Parenting Islami

25 Maret 2021

Ini Hukum Berhubungan Suami Istri di Bulan Ramadhan, Moms dan Dads Wajib Tahu!

Ternyata, hukum berhubungan suami istri di bulan Ramadhan memiliki dua ketentuan
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Hubungan seksual dalam Islam bukan hanya pemenuhan biologis, tapi juga menjaga keharmonisan yang berpahala. Meski boleh dilakukan kapanpun, namun ada kondisi yang terlarang untu melakukannya. Salah satu yang harus dipahami adalah hukum berhubungan suami istri di bulan Ramadhan.

Meski berhubungan suami istri berpahala, namun jika melanggar aturan selama Ramadhan hal tersebut tidak diperbolehkan. Sebab, puasa di bulan Ramadhan merupakan kewajiban bagi umat Muslim dan termasuk dalam salah satu rukun Islam.

Dalam menjelaskan hal ini, Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183).

Salah satu syarat sah puasa adalah mampu menahan segala hawa nafsu, termasuk nafsu syahwat. Journal of Guilan University of Medical Sciences mencatat, menghindari berbagai rangsangan seksual bisa membantu mengontrol hawa nafsu saat berpuasa.

Baca Juga: Mengatur Aktivitas Seks Saat Puasa Ramadan, Lihat Waktu-Waktu Berikut

Hukum Berhubungan Suami Istri di Bulan Ramadhan

Hukum Berhubungan Suami Istri di Bulan Ramadhan -1

Foto: Orami Photo Stock

Untuk menentukan hukum berhubungan suami istri di bulan Ramadhan, ada beberapa ketentuan yang harus diketahui, salah satunya tentang waktu yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Yakni:

1. Hukum Berhubungan Suami Istri di Bulan Ramadhan: Tidak Boleh

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: “Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Rasulullah SAW, kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau. Lalu pria tersebut mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, celaka aku,’. Kemudian, Rasulullah SAW berkata:

‘Apa yang terjadi padamu?’. Pria tadi menjawab: ‘Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa,’. Kemudian Rasulullah SAW bertanya: ‘Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?’.

Pria tadi menjawab: ‘Tidak’. Kemudian Rasulullah SAW bertanya lagi: ‘Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?’. Pria tadi menjawab: ‘Tidak’. kemudian beliau bertanya lagi: ‘Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?’. Pria tadi juga menjawab: ‘Tidak’.

Kemudian beliau diam. Tatkala dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada beliau. Kemudian beliau berkata, ’Di mana orang yang bertanya tadi?’. Pria tersebut menjawab, ‘Ya, aku,’. Kemudian beliau mengatakan, ‘Ambillah dan bersedakahlah dengannya,’.

Kemudian pria tadi berkata: ‘Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku,’. Kemudian Rasulullah SAW tertawa sampai terlihat gigi taringnya dan berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis tersebut terlihat bahwa hukum berhubungan suami istri di bulan Ramadhan haram dilakukan saat siang hari. Dan jika seseorang melanggarnya, maka orang tersebut harus membayar denda yang telah ditentukan.

Baca Juga: Ketahui 3 Hal Penting Tentang Mimpi Berhubungan Badan Saat Puasa Berikut Ini

2. Hukum Berhubungan Suami Istri di Bulan Ramadhan: Boleh

Dalam Alquran Allah SWT berfirman: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu,

karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam,

(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 187).

Ini adalah landasan yang digunakan mengenai bolehnya hukum berhubungan suami istri di bulan Ramadhan jika dilakukan di malam hari.

3. Mandi Wajib

Setelah mengetahui boleh dan haramnya hukum berhubungan suami istri di bulan Ramadhan, hal lain yang harus diperhatikan adalah tentang mandi wajib. Sebab, puasa adalah ibadah yang harus dilakukan saat seseorang berada dalam kondisi suci.

Berhubungan suami istri termasuk dalam hadas besar dan harus melakukan mandi wajib untuk menghilangkannya sehingga masuk dalam kategori suci yang diperbolehkan untuk berpuasa. Lalu bagaimana jika ternyata telah masuk waktu subuh tapi belum sempat mandi wajib?

Ini tidak jadi masalah, hanya saja harus segera mandi wajib agar bisa sholat Subuh. Untuk puasanya juga tetap sah. ‘Aisyah RA berkat: “Rasulullah SAW pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau mandi dan tetap berpuasa,” (HR Muslim).

Konsekuensi dari dibolehkannya hubungan intim yang berakhir hingga azan Shubuh adalah masih boleh masuk Shubuh dalam keadaan junub.

Baca Juga: Tak Hanya Bisa Bikin Batal, Ini Bahayanya Seks Saat Puasa

Pahala Berhubungan Suami Istri di Bulan Ramadhan

Hukum Berhubungan Suami Istri di Bulan Ramadhan -2

Foto: Orami Photo Stock

Setelah mengetahui hukum berhubungan suami istri di bulan ramadhan, ada baiknya untuk mengetahui hadirnya pahala jika melakukannya, seperti:

1. Mendapat Pahala Sedekah

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Al-Ghifari, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Hubungan badan antara kalian (dengan isteri atau hamba sahaya kalian) adalah sedekah. Para sahabat lantas ada yang bertanya pada Rasulullah SAW:

‘Wahai Rasulullah, apakah dengan kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.”

Meski dimaksudkan pada berhubungan suami istri secara umum, namu jika dilakukan pada bulan Ramadhan dan sesuai ketentuan syara, hal tersebut juga bakal diberikan pahala. Karena bukan hanya menyenangkan pasangan, tapi juga menjalankan sunnah.

2. Mendapat Pahala karena Memenuhi Hak Suami

“Dari Hushain bin Mihshan, bahwasanya saudara perempuan dari bapaknya (yaitu bibinya) pernah mendatangi Rasulullah SAW karena ada suatu keperluan. Setelah ia menyelesaikan keperluannya, Rasulullah SAW bertanya kepadanya: ‘Apakah engkau telah bersuami?’. Ia menjawab, ‘Sudah’.

Beliau bertanya lagi, ‘Bagaimana sikapmu kepada suamimu?’. Ia menjawab, ‘Aku tidak pernah mengurangi (haknya) kecuali yang aku tidak mampu mengerjakannya,’. Rasulullah SAW menjawab: ‘Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) surgamu dan nerakamu.’

3. Pahala Besar Jika Dilakukan dengan Ikhlas

Allah SWT berfirman: ”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.

Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS An-Nisa: 114).

Meski telah berpuasa seharian dan masih tetap beraktivitas, saat pasangan mengajak untuk melakukan suami istri dan sang istri ikhlas melakukannya, aka nada pahala besar yang menantinya karena telah melakukan hal tersebut.

Baca Juga: Ini Posisi Hubungan Suami Istri dalam Islam dan Adabnya, Catat!

4. Terhindar dari Laknat Malaikat

Sebuah hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas si istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu Shubuh.” (HR Bukhari dan Muslim).

Entah beralasan lelah berpuasa atau alasan lainnya, seorang istri yang menolak ajakan suami untuk melakukan hubungan suami istri saat Bulan Ramadhan juga akan dilaknat malaikat. Sebab, ridho suami adalah surga dan neraka bagi istrinya.

5. Terhindar dari Maksiat Saat Puasa

Sebuah hadis dari Jabir bin ‘Abdillah, bahwasanya Rasulullah SAW pernah melihat seorang wanita, lalu ia mendatangi istrinya Zainab yang saat itu sedang menyamak kulit miliknya. Lantas beliau menyelasaikan hajatnya (dengan berhubungan intim), lalu keluar menuju para sahabatnya seraya berkata:

“Sesungguhnya wanita datang dalam rupa setan, dan pergi dalam rupa setan. Jika seorang di antara kalian melihat seorang wanita yang menakjubkan (tanpa sengaja), maka hendaknya ia mendatangi (bersetubuh dengan) istrinya, karena hal itu akan menolak sesuatu (berupa syahwat) yang terdapat pada dirinya.” (HR Muslim).

Saat puasa tentunya harus bisa mengendalikan diri dari syahwat. Oleh karena itu, saat istri berhubungan seks dengan suami saat Ramadhan, bukan hanya berpahala tapi juga dapat menjauhkan suami dari maksiat akibat tidak bisa menjaga pandangannya.

6. Menjadi Manusia yang Paling Baik

Dalam sebuah hadis, Aisyah RA berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah (suami) yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR At- Tirmidzi).

Berhubungan suami istri sebenarnya juga untuk memenuhi hak setiap pasangan. Hal ini juga merupakan sebuah kebaikan yang dilakukan oleh suami dan istri sebagai bentuk kebahagiaan. Apalagi jika Rasulullah SAW pernah melakukannya, ini menjadi bagian dari sunnah nabi.

Karena hukum berhubungan suami istri dibolehkan dengan syarat tertentu, maka memenuhi hak dan kebutuhan biologis pasangan bukan hanya menyenangkan, tapi juga berpahala.

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait