Kesehatan

1 Oktober 2021

Mengenali Makna Difabel dan Perbedaannya dengan Disabilitas, Moms Wajib Tahu!

Meski perbedaannya sangat kecil, tetapi Moms tetap perlu paham beda keduanya
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Rizky
Disunting oleh Amelia Puteri

Apakah Moms masih menggunakan istilah disabilitas dan difabel dalam hal yang sama? Faktanya, kedua istilah tersebut sebenarnya memiliki makna yang berbeda.

Ada beberapa perbedaan disabilitas dan difabel yang perlu Moms pahami agar kelak bisa menggunakan dua kata ini untuk merujuk kepada hal yang tepat.

Disabilitas dan difabel umumnya dipakai sebagai istilah yang menggambarkan keterbatasan seseorang untuk melakukan aktivitas tertentu.

Meski secara garis besar sama, ada sedikit perbedaan disabilitas dan difabel. Dan jika Moms salah dalam menempatkan kata-kata tersebut, bisa saja menimbulkan sentimen yang berbeda.

Baca Juga: 6 Tanda Disabilitas Intelektual Pada Balita, Ayo Kenali!

Perbedaan Disabilitas dan Difabel

difabel

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip Centers for Disease Control and Prevention, disabilitas adalah segala kondisi tubuh atau pikiran (impairment) yang mempersulit orang dengan kondisi tersebut untuk melakukan aktivitas tertentu (activity limit) dan berinteraksi dengan dunia di sekitarnya (participation restriksi).

Ada banyak jenis disabilitas, seperti yang mempengaruhi seseorang, seperti misalnya:

  • Penglihatan
  • Pergerakan
  • Pemikiran
  • Mengingat
  • Pembelajaran
  • Berkomunikasi
  • Pendengaran
  • Kesehatan mental
  • Hubungan sosial

Meskipun “penyandang disabilitas” terkadang mengacu pada satu populasi, ini sebenarnya adalah kelompok orang yang beragam dengan berbagai kebutuhan.

Dua orang dengan jenis disabilitas yang sama dapat terpengaruh dengan cara yang sangat berbeda. Beberapa cacat yang dialami seseorang juga mungkin tersembunyi atau tidak mudah dilihat.

Nah, jika disabilitas digunakan untuk menggambarkan kondisi kelainan fisik atau mental seseorang, maka difabel artinya adalah orang yang mengalami disabilitas.

Difabel mengacu pada keterbatasan peran penyandang disabilitas dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari karena ketidakmampuan yang mereka miliki.

Istilah penyandang difabel juga terdengar lebih sopan dan halus untuk menjelaskan kondisi orang yang memiliki keterbatasan.

Ini berarti, seorang yang difabel bukanlah tidak mampu, melainkan hanya terbatas dalam melakukan aktivitas tertentu.

Kondisi seorang difabel juga bisa diperbaiki dengan alat bantu yang membuatnya jadi mampu melakukan aktivitasnya seperti seharusnya.

Baca Juga: 3 Tips Mengajak Balita Memahami Penyandang Disabilitas dan Kebutuhan Khusus

Jenis-Jenis Disabilitas

difabel

Foto: Orami Photo Stock

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), disabilitas memiliki tiga dimensi:

  • Penurunan struktur atau fungsi tubuh seseorang, atau fungsi mental; contoh gangguan termasuk kehilangan anggota badan, kehilangan penglihatan atau kehilangan memori.
  • Keterbatasan aktivitas, seperti kesulitan melihat, mendengar, berjalan, atau memecahkan masalah.
  • Pembatasan partisipasi dalam kegiatan normal sehari-hari, seperti bekerja, terlibat dalam kegiatan sosial dan rekreasi, dan memperoleh perawatan kesehatan dan layanan pencegahan.

Sementara itu, disabilitas dapat berupa:

  • Terkait dengan kondisi yang ada sejak lahir dan dapat mempengaruhi fungsi di kemudian hari, termasuk kognisi (ingatan, pembelajaran, dan pemahaman), mobilitas (bergerak di sekitar lingkungan), penglihatan, pendengaran, perilaku, dan area lainnya. Kondisi ini mungkin:
  1. Gangguan pada gen tunggal (misalnya, distrofi otot Duchenne);
  2. Gangguan kromosom (misalnya, sindrom Down); dan
  3. Akibat paparan ibu selama kehamilan terhadap infeksi (misalnya rubella) atau zat, seperti alkohol atau rokok.
  • Terkait dengan kondisi perkembangan yang menjadi jelas selama masa kanak-kanak (misalnya, gangguan spektrum autisme dan gangguan attention-deficit/hyperactivity atau ADHD).
  • Terkait dengan cedera (misalnya, cedera otak traumatis atau ikon eksternal cedera tulang belakang).
  • Terkait dengan kondisi yang sudah berlangsung lama (misalnya diabetes), yang dapat menyebabkan kecacatan seperti kehilangan penglihatan, kerusakan saraf, atau kehilangan anggota tubuh.
  • Progresif (misalnya, distrofi otot), statis (misalnya, kehilangan anggota badan), atau intermiten (misalnya, beberapa bentuk ikon eksternal sklerosis multipel).

Baca Juga: Agar Tetap Etis, Ini 5 Cara Berinteraksi dengan Penyandang Disabilitas

Disabilitas dari Sudut Pandang Global

difabel

Foto: Orami Photo Stock

Disabilitas adalah bagian dari menjadi manusia. Hampir setiap orang akan mengalami kecacatan sementara atau permanen pada suatu saat dalam hidupnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa ada lebih dari satu miliar orang atau sekitar 15 persen dari populasi global, harus hidup dengan beberapa bentuk disabilitas dan jumlah ini terus meningkat.

Disabilitas merupakan hasil interaksi antara individu dengan kondisi kesehatan seperti cerebral palsy, sindrom Down, dan depresi serta faktor pribadi dan lingkungan termasuk sikap negatif, transportasi dan bangunan umum yang tidak dapat diakses, dan dukungan sosial yang terbatas.

Penyandang disabilitas mengalami hasil kesehatan yang lebih buruk, memiliki akses yang lebih sedikit ke pendidikan dan kesempatan kerja, dan lebih mungkin untuk hidup dalam kemiskinan daripada mereka yang tidak memiliki disabilitas.

Sangat sering penyandang disabilitas tidak menerima layanan kesehatan yang mereka butuhkan. Bukti menunjukkan bahwa setengah dari penyandang disabilitas tidak mampu membayar perawatan kesehatan.

Penyandang disabilitas juga lebih dari dua kali lebih mungkin menemukan keterampilan penyedia layanan kesehatan tidak memadai.

Kemajuan besar telah dibuat untuk membuat dunia lebih mudah diakses oleh orang-orang yang hidup dengan disabilitas tetapi lebih banyak pekerjaan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Baca Juga: Dibalik Kekurangannya, 5 Penyandang Disabilitas Ini Punya Bakat Mengagumkan

Namun WHO telah bekerja untuk sepenuhnya mengintegrasikan dan mempromosikan inklusi disabilitas di sektor kesehatan. Mereka bekerja untuk memastikan penyandang disabilitas untuk terpenuhi kebutuhannya, seperti:

  • Memiliki akses yang adil ke pelayanan kesehatan yang efektif;
  • Masuk dalam kesiapsiagaan dan tanggap darurat kesehatan; dan,
  • Dapat mengakses intervensi kesehatan masyarakat lintas sektor untuk mencapai standar kesehatan tertinggi yang dapat dicapai.

WHO juga meluncurkan Kebijakan Disabilitas dan rencana aksi untuk implementasinya.

Dokumen-dokumen ini akan menjadi agenda untuk menerapkan Strategi Inklusi Disabilitas PBB di seluruh WHO yang akan memastikan inklusi disabilitas secara konsisten dan sistematis terintegrasi ke dalam semua aspek kerja operasional dan program WHO.

Sebab sangatlah penting untuk memperbaiki kondisi di masyarakat dengan menyediakan akomodasi yang mengurangi atau menghilangkan pembatasan aktivitas dan pembatasan partisipasi bagi mereka dengan disabilitas.

Ini ditujukan supaya mereka tetap dapat berpartisipasi dalam peran dan aktivitas kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Anak-anak Penyandang Disabilitas Ini Memiliki Prestasi yang Luar Biasa, Lo!

Penggunaan Istilah Disabilitas dan Difabel

difabel

Foto: Orami Photo Stock

Dari definisi di atas, bisa disimpulkan bahwa istilah disabilitas dan difabel sebenarnya tidak jauh beda. Perbedaan dari keduanya bisa dilihat dari penggunaan istilah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, seorang anak yang mengidap disleksia bisa disebut sebagai penyandang disabilitas, karena ia tidak mampu membaca dengan normal.

Namun, ia juga bisa dikatakan difabel karena ia akan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, misalnya untuk membaca buku pelajaran.

Disleksia juga tercatat sebagai salah satu disabilitas yang sulit disembuhkan, akan tetapi ia bisa diatasi. Pengidapnya bisa menggunakan rekaman atau video untuk belajar.

Dengan begitu, sifat difabelnya akan berkurang, karena ia tetap bisa memenuhi aktivitasnya sehari-hari, meski sebenarnya ia tetap memiliki disabilitas.

Inilah mengapa sebutan difabel menjadi lebih halus dibandingkan disabilitas. Hal ini karena terdapat derajat ringan dan berat pada kata difabel.

Sementara itu, dengan menyebut pelajar tadi sebagai seorang penyandang disabilitas, seakan-akan Moms tidak melihat usahanya untuk mengatasi keterbatasannya.

Setelah memahami perbedaan disabilitas dan difabel, maka kini Moms diharapkan dapat lebih menunjukkan rasa empati dan tidak merendahkan penyandang disabilitas.

Bahkan Moms perlu untuk membantu mengatasi keterbatasannya.

  • https://www.cdc.gov/ncbddd/disabilityandhealth/disability.html
  • https://www.who.int/health-topics/disability#tab=tab_1
  • https://www.who.int/classifications/international-classification-of-functioning-disability-and-health
  • http://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK44667/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait