Parenting

12 Januari 2022

Generasi Alpha, Anak-Anak Kaum Milenial yang Sudah Serba Digital

Moms perlu memahami karakternya untuk bisa menghadapinya dengan baik
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Mungkin kita sudah sering mendengar tentang generasi Z, generasi Y, bahkan generasi milenial. Pengkategorian generasi-generasi ini didasarkan pada tahun kelahiran masing-masing orang. Tapi tahukah Moms mengenai generasi alpha?

Sudah tidak lagi berkutat dengen generasi milenial, kini dunia mulai kehadiran satu generasi baru, yaitu generasi alpha yang disebut-sebut sebagai anak dari generasi milenial.

Rata-rata generasi milenial kini sudah menjadi orang tua dan generasi Z masuk dalam fase dewasa muda. Karena lingkungannya tidak seperti generasi sebelumnya, pengasuhannya pun memiliki tantangan yang menarik bagi orang tua mereka yang lahir di dunia yang relatif belum terdigitalisasi.

Baca Juga: Tak Hanya Milenial, Yuk Kenalan dengan 5 Generasi yang Ada Saat Ini

Apa Itu Generasi Alpha?

generasi alpha

Foto: Taylorherring.com

Generasi alpha, juga dikenal sebagai 'anak-anak milenium', adalah generasi pertama yang semuanya lahir di abad ke-21. Mark McCrindle, seorang peneliti dan konsultan generasi di Australia yang menciptakan istilah tersebut pada tahun 2005.

Dilansir dari laman Forbes, pemilihan tahun 2010 ini dikarenakan tahun tersebut merupakan tahun diluncurkannya Instagram dan iPad, yang lekat dengan istilah teknologi. Yup, anak-anak ini lahir di tengah-tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

McCrindle memperkirakan bahwa sebesar 2,5 juta generasi alpha lahir setiap minggunya di seluruh dunia. Generasi ini akan mencapai total 2 miliar orang di seluruh dunia pada saat orang termuda dilahirkan pada tahun 2025.

Sementara orang tua mereka, kaum milenial, secara informal dikenal sebagai masyarat pengguna digital, banyak generasi alpha sudah memiliki jejak digital bahkan sebelum mereka memahami istilah tersebut.

Dilansir dari Fluxtrend.com, anak-anak selebriti seperti Asahd Khaled, putra dari produser musik yang lebih terkenal, DJ Khaled, dan putra Pangeran William, George, sudah memiliki akun Instagram, yang dikelola oleh orang tua mereka.

Dalam penelitian McCrindle Research menekankan pentingnya memahami ciri-ciri Generasi Alpha, karena mereka mewakili masa depan dan memberikan pandangan untuk melihat dekade berikutnya dan seterusnya.

Baca Juga: 3 Cara Menenangkan Balita Tantrum Tanpa Perlu Memberikan Gadget

Karateristik Anak Generasi Alpha

generasi alpha

Foto: Tts.com

Generasi alpha menggunakan smartphone dan tablet secara alami. Anak-anak ini dilahirkan bersamaan dengan berkembangnya iPhone, iPad, dan aplikasi-aplikasi lainnya. Berikut adalah beberapa karakter yang dimiliki oleh generasi Alpha yang bisa menjadi panduan untuk lebih mengenal Si Kecil.

  • Generasi terdidik dalam sejarah. Ini karena teknologi dan informasi instan yang tersedia saat mereka tumbuh. Mereka akan tumbuh belajar lebih banyak dan lebih dalam tentang dunia daripada semua pendahulunya. Ini juga mengubah sifat dari pendidikan.
  • Paham teknologi. Meski orang tua mereka yang pertama dilahirkan ke dunia digital, tetapi generasi Alpha akan menjadi yang pertama yang memiliki integrasi teknologi yang mulus ke dalam setiap aspek kehidupannya. Mereka akan melampaui orang tua mereka dalam keterampilan teknologi.
  • AI adalah realitas. Tidak mungkin satu generasi sebelumnya untuk membayangkan dampak Siri, Alexa, dan Google Assistance dalam kehidupan dan rumahnya. Bagi generasi Alpha, AI mendominasi realitas dan merupakan bagian alami dari kehidupan mereka. Ini juga akan mempertimbangkan bagaimana mereka akan melihat dunia dengan lautan informasi yang disajikan kepada mereka di setiap langkahnya.
  • Pembelajaran yang sangat personal. Generasi ini terbiasa memiliki akses langsung ke informasi yang membuat perkuliahan dan model pembelajaran lama menjadi usang. Mereka akan belajar dengan kecepatan mereka sendiri dengan pengalaman belajar yang dipersonalisasi. Maka, ruang kelas, modul dan tutorial pembelajaran online akan memfasilitasi pendekatan mereka terhadap pendidikan.
  • Media sosial menjadi cara interaksi yang dominan. Mereka akan berinteraksi dengan teman sebagian besar melalui media sosial dan terhubung sepanjang hari. Itu juga membawa serta kekhawatiran tentang privasi dan intimidasi online. Penerimaan sosial juga menjadi masalah karena akan bergantung pada seberapa banyak mereka disukai secara online. Oleh karena itu, mereka tetap perlu diajari pentingnya interaksi secara langsung.
  • Tidak suka ekonomi berbagi. Etnografi mengungkapkan bahwa generasi ini tidak suka berbagi terlalu banyak, tidak seperti Generasi sebelumnya.
  • Tidak bermain sesuai aturan. Waktu bermain board game dan mewarnai antar garis sudah berakhir. Mereka tidak dapat dibatasi oleh aturan seperti pendahulunya. Energi mereka sulit ditahan, karena dunia digital menghubungkan mereka dengan perspektif yang tak terbatas.
  • Mereka terus berubah. Berbeda dengan generasi yang dapat diprediksi sebelumnya, generasi ini terus berubah. Mereka cenderung lebih individualistis dan, karenanya, tidak termasuk dalam kategori orang yang dominan.
  • Masa kecil yang sangat berbeda. Tidak seperti orang tua milenial mereka yang menikmati waktu luang bermain di luar ruangan dan bahkan menghabiskan sebagian besar hari tanpa melakukan apa-apa, generasi Alpha berbeda. Mereka hidup di dunia stimulasi kognitif yang konstan, sehingga mereka membutuhkan lebih banyak struktur di hari-hari mereka agar mereka tidak gelisah.
  • Akan menjadi tipe karyawan baru di tempat kerja. Pendekatan mereka terhadap pekerjaan dan pemecahan masalah akan berbeda karena berasal dari pemikiran yang lebih beragam dan terbuka. Mereka juga lebih suka bekerja hanya untuk perusahaan yang sejalan dengan prinsip mereka dan merangkul lingkungan kerja yang beragam. Mereka akan memilih teknologi daripada koneksi manusia, sementara pada saat yang sama membutuhkan lebih banyak dukungan kesehatan mental daripada generasi terdahulu.
  • Makanan yang sangat berbeda. Karbohidrat, lemak, dan hal yang bersifat organik akan menjadi bagian besar dari apa yang mereka sukai untuk dinikmati, karena mereka membutuhkan semua energi yang bisa didapatkan. Kebanyakan generasi ini menyukai pasta, makaroni dan keju, dan banyak sereal dengan lemak jenuh. Meskipun dianggap tidak sehat, generasi ini memiliki harapan hidup tertinggi dari kelompok mana pun.
  • Mereka hidup saat ini. Negara-negara dalam beberapa dekade memiliki kekhawatiran tentang kesulitan di masa karena generasi muda yang teralu santai. Salah satu trend hidup untuk saat ini yang populer misalnya tersirat dari anekdot seperti YOLO (You Only Live Once) atau FOMO (Fera Of Missing Out).
  • Mereka funky. Mereka lebih fokus pada gaya dan kenyamanan individu daripada norma sosial,

Baca Juga: 5 Pekerjaan Impian Generasi Millennial

Tips Membesarkan Anak Generasi Alpha

Generasi Alpha -1.jpg

Foto: Parentingfirstcry.com

Dilansir dari Children's Bureau, anak generasi alpha menggunakan teknologi di segala aspek dalam hidupnya, seperti di rumah dan di sekolah. Orang tua milenial terbiasa memperkenalkan anak generasi alpha pada media sosial dan smartphone, bahkan sebelum bisa berbicara.

Moms bisa mempertimbangkan beberapa tips ini untuk dapat beradaptasi dengan pola pengasuhan dari generasi Alpha ini.

  • Anak generasi Alpha adalah tentang teknologi digital. Jadi penting bagi Moms untuk mengikuti perkembangan mereka. Cobalah untuk beradaptasi dan biasakan diri dengan dunia maya. Semakin baik melakukannya, semakin baik Si Kecil juga beradapatasi.
  • Hari-hari pengasuhan otoriter sudah lama berlalu. Sementara orang tua Moms mungkin memiliki kendali penuh, dinamikanya akan berbeda sekarang. Namun, itu tidak berarti Moms mengatakan ya untuk semuanya!
  • Sebelum mengizinkannya menggunakan gadget, Moms harus memberikan penjelasan tentang apa yang boleh dan tidak boleh di internet dan media sosial. Beri tahu juga tentang kelemahan teknologi.
  • Aturan waktu layar/gadget harus jelas sebelum anak-anak dapat mengaksesnya.
  • Generasi ini diguyuri dengan stimulasi otak melalui teknologi. Bagian yang perlu Moms perhatikan adalah bekerja pada hati.
  • Sebagian besar interaksi dan hubungan berubah menjadi online. Jadi sebagai orang tua, adalah tugas Moms untuk mengajari mereka tentang bonding dan kasih sayang. Mereka perlu belajar untuk sadar jika mereka juga harus berkembang secara emosional.
  • Jadilah panutan bagi mereka dan biarkan mereka memilih seberapa banyak kualitas Moms yang ingin mereka raih. Moms mungkin terkejut melihat seberapa baik mereka berkembang.
  • Seimbangkan waktu keluarga dengan screen time. Tetapkan aturan untuk berapa banyak waktu yang dapat mereka habiskan di layar, tetapi jangan terlalu memaksakan waktu keluarga untuk menghindari mereka membencinya.
  • Waspadai konten apa yang mereka lihat secara online tanpa terlihat terlalu mengekang. Mereka pasti akan menemukan jalan kepada konten yang ‘berbahaya’, jadi pastikan Moms tetap berada di sekitarnya untuk membantu mereka memilah.
  • Yang terpenting dari semuanya adalah menjalin hubungan baik dengan anak-anak. Lakukan komunikasi terbuka dan jadilah satu-satunya orang yang dapat mereka andalkan lebih dari siapa pun.

Jika Moms mempersiapkan diri beradaptasi dengan Si Kecil yang merupakan Generasi Alpha, ini akan memudahkan perkembangan anak untuk menghadapi masa depannya.

  • https://www.forbes.com/sites/christinecarter/2016/12/21/the-complete-guide-to-generation-alpha-the-children-of-millennials/
  • https://www.fluxtrends.com/meet-generation-alpha/
  • https://www.all4kids.org/2019/10/29/raising-generation-alpha-kids-a-parenting-guide/
  • https://www.researchgate.net/publication/342803353_UNDERSTANDING_GENERATION_ALPHA
  • https://parenting.firstcry.com/articles/generation-alpha-characteristics-and-parenting-tips/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait