Parenting Islami

3 Januari 2022

Tata Cara Iktidal Lengkap dengan Doa dan Bacaannya

Penting, jangan sepelekan posisi iktidal saat shalat
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Fia Afifah R
Disunting oleh Andra Nur Oktaviani

Karena gerakan salat harus dilakukan dengan benar, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah posisi Iktidal.

Iktidal setelah bangkit dari ruku’ adalah salah satu rukun shalat. oleh karena itu, umat muslim harus memperhatikan Gerakan tersebut agar bisa melakukan sesuai tuntunan syariat.

Baca Juga: Sholat Qobliyah Subuh, Sunnah yang Lebih Baik dari Dunia dan Seisinya

Apa Itu Iktidal?

i'tidal -1.jpg

Foto: Bbc.co.uk

Iktidal adalah merupakan salah satu gerakan dalam salat yang dilakukan setelah posisi ruku’, dan ini termasuk dalam rukun salat.

Para ulama menetapkan ruku’ sebagai rukun salat berdasarkan kepada sabda Rasulullah SAW kepada orang yang beliau ajari shalat:

ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعً

Artinya: “Kemudian ruku’lah sampai engkau tenang (tuma’ninah) dalam keadaan ruku’.” (HR Imam Bukhari)

Iktidal juga merupakan salah satu gerakan wajib dalam salat. Hal ini berdasarkan kepada adanya pendapat Abu Hurairah menceritakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ يُكَبِّرُ حِينَ يَقُومُ، ثُمَّ يُكَبِّرُ حِينَ يَرْكَعُ، ثُمَّ يَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، حِينَ يَرْفَعُ صُلْبَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ، ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ: رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ

Artinya: “Rasulullah apabila mendirikan shalat, maka beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika ruku’. Kemudian mengucapkan: ‘sami’allahu liman hamidah’ ketika bangkit dan meluruskan tulang punggungnya dari ruku’. Kemudian bangkit seraya mengucapkan: ‘rabbana lakal hamdu’. (HR Bukhari)

Karena hukumnya wajib ada, gerakan iktidal harus dilakukan secara benar dan sesuai dengan apa yang disyariatkan.

Ada juga juga hadist yang menganjurkan untuk melakukan gerakan iktidal dalam waktu yang agak lama, sebagai cara mensyukuri nikmat Allah SWT.

Al-Barra’ bin Azib RA, mengatakan: “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, sujud beliau, rukuk beliau, duduk di antara dua sujud, semuanya hampir sama panjangnya.” (HR Abu Daud)

Selain memperlama Iktidal, dianjurkan juga agar melakukannya dalam posisi badan yang lurus. Hal ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah SAW:

ثم اركَعْ حتى تَطمَئِنَّ راكِعًا، ثم ارفَعْ حتى تستوِيَ قائِمًا

Artinya: “… Lalu rukuk dengan tuma’ninah, kemudian angkat badanmu hingga lurus” (HR Bukhari dan Muslim)

Baca Juga: Bacaan Doa, Niat, dan Tata Cara Sholat 5 Waktu yang Benar

Perhatikan Ini Saat Iktidal

i'tidal -2.jpg

Foto: Iqraa.com

Ada beberapa hal terkait Iktidal yang harus diperhatikan agar dapat menjalankan shalat dengan baik, sehingga mendapatkan pahala dari ibadah yang diwajibkan ini.

1. Wajib Tuma’ninah Hingga Punggung Lurus

Iktidal adalah gerakan mengangkat badan setelah posisi ruku’ hingga berdiri kembali dengan punggung dalam keadaan lurus.

Dalam hadits Abu Humaid As Sa’idi RA, dirinya mengatakan:

فإِذا رفَع رأسه استوى قائماً حتى يعود كلّ فقار مكانه

Artinya: “Ketika Rasulullah SAW mengangkat kepalanya (dari rukuk) untuk berdiri hingga setiap ruas tulang punggung berada di posisinya semula.” (HR Bukhari)

Allah SWT dan Rasulullah SAW mencela orang yang tidak melakukan iktidal sampai lurus punggungnya padahal dia mampu.

Ini bisa jadi karena terlalu cepat salatnya, atau terburu-buru. Dalam hadits dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

إن الله لا ينظرُ يوم القيامة إلى مَن لا يقيم صُلبَه بين ركوعه وسجودِه

Artinya: “Sesungguhnya di hari kiamat Allah tidak akan memandang orang yang tidak meluruskan tulang sulbinya di antara rukuk dan sujud.” (HR Tirmidzi, Abu Ya’la, dan Ath Thabrani)

2. Mengangkat Saat Ketika Bangun dari Ruku’

Dalil-dalil mengenai disyariatkannya ‘raf’ul yadain’ atau mengangkat tangan sangat banyak. Di antaranya adalah hadits dari Ibnu Umar RA:

أنَّ النبيَّ صلّى الله عليه وسلّم كان يرفعُ يديه حذوَ مَنكبيه؛ إذا افتتح الصَّلاةَ، وإذا كبَّرَ للرُّكوع، وإذا رفع رأسه من الرُّكوع

Artinya: “Nabi SAW biasanya ketika memulai shalat, ketika takbir untuk ruku’ dan ketika mengangkat kepala setelah ruku’, beliau mengangkat kedua tangannya setinggi pundaknya.” (HR Bukhari)

Ada juga hadits dari Malik bin Huwairits RA:

إذا صلَّى كبَّر ورفَع يدَيهِ، وإذا أراد أن يركَع رفَع يدَيهِ، وإذا رفَع رأسَه من الرُّكوعِ رفَع يدَيهِ

Artinya: “Nabi SAW ketika shalat beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya. Ketika hendak rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya. Dan ketika mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau mengangkat kedua tangannya.” (HR Bukhari)

3. Membaca Tasmi’ Ketika Bangun dari Ruku’

Dalam rukuk ada bacaan tasmi’, yaitu mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’ yang artinya: “Allah mendengar orang yang memuji-Nya”.

Dan ada bacaan tahmid, yaitu mengucapkan ‘rabbana walakal hamdu’ yang artinya: ‘Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu’.

Terkait dengan hal ini, sebuah hadits dari Anas bin Malik RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إِنّما جُعل الإِمام ليؤتمّ به، فإِذا كبّر فكبِّروا، وإِذا سجد فاسجدوا، وإِذا رفع فارفعوا، وإِذا قال: سمع الله لمن حمده، فقولوا: ربّنا ولك الحمد، وإِذا صلّى قاعداً فصلّوا قعوداً أجمعُون

Artinya: “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika ia bertakbir maka bertakbirlah. Jika ia sujud maka sujudlah. Jika ia bangun (dari rukuk atau sujud) maka bangunlah.

Jika ia mengucapkan: sami’allahu liman hamidah. Maka ucapkanlah: rabbana walakal hamdu. Jika ia shalat duduk maka shalatlah kalian sambil duduk semuanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini disebutkan dua bacaan yaitu tasmi’ (sami’allahu liman hamidah) dan tahmid (rabbana walakal hamdu). Di sini ulama memiliki perbedaan pendapat mengenai hukum tasmi’ dan tahmid.

Pendapat pertama dari ulama Hambali yang berpendapat bahwa tasmi’ dan tahmid hukumnya wajib bagi imam dan munfarid. Namun bagi makmum hanya wajib tahmid saja.

Pendapat kedua, jumhur ulama berpendapat bahwa tasmi’ dan tahmid hukumnya sunnah. Namun mereka berbeda pendapat mengenai rinciannya.

Baca Juga: Wajib Tahu, Inilah 11 Keutamaan Sholat Subuh Berjamaah Bagi Umat Islam

Bacaan dalam Iktidal

i'tidal -3.jpg

Foto: Nuonline.org

Dikutip dari Digital Library UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ada perbedaan pendapat mengenai hukum bersedekap ketika Iktidal.

Ada yang membid’ahkan dan ada juga yang mengisyaratkan. Menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albani, bersedekap ketika Iktidal hukumnya bid’ah.

Namun menurut Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, bersedekap ketika Iktidal disyari’atkan. Meski begitu, tampaknya lebih tepat dengan menggunakan teori fiqih ikhtilaf karena menggunakan dalil hadits yang sama.

Selain sumbernya haditsnya shohih, pendapat ini pun hanya berbeda di metode istinbath hukumnya.

Setelah mengetahui hal tersebut, yang tak kalah pentingnya dalah mengetahu bacaan dalam Iktidal. Setelah selesai ruku’, kemudian Iktidal yaitu bangkit dari ruku’ sambil mengangkat kedua tangan sejajar telinga.

Dalam posisi itu, terdapat bacaan Iktidal, yakni:

سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

(Sami’alloohu liman hamidah)

Artinya: “Allah Mendengar siapa saja yang memuji-Nya.”

Pada waktu berdiri tegak (Iktidal) membaca:

رَبَّنَا لَكَ

(Rabbanaa lakal hamdu)

Artinya: “Wahai Tuhan Kami! Hanya Untuk-Mu lah Segala Puji.”

Itulah hal-hal mengencai Iktidal, termasuk bacaanya yang dapat dipraktekkan selama salat agar mendapatkan ketentraman saat menjalakannya.

  • http://digilib.uinsgd.ac.id/30996/
  • https://dalamislam.com/hukum-islam/hukum-itidal-dalam-shalat
  • https://muslim.or.id/43284-fikih-itidal-dalam-shalat.html
  • https://www.fathulghofur.com/bacaan-itidal-dalam-sholat-arab-latin-dan-artinya/
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait