Trimester 1

15 September 2021

6 Jenis Imunisasi Ibu Hamil serta Waktu yang Tepat untuk Diberikan

Lindungi diri dan bayi dengan mendapatkan imunisasi yang aman untuk ibu hamil
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Defara Millenia
Disunting oleh Adeline Wahyu

Pemberian imunisasi dimaksudkan membantu imunitas dan daya tahan tubuh. Bukan hanya untuk anak, tersedia juga imunisasi untuk perempuan sebelum, selama, dan setelah kehamilan. Namun, apakah itu perlu? Apakah imunisasi ibu hamil aman dilakukan?

Ternyata, imunisasi yang diberikan sebelum dan selama kehamilan memainkan peran penting dalam melindungi kesehatan Moms dan juga menjaga kesehatan bayi. Kekebalan ibu adalah garis pertahanan pertama bayi terhadap penyakit tertentu.

"Perempuan hamil membuat banyak antibodi, dan mereka mentransfer antibodi ini ke bayi selama bulan-bulan terakhir kehamilan. Vaksinasi akan meningkatkan antibodi pada ibu dan bayi,” kata Dr. Sharon Nachman, MD, kepala divisi penyakit menular anak di Rumah Sakit Anak Stony Brook.

Sharon menjelaskan, vaksin memiliki tiga bentuk, yaitu virus hidup, virus mati, dan toksoid yang merupakan protein tidak berbahaya yang diubah secara kimiawi yang diambil dari bakteri.

Ibu hamil tidak boleh melakukan imunisasi yang menggunakan virus hidup, seperti kombinasi vaksin campak, gondok, dan rubella (MMR).

Hal ini karena ada kemungkinan kecil akan membahayakan bayi yang dikandungnya.

Vaksin yang dibuat dari virus mati, seperti imunisasi flu dan vaksin toksoid, seperti suntikan tetanus / difteri / pertusis (Tdap) disebutkan aman untuk diberikan pada ibu hamil.

Baca Juga: 33 Inspirasi Nama Bayi Perempuan Perancis yang Indah dan Unik

Imunisasi sebelum Kehamilan

Imunisasi Ibu Hamil -1

Foto: Orami Photo Stock

Terdapat infeksi tertentu yang berbahaya selama kehamilan ternyata dapat dicegah dengan imunisasi. Apa saja itu?

1. Vaksin Campak, Gondongan dan Rubella (MMR)

Campak, penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus yang dimulai dengan gejalan demam, batuk, dan pilek diikuti dengan ruam merah berbintik.

Gondongan juga merupakan penyakit virus menular yang menyebabkan kelenjar ludah membengkak. Jika terinfeksi, risiko keguguran dan persalinan prematur dapat meningkat.

2. Virus Rubella (Campak Jerman)

Saat terkena penyakit ini, Moms akan menunjukkan gejala mirip flu yang sering diikuti dengan ruam.

Hingga 85 persen bayi dari ibu yang mengidapnya selama trimester pertama akan mendapatkan bayi yang mengalami cacat lahir, seperti gangguan pendengaran dan cacat otak.

3. Vaksin Varicella (Cacar Air)

Penyakit yang sangat menular ini menyebabkan demam dan ruam yang sangat gatal.

Sekitar 2 persen bayi yang ibunya terkena cacar air selama lima bulan pertama kehamilan memiliki cacat lahir, termasuk anggota badan yang cacat dan lumpuh.

Ibu hamil yang terkena cacar air saat persalinan juga dapat memberi infeksi yang mengancam nyawa bayi.

Baca Juga: 12 Manfaat Kulit Sapi untuk Kesehatan, Mengobati Sakit Maag Hingga Menurunkan Berat Badan

Imunisasi Ibu Hamil

imunisasi ibu hamil

Foto: Orami Photo Stock

Melansir The Pediatric Infectious Disease Journal, memberikan imunisasi ibu hamil memainkan peran penting dalam melindungi perempuan hamil dan menghindarkan janin dan bayi dari infeksi.

Masih ada yang belum mengetahui bahwa imunisasi yang dibuat dari virus mati biasanya aman untuk diberikan kepada ibu hamil. Dokter akan membantu memutuskan imunisasi apa yang harus Moms lakukan.

Sebab, Moms tidak akan mengetahui kondisi bayi setelah lahir nanti.

"Hal terburuk adalah seorang bayi terkena salah satu penyakit yang menghancurkan ini karena seorang ibu tidak divaksinasi dengan benar," kata Sharon.

Jadi, apa saja imunisasi ibu hamil yang aman ?

1. Vaksin Influenza (Suntikan Flu)

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan imunisasi flu untuk semua perempuan yang akan hamil selama musim flu, yaitu November hingga Maret. Suntikan flu terbuat dari virus yang sudah mati, jadi aman untuk Moms dan bayi.

Ibu hamil yang terserang flu terutama selama paruh kedua kehamilan, lebih mungkin menderita gejala atau komplikasi parah seperti pneumonia dibandingkan perempuan lain.

Bahkan kasus flu sedang dapat mengakibatkan demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, dan batuk.

Sebagian besar gejala ini akan berlangsung sekitar empat hari, meskipun batuk dan kelelahan dapat berlangsung selama 2 minggu atau lebih. Tentu saja ini akan mengganggu kehamilan, yang akan dirasakan juga oleh janin.

Imunisasi ibu hamil jenis ini sangat aman selama masa kehamilan bahkan untuk janin di dalam kandungan karena dibuat dari virus mati. Namun, sebaiknya tidak menggunakan vaksinasi flu dengan semprotan hidung "FluMist" karena ini dibuat dari virus hidup.

2. Tetanus Tetanus / Difteri / Pertusis (Tdap)

Moms, karena meningkatnya pertusis atau batuk rejan di Amerika, rekomendasi mengenai vaksin Tdap diperbarui pada Juni 2013. Jika diperlukan, imunisasi ibu hamil jenis tetanus / difteri booster (Td) bisa diberikan, termasuk pertusis.

Batuk rejan atau pertusis termasuk salah satu jenis batuk yang mudah sekali menular apalagi bila imun tubuh ibu hamil sedang menurun.

Melansir Clinical Practice Guideline Journal, Tdap dapat diberikan kapan saja selama kehamilan, meskipun akan lebih baik dilakukan antara usia 27 dan 36 minggu kehamilan.

Tetanus yang juga disebut lockjaw, adalah penyakit pada sistem saraf pusat yang menyebabkan kejang otot yang menyakitkan. Bakteri penyebab tetanus dapat ditemukan di tanah dan kotoran hewan.

Penyakit ini dapat memasuki aliran darah melalui luka di kulit, jadi konsultasikan dengan dokter jika mendapatkan luka yang dalam atau kotor. Jika tertular saat hamil, tetanus bisa menyebabkan kematian janin.

Difteri adalah infeksi saluran pernafasan yang dapat menyebabkan gangguan pernafasan , kelumpuhan, koma, bahkan kematian.

Meski jarang terjadi, tetapi Moms perlu suntikan penguat setiap 10 tahun. Jika tidak, kekebalan tubuh akan berkurang.

Pertusis merupakan penyakit bakteri yang sangat menular, bahkan bisa berakibat fatal pada bayi dan ditandai dengan batuk yang dalam dan berbunyi seperti ‘teriakan’ bernada tinggi.

Baca Juga: Mengapa Anak Perlu Mendapatkan Imunisasi Ulang?

3. Imunisasi Hepatitis B

Hepatitis B adalah infeksi virus yang menyebabkan peradangan hati, mual, kelelahan, dan penyakit kuning seperti kulit dan mata menguning. Dalam beberapa kasus, ini dapat menyebabkan penyakit hati kronis, kanker hati, dan kematian.

Ibu hamil dengan hepatitis B dapat menularkan infeksi kepada bayinya selama persalinan. Tanpa pengobatan yang tepat, bayi memiliki resiko tinggi untuk tertular penyakit hati yang serius saat dewasa.

Imunisasi ibu hamil jenis ini dapat dilakukan setelah melakukan tes hepatitis B. Jika setelah menjalani tes dan tidak terbukti positif hepatitis B, Moms bisa menjalani imunisasi.

Untuk pemberian imunisasi sendiri Moms bisa berkonsultasi dengan dokter setelah selesai melakukan serangkaian tes tersebut.

Umumnya, vaksin diberikan dalam 3 dosis dan semua merek dianjurkan untuk digunakan pada ibu hamil, kecuali Heplisav-B. Penting juga, agar bayi yang baru lahir mendapat vaksinasi HepB dalam waktu 24 jam setelah lahir.

4. Vaksin Hepatitis A

Imunisasi ibu hamil jenis ini melindungi dari penyakit hati yang menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi.

Gejalanya berupa demam, kelelahan, dan mual. Biasanya tidak seserius penyakit versi B, dan penyakit ini tidak akan mempengaruhi bayi yang belum lahir.

Dalam kasus yang jarang terjadi, hepatitis A dapat menyebabkan persalinan prematur dan infeksi pada bayi baru lahir. Meski keamanan vaksin ini belum ditentukan, tetapi karena diproduksi dari virus mati, risikonya cenderung rendah.

Melansir immunize.org, pemberian vaksin hepatitis A untuk ibu hamil diberikan pada mereka yang memiliki faktor risiko spesifik, misalnya memiliki penyakit hati yang kronis, atau yang tinggal bersama dengan penderita hepatitis A lainnya. 

Namun, langkah terbaik adalah mendapatkan vaksin hepatitis A sebelum kehamilan. Vaksin hepatitis A diberikan dalam dua kali dosis dengan rentang jarak enam hingga 18 bulan. 

Dokter akan mendiagnosis dan mempertimbangkan perlu atau tidaknya pemberian vaksin hepatitis A saat hamil  dengan melihat manfaat dan risikonya. Konsultasikan tentang pemberian vaksin hepatitis A ini kepada dokter, ya.

5. Vaksin Meningitis

Meningitis adalah peradangan selaput pembungkus otak dan saraf tulang belakang yang disebut meningens. Peradangan tersebut biasanya disebabkan oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit.

Gejala meningitis biasanya diawali dengan demam, nyeri kepala, mual, muntah, kaku kuduk, kejang, hingga penurunan kesadaran.

Melansir Meningococcal Vaccination in Pregnancy, imunisasi ibu hamil telah menjadi strategi yang berhasil untuk pencegahan infeksi lain pada bayi yang baru lahir, termasuk pemberian vaksin meningitis saat hamil.

Khusus untuk vaksin meningitis, enam studi yang melibatkan 335 wanita yang menerima vaksin tipe MPSV yang lebih tua selama kehamilan tidak menemukan efek berbahaya yang terkait. Sebagian besar perempuan ini divaksinasi setelah trimester pertama.

6. Vaksin Pneumokokus

Jika Moms memiliki kondisi kronis tertentu seperti diabetes atau penyakit ginjal, dokter mungkin akan merekomendasikan imunisasi ibu hamil pneumokokus, yang melindungi dari beberapa bentuk pneumonia .

Meskipun potensi bahaya pada bayi yang belum lahir tidak diketahui, para peneliti percaya bahwa risikonya rendah.

Baca Juga: 10 Syarat Fisik Masuk TNI 2021 yang Wajib Diperhatikan

Fakta Tentang Imunisasi Ibu Hamil

Imunisasi Ibu Hamil -3

Foto: Orami Photo Stock

Melansir Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ada beberapa hal tentang imunisasi ibu hamil yang harus Moms ketahui.

1. Memberikan Perlindungan Dini pada Bayi

Mendapatkan imunisasi ibu hamil jenis flu dan Tdap menyebabkan tubuh Moms membuat antibodi pelindung semacam protein yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan penyakit dan beberapa antibodi tersebut akan diteruskan kepada bayi.

2. Mencegah Batuk Rejan

Imunisasi ibu hamil jenis Tdap akan melindungi dari batuk rejan yang dapat mengancam jiwa janin. Sekitar setengah dari bayi berusia kurang dari 1 tahun yang menderita batuk rejan membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Semakin muda usia bayi ketika menderita batuk rejan, semakin besar kemungkinan bayi perlu dirawat di rumah sakit.

Meskipun beberapa bayi sering batuk, bayi lain yang mengalami batuk rejan tidak batuk sama sekali. Akan tetapi bisa menyebabkan bayi berhenti bernapas dan membiru.

3. Mencegah Terkena Flu

Flu saat hamil dapat menyebabkan komplikasi kehamilan yang serius.

Perubahan fungsi kekebalan, jantung, dan paru-paru selama kehamilan membuat Moms lebih mungkin terkena sakit parah akibat flu.

Moms juga memiliki risiko komplikasi kehamilan yang lebih tinggi seperti persalinan prematur dan kelahiran prematur jika terserang flu. Ini juga dapat meningkatkan kemungkinan bayi mengalami masalah serius.

4. Waktu adalah Segalanya

Dalam hal imunisasi ibu hamil, pengaturan waktu juga penting. CDC merekomendasikan untuk mendapatkan imunisasi Tdap dan flu pada trimester ketiga antara minggu ke 27 dan 36, sehingga Moms memberikan antibodi pelindung terbanyak kepada bayi sebelum lahir.

5. Keluarga juga Butuh Vaksin

Bayi baru lahir belum memiliki sistem kekebalan yang berkembang sepenuhnya, yang membuatnya sangat rentan terhadap infeksi.

Karena itu, siapa pun yang berada di sekitar bayi harus selalu mengetahui semua vaksin rutin, termasuk vaksin Tdap dan flu.

Siapapun orangnya, harus mendapatkan vaksin setidaknya dua minggu sebelum bertemu dengan bayi, karena dibutuhkan sekitar dua minggu untuk mengembangkan antibodi setelah vaksinasi.

6. Jika Hamil lagi Harus Kembali di Vaksin

Jumlah antibodi dalam tubuh setelah diimuniasasi akan menurun seiring waktu.

Jadi, pastikan Moms memberi imunitas yang dibutuhkan pada bayi kedua, ketiga dan seterusnya dengan mendapatkan imuniasai untuk ibu hamil.

Baca Juga: Mengenal Kacang-Kacangan, Makanan Sehat untuk Kehamilan

Nah itu dia Moms 6 jenis imunisasi ibu hamil serta fakta menariknya. Selalu perhatikan hal-hal yang berkaitan dengan imunisasi ibu hamil ini agar mendapatkan waktu kehamilan yang sehat, ya!

  • https://journals.lww.com/pidj/FullText/2018/02000/Vaccination_in_Pregnancy_Recent_Developments.19.aspx
  • https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28832489/
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29485347
  • https://www.immunize.org/catg.d/p4040.pdf
  • https://www.cdc.gov/vaccines/pregnancy/vacc-during-after.html
Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait