Kesehatan

12 Februari 2021

Perbedaan Psikolog dan Psikiater, Tentukan Pakar yang Tepat untuk Berkonsultasi

Ketahui agar Moms mendapatkan perawatan yang tepat
placeholder
placeholder
Artikel ditulis oleh Amelia Puteri
Disunting oleh Intan Aprilia

Perbedaan psikolog dan psikiater mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat luas.

Hal tersebut wajar adanya karena daripada membahas perbedaan psikolog dan psikiater, banyak orang yang merasa tugas kedua jenis pekerjaan ini tidak terlalu banyak perbedaan, yakni sama-sama merawat kesehatan mental manusia.

Perbedaan psikolog dan psikiater sendiri sebenarnya sangat terlihat. Karena perbedaan psikolog dan psikiater sendiri bisa terlihat dari berbagai macam aspek termasuk pendidikan yang ditempuh.

Baca Juga: Tips Terapkan Disiplin Positif pada Anak Usia Dini Tanpa Kekerasan Menurut Psikolog

Banyak orang yang menyebutkan psikolog dan psikiater sebagai ahli dalam mengobati penyakit mental.

Namun, tidak semua orang paham perbedaan dari keduanya. Lalu apa perbedaan psikolog dan psikiater?

Perbedaan Psikolog dan Psikiater

Seperti yang sebelumnya sudah dibahas, tidak sedikit orang yang tahu dan memahami mengenai perbedaan psikolog dan psikiater.

Tetapi mengutip Your Health in Mind, baik psikiater dan psikolog memahami cara otak bekerja, emosi, perasaan, dan pikiran kita. Keduanya dapat mengobati penyakit mental dengan perawatan psikologis (terapi bicara).

Namun, psikiater masuk sekolah kedokteran dan menjadi dokter sebelum melakukan pelatihan spesialis kesehatan mental. Ini yang menjadi perbedaan psikolog dan psikiater yang utama.

Karena psikiater adalah dokter, psikiater memahami hubungan antara masalah mental dan fisik. Mereka juga dapat meresepkan obat. Cari tahu lebih lanjut tentang perbedaan keduanya berikut ini.

Jangan sampai salah dalam memahami perbedaan psikolog dan psikiater, berikut Orami ulas mengenai perbedaan psikolog dan psikiater dari berbagai macam sisi!

1. Pendidikan yang Ditempuh

perbedaan psikolog dan psikiater-1.jpg

Foto: scmp.com

Mengutip Psychology Today, Ralph Ryback, M.D., psikoterapis dari Sovereign Health Group menyebutkan perbedaan psikolog dan psikiater menurut pendidikan yang ditempuh.

Psikiater menerima pendidikan sekolah kedokteran yang sama dengan dokter medis lainnya, seperti dokter penyakit dalam atau dokter anak. Hal ini yang membuat seorang psikoterapi punya gelar kedokteran.

"Mereka mempelajari semua sistem dan fungsi dalam tubuh manusia, riwayat dan keterampilan pemeriksaan fisik, dan rencana perawatan khusus untuk setiap kondisi medis," jelas Ralph.

Tidak berhenti sampai di situ, usai sekolah kedokteran, psikiater menjalani pendidikan spesialisasi dalam psikiatri untuk belajar tentang diagnosis dan pengobatan untuk kondisi psikologis, seperti gangguan bipolar dan skizofrenia.

Baca Juga: Psikolog Jelaskan Alasan Film "Joker" Bukan Tontonan untuk Anak

Berbeda dengan psikiater, psikolog memiliki gelar di bidang psikologi, yaitu studi tentang pikiran dan perilaku manusia.

Tetapi, mereka bukan dokter medis. Hal ini menjadi perbedaan psikolog dan psikiater yang tampak.

Seorang psikolog dapat memiliki gelar PhD dalam bidang filsafat atau gelar dalam psikologi klinis atau konseling.

Di Amerika Serikat, sebagai proses mendapatkan gelar psikolog, mereka perlu magang selama 1-2 tahun.

Namun, tidak seperti psikiater, psikolog juga terlatih dalam memberikan tes psikologi (seperti tes IQ atau tes kepribadian).

Karena seorang psikiater memiliki gelar dokter medis, mereka dapat meresepkan obat, dan hal ini tidak berlaku bagi seorang psikolog.

Namun, di beberapa negara ada yang mengizinkan psikolog untuk meresepkan obat psikiatrik dalam jumlah terbatas jika telah mengambil kursus dalam psikofarmakologi.

2. Pendekatan dalam Pengobatan

perbedaan psikolog dan psikiater-3.jpg

Foto: careersinpsychology.org

Latar belakang pendidikan yang berbeda membuat pendekatan yang diambil dalam mengobati pasien menjadi perbedaan psikolog dan psikiater yang lainnya.

"Psikiater mengkaji dari sisi biologi dan neurokimia yang lebih kuat. Mereka akan melakukan diagnosis pengecualian," kata Ranna Parekh, MD, direktur di American Psychiatric Association, mengutip Mayo Clinic.

Misalnya, sebelum pasien didagnosis mengalami depresi, mereka akan memastikan tidak memiliki kekurangan vitamin atau masalah tiroid.

"Setelah psikiater membuat diagnosis kesehatan mental, psikiater seringkali akan meresepkan obat untuk Anda," lanjutnya.

Sementara, perbedaan psikolog dan psikiater dari sisi pendekatannya yaitu psikolog yang melakukan diagnosis dengan pendekatan dari perilaku pasiennya.

"Jika Anda mengalami depresi dan tidak dapat bangun dari tempat tidur, ini merupakan adanya aktivasi perilaku," kata C. Vaile Wright, PhD, direktur di American Psychological Association.

Psikolog akan melacak pola tidur, pola makan, dan pikiran negatif yang mungkin menyebabkan atau berkontribusi terhadap masalah tersebut.

Tentu saja hal itu dimaksudkan agar Moms bisa mengubah prilaku atau aktivitas tak sehat agar kesehatan mental bisa menjadi lebih baik.

Perbedaan psikolog dan psikiater pun bisa dilihat dari psiokoterapi. Meski keduanya sudah terlatih, namun perbedaan latar belakang dan pelatihan yang sudah ditempuh keduanya berbeda.

Hal tersebut tentu saja akan memengaruhi pendekatan untuk memecahkan masalah kesehatan mental pasien yang dirawatnya.

Baca Juga: Ini Penyebab dan Bahaya Gangguan Kesehatan Mental pada Remaja yang Tidak Ditangani

3. Pekerjaan dan Diagnosis

perbedaan psikolog dan psikiater-2.jpg

Foto: rainn.org

Perbedaaan psikolog dan psikiater lain adalah dari lingkungan pekerjaan dan diagnosis yang bisa dilakukan.

Mengutip Healthline, psikiater dapat bekerja di salah satu tempat seperti membuka praktik pribadi, rumah sakit, rumah sakit jiwa, pusat medis universitas, rumah jompo, penjara, program rehabilitasi, dan program rumah sakit.

Mereka sering merawat orang dengan kondisi kesehatan mental yang memerlukan pengobatan, seperti gangguan kecemasan, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan bipolar, depresi mayor, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), dan skizofrenia.

Psikiater mendiagnosis kondisi ini dan kondisi kesehatan mental lainnya menggunakan tes psikologis, evaluasi, tes laboratorium untuk menyingkirkan penyebab fisik gejala.

Setelah mereka membuat diagnosis, psikiater dapat merujuk pasien ke psikoterapis untuk terapi atau meresepkan obat.

Beberapa obat yang diresepkan oleh psikiater meliputi antidepresan, obat antipsikotik, penstabil suasana hati, stimulan, dan obat penenang.

Setelah memberikan resep obat kepada seseorang, psikiater akan memonitor mereka untuk tanda-tanda perbaikan dan efek samping. Berdasarkan informasi ini, mereka mungkin mengubah dosis atau jenis obat.

Baca Juga: 8 Jenis Gangguan Kesehatan Mental yang Perlu Kita Kenal

Psikolog juga bekerja dengan orang yang memiliki kondisi kesehatan mental. Mereka mendiagnosis kondisi ini menggunakan wawancara, survei, dan pengamatan.

Seorang psikolog dapat bekerja di lingkungan yang sama dengan psikiater, termasuk praktik pribadi, rumah sakit, rumah sakit jiwa, pusat medis universitas, rumah jompo, penjara, program rehabilitasi, dan program rumah sakit.

Mereka biasanya mengobati orang dengan terapi bicara. Perawatan ini melibatkan duduk dengan terapis dan berbicara melalui masalah apa pun.

Selama serangkaian sesi, seorang psikolog akan bekerja dengan seseorang untuk membantu mereka lebih memahami gejala dan cara mengelolanya.

Terapi perilaku kognitif adalah jenis terapi bicara yang sering digunakan psikolog. Ini adalah pendekatan yang berfokus pada membantu orang mengatasi pikiran negatif dan pola berpikir.

Terapi bicara dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, termasuk terapi individu, terapi keluarga, terapi kelompok. Ini juga menjadi perbedaan antara psikolog dan psikiater lain.

Berkonsultasi ke Psikiater atau Psikolog

perbedaan psikolog dan psikiater-4.jpg

Foto: militaryonesource.mil

Dalam jurnal American Psychiatric Association, psikiater dan psikolog mewakili dua kelompok dokter terbesar yang menyediakan layanan kesehatan mental.

Moms sudah mengetahui perbedaan psikolog dan psikiater. Lalu, di antara kedua pakar ini, mana pilihan yang lebih baik untuk berkonsultasi?

Berkonsultasi dengan psikiater yang mempunyai lisensi sebagai dokter medis, menjadikan mereka punya pengetahuan dan pelatihan untuk mengevaluasi masalah medis atau efek obat yang dapat menyebabkan gejala emosi atau perilaku.

Untuk masalah kesehatan mental serius, seperti depresi berat, gangguan bipolar, atau skizofrenia, di mana gejala fisiknya bisa parah dan mungkin sulit merawat diri sendiri, psikiater umumnya memiliki lebih banyak pelatihan formal dan pilihan perawatan.

Tetapi, dalam menangani masalah kesehatan mental yang belum tentu memerlukan obat, misalnya, bisa dengan berkonsultasi dengan psikolog terlebih dahulu.

"Seseorang yang mungkin mengalami depresi klinis dapat meminum obat, sementara seseorang yang berhadapan dengan fobia akan efektif bila terapi dengan psikolog pilihan," terang Wright.

Namun, seorang psikolog juga bisa menyarankan pasiennya berkonsultasi dengan psikiater bila pasiennya merasakan gejala parah seperti pikiran bunuh diri, untuk membantu memperjelas diagnosis dan meresepkan obat.

Baca Juga: Perhatikan 8 Gejala Kecemasan pada Anak Secara Fisik

Pentingnya Psikolog dan Psikiater untuk Keluarga

perbedaan psikolog dan psikiater-5.jpg

Foto: northwesternmutual.com

Dalam bukunya yang berjudul The Digital Pandemic: Reestablishing Face-to-Face Contact in the Electronic Age, yang dikutip dari Psychology Today, Mack Hicks, Ph.D, menuliskan bahwa peran psikolog bisa sangat berguna untuk mempertahankan atau menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.

Sebagai orang tua, tentu saja Moms sangat ingin anak tumbuh dengan baik dan menjaga keharmonisan hubungan orang tua dan juga anak. Namun, apakah cara yang ditempuh sudah tepat?

Ketika Moms memutuskan untuk pergi berkonsultasi ke psikolog, tentu saja Moms akan memiliki banyak sekali informasi mengenai hal-hal yang perlu dilakukan, atau mungkin mengetahui bahwa cara yang Moms lakukan untuk mendidik anak ternyata kurang efektif.

Psikolog anak dan keluarga biasanya bisa memberikan Moms informasi serta panduan untuk mengenal kepribadian, ketertarikan, kelemahan dan juga kekuatan anak dari segi intelektual yang bisa sangat berguna untuk mengasah bakat dan menjaga tumbuh kembangnya.

Baca Juga: Mengenal 4 Manfaat Positive Attention dan Perannya Dalam Pola Asuh Balita

Tak sampai di sana, mendiskusikan hal mengenai perkembangan anak serta pola asuh pada psikolog pun bisa membantu Moms untuk menentukan arah serta sikap untuk memaksimalkan cara pengasuhan anak.

Hal tersebut dikarenakan psikolog mampu membantu Moms untuk melihat kondisi anak yang sesungguhnya secara objektif.

Tentu saja hal ini pada akhirnya bisa membantu anak ataupun para Moms untuk membuat berbagai keputusan untuk mengembangkan bakat Si Kecil.

Bukan hanya untuk sang anak, Moms yang memutuskan untuk berkonsultasi pada psikolog biasanya juga akan terbantu untuk mengenai diri mereka sendiri.

Tentunya hal tersebut bisa sangat membantu dalam mengurangi kebingungan dalam pembuatan keputusan atau mengurangi kecemasan sebagai orang tua yang biasanya melanda orang tua baru.

Sementara itu, tak sedikit orang yang enggan bahkan merasa takut untuk membuka diri karena pernah mengalami hal buruk seperti diacuhkan ataupun dihakimi usai bercerita. Namun, psikolog adalah tenaga profesional yang dapat mendengarkan dan memberi saran tanpa menghakimi.

Baca Juga: 3 Jenis Gangguan Makan yang Dapat Terjadi pada Wanita

Jadi, kini Moms sudah mengetahui perbedaan psikolog dan psikiater serta kegunaannya untuk keharmonisan keluarga, bukan? Kini jangan ragu untuk berkonsultasi demi menjaga kesehatan mental keluarga yang lebih baik, ya!

Produk Rekomendasi

TOOLS PARENTING

Komentar

Yuk, ngobrol dan sharing pendapat dengan moms lainnya.

member-image

Beri Komentar...

Artikel Terkait