Kesehatan Umum

8 Oktober 2021

Depersonalisasi, Gangguan Kesehatan Mental Seolah Tubuh Terpisah dari Jiwa

Pernahkah Moms merasa berada di luar tubuh?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Cholif Rahma
Disunting oleh Karla Farhana

Gangguan depersonalisasi adalah kondisi kesehatan mental yang sekarang secara resmi dikenal sebagai gangguan depersonalisasi-derealisasi.

Depersonalisasi atau derealisasi merupakan suatu fenomena di mana seseorang merasa terpisah dari pikiran, perasaan, dan tubuhnya sendiri, atau merasa terputus dengan lingkungan sekitarnya.

Meski demikian, orang yang mengalami gangguan ini tidak kehilangan hubungan atau kontak dengan kenyataan. Mereka masih sadar bahwa persepsi mereka yang aneh tersebut tidak nyata.

Tetapi, ketika perasaan ini terus terjadi atau tidak pernah benar-benar hilang dan mengganggu kemampuan Moms dalam aktivitas, maka segeralah cari pertolongan medis.

Berikut ini adalah informasi seputar depersonalisasi. Jangan sampai lupa dicatat ya, Moms!

Baca Juga: Wajib Tahu, Ini Penyebab dan 5 Jenis Halusinasi yang Bisa Jadi Tanda Penyakit Mental

Apa Saja Gejala Depersonalisasi?

Depersonalisasi.jpg

Foto: pinterest.com

Gejala depersonalisasi umumnya terbagi dalam 2 kategori, yaitu gejala depersonalisasi dan gejala derealisasi.

Orang dengan depersonalisasi dapat mengalami gejala hanya satu atau bahkan keduanya.

Melansir Healthline, gejala depersonalisasi dapat meliputi:

  • Merasa seperti berada di luar tubuh, terkadang seolah-olah memandang rendah diri sendiri dari atas
  • Merasa terlepas dari diri sendiri, seolah-olah tidak memiliki diri yang sebenarnya
  • Mati rasa di pikiran atau tubuh, seolah-olah indra dimatikan
  • Merasa seolah-olah tidak dapat mengendalikan apa yang sedang dilakukan atau katakan
  • Merasa seolah-olah bagian tubuh salah ukurannya
  • Kesulitan melampirkan emosi ke ingatan

Sedangkan gejala derealisasi meliputi:

  • Mengalami kesulitan mengenali atau menemukan lingkungan
  • Merasa seperti dinding kaca memisahkan diri dari dunia
  • Merasa dapat melihat apa yang ada di luar tetapi tidak dapat terhubung
  • Merasa seperti lingkungan tidak nyata atau tampak datar, buram, terlalu jauh, terlalu dekat, terlalu besar, atau terlalu kecil
  • Masa lalu mungkin terasa sangat baru, sementara peristiwa baru-baru ini terasa seolah-olah sudah lama terjadi

Individu dengan gangguan depersonalisasi dapat merasa hidup seperti menjadi robot, mengamati diri mereka sendiri dari luar tubuh mereka, atau tinggal dalam dunia mimpi.

Banyak penderita yang mengalami kondisi depersonalisasi jadi merasa takut menjadi gila, depresi, mengalami gangguan cemas, atau panik.

Pada beberapa kasus, depersonalisasi atau derealisasi yang kronik juga dapat menyebabkan disabilitas.

Walaupun penyebabnya belum banyak diketahui secara pasti, faktor biologis dan lingkungan diduga kuat mempunyai peran yang besar.

Beberapa orang terlihat lebih rentan mengalami gangguan disosiatif karena sikap mereka yang lebih tidak bereaksi terhadap emosi.

Atau juga akibat mereka mempunyai gangguan kepribadian tertentu.

Baca Juga: Mengenal Gangguan Psikosomatik, Gangguan Jiwa yang Berpengaruh ke Fisik

Penyebab Depersonalisasi

Depersonalisasi.jpg

Foto: shutterstock.com

Melansir Cleveland Clinic, para peneliti masih belum tahu apa yang menyebabkan gangguan depersonalisasi secara pasti.

Hingga setengah dari kasusnya, penyedia layanan kesehatan tidak dapat mengidentifikasi apa yang memicu gangguan tersebut.

Faktor biologis dan lingkungan mungkin berperan.

Walau umumnya dialami akibat trauma psikis, gangguan depersonalisasi juga dapat muncul akibat adanya penyakit lain dalam tubuh.

Beberapa orang mungkin berisiko lebih tinggi untuk mengembangkan gangguan depersonalisasi karena:

  • Sistem saraf yang kurang reaktif terhadap emosi
  • Kepribadian tertentu atau gangguan kesehatan mental lainnya
  • Kondisi fisik, seperti gangguan kejang

Gangguan depersonalisasi juga dapat terjadi setelah stres atau trauma yang intens, seperti:

  • Orang tua dengan penyakit mental yang parah
  • Penyalahgunaan (menyaksikan atau mengalaminya)
  • Kecelakaan
  • Bahaya yang mengancam jiwa
  • Bencana alam
  • Kematian mendadak orang yang dicintai
  • Kekerasan
  • Perang

Penyebab lainnya termasuk:

  • Obat-obatan tertentu, seperti halusinogen
  • Menjadi sangat lelah
  • Kurang tidur atau stimulasi sensorik, yang mungkin terjadi di unit perawatan intensif

Baca Juga: 4 Cara Menyembuhkan Trauma Anak Korban Penculikan

Diagnosis Gangguan Depersonalisasi

Depersonalisasi.jpg

Foto: pinterest.com

Gangguan depersonalisasi didiagnosis melalui wawancara medis-psikiatrik, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium.

Pada wawancara medis umumnya seseorang akan mengungkapkan perasaannya, di mana ia menganggap jiwanya berada di luar raganya.

Seolah- olah ia sedang bermimpi dan melihat raganya berjalan sendiri. 

Dokter akan menelusuri lebih jauh kaitan antara kondisi tersebut dengan adanya trauma psikis tertentu.

Misalnya kehilangan orang yang ia sayangi, bencana alam, dan sebagainya. 

Setelah itu, perangkat wawancara psikiatrik berupa Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) dapat digunakan untuk memastikan diagnosis gangguan depersonalisasi lebih lanjut.

Pada kasus tertentu, gangguan depersonalisasi juga dapat disebabkan oleh adanya gangguan kesehatan tertentu, misalnya penyakit otak.

Atau penyebab lain seperti penggunaan obat- obat tertentu, penyalahgunaan obat dan alkohol. 

Untuk mengevaluasi kemungkinan ini, dilakukan pemeriksaan fisik dan juga pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan seperti pemeriksaan laboratorium darah, urine, pencitraan berupa Computed Tomography (CT) Scan maupun Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Baca Juga: Kapan Anak Membutuhkan Terapi Kesehatan Psikis?

Bagaimana Cara Mengatasi Kondisi Depersonalisasi?

st.jpg

Foto: pinterest.com

Kebanyakan orang dengan gangguan depersonalisasi yang mencari pengobatan khawatir tentang gejala seperti depresi atau kecemasan, daripada gangguan itu sendiri.

Dalam banyak kasus, gejalanya akan hilang seiring waktu.

Pengobatan biasanya diperlukan hanya jika gangguan tersebut berlangsung lama atau berulang, atau jika gejalanya sangat menyusahkan orang tersebut.

Tujuan pengobatan adalah untuk mengatasi semua tekanan yang terkait dengan timbulnya gangguan.

Pendekatan pengobatan terbaik tergantung pada individu dan tingkat keparahan gejalanya.

Melansir WebMD, beberapa tindakan pengobatan untuk depersonalisasi adalah:

1. Psikoterapi

Jenis terapi untuk gangguan mental dan emosional ini menggunakan teknik psikologis yang dirancang untuk membantu seseorang mengenali dan mengkomunikasikan pikiran.

Mereka juga diajarkan mengutarakan perasaan dengan lebih baik tentang konflik psikologis yang dapat mengarah pada pengalaman depersonalisasi.

Terapi kognitif adalah jenis psikoterapi khusus yang berfokus pada perubahan pola berpikir disfungsional.

2. Obat-Obatan

Obat umumnya tidak digunakan untuk mengobati gangguan disosiatif.

Namun, jika seseorang dengan gangguan disosiatif juga menderita depresi atau kecemasan, mereka mungkin mendapat manfaat dari obat antidepresan atau anti-kecemasan.

Obat antipsikotik juga kadang-kadang digunakan untuk membantu pemikiran dan persepsi yang tidak teratur terkait dengan depersonalisasi.

Baca Juga: Ini 4 Metode Terapi Berbicara Terbaik Untuk Balita

3. Terapi Keluarga

Terapi semacam ini membantu mendidik keluarga tentang gangguan dan penyebabnya, serta membantu anggota keluarga mengenali gejala depersonalisasi.

4. Terapi Kreatif (terapi seni/terapi musik)

Terapi ini memungkinkan pasien untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dengan cara yang aman dan kreatif.

5. Hipnosis Klinis

Ini adalah teknik perawatan yang menggunakan relaksasi intens, konsentrasi, dan perhatian terfokus untuk mencapai keadaan kesadaran.

Terapi ini memungkinkan orang untuk mengeksplorasi pikiran, perasaan, dan ingatan yang mungkin mereka sembunyikan dari pikiran sadar mereka.

Baca Juga: 5 Kisah Anak yang Mengalami Gangguan Jiwa, Ini Penyebabnya

Itu dia Moms serba serbi tentang kondisi depersonalisasi.

Bila tidak ditangani, gangguan depersonalisasi dapat membuat penderitanya sulit fokus dalam mengerjakan pekerjaan.

Selain itu, ia juga akan sulit mengingat sesuatu, sulit berkomunikasi dengan keluarga dan orang di sekitar.

Hal ini dapat memicu gangguan cemas, depresi hingga merasa tidak lagi memiliki masa depan.

  • http://fppsi.um.ac.id/wp-content/uploads/2019/07/Ghiyats-Mihmidaty.pdf
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Depersonalization-derealization_disorder#:~:text=Depersonalization%20is%20described%20as%20feeling,over%20their%20thoughts%20or%20actions.
  • https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/depersonalization-derealization-disorder/symptoms-causes/syc-20352911
  • https://www.webmd.com/mental-health/depersonalization-disorder-mental-health
  • https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9791-depersonalizationderealization-disorder
  • https://www.msdmanuals.com/professional/psychiatric-disorders/dissociative-disorders/depersonalization-derealization-disorder
  • https://www.verywellmind.com/derealization-2671582
  • https://www.medicalnewstoday.com/articles/262888
  • https://www.healthline.com/health/depersonalization-disorder#symptoms
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait