Parenting Islami

27 Agustus 2021

Ini Hukum Potong Kuku sebelum Kurban, Bolehkah Dilakukan?

Larangan dimulai dari 10 hari pertama bulan Dzulhijjah
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Salah satu yang disyariatkan menjelang Idul Adha adalah larangan memotong kuku sebelum kurban. Hal itu juga berlaku bagi rambut untuk orang-orang yang berniat untuk hadyu atau memotong hewan kurban. Seperti apa hukum potong kuku sebelum kurban?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Jurnal Ta’lim PAI UPI, kurban tersebut adalah wujud kedekatan hamba dengan tuhannya. Karena Rasulullah SAW dan sahabat selalu berkurban, maka hal tersebut menjadi syariat.

Namun ternyata masih ada perbedaan pendapat mengenai hukum potong kuku sebelum kurban dan juga rambut. Bukan hanya di medsos seperti saat ini, hal itu bahkan sudah didiskusikan oleh ulama terdahulu.

Baca Juga: Protokol Kesehatan Ibadah Kurban di Idul Adha, Wajib Tahu!

Perbedaan Pandangan Tentang Potong Kuku Sebelum Kurban

Potong Kuku Sebelum Kurban

Foto: Orami Photo Stock

Adanya perbedaan pendapan ini berawal dari adanya perbedaan ulama dalam memahami hadits riwayat Ummu Salamah. Dirinya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

إذا دخل العشر من ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحيفلا يمس من شعره ولا بشره شيئا حتى يضحي

Artinya: “Apabila sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah masuk dan salah seorang di antara kamu hendak berkurban hewan ternak, maka janganlah menyentuh rambut dan kulit sedikitpun, sampai (selesai) berkurban hewan ternak,” (HR Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain).

Baca Juga: 10 Rekomendasi Penjual Kurban Online, Idul Adha Sebentar Lagi

1. Pendapat Pertama

Pendapat ini mengatakan bahwa hadis tersebut bermaksud memberi larangan potong kuku sebelum kurban dan rambutnya bagi yang berniat untuk berkurban hewan ternak. Larangan ini dimulai dari sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan diperbolehkan setelah selesai kurban.

Meski begitu, masih ada perbedaan terkait penerapan hukumnya. Apakah potong kuku sebelum kurban dan rambut memiliki hukum makruh atau mubah saja? Ada ulama menganjurkan, membolehkan, bahkan mengharamkan

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ mengatakan, hikmah dari kesunahan ini ialah agar seluruh tubuh di akhirat kelak diselamatkan dari api neraka. Selain itu, ada pula yang bersumber bahwa larangan tersebut disamakan dengan seseorang yang sedang ihram.

Namun, ini dikritik oleh sebagian ulama karena analoginya tidak tepat. Imam An-Nawawi mengatakan:

قال أصحابنا الحكمة في النهي أن يبقى كامل الأجزاءليعتق من النار وقيل للتشبيه بالمحرم قال أصحابنا وهذا غلط لأنه لا يعتزل النساء ولايترك الطيب واللباس وغير ذلك مما يتركه المحرم

Artinya: “Ulama dari kalangan madzhab kamimengatakan hikmah di balik larangan tersebut adalah agar seluruh anggota tubuh tetap ada/sempurna dan terbebas dari api neraka. Adapula yang bersumber karena disamakan (tasyabbuh) dengan orang yang ihram ini tidak tepat. Karena menjelang kurban mereka tetap boleh bersetubuh, memakai wewangian, pakaian, dan tindakan lain yang diharamkan bagi orang yang ihram.”

2. Pendapat Kedua

Sumber kedua menyatakan bahwa yang dilarang itu potong kuku sebelum kurban dan juga rambut bagi orang yang berniat untuk hadyu. Yang tidak boleh itu memotong kuku dan rambut dari hewan ternak yang akan dikurbankan.

Alasannya karena bulu, kuku, dan kulit hewan kurban tersebut akan menjadi saksi di hari akhirat untuk orang yang telah berkurban. Pandangan ini sebetulnya tidak populer dalam kitab fikih, terutama fikih klasik.

Oleh dari itu, Mula Al-Qari menyebut ini sumber gharib (aneh/unik/asing). Ia mengatakan dalam ‘Mirqatul Mafatih’ bahwa:

وأغرب ابن الملك حيث قال: أي: فلا يمس من شعر مايضحي به وبشره أي ظفره وأراد به الظلف

Artinya: “Ada sumber gharib dari Ibnul Malak. Menurutnya, hadits tersebut berarti tidak boleh mengambil (memotong) bulu dan kuku hewan yang dikurbankan.”

Sumber yang dikatakan asing oleh Mula Al-Qariini, belakangan dikuatkan oleh Kiai Ali Mustafa Yaqub. Dalam kitabnya ‘At-Turuqus Shahihah fi Fahmis Sunnatin Nabawiyah’. Kiai Ali mengatakan, hadits ini perlu ibandingkan dengan hadits lain.

Menurut Kiai Ali, memahami hadis Ummu Salamah perlu dikomparasikan dengan riwayat ‘Aisyah ini:

ما عمل آدمي من عمل يوم النحر أحب إلى الله من إهراقالدم، إنه ليأتي يوم القيامة بقرونها وأشعارها وأظلافها. وإن الدم ليقع من الله بمكانقبل أن يقع من الأرض فطيبوا بها نفسا

Artinya: “Rasulullah SAW mengatakan, ‘Tidak ada amalan anak adam yang dicintai Allah pada hari Idhul Adha kecuali berkurban hewan ternak. Karena ia akan datang pada hari kiamat bersama tanduk, bulu, dan kukunya. Saking cepatnya, pahala kurban sudah sampai kepada Allah sebelum darah hewan sembelihan jatuh ke tanah. Maka hiasilah diri kalian dengan berkurban hewan ternak.” (HR Ibnu Majah)

Begitu pula dengan hadits riwayat al-Tirmidzi:

لصاحبها بكل شعرة حسنة

Artinya: “Bagi orang yang berkurban hewan ternak, setiap helai rambut (bulu hewan kurban) adalah kebaikan.” (HR At-Tirmidzi)

Berdasarkan pertimbangan dua hadits ini, Kiai Ali menyimpulkan bahwa yang dilarang Nabi itu bukan potong kuku sebelum kurban dan rambut dari orang yang ingin berkurban, tapi malah hewan kurbannya tersebut. Karena, rambut dan kuku hewan itulah yang nanti menjadi saksi di akhirat kelak.

Baca Juga: 5 Cara Menyimpan Daging Kurban di Kulkas Agar Awet dan Tidak Bau, Moms Wajib Tahu!

3. Pendapat dari Hadits

Pertama, ketentuan larangan potong kuku sebelum kurban dan juga potong rambut memotong berlaku jika orang tersebut sudah memiliki niat untuk berkurban dan telah masuk 1 Dzulhijah. Ini berdasarkan hadis dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْأَنْ يُضَحِّيَ فَلا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا

Artinya: “Apabila telah masuk sepuluh pertama Dzulhijah dan kalian ingin menyembelih kurban, maka janganlah dia memotong rambut dan kukunya sedikitpun.” (HR Muslim).

Hal serupa diungkapkan oleh Syekh Abdullah Al-Jibrin yang dikutip dalam ‘Syabakah Al-Alukah’:

ومن عزم على الأضحية في وسط العشر فإنه يمتنع منالأخذ في بقية العشر ولا يضره ما أخذه في أول العشر قبل عزمه على الأضحية

Artinya: “Siapa yang berkeinginan untuk berkurban hewan ternak di pertengahan 10 Dzulhijah, maka dia dilarang memotong kuku dan rambutnya di sisa harinya. Dan tidak masalah dengan tindakannya memotong kuku dan rambut di awal Dzulhijah, sebelum dia berniat untuk berkurban hewan ternak.”

Kedua, tidak ada hubungan antara larangan memotong kuku atau rambut dengan sah tidaknya kurban. Jadi, saat ada orang yang memotong rambut dan kukunya baik karena tidak tidak tahu atau dilakukan dengan sengaja, maka kurbannya tetap sah.

Setelah Syekh Al-Jarullah menjelaskan tentang larangan memotong rambut dan kuku bagi orang yang akan berkurban hewan ternak dalam ‘As-ilah Wa Ajwibah Muhimmah’, dirinya mengatakan:

ولكن يجب أن يعلم أن من أخذ شيئًا من شعره أو أظفارهفلا يمنعه ذلك من الأضحية وعليه أن يستغفر الله ويتوب إليه.

Artinya: “Hanya saja, wajib untuk diketahui bahwa orang yang memotong rambut dan kukunya, jangan menjadikannya sebagai sebab untukmeninggalkan rencana kurbannya. Dan dia wajib memohon ampun kepada Allah dan bertaubat (karena melanggar larangan memotong kuku).”

Dilansir dari Muhammadiyah, membiarkan bagian tubuh manusia utuh sebelum hari penyembelihan lebih baik sehingga bagian tubuh itu akan dibebaskan secara utuh pula dari api neraka di hari akhir menutrut pendapat Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Kedua pendapat tersebut menunjukkan upaya ulama dalam memahami dalil. Intinya, adanya larangan potong kuku sebelum kurban dan juga rambut adalah bagi orang yang ingin berkurban saja, bukan untuk semua orang.

Jadi, bila tidak diperlukan, tidak harus potong kuku sebelum kurban dan juga rambut. Namun, jika kukunya sudah panjang, kotor dan rambutnya sudah panjang dan berkutu, boleh dibersihkan dan kurbannya tetap dilanjutkan.

  • https://suaramuhammadiyah.id/2020/07/21/hukum-memotong-kuku-dan-rambut-sebelum-kurban/
  • https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-potong-kuku-sebelum-kurban
  • https://rumaysho.com/28751-hukum-dan-hikmah-dimakruhkan-memotong-kuku-dan-rambut-saat-kurban.html
  • http://jurnal.upi.edu/file/07_Kurban_-_Mulyana.pdf
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait