Kesehatan Umum

7 Agustus 2021

11+ Indikator Keluarga Sehat Menurut Kemenkes, Sudah Diterapkan?

Salah satunya adalah anggota keluarga tidak ada yang merokok!
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Ria Indhryani
Disunting oleh Karla Farhana

Pernahkah Moms mendengar istilah indikator keluarga sehat? Memiliki keluarga sehat adalah impian semua ibu di dunia. Bagaimanapun, keluarga adalah harta yang paling berharga dan sehat adalah kunci agar sebuah keluarga tumbuh dengan baik sebagaimana mestinya.

Kesehatan keluarga adalah sesuatu yang memang harus diciptakan dan dijaga semaksimal mungkin. Keluarga yang sehat adalah hulu dari lingkungan dan tumbuhnya setiap orang yang sehat dan penerus bangsa yang hebat.

Dalam lingkup yang lebih besar, pembangunan kesehatan oleh pemerintah jelas merupakan salah satu upaya yang saat ini harus dilakukan oleh semua komponen bangsa Indonesia atau terutama oleh semua masyarakat. Kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat pada setiap masyarakat adalah jalan untuk menaikkan derajat kehidupan dan yang utama yaitu derajat kesehatan suatu bangsa.

Dalam rencana strategis Kementerian Kesehatan 2015-2019, pemerintah menegaskan Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (PIS-PK) dalam mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).

Disosialisasikan melalui puskesmas masing-masing, pemerintah mengimbau agar setiap masyarakat sampai pada tahap keluarga sehat. Bagaimana caranya menjadi keluarga yang sehat?

Baca Juga: Kebiasaan Sehat Keluarga yang Bisa Dicontoh Anak di Masa New Normal

Indikator Keluarga Sehat

Dengan mengeluarkan 12 indikator keluarga sehat, pemerintah berharap setiap keluarga di Indonesia dapat tau dan belajar untuk mencapai standar keluarga sehat.

Mulai dari aspek ibu dan anak, hingga gaya hidup dan kesehatan jiwa, semua tertuang dalam 12 indikator keluarga sehat berikut ini:

1. Mengikuti Program Keluarga Berencana (KB)

Pil KB Bisa Bantu Meningkatkan Kesuburan? 2

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang pertama adalah himbauan agar setiap keluarga mengikuti program keluarga berencana (KB). Program KB bukan hanya perihal membatasi jumlah anak, tetapi juga upaya untuk mensejahterakan dan menjaga kualitas sebuah keluarga.

Keluarga yang sejahtera adalah keluarga yang merencanakan jumlah anggotanya atau mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Setiap keluarga harus memakai alat kontrasepsi guna mencegah atau menunda kehamilan hingga saat yang tepat, dengan menggunakan beberapa pilihan alat kontrasepsi yaitu kondom, pil KB, suntik KB, implan, IUD, vasektomi, dan tubektomi.

Ini sangat penting, salah satunya misalnya untuk menghindari kondisi seorang ibu yang baru melahirkan dan memiliki anak yang berusia di bawah satu tahun, terpaksa harus hamil lagi. Kondisi ini cukup berisiko karena ibu yang belum benar-benar pulih, harus mengandung kembali dan siap melahirkan dalam waktu beberapa bulan kemudian.

Begitu pula dengan kondisi Si Anak. Kecukupan ASI hingga anak berusia 2 tahun, akan menjadi masalah ketika ibu harus menyusui sembari hamil dan memiliki bayi lagi yang juga harus disusui. Itulah kenapa program KB diisyaratkan agar dapat menjaga kesehatan ibu dan anak dari risiko kematian dan menjaga kecukupan ASI serta pola asuh anak.

Selain itu, merencanakan kehamilan dan jumlah anak bukan hanya perihal waktu. Kondisi ekonomi tidak lepas dari peranan, agar setiap anak yang lahir dalam keluarga tersebut mendapatkan pendidikan serta pola asuh yang maksimal dari kedua orang tuanya.

2. Ibu Melakukan Persalinan di Fasilitas Kesehatan

pergi ke rumah sakit

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang selanjutnya adalah bersalin di fasilitas kesehatan. Ibu selamat dan bayi yang sehat adalah harapan semua keluarga. Itulah alasan kenapa pemerintah mendorong agar ibu melakukan persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat yang sudah disediakan.

Fasilitas pelayanan kesehatan yang baik akan menyediakan tim medis seperti perawat, bidan dan dokter yang pastinya memiliki kompetensi di bidangnya. Tidak hanya sumber daya manusia, teknologi dan peralatan juga akan menjadi salah satu faktor pendukung dalam persalinan untuk ibu dan bayi yang selamat serta sehat.

Fasilitas pelayanan kesehatan yang baik akan memberikan pelayanan KB yang segera setelah ibu melahirkan. Tidak hanya untuk ibu, fasilitas pelayanan kesehatan juga memberikan pengarahan tentang inisiasi menyusui dini (IMD) serta imunisasi untuk bayi yang baru lahir.

Tidak perlu khawatir tentang pembiayaan, keluarga yang terdaftar dalam jaminan kesehatan nasional (JKN) berhak mendapatkan pembiayaan gratis. Pembiayaan yang ditanggung ini bahkan diberikan sejak pemeriksaan kehamilan hingga pelayan KB pasca persalinan.

3. Bayi Mendapatkan Imunisasi Dasar Lengkap

5 Tips Aman Imunisasi Bayi, Tetap Waspada!

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang selanjutnya adalah bayi mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Untung mencapai standar keluarga yang sehat, maka orang tua wajib memberikan imunisasi dasar lengkap sejak bayi mereka baru lahir hingga berusia 9 bulan. Imunisasi dasar lengkap adalah  salah satu program wajib dari pemerintah di bidang kesehatan yang tertuang pada Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009.

Imunisasi adalah salah satu langkah antisipasi agar bayi yang baru lahir atau sesuai umurnya, memiliki perlindungan yang maksimal terhadap beberapa penyakit tertentu yang dinilai berbahaya dan dapat menyebabkan kecacatan.

5 vaksin yang masuk dalam daftar imunisasi dasar lengkap yaitu Hepatitis B, Polio, Campak, BCG, dan DPT-HB-HiB. Selain mencegah penularan dalam keluarga yang sehat, pemberian imunisasi dasar lengkap juga mencegah keluarga kita menularkan penyakit tersebut pada orang lain.

Pemberian imunisasi dasar lengkap bisa didapatkan oleh semua bayi di Indonesia melalui fasilitas layanan kesehatan terdekat atau Posyandu secara cepat, aman, gratis, dan pastinya diberikan sesuai umur.

Meskipun efektifitasnya hampir 100 persen, imunisasi tetap saja tidak bisa memberikan jaminan anak tidak tertular penyakit. Akan tetapi, anak yang mendapatkan imunisasi dan tetap terjangkit penyakit, biasanya akan memiliki gejala yang jauh lebih ringan dibandingkan anak lain yang tidak diimunisasi dan terjangkit penyakit.

Baca Juga: Apa Saja 5 Imunisasi Wajib bagi Bayi?

4. Bayi Mendapat Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif

2 Air Susu Ibu (ASI).jpg

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang selanjutnya adalah ASI eksklusif. Bukan rahasia lagi bahwa ASI memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan Si Kecil.

ASI eksklusif wajib diberikan hingga Si kecil berusia 6 bulan untuk memenuhi nutrisi yang dibutuhkan serta melindungi Si Kecil dari penyakit, sehingga menjadi anggota keluarga yang tumbuh sehat.

Setelah 6 bulan, Si Kecil mulai boleh diperkenalkan dengan berbagai jenis makanan pendamping dengan tetap masih memberikan ASI. Itulah kenapa, makanan yang diberikan kepada Si Kecil diberi nama Makanan Pendamping ASI ( MPASI) dan pemberian ASI masih terus disarankan untuk dilanjutkan hingga Si Kecil genap berusia 2 tahun.

Akan tetapi, itu bukan berarti Si Kecil tidak boleh mendapatkan susu pengganti atau susu formula. Pada beberapa kasus dan beberapa kondisi medis tertentu, Si Kecil boleh diberikan susu formula sesuai dengan saran dokter anak.

5. Balita Mendapatkan Pemantauan Pertumbuhan

Ketahui Cara Membaca Grafik Tumbuh Kembang Anak dari Kemenkes

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang selanjutnya adalah balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan. Posyandu (pos pelayanan terpadu) merupakan upaya pemerintah untuk memudahkan masyarakat Indonesia dalam memperoleh pelayanan kesehatan ibu dan anak. Ini juga sejalan dengan tujuan untuk memenuhi standar keluarga sehat.

Salah satu program utama posyandu adalah menyelenggarakan pemeriksaan bayi dan balita secara rutin. Pemantauan tumbuh kembang anak dan deteksi sejak dini, dilakukan agar anak tumbuh menjadi sehat atau tidak mengalami gangguan tumbuh kembang.

Pemantauan tumbuh kembang balita ini meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, lingkar kepala anak, evaluasi tumbuh kembang, serta penyuluhan, dan konseling tumbuh kembang. Hasil pemeriksaan tersebut kemudian dicatat di dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

Tidak hanya di Posyandu, pelayanan pemantauan pertumbuhan balita ini juga bisa dilakukan di fasilitas kesehatan lain seperti klinik, rumah sakit dan praktek dokter anak pilihan Moms.

6. Penderita Tuberkulosis Paru Mendapatkan Pengobatan Sesuai Standar

Ini Penyebab TBC pada Balita, Ketahui Tahapan dan Diagnosisnya

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang selanjutnya adalah penderita TBC mendapat pengobatan sesuai standar. Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (M. tuberculosis) yang menyebar lewat udara dari orang ke orang dan biasanya menyerang paru-paru. Namun, tak menutup kemungkinan apabila organ lain seperti ginjal, tulang belakang, atau otak bisa terpengaruh akan penyakit TBC.

Apabila tidak diobati dengan benar, penyakit TBC bisa berakibat fatal. Orang yang terinfeksi bakteri TBC, tetapi tidak sakit bisa meminum obat untuk mencegah penyakit TBC berkembang di kemudian hari. Beberapa gejala TBC, yaitu:

  • Batuk parah selama 3 minggu atau lebih
  • Nyeri di dada
  • Batuk darah atau dahak dari dalam paru-paru
  • Mudah lelah
  • Penurunan berat badan
  • Tidak nafsu makan
  • Demam
  • Panas dingin
  • Berkeringat di malam hari

Untuk mendiagnosis TBC, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama pada paru/dada dan mungkin saja meminta pemeriksaan tambahan berupa foto rontgen dada, tes laboratorium untuk dahak dan darah, juga tes tuberkulin. Pengobatan TBC adalah pengobatan jangka panjang, biasanya selama 6-9 bulan dengan berbagai macam obat.

Baca Juga: Waspada TBC, Kenali Cara Penularan, Gejala, dan Pengobatannya

7. Penderita Hipertensi Melakukan Pengobatan Secara Teratur

Anak IVF Berisiko Diabetes dan Hipertensi.jpg

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang selanjutnya adalah penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur. Hipertensi adalah salah satu penyakit yang tidak disertai dengan gejala atau keluhan tertentu.

Keluhan pada penderita hipertensi adalah cenderung tidak spesifik, misalnya sakit kepala, gelisah, jantung berdebar-debar, pusing, penglihatan kabur, rasa sakit di dada, mudah lelah dan lainnya.

Hipertensi bisanya diatasi dengan menjalani pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat, menghentikan kebiasaan merokok, dan mengurangi konsumsi minuman berkafein. Namun, jika tekanan darah sudah cukup tinggi, penderita hipertensi diharuskan mengonsumsi obat penurun tekanan darah secara teratur.

Jika tidak segera ditangani, hipertensi bisa menyebabkan munculnya penyakit-penyakit serius yang mengancam nyawa, seperti gagal jantung, penyakit ginjal, dan stroke.

Untuk itu, penting untuk melakukan olahraga secara rutin dan menjaga berat badan agar tetap ideal. Selain itu, rutin memeriksakan tekanan darah, baik secara mandiri atau dengan berkunjung ke dokter adalah salah satu upaya untuk menanggulangi hipertensi sedari dini.

Baca Juga: Kebiasaan Sehat Keluarga yang Bisa Dicontoh Anak di Masa New Normal

8. Penderita Gangguan Jiwa Mendapatkan Pengobatan dan Tidak Ditelantarkan

Sering-Tidak-Percaya-pada-Orang-Lain,-Waspada-Gangguan-Paranoid.jpg

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang selanjutnya adalah penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan. Bagaimana ketika salah satu anggota keluarga Moms didiagnosa mengalami gangguan jiwa? Tentu hal ini akan sangat mengejutkan dan membuat sedih serta bingung harus berbuat.

Pada indikator keluarga sehat nomor delapan ini, disebutkan bahwa penderita gangguan jiwa harus mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan. Hal ini penting, mengingat banyak orang dengan gangguan jiwa di luaran sana hidup diterlantarkan oleh keluarganya dan tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya.

Sakit mental atau gangguan kejiwaan adalah penyakit yang menyebabkan gangguan pikiran serta tingkah laku. Akhirnya, penyakit ini menyebabkan ketidakmampuan seseorang untuk menjalankan aktifitas harian layaknya orang normal.

Beberapa ciri orang yang mengalami gangguan kejiwaan adalah delusi, halusinasi, sedih, cemas, memiliki gangguan tidur, moody, serta berperilaku tidak wajar. Bukan hanya itu, gangguan jiwa juga terkadang menunjukan gejala sakit secara fisik seperti sakit kepala dan maag.

Bila orang atau salah satu anggota di keluarga Moms menunjukkan gejala gangguan kejiwaan, penting untuk mengajaknya berbagi dan bicara baik-baik mengenai bagaimana perasaan dan apa yang dialaminya.

Jika memungkinkan, ajak untuk menemui psikiater karena konsultasi dengan psikiater adalah salah satu cara untuk mengobati gangguan kejiwaan sedari dini.

9. Anggota Keluarga Tidak Ada yang Merokok

Berhenti Merokok

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang selanjutnya adalah anggota keluarga tidak ada yang merokok. Cukup banyak orang yang merasa bahwa rokok adalah bagian hidup mereka. Padahal informasi bahwa rokok dapat menyebabkan beberapa penyakit berbahaya seperti kanker dan jantung, bukanlah rahasia umum lagi.

Dalam satu batang rokok yang dibakar, terkandung sekitar 4.000 zat kimia beracun dan sebagian diantaranya adalah bersifat karsinogenik. Racun utama yang terdapat dalam sebatang rokok adalah tar, nikotin, dan karbonmonoksida.

Ketika orang yang tidak merokok terpaksa menghirup asap rokok, zat tersebut akan masuk ke tubuh dan mengalir di dalam darah.

Pada akhirnya, zat kimia tersebut dapat mengiritasi sel-sel yang melapisi pembuluh darah, sehingga menyebabkan peradangan dan mempersempit jalur aliran darah. Selain itu, rokok juga bisa meningkatkan tekanan darah dan menurunkan kadar kolesterol baik.

Terdapat beberapa cara agar tidak ada lagi yang merokok dalam keluarga sehat Moms. Jangan pernah memberi dukungan kepada orang yang merokok dalam bentuk apapun. Misalnya, dengan tidak memberikan uang kepada anak atau anggota keluarga yang lain untuk membeli rokok.

Kedua, jangan berikan kesempatan kepada siapapun untuk merokok di dalam rumah dan jangan pernah  sediakan asbak. Menegur dengan tegas juga bisa menjadi salah satu jalan agar anggota rumah tidak ada yang merokok.

Memberikan penyuluhan tentang pentingnya perilaku tidak merokok kepada seluruh anggota keluarga sangat dibutuhkan. Ini demi masa depan seluruh anggota keluarga yang lebih sehat.

10. Keluarga Sudah Menjadi Anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

iuran BPJS Kesehatan naik-1.jpg

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang selanjutnya adalah keluarga sudah menjadi anggota JKN. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan pemerintah. JKN menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan ini. JKN bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak untuk diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah.

Itu artinya, JKN menjamin seluruh anggota keluarga untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang fasilitas kesehatannya bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

Baca Juga: Melahirkan dengan BPJS, Bagaimana Prosedurnya? Ini Penjelasannya!

11. Keluarga Mempunyai Akses Sarana Air Bersih

cara membersihkan spons makeup-air sabun.jpg

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang selanjutnya adalah keluarga mempunyai akses sarana air bersih. Kita semua tahu, bahwa air adalah salah satu kebutuhan utama dari setiap keluarga sehat. Sayangnya, akses air bersih di Indonesia masih cukup terbatas. Bukan hanya di daerah pedalaman, kota besar pun tak jarang mengalami masa krisis air.

Padahal air yang tercemar sudah pasti akan menjadi sumber berbagai macam penyakit yang tidak menutup kemungkinan, dapat menyebabkan kematian. Salah satu penyakit yang bisa ditimbulkan karena kurangnya pasokan air bersih misalnya adalah diare.

Dikutip dari data WHO, 8 dari 10 orang yang tinggal di daerah pedesaan di dunia ini tidak memiliki akses ke layanan air bersih. Pada satu dari empat negara dengan perkiraan untuk kelompok kekayaan yang berbeda, cakupan layanan dasar di antara yang terkaya setidaknya dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang termiskin.

“Negara-negara harus menggandakan upaya mereka dalam sanitasi atau kita tidak akan mencapai akses universal pada tahun 2030,” kata Dr Maria Neira, Direktur WHO, Departemen Kesehatan Masyarakat, Penentu Kesehatan Lingkungan dan Sosial.

Menurutnya, jika negara-negara gagal meningkatkan upaya sanitasi, air bersih dan kebersihan, maka masyarakat akan terus hidup dengan penyakit yang seharusnya sudah lama dimasukkan ke dalam buku sejarah.

Beberapa penyakit seperti diare, kolera, tifus, hepatitis A, dan penyakit tropis yang terabaikan termasuk trachoma, cacingan dan schistosomiasis, seharusnya bukanlah penyakit yang bisa dirasakan lagi oleh masyarakat.

Namun di Indonesia sendiri, menunggu pemerintah untuk menyelesaikan masalah akses air bersih bukanlah hal bijak. Masyarakat harus bisa bergerak sendiri secara swadaya serta dengan semangat gotong royong untuk menyelesaikan masalah akses air bagi masyarakat di daerah sekitar itu sendiri.

Setiap keluarga sehat harus menjaga kebersihan lingkungannya sendiri. Lingkungan keluarga sehat harus menghindari genangan air kotor di sekitar sumber air, memiliki saluran pembuangan air, tidak ada kotoran atau kuman pencemar air, dan memenuhi syarat-syarat air bersih.

12. Keluarga Mempunyai Akses atau Menggunakan Toilet Sehat

menggunakan toilet umum

Foto: orami Photo Stock

Indikator keluarga sehat yang selanjutnya adalah ada akses toilet sehat. Ketika Moms bertanya apakah saat ini ada keluarga di Indonesia yang tidak memiliki jamban atau toilet sehat? Maka jawabannya tentu ada.

Seperti halnya permasalahan air, permasalahan sanitasi juga sangat terkait dengan kondisi ekonomi masing-masing setiap keluarga dan juga pendidikan. Faktanya, masih banyak orang yang belum sadar akan manfaat memiliki dan menggunakan toilet yang sehat.

Keluarga yang tidak memiliki toilet sehat bukan hanya keluarga yang tinggal di pedalaman atau pinggiran daerah provinsi serta kota/kabupaten terpencil. Akan tetapi, banyak juga dari mereka yang hidup di kota-kota maju atau moderen, bahkan di ibu kota itu sendiri.

Padahal, toilet yang buruk akan menjadi sarana penularan berbagai penyakit. Buang air kecil dan buang air besar yang tidak pada tempatnya, akan mengundang lalat, kecoa atau serangga lain yang dapat menularkan penyakit pada keluarga yang sehat.

Artinya, fungsi toilet dari segi kesehatan lingkungan tentu sudah jelas, yaitu mencegah berkembangnya berbagai penyakit yang disebabkan oleh kotoran manusia. Misalnya, penyakit menular seperti hepatitis A, polio, kholera, dan penyakit lainnya yang terkait dengan akses penyediaan toilet.

Selain itu, kotoran manusia yang dibuang sembarang juga akan menimbulkan pencemaran tanah, air, dan udara karena meninggalkan bau, serta mencemari sumber air dan tanah. Sayangnya hal ini terkadang masih jarang disadari dan masih terus dibutuhkan sosialisasi untuk menyampaikan informasi bermanfaat ini.

Baca Juga: 7 Ciri Keuangan Keluarga yang Sehat, Apakah Moms dan Dads Memilikinya?

Itulah indikator keluarga sehat yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Apakah sudah terpenuhi semua?

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait