Gratis Ongkir minimum Rp 250.000* Lihat detil

DIREKTORI

Belanja Berdasarkan Kategori :
Belanja Berdasarkan Kategori
DIREKTORI BELANJA
  • Promo & Highlights

  • Kebutuhan Bayi

  • Perlengkapan Bayi

  • Perawatan Pribadi

  • Supermarket

  • Rumah & Dekorasi

  • Kosmetik

  • Alat Kecantikan

  • Pakaian & Aksesoris

  • Kesehatan

  • Mainan & Media

  • Gadget & Elektronik

  • Harga Terbaik
  • Brand Pilihan
  • Promo ANZ 30% Semua produk




Faktor Risiko dan Penyebab Keguguran yang Paling Sering Terjadi

Bagikan


Faktor Risiko dan Penyebab Keguguran yang Paling Sering Terjadi

Menurut Dr. Kanadi Sumapraja, SpOG(K), staf bagian obserti dan Ginekologi FKUI-RSCM Keguguran adalah berhentinya proses kehamilan sebelum mencapai usia 20 minggu.

Karena itu dengan memahami beberapa faktor risiko dan penyebab keguguran yang paling sering terjadi, Moms dapat mengantisipasi kemungkinan keguguran dan membantu dokter untuk mempertimbangkan perawatan medis yang mungkin dibutuhkan.

Baca: 7 Penyebab Keguguran Paling Umum

Penyebab keguguran

Selama kehamilan, tubuh memasok hormon dan nutrisi ke janin yang sedang berkembang. Kebanyakan keguguran trimester pertama terjadi karena janin tidak berkembang secara normal. Ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan hal ini.

  1. Kelainan gen atau kromosom

Sebagian besar keguguran terjadi karena janin tidak berkembang secara normal. Sekitar 50 persen keguguran dikaitkan dengan kromosom ekstra atau kromosom yang hilang.

Paling sering, masalah kromosom diakibatkan oleh kesalahan yang terjadi secara kebetulan saat embrio terbagi dan tumbuh―bukan masalah yang diwarisi dari orang tua.

Kelainan kromosom bisa menyebabkan:

Kehamilan kosong (blighted ovum), terjadi bila sel telur yang telah dibuahi tertanam pada bagian dalam rahim, namun tidak ada embrio yang terbentuk.

Kematian janin dalam kandungan (Intrauterine fetal demise). Dalam situasi ini, embrio terbentuk tetapi berhenti berkembang dan mati sebelum timbul gejala keguguran.

Kehamilan anggur (molar pregnancy). Dengan kehamilan anggur, kedua kromosom tersebut berasal dari ayah. Kehamilan anggur dikaitkan dengan pertumbuhan plasenta abnormal; biasanya tidak ada perkembangan janin.

Kehamilan anggur parsial (partial molar pregnancy), terjadi saat kromosom ibu tetap ada, namun sang ayah menyediakan dua set kromosom. Kehamilan anggur parsial biasanya dikaitkan dengan kelainan plasenta dan janin.

Baca Juga : Cara Mengatasi Trauma Pasca Keguguran

  1. Kondisi kesehatan ibu

Kondisi kesehatan eksternal, kebiasaan gaya hidup, dan kondisi yang mendasarinya juga dapat mengganggu perkembangan janin, terutama pada trimester kedua. Berbagai kondisi yang bisa mengganggu perkembangan janin antara lain:

  • Diet buruk atau kekurangan gizi
  • Penggunaan narkoba dan alkohol
  • Usia lanjut
  • Penyakit tiroid yang tidak diobati
  • Diabetes yang tidak terkontrol
  • Infeksi
  • Trauma
  • Obesitas
  • Masalah leher rahim
  • Kelainan bentuk rahim
  • Tekanan darah tinggi yang parah
  • Keracunan makanan
  • Obat-obatan tertentu
  • Aktivitas rutin yang tidak menyebabkan keguguran:
  • Olahraga, termasuk aktivitas dengan intensitas tinggi seperti jogging dan bersepeda.
  • Hubungan seksual.
  • Bekerja, asalkan tidak terkena paparan bahan kimia berbahaya atau radiasi. Terkait hal ini sebaiknya bicarakan dengan dokter jika Moms khawatir dengan risiko yang terkait dengan pekerjaan.

Baca Juga : Hamil Setelah Keguguran, Apakah Berbahaya?

Faktor risiko keguguran

Sebagian besar keguguran disebabkan oleh penyebab alami dan tidak dapat disembuhkan. Namun, faktor risiko tertentu dapat meningkatkan peluang mengalami keguguran termasuk:

Wanita yang lebih tua dari usia 35 berisiko lebih tinggi daripada wanita yang lebih muda.

Riwayat keguguran sebelumnya. Wanita yang memiliki riwayat dua atau lebih keguguran berturut-turut berisiko lebih tinggi.

Kondisi kronis, seperti diabetes yang tidak terkontrol.

Masalah uterus atau leher rahim, yaitu kelainan uterus tertentu atau jaringan serviks yang lemah (tidak kompeten).

Kebiasaan buruk sebelum dan selama hamil, seperti merokok, alkohol dan obat-obatan terlarang.

Berat badan. Terlalu kurus atau kelebihan berat badan dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran.

Tes prenatal invasif, seperti tes genetik prenatal invasif juga berisiko lebih tinggi.

Pernahkah Moms mengalami keguguran? Silakan bagikan pengalaman Moms ya.

(ROS)

Sumber: healthline.com, mayoclinic.org

Bagikan

Artikel Terkait



Newsletter

Dapatkan diskon dan penawaran spesial setiap hari melalui email kamu dengan berlangganan newsletter.