COVID-19

14 Desember 2020

Delirium, Gejala Baru COVID-19 yang Bisa Menyerang Orang Usia Tua

Delirium tampak memiliki gejala yang sekilas mirip demensia
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Teti
Disunting oleh Amelia Puteri

Pandemi COVID-19 sudah berlangsung hampir setahun, sejak Maret lalu diumumkan kasus pertama di Indonesia.

Hingga saat ini, Indonesia masih menunggu BPOM memastikan kalau vaksin Sinovac yang disiapkan aman untuk digunakan rakyat Indonesia.

Namun, siapa sangka virus ini juga berkembang dan bahkan diketahui memiliki gejala baru yang disebut delirium.

Selama ini orang hanya tahu kalau gejala COVID-19 yang umum meliputi kelelahan, sesak napas, batuk, sakit kepala, nyeri dada dan nyeri otot, sulit berkonsentrasi, demam, menggigil, masalah pencernaan, kehilangan bau dan rasa, serta mata merah.

Adapun sebuah studi menyebutkan, delirium umumnya dialami pasien COVID-19 yang berusia lanjut. Seperti apa gejala umumnya? Yuk simak bersama!

Baca Juga: Ini Gejala Bayi Terkena CoVID-19, Waspada!

Delirium Bisa Terjadi dalam Waktu Cepat

delirium, gejala covid-19

Foto: Orami Photo Stock

Pada penelitian Journal of American Medical Association, disebutkan bahwa 28% dari pasien COVID-19 yang lebih tua di tujuh departemen darurat (DE) AS mengalami delirium, dan berisiko lebih tinggi dirawat di unit perawatan intensif (ICU) dan mengalami kematian.

Mengutip Mayo Clinic, delirium adalah gangguan serius pada kemampuan mental yang mengakibatkan kebingungan berpikir dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan.

Tahapan awal delirium biasanya cepat, yaitu terjadi dalam beberapa jam atau beberapa hari.

Bila tidak memiliki infeksi COVID-19, terjadinya delirium bisa karena satu atau lebih faktor.

Seperti penyakit parah atau kronis, perubahan keseimbangan metabolik (seperti natrium rendah), pengobatan, infeksi, pembedahan, atau keracunan atau penggunaan alkohol atau obat.

Baca Juga: Bukan Gejala COVID-19, ini 8 Penyakit yang Sebabkan Nyeri Dada!

Menjadi Gejala COVID-19 Utama pada Beberapa Pasien

delirium, gejala covid-19-2

Foto: Orami Photo Stock

Lebih lanjut, pada penelitian yang dipimpin oleh ilmuwan Rumah Sakit Umum Massachusetts menemukan bahwa, dari 817 pasien COVID-19 berusia 65 tahun ke atas yang tiba di DE, sebanyak 226 (28%) mengalami delirium, yang merupakan tanda dan gejala paling umum keenam.

Delirium adalah gejala utama pada 37 (16%) pasien dengan delirium. Sementara, 84 pasien dengan delirium (37%) tidak memiliki gejala COVID-19 yang khas, seperti demam atau sesak napas.

Dalam Center for Infectious Disease Research and Policy, disebutkan bahwa delirium melibatkan kebingungan, gangguan kesadaran, disorientasi, kurangnya perhatian, agitasi, dan masalah kognitif lainnya.

Hal ini memengaruhi terutama orang usia tua, meskipun diperkirakan tetap tidak terdiagnosis pada dua pertiga pasien, kata para peneliti.

Pada pasien yang lebih tua dengan infeksi non-coronavirus, delirium mungkin merupakan tanda penyakit pertama atau satu-satunya.

Karena itu, temuan ini menunjukkan bahwa orang dewasa yang lebih tua dengan COVID-19 umumnya datang ke UGD dengan delirium, dan kondisi ini harus dianggap sebagai gejala COVID-19 yang penting.

Baca Juga: Silent Hypoxia, Gejala Baru COVID-19 yang Menyerang Diam-diam

Perbedaan Delirium dan Demensia

perbedaan delirium dan demensia

Foto: Orami Photo Stock

Sekilas, delirium dan demensia memiliki gejala yang tidak berbeda jauh. Lalu, apa yang membedakan kedua kondisi ini?

Demensia dan delirium mungkin sangat sulit dibedakan, dan seseorang mungkin mengalami keduanya. Padahal, delirium sering terjadi pada penderita demensia.

Tetapi, orang yang mengalami delirium tidak selalu berarti seseorang menderita demensia. Jadi penilaian demensia sebaiknya tidak dilakukan selama terjadinya delirium karena hasilnya bisa menyesatkan.

Demensia adalah penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir lainnya secara progresif akibat disfungsi bertahap dan hilangnya sel-sel otak. Penyebab paling umum dari demensia adalah penyakit Alzheimer

Beberapa perbedaan antara gejala delirium dan demensia antara lain:

  • Serangan. Timbulnya delirium terjadi dalam waktu singkat, sedangkan demensia biasanya dimulai dengan gejala yang relatif kecil yang secara bertahap memburuk seiring waktu.
  • Fokus. Kemampuan untuk tetap fokus atau mempertahankan perhatian secara signifikan terganggu dengan delirium. Seseorang pada tahap awal demensia umumnya tetap waspada.
  • Fluktuasi. Munculnya gejala delirium dapat berfluktuasi secara signifikan dan sering sepanjang hari. Sementara penderita demensia mengalami waktu yang lebih baik dan lebih buruk dalam sehari, ingatan dan keterampilan berpikir mereka tetap pada tingkat yang cukup konstan selama sehari.

Sekarang sudah tahukan Moms, bahwa delirium bisa menjadi gejala COVID-19? Karena itu, tetap waspada dan jangan lupa lakukan protokol kesehatan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak), ya!

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait