Trimester 1

26 Januari 2021

Pengapuran Plasenta Saat Hamil Bisa Terjadi, Ketahui Faktor Risiko, Gejala, dan Pencegahannya

Hal normal yang terjadi seiring bertambahnya usia kehamilan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Waritsa Asri
Disunting oleh Amelia Puteri

Seiring berjalannya usia kehamilan, plasenta pun akan menua. Pada akhir masa kehamilan, kemampuannya untuk memasok oksigen dan makanan ke Si Kecil dalam kandungan pun berkurang.

Lalu, Moms pun wajib untuk melahirkan bayi bila telah memasuki minggu ke-42, karena sudah terjadi pengapuran plasenta, yang menjadikan bayi sulit bernapas di dalam rahim atau bahkan susah mendapatkan nutrisi dari ibu.

Menurut jurnal Frontiers in Physiology, pengapuran plasenta terjadi ketika deposit kalsium bulat dan kecil menumpuk di plasenta, menyebabkannya memburuk secara bertahap.

Proses ini terjadi secara alami ketika Moms semakin mendekati akhir kehamilan.

Baca Juga:Mengenal Plasenta Bayi dan Manfaatnya Bagi Janin Dalam Rahim

Namun, jika pengapuran plasenta saat hamil terjadi sebelum minggu ke-36, dapat menyebabkan komplikasi untuk Moms dan Si Kecil dalam kandungan.

Komplikasi seperti pembatasan pertumbuhan janin dan gawat janin empat kali lebih mungkin dalam kasus pengapuran plasenta.

Nah, plasenta biasanya digambarkan melalui empat tingkatan, dari 0 (paling tidak dewasa) hingga III (paling matang).

Semua plasenta mulai dari tingkat nol pada awal kehamilan. Perubahan dapat dilihat mulai 12 minggu ke depan. Saat kehamilan berlanjut, plasenta menjadi matang dan mengalami pengapuran.

Artikel dari Baby Center mengklasifisikasikan tingkatan plasenta pada sekitar waktu berikut:

  • Tingkat 0. Sebelum 18 minggu kehamilan.
  • Tingkat I. Sekitar 18 hingga 29 minggu kehamilan.
  • Kelas II. Sekitar 30 hingga 38 minggu kehamilan.
  • Kelas III. Sekitar 39 minggu kehamilan. Biasanya tidak terlihat sebelum 38 minggu. Plasenta derajat III dikenal sebagai plasenta yang sangat terkalsifikasi. Pada tahap ini, pembentukan lekukan atau struktur seperti cincin dapat dilihat di dalam plasenta.

Lalu, apa saja faktor risiko dari kondisi ini dan seperti apa tanda-tandanya? Simak lebih lanjut penjelasannya berikut ini, Moms.

Baca Juga: Kenali Plasenta Bayi dan Bentuk Plasentanya, Jadi Organ Penting!

Faktor Risiko Pengapuran Plasenta Saat Hamil

Faktor Risiko Pengapuran Plasenta Saat Hamil

Foto: Orami Photo Stocks

Pengapuran plasenta terjadi secara alami menjelang akhir kehamilan saat plasenta mulai menua. Ini terjadi dalam berbagai derajat dan tidak sering menjadi masalah saat hamil 37 minggu terakhir.

Jika terjadi kalsifikasi di awal kehamilan, yaitu sebelum 36 minggu, ini bisa menjadi risiko.

Bila plasenta Moms tidak berfungsi dengan baik, janin yang sedang tumbuh mungkin tidak menerima semua nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang secara memadai.

Berikut ini adalah faktor risiko pengapuran plasenta yang paling umum

  1. Merokok (bahkan terkena perokok pasif)
  2. Stres
  3. Tekanan darah tinggi
  4. Solusio plasenta (plasenta mulai terlepas dari rahim)
  5. Tekanan darah tinggi
  6. Peningkatan asupan kalsium
  7. Obat-obatan tertentu

Baca Juga: 4 Risiko Plasenta Previa dan Cara Menanganinya, Bumil Wajib Tahu!

Tanda Pengapuran Plasenta Saat Hamil

Biasanya cara untuk mendiagnosis pengapuran plasenta saat hamil adalah melalui ultrasonografi panggul.

Namun, dalam beberapa kasus, pengapuran plasenta bisa terdiagnosis selama sonografi rutin selama kehamilan.

Di samping itu, ada juga tanda pengapuran plasenta saat hamil yang bisa diketahui:

1. Janin Minim Gerakan

Ilustrasi janin

Foto: Orami Photo Stocks

Tanda pengapuran plasenta saat hamil yang paling umum adalah janin minim gerakan dari biasanya atau berhenti bergerak sama sekali, meskipun mereka sudah dekat dengan waktu persalinan.

Ibu dengan kondisi biasanya akan melihat bahwa janin mereka kurang bergerak ketika mereka bangun di pagi hari.

Maka, ada baiknya langsung hubungi dokter kandungan atau bidan. Percayalah naluri dan intuisi keibuan Moms.

Baca Juga:Gejala dan Cara Menangani Plasenta Previa, Bumil Harus Tahu!

2. Komplikasi Kehamilan

Ilustrasi kontraksi rahim

Foto: Orami Photo Stocks

Tanda lain pengapuran plasenta saat hamil yaitu pendarahan vagina, kontraksi rahim, rasa sakit di perut atau punggung bagian bawah.

Jika Moms mengalami kondisi ini, ada baiknya langsung berkonsultasi ke dokter kandungan, ya.

Baca Juga:Plasenta Putus saat Hamil, Mengapa Bisa Terjadi?

3. Pertumbuhan Perut Berbeda

Ilustrasi perut ibu hamil

Foto: Orami Photo Stocks

Moms mungkin juga memerhatikan bahwa perut tidak tumbuh sebagaimana mestinya, yang mengindikasikan adanya hambatan dalam pertumbuhan janin.

Bila semua gejala ini dapat mengindikasikan komplikasi serius lainnya pada kehamilan, langsung hubungi dokter jika Moms mengalaminya.

Ada risiko komplikasi yang lebih besar dari kalsifikasi plasenta ketika Moms belum cukup bulan, terutama pada usia 36 minggu atau kurang.

Jika dokter kandungan mendeteksi pengapuran prematur di plasenta, dokter dapat memonitor bayi lebih dekat untuk memastikan mereka mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup.

Baca Juga: Penjelasan Tentang Plasenta Anterior yang Harus Moms Ketahui

Mencegah Pengapuran Plasenta Saat Hamil

Mencegah Pengapuran Plasenta

Foto: Orami Photo Stocks

Dalam jurnal Developmental Biology, kalsifikasi plasenta, ditandai dengan pembentukan lekukan atau struktur seperti cincin secara bertahap oleh pengendapan kalsium di dalam plasenta.

Kondisi ini sering ditemukan pada kehamilan aterm dan dianggap sebagai proses penuaan fisiologis.

Tetapi, beberapa derajat pengapuran dapat diterima dalam kehamilan dalam jumlah bulan yang sehat.

Namun, Moms dapat mencegah pengapuran plasenta dini dengan beberapa cara berikut ini:

  1. Makan makanan yang sehat dan seimbang
  2. Tidak merokok dan menghindari perokok pasif
  3. Tetap tenang dan mengurangi stres dalam kehamilan Moms.
  4. Melakukan pemeriksaan rutin dengan dokter kandungan atau bidan Anda untuk mengidentifikasi faktor risiko apa pun
  5. Pemeriksaan rutin pertumbuhan janin.

Kalsifikasi plasenta dapat menghambat perkembangan bayi di dalam rahim ibu dan juga beberapa komplikasi lainnya. Salah satu penyebab utama pengapuran plasenta adalah merokok selama kehamilan.

Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk tidak merokok selama masa kehamilan.

Selain itu, mengutip Parenting First Cry, nanobakteri yang juga menyebabkan batu ginjal menjadi salah satu penyebab di balik kondisi ini.

Namun, tidak ada cara untuk mencegahnya karena kondisi ini juga bisa terjadi pada orang yang juga sehat.

Apa yang terpenting, asupan vitamin, nutrisi dan makanan sehat yang mengandung antioksidan secara teratur dapat menghentikan penuaan dini pada plasenta.

Terutama, makanan yang mengandung vitamin E, vitamin C dan beta karoten harus dikonsumsi lebih banyak untuk mencegah kondisi serius ini selama kehamilan.

Kondisi ini kemungkinan besar memengaruhi wanita yang hamil di usia dini. Oleh karena itu, menghindari kehamilan hingga tubuh matang bisa menjadi cara untuk menghindari penuaan dini pada plasenta.

Penyebab pasti dari pengapuran atau kalsifikasi plasenta tidak diketahui.

Namun, dengan menjalani gaya hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi, dan melakukan pemeriksaan rutin selama kehamilan dapat mencegah atau mendeteksi kondisi tersebut.

Semakin awal pengapuran plasenta, semakin besar risiko yang mungkin terjadi pada bayi dan kelahiran prematur.

Jika dokter kandungan menemukan pengapuran yang signifikan, mereka mungkin merekomendasikan operasi caesar atau menginduksi persalinan untuk mengurangi risikonya.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait