Parenting Islami

PARENTING ISLAMI
27 Januari 2021

Ini Hukum Istri Lebih Mementingkan Keluarganya daripada Suami Menurut Islam, Wajib Tahu!

Sering dilakukan, sebenarnya, apa hukum istri lebih mementingkan keluarganya daripada suami?
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Apakah Moms termasuk istri yang lebih mementingkan keluarganya daripada suami? Bagaimana hukum istri lebih mementingkan keluarganya daripada suami menurut Islam?

Setelah memasuki kehidupan rumah tangga, suami istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Rumah tangganya tersebut sudah berpisang dengan kedua orang tua masing-masing karena saat ini pemimpin dalam rumah tangga yang baru tersebut adalah suami.

Seorang suami adalah pemimpin di dalam rumah tangga, bagi istri, juga bagi anak-anaknya. Allah SWT memberi keutamaan bagi laki-laki yang lebih besar daripada perempuan, karena dialah yang berkewajiban memberi nafkah dan mendidik istri dan keluarganya. Allah SWT berfirman:

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya.” (QS An-Nisaa’: 34).

Meski suami maupun istri memiliki hak dan kewajiban, namun suami mempunyai kelebihan atas isterinya. Allah SWT berfirman: “Dan mereka (para perempuan) memiliki hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang pantas. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana,. (QS Al-Baqarah: 228).

Namun, ada beberapa istri yang belum memahami sepenuhnya atas hal tersebut, sehingga masih saja menomorsatukan keluarganya dibanding dengan suaminya. Sebenarnya, apa hukum istri lebih mementingkan keluarganya daripada suami? Simak penjelasannya di sini!

Baca Juga: Rahasia Agar Rumah Tangga Selalu Bahagia

Ketaatan Istri Kepada Suaminya

Hukum Istri Lebih Mementingkan Keluarganya Daripada Suami -1

Foto: Orami Photo Stock

Hukum istri lebih mementingkan keluarganya daripada suami akan tergambar dalam ketaatan istri kepada suami. Sebab, setelah wali isteri menyerahkan kepada suami, maka kewajiban taat kepada suami menjadi hak tertinggi yang harus dipenuhi, setelah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dikutip dari Islamidia, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang perempuan sujud kepada suaminya,. (HR Tirmidzi no 1159, dinilai oleh al Albani sebagai hadits hasan shahih).

Sujud merupakan bentuk ketundukan, sehingga hadits tersebut mengandung makna bahwa suami mendapatkan hak terbesar atas ketaatan isteri. Sedangkan kata: “Seandainya aku boleh…,” menunjukkan bahwa sujud kepada manusia tidak boleh (dilarang) dan hukumnya haram.

Istri harus taat kepada suaminya dalam hal-hal ma’ruf atau yang mengandung kebaikan dalam agama. Misalnya ketika diajak untuk bersetubuh, diperintahkan untuk shalat, berpuasa, shadaqah, dan bentuk-bentuk perintah lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at.

Saat taat pada suami, istri juga akan diberi pahala surga. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya".

Dalam Islam, istri bahkan dilarang berpuasa sunnat kecuali dengan izin suaminya, apabila suami berada di rumahnya. Ini menunjukkan bahwa apapun yang dilakukan istri, harus mendapatkan izin dari suami. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW:

“Tidak boleh seorang perempuan puasa (sunnat) sedangkan suaminya ada (tidak safar) kecuali dengan izinnya. Tidak boleh ia mengizinkan seseorang memasuki rumahnya kecuali dengan izinnya dan apabila ia menginfakkan harta dari usaha suaminya tanpa perintahnya, maka separuh ganjarannya adalah untuk suaminya.”

Dalam hadits ini seorang istri dilarang puasa sunnat tanpa izin dari suami dan sifatnya haram dilakukan. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullaah mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat petunjuk bahwa hak suami lebih utama dari amalan sunnah, karena hak suami merupakan kewajiban bagi istri. Melaksanakan kewajiban harus didahulukan daripada melaksanakan amalan sunnah,”

Baca Juga: 6 Topik Debat yang Sering Terjadi dalam Rumah Tangga

Hukum Istri Lebih Mementingkan Keluarganya Daripada Suami

Hukum Istri Lebih Mementingkan Keluarganya Daripada Suami -2

Foto: Orami Photo Stock

Sebagaimana hadist Nabi SAW tentang keutamaan suami di atas, maka seorang istri yang lebih mementingkan keluarganya daripada suami tidak dibolehkan dan hukumnya menjadi haram.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Seorang perempuan jika telah menikah, maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami itu lebih wajib dari pada taat orang tua." (Majmu’ Fatawa 32/261).

Bahkan, dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik RA meski sebagian ahli hadis menyebut sanadnya lemah menjelaskan saat para sahabat bepergian untuk berjihad, ia meminta istrinya agar tidak keluar rumah sampai ia pulang. Di saat bersamaan, ayah istri sedang sakit.

Karena telah berjanji untuk taat kepada suami, istri tidak berani menjenguk ayahnya. Namun karena merasa khawatir, ia pun mengutus seseorang untuk menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW. Beliau menjawab, “Taatilah suami kamu.”

Sampai ayahnya meninggal dan dimakamkan, istri tersebut belum berani berkunjung. Untuk kali kedua, bertanya Nabi SAW. Jawaban pun ia dapatkan.

Selang berapa lama, Rasulullah SAW mengutus utusan kepada istri tersebut agar memberitahukan bahwa Allah telah mengampuni dosa ayahnya berkat ketaatannya pada suami.

Kisah dari at-Thabrani itu setidaknya menggambarkan tentang bagaimana sikap seorang istri. Manakah hak yang lebih didahulukan antara hak orang tua dan hak suami, tatkala perempuan sudah menikah, dan menjadi jawaban atas pertanyaan bagaimana hukum istri lebih mementingkan keluarganya daripada suami.

Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah dalam buku Al Jami’ fi Fiqh An Nisaa’ mengatakan, seorang perempuan sebagaimana laki-laki, mempunyai kewajiban sama berbakti terhadap orang tua. Penghormatan terhadap ibu dan ayah sangat ditekankan oleh Rasulullah SAW.

Namun, menurut Syekh Yusuf al-Qaradhawi dalam kumpulan fatwanya yang terangkum di Fatawa Mu’ashirah menerangkan bahwa kewajiban tersebut dibatasi selama yang bersangkutan belum menikah. Bila sudah berkeluarga, seorang istri diharuskan lebih mengutamakan taat kepada suami.

Baca Juga: Bahaya Mengumbar Masalah Rumah Tangga pada Sembarang Orang

Meski begitu, kewajiban menaati suami bukan berarti harus memutus tali silaturahim kepada orang tua atau memutuskan tali silaturahmi kepada keluarganya yang lain. Seorang suami dituntut mampu menjaga hubungan baik antara istri dan keluarganya.

Dengan kemajuan teknologi saat ini, jika suami istri berada jauh dari orang tuanya bisa dilakukan dengan cara yang amat mudah. Ikhtiar tersebut bisa diupayakan dengan menggunakan telepon, misalnya. Atau sesekali mengajak menjenguk orang tuanya.

Sebab, Al-Qaradhawi menambahkan, di antara hikmah kemandirian dalam sebuah rumah tangga ialah meneruskan garis keturunan. Artinya, keluarga dibentuk sebagai satu kesatuan yang utuh tanpa ada intervensi pihak luar, yang juga bisa datang dari orang tua ataupun saudara yang lain.

Bila ada campur tangan pihak lain, biasanya aka nada hambatan dalam menjalankan rumah tangga. Allah SWT berfirman, “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Mahakuasa.” (QS Al-Furqan: 54).

Ada juga beberapa hadis lain yang menguatkan tentang pentingnya mendahulukan ketaatan istri kepada suami dibandingkan orang tua. Di antara hadis tersebut, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim dan ditashih oleh al-Bazzar.

Dalam hadis tersebut, Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah, hak siapakah yang harus diutamakan oleh istri? Rasulullah menjawab, “(Hak) Suaminya.” Lalu, Aisyah kembali bertanya, sedangkan bagi suami hak siapakah yang lebih utama? Beliau menjawab, “(Hak) Ibunya,” (HR Al-Hakim).

Jadi, karena hukum istri lebih mementingkan keluarganya daripada suami adalah hal yang terlarang, ada baiknya bagi istri untuk lebih sering berdiskusi dengan suami, agar suami ridho dan mengizinkan apapun yang akan dilakukan istri, termasuk yang berhubungan dengan keluarganya.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait