Jangan memikirkan hal-hal yang memicu kecemasan dan lakukan apa yang bisa membuat Moms senang. Jika ada waktu luang, Moms bisa melakukan meditasi, yoga, atau teknik pernapasan.

Aktivitas ini juga dapat membantu Moms saat persalinan nanti.

3. Konsumsi Makanan Tinggi Kalium

kalori-roti-gandum.jpg

Foto: Orami Photo Stock

Makanan tinggi kalium dapat menurunkan darah tinggi saat hamil. Moms bisa mengonsumsi seperti roti gandum, pisang, kentang, tomat, dan kacang merah.

Sebuah penelitian menunjukkan, biji-bijian utuh yang kaya kandungan serat efektif mengatasi hipertensi. Bila perlu, kombinasikan beberapa bahan makanan kaya kalium menjadi satu menu khusus.

Baca Juga: 5 Tanda Anak Depresi dan Cara Mengatasinya yang Sering Diabaikan, Moms Wajib Tahu!

4. Lebih Banyak Gerak

Ibu hamil sangat dianjutkan untuk bergerak untuk mengatasi badan pegal, menghilangkan stres, meningkatkan sirkulasi darah, hingga menurunkan tekanan darah.

Jadi, cobalah berolahraga ringan 30 menit setiap hari, seperti jalan kaki, berenang, yoga, pilates, dan lain sebagainya.

5. Perhatikan Berat Badan

hamil

Foto: Orami Photo Stock

Saat hamil, Moms akan mengalami peningkatan berat badan yang cukup banyak. Namun, jangan sampai berat badan naik secara berlebihan, karena dapat terkena hipertensi.

Untuk mengontrol berat badan, Moms disarankan untuk mengonsumsi makanan sehat. Makanan sehat yang direkomendasikan beragam, mulai dari karbohidrat (nasi, sereal, atau pasta), protein (ikan, kacang, atau telur), hingga lemak baik (jagung dan minyak zaitun).

6. Jangan Merokok

Merokok merupakan kebiasaan yang harus dihentikan, apalah jika Moms sedang hamil. Kebiasaan ini bisa menyebabkan darah tinggi saat hamil dan masalah kesehatan lainnya.

Jadi jika Moms masih merokok selama kehamilan, bicarakan dengan dokter untuk menghentikan kebiasaan ini.

7. Konsultasi dengan Dokter

dokter kandungan

Foto: Orami Photo Stock

Moms, jika cara di atas sudah diterapkan tetapi tidak ada perubahan, jangan ragu segera konsultasi dengan dokter kandungan.

Obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah ini yang biasa tidak dianjurkan selama kehamilan:

  • ACE inhibitor
  • penghambat renin
  • penghambat reseptor angiotensin

Obat-obatan ini akan melewati aliran darah ke bayi dan berdampak negatif pada kesehatan bayi yang sedang berkembang.

Methyldopa dan labetalol adalah dua obat yang dianggap aman digunakan untuk mengelola tekanan darah selama kehamilan.

Jika Moms disarankan untuk minum obat apa pun, penting untuk mematuhi jadwal dan meminumnya sesuai petunjuk.

Namun, beberapa obat hipertensi memiliki efek samping, jadi pastikan berbicara dengan dokter untuk mengetahui obat yang aman untuk dikonsumsi selama kehamilan.

Baca Juga: Mengenal 13 Jenis Kacang-Kacangan, Makanan Sehat untuk Kehamilan

Darah Tinggi Jelang Melahirkan

melahirkan

Foto: Orami Photo Stock

Tekanan darah tinggi atau hipertensi selama kehamilan dalam beberapa kasus dapat mengancam jiwa ibu hamil. Jika tidak diobati, tekanan darah tinggi dapat membahayakan ibu dan bayinya.

Namun, ini tidak selalu menyebabkan komplikasi kesehatan yang serius dan terkadang akan hilang setelah melahirkan.

Penting bagi Moms untuk menghadiri evaluasi prenatal secara teratur dan melaporkan gejala abnormal apa pun untuk memastikan kesehatan sendiri dan calon bayi.

Melahirkan bayi seringkali dapat menyembuhkan preeklamsia, salah satu pemicu tensi tinggi saat hamil.

Saat membuat keputusan ini, dokter akan mempertimbangkan beberapa faktor, termasuk seberapa parah, berapa usia kehamilan dan apa potensi risiko terhadap bayi.

Misalnya ketika Moms hamil berusia lebih dari 37 minggu, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk melahirkan prematur dalam mengatasi darah tinggi saat hamil.

Melansir Mayo Clinic, menyusui tetap dianjurkan bagi kebanyakan wanita yang memiliki tekanan darah tinggi saat hamil.

Hanya saja setelah melahirkan, Moms harus terus memantau tekanan darah selama 1 hingga 2 minggu. Tekanan darah sering naik pada minggu-minggu setelah melahirkan.

Moms mungkin perlu melanjutkan minum obat yang dikonsumsi saat hamil. Jangan menambahkan atau menghentikan obat apa pun tanpa berbicara dengan dokter kandungan.

Baca Juga: 9 Jenis Imunisasi yang Disarankan untuk Bayi 0-9 Bulan dan Jadwal Pemberiannya

Nah, itu dia Moms penjelasan tentang darah tinggi saat hamil. Jadi, Moms tidak perlu khawatir dan segera kosultasikan kepada dokter kandungan. Semoga membantu ya!

  • https://www.cdc.gov/bloodpressure/pregnancy.htm
  • https://www.acog.org/Patients/FAQs/Preeclampsia-and-High-Blood-Pressure-During-Pregnancy?IsMobileSet=false
  • http://pregnancybirthbaby.org.au/high-blood-pressure-in-pregnancy
  • https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/pregnancy/art-20046098
  • https://www.mother.ly/7-ways-to-lower-blood-pressure-during-pregnancy
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait