Trimester 2

27 April 2021

Gejala dan Penyebab Solusio Plasenta, Putusnya Plasenta dari Dinding Rahim saat Hamil

Solusio plasenta ditandai dengan gerakan janin yang berkurang dan perut terasa sangat sakit
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Riskita
Disunting oleh Amelia Puteri

Kehamilan merupakan masa yang penuh kebahagiaan, tetapi juga butuh kehati-hatian. Jangan sampai Moms mengalami solusio plasenta. Solusi plasenta merupakan istilah yang merujuk pada kondisi putusnya plasenta dari dinding rahim saat hamil.

Solusio plasenta termasuk dalam suatu kelainan pada ibu hamil ketika sebagian atau keseluruhan plasenta terlepas dari dinding rahim.

Plasenta merupakan organ penting yang berkembang selama kehamilan dan menempel pada dinding rahim. Plasenta berfungsi sebagai alat komunikasi antara Moms dengan janin dalam memberikan nutrisi dan oksigen, serta menyebabkan pendarahan hebat pada ibu.

“Kelainan ini umumnya terjadi pada usia kehamilan di atas 20 minggu hingga melahirkan. Dalam ilmu kedokteran, istilah ini disebut sebagai solusio plasenta atau placenta abruption,” terang dr. Putri Deva Karimah, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah – Pondok Indah.

Meski kondisi ini jarang terjadi, tetapi perlu diwaspadai karena termasuk kelainan yang serius. Apabila solusio plasenta yang terjadi secara tiba-tiba tak segera ditangani, hal tersebut dapat membahayakan Moms serta bayinya di dalam kandungan.

Sebagai informasi untuk Moms, berikut gejala, penyebab, diagnosis, dan penanganan solusio plasenta.

Baca Juga: Tumor Rahim Saat Hamil, Ini Gejala, Komplikasi, dan Penanganannya

Gejala Solusio Plasenta

Gejala Solusio Plasenta

Foto: Orami Photo Stock

Salah satu gejala yang mungkin akan dirasakan oleh ibu adalah gerakan bayi yang sudah berkurang dan perut terasa sakit sekali. Selain itu, ada beberapa gejala umum lainnya juga yang akan ibu rasakan.

  • Perdarahan keluar dari vagina sebesar 78 persen
  • Perut teraba keras dan nyeri saat dilakukan penekanan, dan adanya nyeri punggung
  • Detak jantung janin dan pergerakan janin berkurang atau sulit untuk dinilai atau yang disebut fetal non-reassuring
  • Rahim berkontraksi lebih dari 5 kali atau selama 10 menit
  • Rahim berkontraksi sangat sering (hipertonus)

Namun berdasarkan derajat keparahannya, gejala solusio plasenta terbagi menjadi 4 kelas seperti di bawah ini.

Kelas O

"Pada kelas ini, tidak ada tanda atau gejala tertentu yang akan dialami oleh ibu hamil. Karena plasenta kelas ini baru ditemukan setelah kelahiran," ungkap dr. Putri.

Kelas 1

Pada kelas satu ini, gejala plasenta putus yang akan dialami berupa perdarahan yang ringan hingga tidak ada. Lalu akan merasakan nyeri ringan saat kontraksi rahim.

Sedangkan untuk tekanan darah dan nadi akan terasa normal, serta kondisi janin pun normal.

Kelas 2

Pada tingkat ini, akan terjadi perdarahan ringan, bahkan bisa tidak ada. Nyeri saat kontraksi rahim akan terasa sedang saja, namun bisa juga berat. Terdapat perubahan tekanan darah dan nadi terasa cepat.

Kondisi ini juga memungkinkan terjadinya hipofibrinogenemia. Moms harus khawatir pada kondisi janin di saat ini.

Kelas 3

Ciri-ciri plasenta putus pada tahap ini mulai dari perdarahan berat, sangat nyeri/sering kontraksi, terjadi syok pada ibu yang mengakibatkan nadi dan tensi rendah, terjadi hipofibrinogenemia atau koagulopati, hingga pada kasus terberatnya kematian janin.

Baca Juga: Ketahui 23 Senam Hamil 9 Bulan Agar Cepat Kontraksi dan Melancarkan Persalinan

Faktor Penyebab Solusio Plasenta

Faktor Penyebab Solusio Plasenta

Foto: Orami Photo Stock

Mengutip Mayo Clinic, penyebab solusio plasenta seringkali tidak diketahui. Kemungkinan penyebabnya termasuk trauma atau cedera pada perut.

Misalnya, karena Moms melakukan pijat hamil secara sembarangan.

“Tidak jarang pasien datang kontrol dan mengatakan perut terasa sakit sekali dan gerakan bayi sudah berkurang, setelah ditanyakan lebih lanjut ternyata pasien sebelumnya sempat diurut di tukang pijat yang tidak mempunyai ilmu tentang kehamilan,” tutur dr. Putri Deva Karimah, Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan RS Pondok Indah – Pondok Indah

Menurutnya, ini merupakan salah satu contoh penyebab tersering terjadinya solusio plasenta. Oleh karena itu, lebih baik berhati-hati dalam memilih ahli pijat atau urut.

Pilih terapis yang mempunyai sertifikasi atau paham mengenai kehamilan, dan lebih baik lagi jangan melakukan pemijatan di area perut.

Faktor lain yang memicu terjadinya solusio plasenta, seperti:

  • Trauma atau cedera pada bagian perut ibu, seperti kecelakaan, terjatuh, maupun kehilangan cairan ketuban
  • Pernah menderita solusio plasenta pada kehamilan sebelumnya
  • Memiliki kebiasaan merokok atau mengonsumsi kokain
  • Tingginya tekanan darah selama masa kehamilan, sehingga menimbulkan preeklampsia maupun eklampsia
  • Memiliki penyakit kencing manis atau diabetes
  • Ibu hamil berada pada usia di atas 35 tahun atau kurang dari 20 tahun
  • Sedang mengandung lebih dari satu bayi atau mengandung bayi kembar
  • Adanya infeksi pada cairan ketuban selama masa kehamilan yang disebut chorioamnionitis
  • Timbulnya ketuban pecah secara dini, sehingga menyebabkan kebocoran cairan ketuban sebelum masa kehamilan berakhir
  • Jumlah ketuban sedikit
  • Terdapat miom pada rahim
  • Memiliki masalah pada darah seperti Thrombophilia

Baca Juga: 5 Cara Menggunakan Essential Oil untuk Pijat Hamil

Dampak Solusio Plasenta

Dampak Solusio Plasenta

Foto: Orami Photo Stock

Terputusnya plasenta dari dinding rahim atau solusio plasenta ini tak hanya memengaruhi pasokan oksigen atau nutrisi antara ibu dan bayi. Terdapat banyak dampak lain dari solusio plasenta.

Dampak solusio plasenta bagi ibu hamil

  • Syok karena kehilangan darah
  • Masalah pembekuan darah
  • Perlunya transfusi darah
  • Kegagalan ginjal atau organ lain akibat kehilangan darah
  • Perlu melakukan histerektomi (operasi pengangkatan rahim), jika perdarahan uterus tidak dapat dikontrol, tetapi kasus ini cukup jarang terjadi

Dampak solusio plasenta bagi bayi

  • Pertumbuhan terhambat karena tidak mendapatkan nutrisi yang cukup
  • Tidak mendapatkan cukup oksigen
  • Lahir prematur
  • Kematian bayi

Baca Juga: 6 Keistimewaan Bayi Prematur yang Perlu Moms Ketahui

Diagnosis Solusio Plasenta

Diagnosis Solusio Plasenta

Foto: Orami Photo Stock

Solusio plasenta atau plasenta putus dapat dinilai dengan melakukan beberapa metode penilaian oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan, yang meliputi:

  • Pemeriksaan fisik guna menilai kondisi perut dan rahim, serta menilai rasa nyeri dan lokasi nyeri
  • Tes darah dan tes urin, untuk melihat kadar perdarahan dan apakah terdapat kontaminasi darah pada urin atau tidak
  • Pemeriksaan dalam pada vagina dan serviks atau leher rahim, untuk mengetahui apakah terdapat perdarahan dari vagina atau tidak, yang merupakan salah satu gejala tersering (sebesar 78 persen)
  • Pemeriksaan ultrasound (USG), untuk melihat kondisi rahim, lokasi penempelan, atau pelepasan plasenta, apakah ada perdarahan di dalam rahim atau tidak, dan juga untuk menilai kondisi janin, seperti denyut jantung janin
  • Meski demikian, diagnosis pasti solusio plasenta dapat dilihat setelah bayi lahir

Penanganan Solusio Plasenta

Penanganan Solusio Plasenta

Foto: Orami Photo Stock

Dilansir dari WebMD, apabila ibu hamil mengalami solusio plasenta, plasenta tidak dapat dipasang kembali pada dinding rahim. Jadi, pilihan penanganannya bergantung pada usia kehamilan, tingkat keparahan solusio dan status ibu dan bayi.

1. Jika Usia Kehamilan Kurang dari 34 Minggu

Moms mungkin harus dirawat di rumah sakit untuk pemantauan, selama detak jantung bayi normal dan solusio plasenta tampaknya tidak parah.

Apabila bayi tampak baik-baik saja dan Moms berhenti mengeluarkan darah, dokter mungkin bisa menyarankan untuk pulang.

Moms mungkin juga diberi steroid untuk membantu paru-paru bayi berkembang lebih cepat jika kelahiran perlu dilakukan lebih awal.

2. Jika Usia Kehamilan Lebih dari 34 Minggu

Moms mungkin masih bisa melahirkan melalui vagina jika solusio plasenta tidak tampak parah.

Jika ya, dan itu membahayakan kesehatan ibu dan bayinya, Moms mungkin memerlukan operasi caesar segera untuk mengurangi risiko komplikasi. Moms juga bisa saja membutuhkan transfusi darah.

3. Solusio Plasenta Sedang Hingga Berat

Derajat solusio plasenta ini ditandai dengan kehilangan darah yang signifikan dan komplikasi pada ibu dan bayi. Biasanya dalam kasus ini membutuhkan persalinan segera, seringkali dengan operasi caesar.

Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, jika dokter tidak dapat menghentikan pendarahan, Moms mungkin memerlukan histerektomi. Ini adalah operasi pengangkatan rahim.

Namun sekali lagi, kondisi ini adalah kasus perdarahan hebat yang jarang terjadi, Moms.

Baca Juga: 7+ Makanan Penguat Kandungan di Awal Kehamilan, Salah Satunya Kurma!

Pencegahan Solusio Plasenta

Pencegahan Solusio Plasenta

Foto: Orami Photo Stock

Mengingat solusio plasenta sering kali terjadi secara tiba-tiba, maka hal ini tidak dapat dicegah. Namun, Moms dapat menurunkan faktor risiko tertentu.

Misalnya, jangan merokok atau menggunakan obat-obatan terlarang, seperti kokain, yang dapat membahayakan janin di dalam kandungan.

Bila Moms memiliki riwayat tekanan darah tinggi, bekerja samalah dengan penyedia layanan kesehatan untuk memantau kondisinya.

Perlu Moms ingat juga bahwa sebaiknya selalu kenakan sabuk pengaman saat berada di dalam kendaraan bermotor.

Jika pernah mengalami trauma perut akibat kecelakaan mobil, jatuh atau cedera lainnya, segeralah dapatkan bantuan medis.

Selain itu, jika Moms pernah mengalami solusio plasenta, dan merencanakan kehamilan lagi, bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan sebelum hamil lagi, untuk mengetahui apakah ada cara untuk mengurangi risiko solusio plasenta berikutnya.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait