Kehamilan

13 April 2020

Ini 5 Risiko Marah-Marah Saat Hamil, Bisa Membahayakan Janin!

Bayi dalam kandungan dapat terekspos semua yang dialami ibunya.
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Phanie Fauziah
Disunting oleh Dina Vionetta

Saat hamil sensitivitas Moms lebih tinggi, seringkali emosi kita pun tidak terkontrol dengan baik. Apa sebenarnya risiko marah saat hamil bagi janin?

Dilansir dari Department of Health Australia, ketika sedang hamil, bayi dalam kandungan dapat terekspos semua yang dialami ibunya, termasuk suara-suara di sekitar, udara yang dihirup, makanan yang dikonsumsi, dan emosi yang dirasakan, termasuk juga ketika ibu sedang marah.

Baca Juga: Cara Mempelajari dan Melatih Emosi Batita Agar Tidak Jadi Pemarah

Risiko Marah Saat Hamil

Mudah marah saat hamil disebabkan oleh adanya perubahan hormon selama kehamilan, kecemasan berlebih, rasa takut terhadap kondisi kehamilan, ketidaknyamanan saat hamil, dan masalah kehidupan.

Berikut ini merupakan risiko marah saat hamil yang dapat terjadi jika tidak diatasi.

1. Menghambat Aliran Darah dan Oksigen

Stop Marah-marah Saat Hamil, Ini 5 Risikonya pada Janin!.jpg

Foto: momjunction.com

Risiko marah saat hamil dapat menghambat aliran darah dan oksigen ke janin yang sedang dikandung.

Kondisi jantung dan tekanan darah akan naik saat sedang marah, saat itu hormon adrenalin dan epinefrin yang memicu stres dan ketegangan dapat menyebabkan pembuluh darah mengerut.

Darah pun akan sulit mengalir ke janin yang akan menjadi salah satu faktor risiko kegagalan plasenta yang tidak berkembang dengan baik.

Akibatnya, plasenta yang rusak tidak dapat memasok oksigen dan nutrisi yang cukup dari aliran darah ibu. Jika hal ini terjadi, kemungkinannya bayi akan lahir prematur, berat badan yang rendah, serta fatalnya akan membuat cacat lahir.

2. Keguguran

Stop Marah-marah Saat Hamil, Ini 5 Risikonya pada Janin! 2.jpg

Foto: medicalnewstoday.com

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Tommy’s, The Baby Charity yang merupakan badan amal asal Inggris memaparkan bahwa wanita hamil yang sering marah akan berisiko melahirkan bayi prematur, keguguran, hingga kematian dalam kandungan.

Kondisi ibu hamil yang tidak dapat mengontrol emosi dapat berpengaruh buruk pada bayi. Ketika bayinya lahir, bayi akan mudah rewel.

Baca Juga: Jangan Ikut Marah Moms! Ini Yang Harus Dilakukan Ketika Anak Tantrum Di Depan Umum

3. Menghambat Produksi ASI

Stop Marah-marah Saat Hamil, Ini 5 Risikonya pada Janin! 3.jpg

Foto: parenting.firstcry.com

Risiko marah saat hamil juga akan memengaruhi produksi ASI.

Stress fisik dan mental seorang ibu hamil dapat memperlambat produksi ASI, sehingga ASI telat keluar yang disebabkan karena minimnya hormon oksitosin dalam tubuhnya.

Akibatnya, anak akan mudah rewel dan frustasi karena tak kunjung mendapatkan makanan.

4. Memengaruhi Tingkat Immunoglobulin dalam ASI

Stop Marah-marah Saat Hamil, Ini 5 Risikonya pada Janin! 4.jpg

Foto: babycentre.co.uk

Immunoglobulin merupakan antibodi yang disalurkan dari ibu melalui ASI untuk membangun siste kekebalan tubuh bayi.

Dilansir dari Women’s Mental Health Center, wanita dengan tingkat emosi negatif dan memiliki kecemasan tinggi saat sedang hamil akan menunjukkan kadar immunoglobulin yang rendah.

Kondisi ibu hamil yang sedang stress dapat memberi dampak bagi produksi ASI.

Baca Juga: Kok Suami Sering Marah Tanpa Alasan? Hadapi dengan Cara Ini

5. Perkembangan Janin

Stop Marah-marah Saat Hamil, Ini 5 Risikonya pada Janin! 5.jpg

Foto: todaysparent.com

Jika ibu hamil kerap merasa stress dan mudah marah akan mengakibatkan perkembangan pada janin menjadi tidak baik.

Risiko marah saat hamil ini dapat menyebabkan daya otak dalam berpikir bayi akan terhambat yang membuat bayi akan berkembang lebih lambat dari biasanya.

Agar menjadi ringan nantinya, akan lebih baik jika ibu menjaga kesehatan bayi sejak masih dalam kandungan, sehingga tidak harus repot saat bayi telah lahir.

Moms harus memahami bahwa Moms adalah perantara interaksi pertama bayi dengan dunia luar.

Bayi dalam kandungan akan mengalami rangsangan eksternal, sekaligus mengenali apa yang dirasakan ibunya saat stress dan amarah memicu pelepasan hormon kortisol dalam aliran darah, melalui plasenta dalam hitungan detik.

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait