Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Kesehatan Anak | Aug 4, 2018

9 Cara Deteksi Skoliosis Pada Anak Sejak Dini

Bagikan


Skoliosis berasal dari kata Yunani yang berarti lengkungan. Jika didefinisikan, skoliosis merupakan kelainan pada rangka tubuh yang berupa kelengkungan tulang belakang lebih dari 10 derajat.

Kelengkungan abnormal ini bisa terjadi karena faktor genetik, kelainan kongenital atau bawaan lahir, (keturunan), kelainan pembentukan tulang atau kelainan neurologis dan habitual atau kebiasaan dalam membawa barang berat.

Skoliosis dapat terjadi pada anak-anak dan dewasa. Selama ini masyarakat kurang menyadari tentang pentingnya edukasi skoliosis. Padahal, prevalensi skoliosis makin meningkat, yaitu sekitar 3% di dunia dan 4-5% di Indonesia.

Skoliosis bisa erjadi sejak balita dan kanak-kanak. Pada anak-anak skoliosis dapat berubah menjadi kondisi yang serius seiring dengan pertumbuhannya. Biasanya progresivitas skoliosis terjadi pada umur 10-18 tahun.

Berdasarkan jenis kelamin, skoliosis lebih banyak terjadi pada perempuan. Sekitar 80% kasus skoliosis adalah idiopatik atau tidak dapat dijelaskan penyebabnya.

Skoliosis dapat menyebabkan nyeri di daerah punggung, bahu atau pinggul. Karena itu deteksi skoliosis secara akurat dan dini penting untuk dilakukan dengan cara mengecek dari belakang apakah ada tonjolan pada tulang bahu, pinggang dan pinggul yang memiliki kurva tidak seharusnya.

Baca Juga: Seperti Apa Tahapan Perkembangan Tulang Anak?

Deteksi skoliosis bisa dilakukan dengan cara:

- Mengecek dari belakang

- Bahu asimetris atau miring

- Tonjolan tulang bahu

- Kurva yang terlihat

- Pinggul miring

- Pinggang miring

- Mengecek dengan membungkuk

- Punuk di punggung atas

- Punuk di bawah punggung

Baca Juga: Sembarangan Tarik Tangan Anak Saat Bermain dapat Pengaruhi Tulangnya

Ada berbagai cara perawatan skoliosis, salah satunya yaitu dengan terapi non-operasi. Pada seminar media bertajuk Terapi Non Operasi: Harapan Baru Bagi Pasien Skoliosis di Jakarta (17/7/2017), ahli fisioterapi dan anatomi, Labana Simanihuruk, B.Sc-Brace & Rehab Clinician memaparkan bahwa terapi non operasi terbukti efektif dalam mengoreksi kemiringan yang besar.

Umumnya, terapi non operasi yang dilakukan adalah dengan penggunaan brace, olahraga dan latihan fisik dengan alat fisioterapi untuk mengurangi rasa nyeri.

Brace sangat berperan mengoreksi kurva, terutama bagi pasien yang memiliki kemiringan lebih dari 30 derajat. Namun, jika kemiringan lebih dari 60 derajat, ia menyarankan untuk memilih terapi operasi,” katanya.

Lebih jauh ia mengatakan brace secara klinis telah terbukti dapat mengurangi lengkung pada kasus umum skoliosis dan khyposis, mengurangi rasa sakit, memperbaiki postur tubuh, memperlambat pertumbuhan kurva pada anak dan lainnya.

“Efektif atau tidaknya brace dapat dilihat dari kualitas desain dan pembuatan brace, serta kemampuannya dalam melakukan koreksi atau perbaikan kemiringan skoliosis. Selain itu, brace yang baik juga harus membuat pemakainya nyaman dan tidak mengganggu kesehariannya,” ujarnya.

Sumber: meetdoctor.com

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.